Pulau Abadi

Pulau Abadi
Ada Apa dengan Rindi?


__ADS_3

Franky dan Rinjani pun mengakhiri kemesraannya.


"Ya sudah sana masuk, aku pulang dulu."


Rinjani mengangguk, kemudian masuk ke dalam rumahnya, sedangkan Franky pun masuk ke dalam mobil dan pulang.


Kini Rinjani telah berada di dalam kamarnya.


"Kenapa roh Rindi tiba-tiba muncul?" tanya Rinjani. dalam hati.


"Itu karna dia tidak terima tubuhnya kau pakai," ucap sebuah suara tanpa wujud.


Dia adalah Ratu penguasa pantai.


"Kenapa tidak rela Ratu? Kan arwah dari tubuh manusia ini sudah mati," tanya Rinjani penasaran.


"Semua manusia yang sudah mati, mana ada yang rela kalau jasadnya disalah gunakan, mereka ingin jasadnya di kuburkan dengan layak."


"Ah, menyebalkan sekali Ratu, kenapa pula dia selalu mengganggu kami, dan Franky sekarang bisa melihat arwah Rindi, padahal dia kan tak bisa melihat makhluk gaib seperti saya ini."


"Sepertinya arwah Rindi yang sudah membuka mata batin manusia yang bernama Franky, manusia itu kan memang mempunyai indera ke enam, hanya saja tertutup sejak lahir, dia hanya bisa merasakan kehadirannya, tapi tak bisa melihatnya."


"Lantas, bagaimana ini Ratu?"


"Bagaimana apanya?"


"Ya, cara mengatasi arwah Rindi, dia selalu mengganggu saya."


"Sudah, jalani saja apa yang terjadi."


"Kenapa begitu?"


"Karna ini semua ulah kau sendiri, siapa yang menyuruh kau masuk ke dalam tubuh manusia itu? Kau sudah di kasih peringatan berkali-kali, giliran reinkarnasi kau masih lama lagi."


"Tapi saya sangat mencintai manusia itu, dan saya ingin memiliki dia, kalau menunggu untuk bereinkarnasi, Franky pasti sudah mati karna dia hanya manusia biasa yang akan tua dan mati."


"Tapi, apa kau tahu akibatnya? Kalau kau menikah dengan manusia itu, kekuatanmu akan hilang, dan kau perlahan akan punah."


"Aku tak perduli, yang penting saya bisa bersama dengan manusia yang bernama Franky itu, lagi pula saya sekarang sudah memiliki batu kristal putih, jadi saya tak akan punah kan Ratu?"


"Siapa bilang? Batu kristal itu hanya untuk melindungimu dari kejahatan saja, bukan melindungimu dari kepunahan."


"Tolong saya Ratu."


"Apa lagi?"


"Ya yang saya ingin hidup bahagia bersama Franky, tanpa ada gangguan apa pun."


"Jangan mimpi! Takdirmu adalah hidup sebagai jin, itupun karna ulah kau sendiri, jadi kau harus menanggung akibatnya, sampai kapanpun, kau tak akan pernah bisa bersatu dengan manusia itu."


"Jadi saya harus bagaimana Ratu?"

__ADS_1


"Seperti yang sudah saya katakan tempo hari, karna kau sudah berulah dengan masuk ke dalam tubuh manusia itu, jadi kau harus melakukan tujuh kebaikan, kalau kau berhasil, mungkin saja keajaiban berpihak padamu."


"Apa maksud Ratu?"


"Ya, keinginanmu bisa saja terwujud."


"Lantas, yang di maksud dengan tujuh kebaikan itu, apa saja Ratu?"


"Itu tugasmu, masa begitu saja tak paham, kau pernah hidup sebagai manusia biasa bukan? Tentunya kau tahu, apa itu kebaikan, dan apa itu kesalahan."


Kemudian suara itu menghilang dan Rinjani duduk di bibir ranjang.


"Huh, kenapa sial sekali sih nasib saya?"


Rinjani tampak menyesali nasibnya.


Sementara itu Franky telah sampai di rumahnya, dia masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan dirinya di atas kasur.


"Kok menurutku Rindi itu jadi aneh ya? Sejak dia sembuh dari koma tingkahnya berubah, dan logat bicaranya juga asing sekali, ada apa dengan dia?" batinnya.


