
"Hahahahaha!"
Joko tertawa terbahak.
"Apa yang lucu?" tanya Rinjani geram.
"Ternyata di dunia gaib, ada cinta segitiga ya, benar-benar drama bucin."
"Saya tak suka dengan pangeran."
"Tapi kan kalian sudah menikah dan pastinya punya anak gaib juga dong."
"Saya sudah bilang semua karna terpaksa."
"Terpaksa tapi sampai punya anak, itu artinya, kalian sudah melakukan hubungan yang intim."
"Cukup! Berhentilah memojokkan saya."
"Oke lah, terus bagaimana kelanjutan cerita batu kristal itu?"
"Saya terlibat pertarungan sengit dengan pangeran, maka dari itu, dia aku bunuh dengan batu kristal itu."
"Jadi, batu kristal itu, kamu pakai untuk membunuh suami kamu sendiri?"
"Ya, karna tanpa batu itu, saya tak mungkin bisa membunuh pangeran, dan bersamaan dengan itu, batu itu lenyap dari dalam tubuh saya."
Joko menepuk keningnya. "Haduh, kalah cepat deh aku."
"Memang untuk apa anda mengincar batu itu? Bukankah anda sudah sangat sakti?
"Ya namanya juga orang sakti, pasti suka mengoleksi benda-benda sakti juga dong."
"Anda datang ke tempat ini, sendirian saja? Mana Franky?"
"Aku suruh tunggu di luar sama temannya, kalau aku ajak masuk ke sini, nanti kamu ganggu lagi, hehehe."
Rinjani menggembungkan kedua pipinya.
"Sudah jangan ngambek, besok juga bisa ketemu lagi, sekarang kan aku yang ada perlu sama kamu, jadi aku masuk sendiri, kesini."
"Jadi anda pergi ke mari, hanya karna ada perlu dengan saya?"
"Iya, aku kan ingin sekali menguak misteri dalam hutan ini, dan sekarang, aku sudah tahu, mungkin besok kita akan pulang dulu, kita ke sini saja mendadak, sampai nggak bawa baju ganti."
"Terus, kapan anda akan membantu saya?"
"Kamu tenanglah, jangan khawatir, aku pulang dulu, di rumahku juga banyak urusan yang harus aku kerjakan, mungkin satu minggu lagi aku akan ke sini lagi, tentunya dengan membawa persiapan, lagian aku kan hanya membantu mencarikan jasadmu, aku harus bertapa dulu biar tahu keberadaan jasad kamu."
"Bukankah anda mempunyai ilmu terawang?"
"Iya betul, tapi di dalam laut itu, juga ada kehidupan dan kekuatan gaib, jadi aku nggak bisa sembarangan main terawang, harus ekstra hati-hati, karna lawan ku kali ini adalah Ratu penguasa pantai."
"Ya, memang dia yang memisahkan jiwa saya dengan tubuh saya, dan saya yakin sekali, kalau dia pula yang menyembunyikan jasad saya."
"Makannya, aku juga butuh melakukan tirakat, supaya aku sanggup menghadapi Ratu pantai itu, karna berhadapan dengan penguasa pantai itu, bukanlah hal mudah, dan nggak sembarangan orang mampu melawan dia, karna Ratu pantailah, lelembut yang paling berkuasa di atas para lelembut atau makhluk gaib lainnya."
__ADS_1
"Ya sudah, silahkan saja, saya tunggu kabar baiknya."
"Oh iya, aku mau tanya dong, aku kan tidur di penginapan, nah di situ ada gudang yang nggak boleh dibuka, apa kamu tahu, ada apa di dalam gudang itu?"
"Kalau masalah itu, bukan urusan saya, dan saya tak berhak mencampurinya, karna setiap tempat, pasti ada penunggunya masing-masing, saran saya sih, anda tak perlu lah mengusik makhluk yang ada di dalam gudang itu, selama dia nggak mencelakai kalian, kalau hanya menganggu saja, wajar lah, namanya makhluk halus, memang kerjaannya mengganggu manusia, ya tinggal bagaimana manusia itu menanggapinya."
"Em, okelah, kalau begitu, aku pulang dulu."
Rinjani mengangguk, kemudian menghilang dari hadapan Joko.
"Yee, dasar lelembut, main menghilang saja dia," gerutu Joko kemudian berjalan ke luar hutan, di sana Leon dan Franky masih menunggu.
"Lho, kok nggak jadi, Jok?" tanya Leon penasaran.
"Nggak jadi gimana, Le?" Joko balik bertanya.
"Kamu itu, masuk ke hutan baru dua menit, sudah keluar lagi."
