Pulau Abadi

Pulau Abadi
Nila, I Love You!


__ADS_3

"Suara siapa itu, Fran?" tanya Leon yang juga mendengarnya.


Franky menoleh ke kiri dan ke kanan, tapi tak terlihat siapa pun di tempat itu selain mereka berdua.


"Franky, ayo kita pulang," suara itu kembali terdengar.


Franky dan Leon kembali menengok ke kanan dan ke kiri, lalu mereka saling berpandangan, saat mereka mengalihkan pandangannya ke arah depan, kedua insan itu tersentak secara bersamaan.


Kini di hadapannya telah berdiri sosok perempuan.


"Nila! Bikin kaget saja kamu, kalau jantung kita lepas, bagaimana?" seru Leon yang kemudian mengelus dadanya.


Nila tersenyum penuh makna.


"Jantung copot kok bingung, ya langsung saja di masak dikasih bumbu, kan sedap tuh," kelakar Nila.


"Yeee, dasar gila," tukas Leon dengan raut wajah kesal.


"Gila tidak masalah, yang penting banyak yang suka, lah kamu waras, tapi tidak ada satu lalat pun mendekat hahaha!" Nila tertawa menggelegar membuat telinga Leon menjadi sakit.


"Kamu pikir, tong sampah kali, di dekatin lalat," Leon mulai gemas.


"Hahahahahaha!" tawa Nila terus menggelegar dan Leon pun menutup telinganya.


"Stop! Berhenti tertawa, tawa kamu fals, nggak merdu sama sekali," cibir Leon.


"Biar saja!" seru Nila tak mau kalah.


Franky tersenyum geli menyaksikan pertengkaran antara Nila dan Leon.


"Sudah-sudah, kalian ini hobi sekali bertengkar, ya sudah Le, aku pulang dulu, besok kalau mau berangkat kabarin saja, nanti biar aku jemput kesini."


"Oke," sahut Leon.


Franky dan Nila pun pulang naik bis, karena Franky tadi di jemput oleh Leon menengok tantenya, mengendarai mobil Leon.


Sesampainya di rumah Franky mengajak Nila masuk.


Mereka berdua duduk di ruang depan.


Franky tak henti-hentinya memandangi wajah Nila yang cantik jelita.


"Kamu melamun apa Fran?" tanya Nila sontak membuat Franky terkesiap.


"Eh.. itu, em, oh iya La, aku mau tanya sesuatu."


"Tanya apa?"


"Apa kamu serius, mau ikut aku pergi sama Leon?" Franky sedikit gugup.

__ADS_1


"Rasanya, aku sudah pernah menjawab pertanyaan seperti ini, Ya tentu mau lah, aku tidak mau tinggal di sini sendiri," sahut Nila dengan nada manja.


"Hehehe, ya bagus kalau kamu mau ikut, aku juga nggak pikiran," ujar Franky sambil terkekeh.


"Lagian kamu ini, sudah berapa kali kamu bertanya hal ini, dan berapa kali juga sudah aku jawab?" Nila merasa gemas.


"Hehe, ya aku takut saja kamu berubah pikiran," sahut Franky dalam kekehannya.


"Tidak mungkin, aku tuh bukan tipe perempuan pemberi harapan palsu," ucap Nila dengan tegas.


"Kamu tahu nggak, tante nya si Leon pingsan selama dua hari, katanya dia di bawa sama bis hantu, memangnya ada ya, bis hantu?" ujar Franky.


Nila mencoba menerawang sesuatu.


"Di sekitar tempat Leon tinggal, tepatnya di jalan raya itu, belum lama ini ada kecelakaan bis dan truk, yang menewaskan seluruh penumpang bis beserta sopirnya, kalau orang meninggal karna kecelakaan, arwahnya belum di terima di alamnya selama empat puluh hari, empat puluh malam, jadi mereka terus gentayangan mencari mangsa baru," ungkap Nila dengan nada santai.


"Dari mana kamu tahu? Kalau ada kecelakaan di tempat Leon?" heran Franky.


"Dari hatimu, hehehe," kelakar Nila membuat Franky tersipu malu.


"Ah kamu ini, bisa saja La, eh La, aku mau tanya lagi nih."


"Apaan sih, Fran?"


"Em, apa kamu sudah punya pasangan? Misalnya pacar, atau suami gitu?"


"Aku masih single," jawab Nila simpel.


