Pulau Abadi

Pulau Abadi
Jangan Melamun!


__ADS_3

Maaf, pak kiyai, apa bapak nggak bisa mengusir makhluk halus yang mengikuti Franky?" tanya Abdul Rozaq.


"Mau diusir dengan cara seperti apa pun percuma pak Abdul, karna yang namanya jin sudah mencintai manusia, dia nggak akan pernah enyah dari dalam diri manusia itu, jadi yang bisa mengusir, hanya manusia itu sendiri."


Pak Abdul mengangguk pertanda mengerti.


"Ya sudah, saya permisi dulu, pokoknya nak Franky, jangan suka melamun dan menyendiri ya," kata kiyai Romli.


Franky pun mengangguk lemah.


"Terimaksih pak kiyai, atas kesediaan waktunya," kata Abdul Rozaq.


Kiyai Romli mengangguk dan segera berlalu.


"Tuh, Fran, kamu jangan suka melamun ya, saya paham, kamu mungkin suka melamunkan Soraya kan, percayalah, dia sudah bahagia di alamnya, saya doakan, semoga kamu dapat gantinya Soraya yang lebih cantik dan juga baik," Nurdiana mencoba menenangkan.


Franky tersenyum dalam anggukannya.


"Ehem, Franky ini sudah ada calon kok, Tante," Leon menggoda.


"Ah, kamu apaan sih, Le," kata Franky malu-malu.


"Oh ya? Bagus dong, kalau sudah punya calon, sebaiknya kalian segeralah menikah, biar ada yang menemani kamu, Fran, dan kamu nggak terus-terusan merasa kesepian," ujar Nurdiana.


"Hehe, iya nyonya," sahut Franky lirih.


"Em, kalau saya boleh tahu, memangnya siapa calon kamu?" tanya Nurdiana penuh selidik.


Franky terkesiap, wajahnya merah padam seketika.


"Ehem... nggak jauh-jauh kok, Tante," sela Leon.


Franky menginjak kaki Leon.


"Aduh, ampun, Fran."


Nurdiana dan Abdul Rozaq terkekeh melihat tingkah kedua pria di hadapannya.


"Ibarat penulis dan penerbit, Tante paham kan maksud saya?" ujar Leon.


Franky terbelalak.


"Ah kamu ini Le."


"Franky, kamu nggak perlu malu sama saya, kamu kenal saya sudah berapa lama? Seperti baru kemarin kenal saja, terbuka saja sama saya, anggap saya ini orang tua kamu sendiri," ujar Nurdiana.


"Hehe, iya, Nyonya," sahut Franky.


Leon berbisik di telinga Nurdiana, dan seketika, kedua mata Nurdiana pun membola sempurna.


"Benarkah? Saya sudah menduga sebelumnya, Franky, kejar dia, saya mendukung kamu! Rindi itu gadis yang baik, dan dia sudah kami anggap seperti saudara sendiri, ya kan, Pak?" Nurdiana mengerlingkan matanya ke arah suaminya.


Abdul Rozaq mengangguk.


Franky seketika menjadi nervous.


"Eh ... iya, Nyonya hehe."


"Kamu nggak perlu sungkan, Fran, besok kalau kalian menikah, saya akan membantu segala sesuatunya, kasihan kamu tinggal sendiri, jadi kamu bisa menganggap saya orang tua kamu juga."


"Iya, Nyonya, terimakasih sebelumnya, rencana saya, dalam waktu dekat ini, saya akan melamar Rindi, dan sepertinya dia juga setuju."

__ADS_1


"Wah bagus itu, Fran, semoga kalian berjodoh ya."


Franky mengangguk dengan wajah ceria.


"Eh makan yuk, kalian pasti lapar kan?" ajak Nurdiana.


"Ayo, Fran, kita makan hehe," kekeh Leon.


Franky mengangguk.


"Kita makan di rumah makan minang ya," ajak Nurdiana.


"Wah, makanan favorit si Franky tuh Tante," celetuk Leon.


"Iya, saya tahu, makannya saya ajak kalian makan di sana, biar kalian senang."


Franky tersenyum bahagia, dia merasa diperhatikan oleh orang tua yang sesungguhnya saat itu.


Mereka berempat pun naik ke dalam mobil, yang akan di kendarai oleh Abdul Rozak.


Hanya memakan waktu dua puluh menit, untuk sampai di rumah makan minang.


Mereka semua turun, dan masuk ke dalam, untuk mencari tempat duduk.


Seorang pelayan memberikan buku daftar menu kepada mereka.