"Apa itu efek dari dia koma ya? Ah entahlah, aku pusing, terlalu banyak kejadian aneh yang aku alami."


"Oh iya, aku jadi ingat sama Leon, lebih baik besok aku ke tempat dia, aku akan menceritakan keanehan ini."


Franky pun terlelap dalam tidurnya.


Kini dia berada di sebuah taman, Franky berjalan-jalan di sekitar taman itu. Tiba-tiba pandangan netranya mengarah ke sosok wanita yang sedang berdiri di dekat pohon, dengan posisi diam mematung.


Franky mendekatinya, dia merasa seperti mengenali sosok wanita tersebut.


"Tolong aku," kata sosok wanita itu dengan suara parau.


"Hah? Tolong? Memang kau kenapa?"


Belum sempat sosok itu menjawab, Franky terbangun dari tidurnya.


"Hem, ternyata hanya mimpi, tapi kenapa mimpiku aneh sekali ya?" batin Franky sambil memikirkan sesuatu.


"Ah sudahlah, mungkin karna aku terlalu banyak pikiran, jadi terbawa mimpi, lagi pula kata orang, mimpi itu kan bunga tidur.


Franky kembali melanjutkan tidurnya di sisa malam yang masih panjang.


Keesokan hari setelah mandi dan berpenampilan rapi, Franky pergi ke rumah Leon.


Sesampainya di rumah Leon, Franky di sambut ramah oleh Nurdiana.


"Halo Franky, dari mana kamu?"


"Eh, dari rumah saja, Nyonya, hehe." Franky terkekeh.


"Masuk yuk," ajak Nurdiana.

__ADS_1


Franky pun masuk ke dalam. Pada saat yang bersamaan Leon baru saja bangun dari tidurnya.


"Eh.. ada tamu nih," seloroh Leon.


"Yah kamu Le, jam segini baru bangun," cibir Franky.


"Ya maklum saja, Fran, dia kan pengangguran sukses," kelakar Nurdiana.


"Mau bagaimana lagi, Tante, cari kerja ke mana-mana belum juga dapat." Leon menggembungkan kedua pipinya.


"Em, begitu saja ngambek, sudah sana mandi, tante buatkan roti sama susu buat sarapan kalian."


"Ya tante "


Leon pun bergegas ke kamar mandi, tak lama kemudian, Leon selesai mandi, kemudian bergabung dengan Franky dan Nurdiana.


"Oh ya, tuan Abdul mana, Nyonya?" tanya Franky.


"Dia masih di luar kota, Fran, lumayan ada bisnis besar," jawab Nurdiana.


"Oh begitu," Franky mengangguk.


"Oh iya, begini nyonya, saya ingin berbicara sesuatu."


"Apa itu, Fran?" tanya Nurdiana penasaran.


"Em.. saya kok merasa sejak Rindi sembuh dari koma, dan pulang dari rumah sakit, tingkah dia jadi aneh nyonya."


"Aneh bagaimana, Fran?" heran Leon.


"Ya pokoknya aneh deh, terus logat bicaranya juga asing sekali."


"Kamu serius, Fran?" Nurdiana memastikan.


"Serius, Nyonya."


Nurdiana terdiam sejenak....


"Saya juga heran sih, dia juga tiba-tiba mengundurkan diri dari pekerjaannya, padahal itu pekerjaan yang sudah lama dia impikan, dan jabatan dia di kantornya pun sudah tinggi, dengan penghasilan yang luar biasa jumlahnya."


"Yang benar, Tante? Rindi keluar dari pekerjaanya?" tanya Leon.


"Benar, Le, makanya itu tante heran."


"Sepertinya ada yang nggak beres sama si Rindi," celetuk Franky.


"Bisa jadi, Fran, karna dia kan gegar otak, dan hal itu bisa membuat orang menjadi lupa ingatan." Nurdiana menimpali.


"Saya rasa begitu, Nyonya, saya juga sempat berpikir, kalau Rindi itu hilang ingatan," kata Franky.


"Eh tunggu deh, kalau hilang ingatan, pasti Rindi lupa semuanya, tapi ini dia masih sama seperti semula, dia nggak hilang ingatan, hanya saja tingkah dan logat bicaranya yang berubah," jelas Franky.

__ADS_1


"Berubah bagaimana, Fran?" tanya Leon penasaran.


"Ya seperti bukan Rindi gitu, Le, tapi seperti orang lain."


__ADS_2