
"Huuu ... kamu itu, Jok, terus gimana kita?" Leon mulai merasa cemas, sedangkan Franky tetap tenang, rupanya dia sudah mulai terbiasa dengan keadaan itu.
Tengah asik mereka mengobrol, dari kejauhan lewatlah sosok wanita berpakaian serba hijau, dia berjalan selangkah demi selangkah, hingga melewati ketiga pria itu.
Leon terkesiap. "Eh, Jok, Fran, ada perempuan tuh," tunjuknya.
"Terus, mau di apakan, Le, kamu mau ajak kenalan?" Kelakar Joko.
"Ya enggak, maksud aku kok malam-malam gini ada perempuan jalan sendiri, apa nggak takut?"
"Memangnya kamu, penakut haha!"
Leon hanya diam, sedangkan Franky beranjak dari tempat duduknya, dan berjalan hendak mengikuti perempuan itu.
"Eh, Fran, mau kemana kamu?" cegah Leon.
Namun, Franky tak menghiraukan ucapan Leon, dia terus saja berjalan.
"Jok, Franky, Jok." Leon mengadu kepada Joko.
"Kamu tunggu sini ya, biar aku yang mengurus Franky.
Leon mengangguk, kemudian Joko berjalan menghampiri Franky, sampai di hadapan Franky, Joko memegang lengan pria itu, namun pandangan Franky kosong, menatap ke depan.
"Ni orang, hobi sekali sih melamun," gumam Joko dalam hati.
Kemudian, Joko berkomat-kamit membaca mantra, kemudian mengusap wajah Franky, dan seketika itu juga, Franky menjadi sadar.
"Eh Jok, kamu kok ...." Ucapan Franky terhenti.
"Kamu mau kemana, Fran?" tanya Joko.
Franky tampak bingung, dan mengedarkan pandangan ke kiri dan ke kanan. "Tadi, ada yang memanggilku."
"Siapa yang manggil kamu? rinjani?"
"Em, entahlah." Franky pun bingung.
"Rinjani tuh ada di pulau itu, dia nggak mungkin keluar-keluar, kamu tuh jangan suka melamun, Fran, sudah dibilang berkali-kali."
Joko pun menggandeng Franky kembali ke tempat semula.
"Franky mau ke mana, Jok?" tanya Leon.
"Biasa Le, dia itu sering sekali melamun, jadi gampang di pengaruhi sama roh halus," papar Joko.
Leon menatap iba kepada Franky.
"Terus, kita harus ngapain nih, Jok, biar bisa keluar dari sini?" Leon bertanya kepada Joko.
"Ya sabar lah, Le, aku juga sedang mencari cara," sahut Joko.
Leon pun mengangguk lemas.
"Kamu jaga Franky ya, Le, aku akan menyelidiki, apa yang menghalangi kita, sampai nggak bisa keluar."
__ADS_1
"Iya, Jok, aku akan jaga Franky," sahut Leon.
Joko pun berjalan ke depan mobil, dia berdiri dengan tangan bersedekap, pandangannya lurus ke depan.
Joko terlihat sedang menerawang sesuatu, dan di hadapannya, kini berdirilah sosok Gendruwo, bertubuh tinggi besar, rambutnya lebat tergerai sebatas bahu, dan tubuhnya berbulu lebat, berwarna hitam, matanya merah menyala.
"Pantas saja, ternyata kamu yang menghalangi jalan kami!" hardik Joko.
Gendruwo itu tertawa menggelegar, memekakkan telinga. Joko menutup telinganya.
"Hey, hentikan tawamu, nggak merdu sama sekali!" ejek Joko.
Gendruwo itu terdiam, dan tak lama dia mengeluarkan bola-bola api berwarna hitam, dan mengarahkannya ke tubuh Joko.
"Aaarrrggghhh!" pekik Joko, ketika salah satu bola api itu menyentuh punggungnya.
Joko pun segera menggulingkan tubuhnya, untuk mematikan api yang mulai membakar tubuhnya.
Baru saja api di punggung Joko memadam, Gendruwo itu melontarkan lagi ribuan bola-bola api, tiba-tiba Joko teringat dengan tongkat saktinya. Dia pun mengeluarkan tongkat saktinya dari dalam baju yang dia kenakan, kemudian menghalau bola-bola api yang berdatangan ke hadapannya itu.
Joko mengembalikkan bola-bola api itu, ke arah Gendruwo yang telah menyerangnya. Dan Gendruwo itu pun jatuh tersungkur, kala bola api menyerang dirinya. Tak lama, Joko pun berjalan menghampirinya.
"Hey, aku nggak punya banyak waktu, untuk bertarung denganmu, jadi, lebih baik kamu akhiri saja pertarungan ini!"
