
"Baiklah, sebenarnya saya sering dikasih petunjuk mengenai jasad saya, hanya saja saya tak dapat mengingat dengan jelas," ungkap Rinjani.
"Jasad sendiri nggak ingat, tapi kalau si Franky, kamu ingat terus ya," ledek Joko.
Rinjani pun terdiam, wajahnya merona.
"Yah, ternyata hantu juga bisa merasa malu ya haha!"
"Sudah sana, anda pulang, dari tadi meledek saja," keluh Rinjani.
Joko menahan senyum ....
"Ya sudah aku pulang dulu, besok aku ke sini lagi," pamit Joko.
Rinjani pun berubah menjadi kepulan asap putih, lalu menghilang. Sementara Joko berjalan kembali ke pantai, Nawang nasih duduk meringkuk di atas batu.
"Maafkan aku Nawang, kalau meninggalkanmu terlalu lama."
"Tak apa kok," jawab Nawang.
Joko pun menggendong Nawang, dan berjalan pulang.
"Meooong ...."
"Semoga saja, besok rencana-ku berhasil, bisa menerawang keberadaan jasadnya jin bucin itu," batin joko, dalam perjalanan pulang, dan seketika dia teringat akan tongkat sakti pemberian leluhurnya.
"Oh iya, tongkat itu ... Apa bisa ya, aku pakai buat menerawang.? Hem, aku coba saja deh besok," Joko terus membatin, sambil terus berjalan.
Akhirnya, Joko sampai di penginapan, saat dia masuk, dia melihat Franky sedang duduk di ruang depan dengan laptop di pangkuannya.
"Kamu belum tidur, Fran?" tanya Joko.
Franky terkesiap mendengar suara Joko, dia pun menoleh ke arah Joko.
"Eh, kamu sudah pulang, Jok? Gimana? Berhasil nggak?"
"Berhasil apanya, Fran?"
"Ya katanya, kamu mau mencari jasad Rinjani."
"Gagal lagi, Fran."
"Hah, kok gagal lagi, Jok?"
"Ya, gimana lagi, si Rinjani aneh juga."
"Aneh gimana, Jok?"
"Ya dia yang meninggal, tapi nggak tahu jasadnya sendiri."
"Oh, ya namanya juga nggak tahu, mau gimana lagi, Jok?"
"Huft, tapi kan dia jadi hantu, Fran, berkeliaran sana sini, masa nggak tahu tentang jasadnya."
"Husss, kamu ini, Jok, sudah aku bilang, kalau Rinjani itu bukan hantu, dia itu perempuan cantik."
__ADS_1
Joko menggeleng, dia merasa gemas dengan temannya itu.
"Fran, Fran ... kamu tuh bikin gemas saja."
"Memang aku boneka, Jok?"
"Iya, kamu boneka ... boneka teletubies, hahaha!"
"Ah kamu ini, Jok, ada-ada saja."
Joko pun terbahak, sedangkan Nawang tersenyum geli dalam hatinya, melihat kedua pria itu bersenda gurau.
"Leon sepertinya betah sekali dengan pekerjaannya," kata Joko.
"Ya maklum, Jok, dia kan memang sudah lama cari pekerjaan, tapi nggak dapat juga, jadi sekarang begitu dapat pekerjaan, dia pasti senang sekali," ujar Franky.
"Oh gitu, ya memang sih, kalau nggak ada kerjaan boring juga ya," sahut Joko.
"Em, kamu sendiri, memang nggak kepikiran buat bekerja gitu, Jok?"
"Buat apa kerja, Fran? Aku nggak kerja pun bisa makan hehe."
"Ya, maksudnya, besok kalau kamu punya istri, kan istri kamu pastinya punya kebutuhan."
"Itu masalah gampang, Fran," ujar Joko santai.
Franky hanya tersenyum, sambil mengetik keyboard laptopnya.
"Novel kamu belum selesai, Fran?" tanya Joko.
"Memang kamu bikin novel apa? Horor lagi?"
"Iya, Jok, aku kan sudah bilang, aku sudah terinspirasi dengan cerita horor."
"Begitu, ya? Terus, apa judul novel kamu?"
"Pulau abadi, Jok," sahut Franky antusias.
"Pulau abadi? Hahaha!"
"Kamu kenapa sih, Jok? Kok tertawa terus, sedang hepi ya," ucap Franky.
"Ya enggak gitu, Fran, kamu itu benar-benar terinspirasi dengan pulau ini ya?"