Nurdiana melihat-lihat buku menu itu, kemudian dia menuliskan pesanannya, pada secarik kertas yang telah di sediakan.


Abdul dan Rozaq pun memilih menu kesukaan mereka.


"Kamu mau makan apa, Fran? Silahkan di tulis," kata Nurdiana.


"Eh, iya, Nyonya."


"Makan apa ya?" batinnya.


Seketika dia teringat dengan Rindi, sewaktu dia mengajaknya makan di tempat itu, dia pun termenung sejenak.


"Franky!"


Panggilan Nurdiana membuyarkan lamunan Franky.


"Eh i.. iya nyonya."


"Ya ampun, Fran, kamu lupa ya pesan pak kiyai tadi, kamu itu jangan sering melamun," Nurdiana menggelengkan kepala sambil menghembuskan nafas kasarnya.


"Kamu mikir apa sih, Fran? Ya sudah, habis ini kamu temui saja Rindi, dari pada melamun nggak jelas," Leon menimpali.


"Ya sudah, kamu mau makan apa, Fran?" tanya Nurdiana lagi.


"Em, saya mau nasi, sama dendeng sapi saja, Nyonya."


Nurdiana pun menuliskan apa yang di pesan oleh Franky, kemudian menyerahkan catatan pesanan menu itu kepada seorang pelayan.


Tak lama pesanan mereka datang, mereka pun menikmatinya.


"Ingat, Fran, kamu janagn sering-sering melamun ya," Nurdiana kembali mengingatkan.


"Iya, Nyonya."


Selesai makan Abdul Rozaq membayar semua yang telah mereka makan, dan selesai membayar, mereka pulang.

__ADS_1


Sampai di rumah Nurdiana, Franky berpamitan pulang.


"Hati-hati Fran, ingat pesan saya," kata Nurdiana.


"Iya, Nyonya," angguk Franky.


"Iya, Fran, jangan suka melamun, kalau kamu mau melamun, kamu lamunin saja si Rindi, jangan lainnya yang nggak jelas," kelakar Leon.


"Ah.. kamu ini Le, ya sudah aku duluan ya." Franky pun mengemudikan mobilnya.


Di tengah perjalanan, dia melihat sosok wanita yang mirip dengan Rindi.


"Rindi? Sedang apa dia sendirian di tempat ini?"


Franky turun dari mobil, dan menghampiri sosok tersebut.


Tiba-tiba muncullah kabut tebal di sekitar tempat itu.


"Wah, seperti di pegunungan saja, ada kabut segala," batin EFranjy.


Dan tak lama kabut pun menghilang, beserta sosok wanita yang di lihat Franky.


Franky terbelalak.


"Hah? Mana si Rindi? Kok main hilang saja," batinnya.


Dengan langkah gontai, Franky berjalan masuk kembali, ke dalam mobil.


Mobil pun melaju.


"Ingat, Franky, jangan suka melamun."


Ucapan Nurdiana kembali terngiang di telinga.


"Ah aku kan nggak melamun, ya sudahlah, sebaiknya aku segera pulang saja."


Tiga puluh lima menit kemudian, Franky tiba di rumahnya, setelah memasukkan mobil ke dalam bagasi, Franky pun masuk ke dalam rumahnya, dan masuk ke dalam kamarnya.


Netranya menangkap sebuah laptop, yang terletak di dekat bantal, di kasurnya.


"Nah ... ini dia laptopku, ada untungnya juga, laptop ku ketinggalan, aku jadi terbebas dari tempat menyeramkan itu," batinnya.


Seketika angin berhembus kencang menerpa wajah Franky.


"Kebiasaan sekali ya, selalu seperti ini, rumah ini lama-lama jadi ikut nggak beres juga, huft."


Franky pun membuka laptopnya.


Dia terhenyak seketika, melihat naskah novel yang tertulis di dalamnya.


Franky mengucek kedua matanya.


"I.. ini? Apa aku nggak salah lihat?"


Sebuah novel berjudul 'LEMBAH ILUSI' telah selesai di rilis.


"Siapa yang membuat novel ini? Perasaan, aku belum menulisnya sama sekali."


Franky membaca seluruh naskah itu, dahinya mengernyit.


"Tapi ini kan tulisanku? Kapan aku nulisnya ya? Masa iya, aku mimpi menulis, terus mimpi itu menjadi nyata, hem.. hidup ini memang penuh misteri."

__ADS_1


Franky pun menelpon Rindi, dia mengundang Rindi untuk datang ke rumah, sepulang Rindi dari kantornya.


__ADS_2