Kemudian, Gendruwo itu bangun, dan hendak menyerang Joko kembali, namun dengan sigap, Joko segera mengayunkan tendangan kaki, ke arah Gendruwo itu, hingga Gendruwo itu kembali jatuh tersungkur.
Tak menyia-nyiakan kesempatan itu, Joko pun menempelkan tongkat saktinya di kepala Gendruwo itu, tepat di ubun-ubunnya.
Joko menyerap habis semua energi di dalam tubuh Gendruwo itu, dan mengalirkannya ke dalam tongkat saktinya hingga Gendruwo itu pun mati, dan berubah menjadi kepulan asap hitam yang perlahan menghilang.
"Huft, akhirnya mati juga kamu," gumam Joko.
"Sudah selesai urusannya, Jok?" tanya Leon.
"Sudah, ayo kita coba naik ke mobil, aku akan menyetirnya."
Leon pun mengajak Franky masuk ke dalam mobil, kemudian Joko mencoba menstarter mobilnya. Joko senang sekali, karna akhirnya mobil itu bisa berjalan kembali.
"Lho, kok sekarang bisa, Jok?" tanya Leon keheranan.
"Iya, Le, tadi itu ada penghalang."
"Penghalang apa Jok?"
"Ya ada gendruwo yang mengganggu kita, tapi tenang saja, dia sudah aku musnahkan."
"Gendruwo? Hiii serem," Leon bergidik ngeri.
Joko pun tersenyum penuh makna, dan terus mengemudikan mobilnya.
"Jok, aku lapar sekali, kita cari makan yuk," kata Leon kepada Joko.
"Ini kan sudah malam, Le, kita mau cari kemana? Memangnya, malam-malam begini masih ada orang jualan makanan?" Franky menimpali.
Leon pun melirik jam di ponselnya, dan dia pun terbelalak "Hah? Jam dua belas? Ternyata sudah tengah malam."
__ADS_1
"Kamu tidur saja Le, biar nggak ngerasa lapar terus," seloroh Joko, sambil menyunggingkan senyumnya.
"Hem, yang namanya perut lapar, ya nggak bisa tidur, Jok."
"Hahaha, ya kamu menghalu saja."
"Menghalu gimana, Jok?"
"Ya kamu bayangkan sedang makan yang enak-enak gitu."
"Huuu, dasar kamu, Jok."
"Hehehe, ya habisnya, kamu ini aneh-aneh saja, malam-malam minta beli makan, nanti kalau ketemu penjual makanan, tapi yang jual hantu, mau kamu?"
"Hiii, jangan sampai deh."
Franky dan Joko terkekeh.
Mobil terus melaju, tiba-tiba Joko melihat sosok wanita berpakaian serba hijau, kembali melintas di jalan itu.
"Lho, itu bukannya perempuan yang tadi?" batin Joko.
Sosok perempuan itu, menatap sinis ke arah Joko, Joko tak mau kalah, dia pun menatap sinis ke arah perempuan itu, dan dalam sekejap mata, perempuan itu pun menghilang.
"Yah, baru dilihatin gitu saja, sudah baper," batin Joko sambil menahan senyumnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari, tak terasa, mereka pun sampai di perbatasan pulau abadi, Joko terus mengemudikan mobilnya, tanpa mengenal lelah dan kantuk.
Pukul empat pagi, mobil yang dikendarai oleh
Joko pun sampai di gang masuk ke rumah Leon.
"Sudah sampai, Le," kata Joko.
Leon yang hampir terlelap, karena mengantuk itu pun membuka matanya. "Hah? Kok cepat sekali."
"Cepat gimana, Le, ini sudah hampir subuh, kita berangkat saja kemarin pagi."
"Oh iya, ya sudah, aku turun ya, makasih sudah diajak berkelana hehe."
"Iya, Le, kamu turun, terus ke dapur dulu, baru tidur."
"Ngapain ke dapur dulu, Jok?"
"Bikin mie apa goreng telur kek, biar nyenyak tidurnya sampai besok siang," kelakar Joko.
"Hem, aku ngantuk, mau langsung tidur saja, sudah nggak napsu makan, sudah telat."
Joko pun terkekeh.
"Ayo, Fran, aku duluan ya." Leon berpamitan kepada Franky.
"Franky sudah di alam mimpi," sela Joko.
Leon melihat Franky sedang tertidur pulas, dengan posisi duduknya.
__ADS_1
Akhirnya Leon pun turun, dan berjalan ke arah rumahnya, Leon membuka pintu rumahnya, kebetulan tak dikunci, dan Leon pun masuk, kemudian menutup kembali pintu itu.
Joko pun memutar balikkan mobilnya, dan mengemudikannya menuju ke tempat tinggalnya.