"Iya nih, Jok, kejadian-kejadian di pulau ini, cocok sekali untuk dijadikan novel, hehe."
"Sip, Fran, aku dukung kamu, semoga sukses ya."
"Iya, Jok, makasih ya."
Joko mengangguk, kemudian dia berjalan ke dapur, dan meletakan Nawang di sudut dapur, lalu Joko masuk ke dalam kamarnya, dia merebahkan tubuhnya dan memegang tongkat sakti miliknya.
Joko mengamati tongkat itu dengan seksama, dan seketika dia teringat pesan dari leluhurnya, kalau tongkat itu tak boleh di gunakan sembarangan.
"Tapi, kalau buat menerawang saja, untuk mengetahui keberadaan jasad orang, pasti nggak apa-apa mungkin ya," batin Joko.
__ADS_1
Dia pun meletakan tongkat itu, di samping tempat tidur. Dan malam itu, Joko merasa mengantuk sekali, dia pun memejamkan matanya, dan terlelap dalam tidurnya.
Samar-samar, Joko melihat di hadapannya kini adalah sebuah jalan, Joko berjalan menelusuri jalan tersebut, tak lama dia sampai di gapura.
"Lho aku kok sampai sini, ngapain ya, aneh," gumam Joko sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Ketika langkah kaki Joko sampai tepat di tengah gapura itu, tiba-tiba Joko merasakan benturan yang cukup keras.
kepala Joko kejatuhan sebuah lukisan, dari atas gapura.
"Aaaarrrggghhh!"
Joko mengerang kesakitan, dan seketika pandangan Joko menjadi gelap.
"Jok, bangun, Jok," sebuah suara terdengar di telinga Joko, dan dia pun perlahan membuka matanya.
Joko bingung, melihat Franky sudah berada di sampingnya.
"Fran, ada apa ini?"
"Kamu itu mimpi apa, Jok? Kok teriak-teriak terus dari tadi, kedengaran sampai luar, makanya aku masuk untuk memastikan kamu itu kenapa," ujar Franky.
Joko menoleh kekiri dan kekanan, dia benar-benar merasa heran.
"Hehe maaf ya, Fran, aku sudah ganggu kamu ya?" lirih Joko.
"Ah nggak apa-apa, Jok, aku tadi hanya khawatir saja, aku kira kenapa, ya sudah aku tinggal lagi ya, aku mau menyelesaikan satu bab, baru tidur."
"Iya, Fran."
Franky pun keluar, kini tinggal Joko sendiri di dalam kamar itu, dia kembali mengingat mimpi yang dialaminya.
"Lagi-lagi lukisan itu, kenapa aku selalu mimpi lukisan itu ya, apa artinya?"
Joko berpikir keras, namun dia sama sekali tak dapat mengingat apa pun.
"Ah sudahlah tidur lagi saja, mungkin itu hanya mimpi, ya biarpun berulang, tapi namanya juga mimpi, anggap saja bunga tidur," batin Joko, kemudian melanjutkan tidurnya.
Sementara di ruang depan, Franky masih sibuk dengan laptopnya, dia tampak lancar sekali menuangkan ide-ide yang dia dapat dari dalam benaknya. Setelah menyelesaikan satu bab, Franky menutup laptopnya, dan membawanya ke dalam kamar.
Franky meletakkan laptopnya di atas meja, kemudian dia merebahkan tubuhnya di samping Joko yang sudah tertidur nyenyak.
Franky pun menatap langit-langit, dia tersenyum ceria.
"Novelku nggak lama lagi selesai, nyonya Nur pasti senang, kalau tahu aku bikin novel horor lagi," batin Franky.
Franky menoleh ke arah Joko ....
"Kasihan dia, mimpinya sama seperti kemarin, hem, memangnya ada yang mimpi bersambung? Eh tapi ini bukan bersambung, tapi berulang ... ah, sudahlah hanya mimpi saja, kata orang, mimpi itu bunga tidur, anggap saja seperti itu," Franky tersenyum dan memiringkan tubuhnya, lalu memejamkan matanya.
Tak lama, Franky pun terbuai dalam mimpinya, kini dia berjalan di sebuah jalanan yang tak asing baginya. Pria itu terus berjalan lurus ke depan, dan tanpa sadar langkah kakinya terhenti di sebuah gapura.
"Gapura?" batinnya.
Franky mengamati gapura yang ada di hadapannya.
__ADS_1