Franky seolah tak percaya.


Nila mengangguk, bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman, membuat Franky terlena di buatnya.


"Em La, sebenarnya aku suka sama kamu sejak bertemu sama kamu."


Deg!


Jantung Nila berdetak kencang, dia sungguh tak menyangka kalau Franky mempunyai rasa terhadapnya.


"Duh, gimana ini? Bidadari tidak mungkin menjalin hubungan dengan manusia," batinnya.


"Bagaiman La? Apakah kamu mau menjadi pacarku?"


"Eh.. maaf, bukannya aku tidak mau, tapi sebaiknya kita tetap seperti ini saja."


Franky pun berdiri dan menarik tangan Nila supaya dia ikut berdiri.


Nila pun seperti terhipnotis, dia tak kuasa menolak apa yang di lakukan oleh Franky.


Kini Nila berdiri hingga menjadi sejajar dengan Franky.

__ADS_1


Franky menatap Nila dalam-dalam, begitu pun dengan Nila, mereka saling menatap, nafas kedua insan itu memburu seketika, detak jantung dengan irama tak beraturan pun dapat terdengar di telinga mereka berdua.


Perlahan mereka mendekatkan kedua bibir milik mereka masing-masing, hingga kini saling bersentuhan.


Bibir mereka pun saling memagut, Kemudian Franky melakukan gerakan menggigit dengan gerakan menelusur sisi bibir Nila.


Nila memejamkan matanya, merasakan kenikmatan yang tercipta, adrenalinnya bermain seketika.


Tangan Franky merambat di sekujur punggung Nila, kemudian turun ke bawah perlahan, hingga menyentuh pinggang Nila.


Tubuh Nila meliuk merasakan sensasi yang di berikan oleh Franky, ada yang basah di bawah sana.


Tiba-tiba angin dingin berhembus menyeruak masuk ke dalam rumah Franky, namun kali ini lebih dingin dari biasanya.


Franky dan Nila menghentikan aktifitasnya sejenak.


"Kenapa tiba-tiba dingin sekali?" lirih Franky


Nila berpura-pura mengangkat bahunya, sebenarnya dia dapat menebak siapa yang datang.


"Kamu masuklah ke kamar dan beristirahat, perasaanku juga tidak enak, aku akan berjalan-jalan di depan, supaya bisa tahu, apakah mau turun hujan," Nila berbohong.


"Buat apa pakai keluar segala? Kalau pun memang akan turun hujan, pasti dari dalam sini kita bisa tahu," tegas Franky.


Nila tampak berpikir sejenak, tak lama bibir Nila pun terlihat sedang berkomat-kamit membaca mantra ajian sirep.


Barang siapa yang terkena ajian ini, akan tertidur dengan durasi waktu yang cukup lama.


Selesai Nila membaca mantra, Franky pun tertidur sambil berdiri, tubuhnya tumbang dan segera di tangkap oleh Nila.


Dengan satu gerakan jari milik Nila saja, Franky kini sudah berpindah ke dalam kamar nya.


Nila tersenyum penuh makna.


"Selamat tidur Fran," gumamnya dalam hati.


Nila berjalan ke luar rumah.


"Kenapa kau selalu saja menganggu kami, apakah kamu cemburu denganku? Kau kan sudah punya Wowo bucin itu, bercintalah dengannya, kenapa juga harus menganggu kami, buang-buang energi saja," kata Nila dengan tenang.


Wanita yang berdiri di hadapan Nila, yang tak lain adalah Rinjani itu pun memancarkan aura wajah penuh kebencian, dia menatap tajam ke arah Nila.


"Dasar Bidadari pelakor! belum jera juga anda rupanya!" seru Rinjani.


"Pelakor? Hahahaha! Kau itu Jin yang tidak punya malu, Franky saja sudah melupakanmu, tapi kau masih saja mengejarnya, mungkin yang pelakor itu adalah kamu, hahahaha!" seru Nila dalam tawa khasnya yang menggelegar, membuat pepohonan di sekitarnya menjadi bergetar.


Seorang pria, tetangga Franky yang kebetulan lewat di tempat itu merasa aneh.


"Ini kenapa ya? Kok pohon-pohon pada bergetar, seperti ada gempa," batin orang itu, seketika bulu kuduknya meremang.

__ADS_1


"Lho, kenapa tiba-tiba aku jadi merinding? jangan-jangan di pohon ini..."


__ADS_2