
"Nggak tahu, Tante, aku juga bingung," kata Leon.
"Ya sudah, lain kali hati-hati kalian," kata Nurdiana.
Franky dan Leon mengangguk.
"Ya sudah ayo masuk," perintah Nurdiana.
"Em, maaf, Nyonya, saya harus pulang, karna besok berangkat ke pulau abadi, untuk membuat novel terbaru."
"Lho, ini kan sudah malam, Fran?" sambung Leon.
"Betul, Fran, kamu menginap saja di sini," Nurdiana menimpali.
"Nggak bisa, Nyonya, Le, aku harus berkemas, dan besok pagi kita harus berangkat."
"Ya sudah lah, Fran, tapi kamu hati-hati ya," kata Leon.
"Pasti dong, Le."
"Wah, kamu ternyata betah juga ya di pulau abadi," celetuk Nurdiana.
"Hehe, iya, Nyonya, pulau itu benar-benar memberikan inspirasi buat saya, sehingga bisa menuangkan dalam sebuah novel," ujar Franky, dia sengaja tak memberi tahukan yang sebenarnya, tujuan dia ke pulau abadi, karena dia tak mau Nurdiana berpikir yang aneh-aneh terhadap dirinya.
"Wah hebat sekali kamu, Fran, semangat ya."
"Iya, Nyonya, saya juga trimakasih, sudah di kasih info tempat untuk menuangkan inspirasi."
"Sama-sama, Fran, saya ikut senang, karna kamu jadi bisa berinspirasi lagi membuat novel."
"Ya sudah, saya permisi dulu, ayo, Le."
"Ya sudah, kamu hati-hati, Fran, ingat jangan melamun," kata Nurdiana.
"Iya, Fran, kalau ketemu perempuan cantik, jangan ditanggapi, siapa tahu dia hantu," seloroh Leon.
"Ah kamu itu, sok bijak, Le, padahal kamu sendiri, kalau ketemu perempuan cantik, langsung diburu," ledek Franky kepada Leon.
Nurdiana tertawa terpingkal, sedangkan Leon hanya meringis, sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Kini Franky mengemudikan mobilnya perlahan.
__ADS_1
Di sepanjang jalan itu sangatlah sepi. Selang beberapa menit, samar-samar dari kejauhan, Franky melihat sosok wanita berpakaian serba putih, bersurai panjang, dia sedang berjalan di sekitar jalan yang dilalui oleh Franky.
"Ini sudah tengah malam, kenapa dia jalan sendiri? Mau ke mana dia?" batin Franky.
Perlahan, mobil Franky mulai melewati sosok wanita itu, namun Franky masih terus mengamatinya.
Franky terperanjat, saat melihat sosok wanita itu mulai tersenyum ke arahnya.
"Hah? Apa dia sedang senyum denganku?" bibir Franky berucap sendiri. Pikirannya pun mulai bergerilya, memikirkan tentang sosok wanita yang tersenyum ke arahnya, meskipun tertutup kaca. Padahal keberadaan Franky di dalam, tak terlihat oleh sosok wanita itu dari tempatnya.
Tiiinnn ... Tiiinnnn ... Tiiinnn ....
Seketika itu juga, Franky mengklakson sosok wanita itu, dan bertepatan dengan itu, sosok wanita tersebut pun menghilang.
"Hah? Kok nggak ada, tadi bukannya ada di sana?" gumam Franky dalam hati. Dia pun heran.
Franky pun melanjutkan perjalanannya, tanpa menghiraukan hal yang telah terjadi.
"Toloooong! Toloooong!"
Dari kejauhan, Franky mendengar suara lemah, seorang wanita meminta tolong. Dia pun menghentikan mobilnya.
"Siapa yang minta tolong, ya?" batinnya.
Franky berlari ke arahnya, dan betapa terkejutnya dia, melihat seorang wanita tergeletak bersimbah darah.
Franky mendengar dari salah seorang di antara kerumunan itu, kalau wanita itu terjatuh dari truk, diduga supir truk itu mengantuk, hingga tak sengaja menabrak pembatas jalan. Akhirnya truk tersebut guling. Dan truk itu berisi dua orang, seorang supir, dan seorang wanita yang tergeletak itu, sementara sang supir masih berada di dalam dengan kondisi mengenaskan, diduga pula bahwa sang supir tak tertolong.