"Hah? Yang benar saja kamu, Le?"
"Iya Jok, aku sama Franky baru saja duduk, terus kamu juga baru saja jalan ke hutan itu, kok tiba-tiba sudah keluar lagi."
Joko tampak terheran-heran, dengan ucapan Leon, dan seketika Joko pun paham.
'Oh iya ya, aku lupa, di dunia gaib kan perputaran waktu lebih cepat dari pada di bumi,' gumam Joko dalam hati.
Kemudian, Joko melirik ke arah Franky. Joko merasa heran, karena dia melihat, bahwa Franky sedang termenung dengan tatapan kosong."
"Itu si Franky kenapa? Kamu itu, gimana sih, Le? di suruh jaga juga."
Joko pun mengusap wajah Franky, dan seketika pria itu tersadar dari lamunannya.
"Eh kamu, Jok, dari mana?
"Dari toilet, Fran, kebelet." Joko mencoba meledek Franky.
"Memang, di sini ada toilet?"
"Ada di laut tuh," kata Joko menunjuk ke laut.
"Eh, kamu buang air di laut, Jok?"
"Iya, Fran, hehe."
Franky menggeleng, sementara Joko dan Leon saling berpandangan, mereka menahan tawa, merasa geli dengan reaksi Franky yang sedang dikerjai.
"Ya sudah, ayo kita pulang," ajak Joko.
Franky dan Leon pun beranjak dari tempat duduknya, dan berjalan mengekor di belakang Joko.
'Ternyata, hanya dua menit aku berkomunikasi sama jin bucin itu, padahal aku pikir ada tiga jam gitu,' gumam Joko dalam hati.
"Ternyata masih pagi ya, Le," kata Joko ketika melewati pantai.
"Lah, kita kan memang ke sini juga masih pagi. Lagian, kamu juga masuk ke hutan itu hanya sebentar saja," sahut Leon.
__ADS_1
"Iya juga ya." Joko menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.
"Kita mau ke mana lagi nih, Jok?" tanya Leon.
"Pulang."
"Hah? Serius kamu, Jok?"
"Ya iya lah, Le, atau kamu masih betah tinggal di sini?"
"Hiiiyyy, nggak bakal, deh."
Joko terkekeh ....
Tak lama, mereka pun sampai di penginapan, ketiga pria itu pun segera berkemas, setelah itu, mereka ke tempat bu Regina, pemilik penginapan itu, untuk berpamitan.
"Lho, belum ada satu minggu, kan?" heran bu Regina.
"Iya bu, tapi urusan kita sudah selesai, dan harus pulang," kata Joko.
"Tapi uangnya ...."
"Sudah, Bu, kita nggak mempermasalahkan uang, mungkin lain waktu kita akan kesini lagi, dan kita akan menginap disini lagi," kata Joko lagi.
"Oh baiklah kalau begitu, kalian hati-hati ya," kata bu Regina.
Ketiga pria itu tersenyum dalam anggukannya. Kemudian, mereka bertiga menuju ke rumah Bento.
"Hey, kalian, kok sudah pada rapi, mau kemana nih?" sambut Bento yang melihat kedatangan ketiga temannya itu.
"Kita mau pulang, Ben, makasih ya sudah dipinjami baju, dan ini bajunya," kata Joko sambil menyerahkan sebuah bungkusan kepada Bento.
"Ah bawa saja, Jok," kata Bento.
"Ah enggak, Ben, kapan-kapan kita ke sini lagi, jadi buat besok saja, kalau kita lupa bawa baju lagi, hehe."
Akhirnya Bento pun menerima bungkusan berisi baju itu, dari tangan Joko.
"Ya sudah, aku simpan bajunya, besok kalau kalian ke sini lagi, nggak perlu bawa baju ya, pakai ini saja hehe."
"Oke, Ben, oh iya ibu kamu mana?" sambung Franky.
"Yah, dia sedang ke pasar, Fran, belanja buat warung, tuh warungnya saja belum buka, kalian kepagian kok."
"Oh ya sudah, tolong pamitkan saja, ya."
"Siap, Fran, nanti aku kasih tahu, kalau kalian pulang."
"Ya sudah kita duluan ya, Ben," timpal Joko.
"Oke, Jok, hati-hati ya."
"Oke, Ben."
"Eh, kalian tunggu sini ya, aku ambil mobil dulu," kata Joko."
__ADS_1
Franky dan Leon mengangguk, kemudian Joko berjalan ke arah penginapan, dan masuk ke dalam mobilnya, kemudian mengemudikannya menuju ke arah di mana Franky dan Leon menunggu.