Banyak orang yang mengelilingi tempat itu, samar-samar, Franky mendengar suara tangis seorang perempuan di belakangnya. Perlahan, dia menoleh ke belakang. Franky terbelalak melihat ada sosok wanita, dengan wajah penuh darah di sana.
"Hik, tolong aku ...."
"Ya ampun, siapa kamu? Ayo aku antar ke rumah sakit," ujar Franky.
"Hik, tolong aku dulu ...." Wanita itu terus menangis.
"Maksudnya, apa sih? Ayo aku tolong mengobati lukamu dulu," ucap Franky.
"Kamu bisa lihat aku?" tanya wanita itu, di sela isak tangisnya.
"Ini maksudnya apa lagi, sih? Ya jelas bisa lah, kamu kan perempuan yang jatuh dari truk itu, kan? Tuh muka kamu banyak sekali darahnya," ucap Franky santai.
__ADS_1
"Sebenarnya, aku sudah mati, tapi aku ingin menemui keluargaku, untuk meminta maaf, untuk itu, aku minta tolong sama kamu," ungkap wanita itu, yang kemudian memudar perlahan, dan tak terlihat lagi.
Franky mengucek matanya, kemudian mengerutkan keningnya, dia seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kemudian Franky melihat kembali ke arah wanita yang tergeletak di dekat truk itu. Betapa terkejutnya Franky, karena wajahnya sangat mirip dengan wanita yang dia lihat, dan kemudian menghilang itu. Franky juga melihat sebuah tas yang tergeletak di samping tubuh wanita itu.
"Jadi, tadi yang mengajak aku bicara itu, hantu?" gumam Franky dalam hati sambil bergidik ngeri, namun Franky teringat pesan wanita itu, sebelum menghilang tadi.
Kemudian Franky memberanikan diri, mengajak bicara salah seorang yang berada antara kerumunan itu.
"Mas, coba tasnya buka, siapa tahu ada kartu identitasnya, dan kalian bisa memberitahu keluarganya, kasihan kan keluarganya pasti bingung menunggu kedatangannya."
"Iya, Mas, benar juga ya, tapi aku mana berani buka tasnya," sahut lelaki yang diajak bicara oleh Franky.
"Biar aku yang buka, tapi kamu jadi saksi ya," kata Franky.
"Baik kalau begitu, lelaki itu mengambil tas milik wanita itu, kemudian memberikannya kepada Franky.
Dengan segera, Franky membuka tas itu, dia menemukan dompet berukuran persegi di dalam tas itu, dan Franky segera mengambil dompet itu, dan membukanya. Dia menemukan kartu identitas wanita itu.
"Nah, ini kartu identitasnya, ini ada alamat rumahnya, mas tolong ke rumahnya ya, kasih tahu keluarganya," kata Franky.
"Ah aku nggak berani, Mas, bagaimana kalau Mas saja?" kata lelaki itu, dengan tubuh gemetar.
"Duh ... ya sudah deh," ucap Franky sambil menghela napas.
Akhirnya, terpaksa Franky yang akan mengunjungi rumah wanita itu, sesuai dengan alamat identitasnya. Franky pun masuk ke dalam mobilnya, dia mengendarai mobilnya, menuju alamat yang di maksud.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya Franky sampai di sebuah rumah, yang menurutnya sesuai dengan identitasnya. Dia pun turun dari mobil, dan berjalan ke arah rumah itu, kemudian dia menekan bel yang ada di samping pintu rumah itu.
Tak lama, seorang wanita paruh baya keluar. "Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?"
"Selamat malam, Bu, maaf mengganggu malam-malam, saya ke sini hanya ingin menyampaikan sesuatu."
Kemudian, Franky memperlihatkan kartu identitas milik wanita yang mengalami kecelakaan tadi.
"Apa Ibu kenal sama perempuan ini?" tanya Franky.
Wanita paruh baya itu membelalakan matanya.
"Lho itu kan Dina anakku, kenapa kartu itu ada sama kamu?" Wanita tersebut tampak setengah curiga.
"Ibu jangan salah paham dulu, tolong kasih kesempatan saya untuk menjelaskan," ujar Franky tenang.
__ADS_1
"Ya sudah, silahkan masuk dulu." Wanita itu mempersilahkan Franky.
"Em, di sini saja deh, Bu, sebentar saja kok."