
"Hem, yayaya," sahut Joko, kemudian berjalan masuk ke dalam kamar.
Di dalam kamar, Joko duduk di atas kasur, di samping Franky yang masih tertidur pulas.
"Huft, gak jadi ketemu sama jin bucin itu deh, gara-gara ketemu orang nggak jelas, main serang lagi. Sial ... kalau aku sudah nggak pakai hati, sudah aku bunuh saat itu juga," batin Joko, kemudian dia merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya.
"Tolooong ...."
Sayup-sayup, terdengar suara wanita minta tolong, di telinga Joko. Perlahan, Joko membuka matanya, dia bangun dan keluar kamar.
"Siapa lagi sih, malam-malam begini, ganggu orang tidur saja," batin Joko.
"Tolooong ...."
Suara itu kembali terdengar, Joko mendengarkan dengan seksama, dia berjalan ke arah gudang.
"Sudah ku duga, pasti dari sini sumbernya," batin Joko sambil mengamati pintu gudang itu.
"Kalau si Franky dengar suara ini, pasti dia terpengaruh lagi, untung saja pintu ini sudah aku kunci."
Suara itu terus terdengar, Joko pun berkomunikasi dari hati ke hati.
"Hey, bisa diam nggak?"
"Tolong aku, jawab suara itu."
"Kamu minta tolonglah sama makhluk di alam kamu sendiri, kita tuh beda alam, jadi jangan bikin resah."
"Tolong aku," suara itu terus minta tolong.
"Kalau kamu terus berisik, akan aku musnahkan kamu sekarang juga."
Tak lama, suara itu tak terdengar lagi, suasana pun kembali hening. Joko kembali ke dalam kamarnya, dia pun akhirnya tertidur tanpa gangguan suara apa lagi.
****
Pagi hari tiba, Leon baru saja pulang dari bekerja, dia segera masuk ke dalam kamar, di sana Franky dan Joko masih tertidur pulas.
Karena merasa lelah, Leon pun segera merebahkan tubuhnya di samping Joko, hingga terlelap dalam tidurnya.
Waktu pun telah menunjukkan pukul sembilan pagi, Franky dan Joko pun terbangun secara bersamaan, karena mendengar suara dengkuran Leon.
"Hem, ternyata Leon yang ngorok, Fran, aku pikir suara apa huft," ujar Joko.
Franky pun melirik ke arah jam dinding ....
"Lagi pula, ini sudah jam sembilan lebih, Jok, masa kita mau tidur terus," seloroh Franky.
"Iya juga ya, hehe." Joko terkekeh, tak lama raut wajahnya berubah menjadi rasa penasaran.
"Kamu kenapa, Jok?" tanya Franky yang juga memperhatikan temannya itu.
"Masa kamu nggak mencium sesuatu, Fran?"
__ADS_1
Kini, giliran Franky yang mengerutkan keningnya.
"Hah? Bau apa, Jok?"
"Coba saja, kamu cium sendiri, Fran."
Franky pun mendengus, dan mengarahkan inderanya ke sumber aroma tersebut, seketika Franky menoleh ke meja di sudut kamar itu. Franky terbelalak, tatkala dia kembali melihat masakan di atas meja.
"Lihat itu, Jok," tunjuk Franky.
Joko menoleh ke arah meja, dia pun terbelalak.
"Astaga!" Joko menepuk keningnya.
"Kamu kenapa, Jok?" Franky merasa heran.
"Aku tuh ingin sekali menyelidiki, siapa sebenarnya yang suka mengirim masakan ini setiap hari, tapi aku selalu ketiduran," ujar Joko.
"Oh gitu, eh, kamu kan punya ilmu terawang, pastinya kamu bisa menerawang, siapa yang sudah memasak semua ini," tutur Franky.
"Kalau masalah seperti ini, nggak bisa, Fran," papar Joko.
"Kok nggak bisa? Memangnya kenapa, Jok? Bukankah ini juga ada hubungannya sama hal gaib?" Franky bersikeras.
"Ah, itu kan hanya masakan biasa, masa berhubungan dengan hal gaib sih, Fran, kamu ini aneh-aneh saja," kelakar Joko.
"Ya kan buktinya, kita nggak tahu, siapa yang kasih masakan itu tiap hari, masakan itu misterius, Jok."
"Tapi aku memang nggak bisa menerawang, siapa orang yang sudah memasak sebanyak ini."
"Ya kan aku berniat nggak tidur semalaman, Fran, aku akan menyelidiki dari jam tiga sampai jam enam pagi, tapi anehnya, aku selalu mengantuk di jam itu."
"Duh, susah juga ya, Jok, sebenarnya senang juga, dapat makanan enak tiap hari, tapi kan kalau nggak tahu siapa yang kasih makanan itu, jadi penasaran juga, ya?"
"Nah itu kamu tahu, Frank."
"Hehe, iya, Jok, ya sudah aku mandi dulu, terus kita makan yuk, setelah itu aku akan ke pantai."
"Haduh, pagi-pagi sudah pacaran kamu, Fran," ledek Joko.
"Siapa yang pacaran, Jok?"
"Lah, itu kamu mau ke pantai, pasti mau ketemu Rinjani, kan, memang mau ketemu siapa lagi?"
"Dih, sok tahu kamu, Jok, aku tuh mau cari inspirasi di pantai, siapa tahu kan aku bisa mendapat banyak inspirasi, bosan di kamar terus."
"Oh, kamu mau mau melanjutkan nulis novel, aku pikir sudah kangen sama Rinjani, hehehe."
"Hem, kamu itu, Jok."
Franky pun bergegas mandi, kemudian sarapan dengan ditemani Joko. Dan selasai makan, Franky menuju ke pantai. Sesampainya, dia duduk di sebuah batu berukuran sedang di dekat pantai itu.
Kemudian, Franky mulai mencurahkan apa yang dia dapatkan dalam benaknya, ke dalam sebuah Novel.
__ADS_1
****
Sementara itu, Joko telah selesai mandi, dia pun duduk termenung di kursi ruang depan.
"Kenapa juga aku bisa ketiduran, kan jadi gagal menyelidiki chef misterius itu," batinnya.
"Meooong ...."
Tak lama, Nawang datang menghampiri Joko, dan duduk di sebelah Joko.
"Apa sih yang sedang kau pikirkan?" tanya Nawang, dalam hati.
"Aku tuh sampai sekarang nggak habis pikir," ujar Joko.
"Lho, memang ada apa?"
"Bayangkan saja, setiap hari dikirim masakan untuk dimakan, tanpa kita tahu siapa orang yang kasih masakan itu."
"Terus, apa masalahnya?"
"Kok apa masalahnya, kan jadi aneh lah."
"Aneh bagaimana? Kau kan tinggal makan saja, enak kan, nggak perlu ke warung."
"Ya betul, enak, tinggal makan, nggak keluar uang juga. Tapi kan, datangnya misterius, ya kan jadi nggak tenang."
"Selama kita nggak merasa mencuri makanan itu, nggak masalah lagi."
"Ah, kalau aku tetap masalah, kan kita jadi dihantui rasa penasaran, eh apa mungkin, itu kiriman dari makhluk halus yang ada di gudang itu, ya?" Joko berusaha menebak-nebak.
"Ah kau ini ngaco saja," ujar Nawang.
"Terus, siapa dong yang masak sebanyak itu?"
"Ya mana aku tahu, lagi pula, kau itu tinggal makan, kok seperti orang susah saja," cibir Nawang.
"Ya enak tinggal makan, tapi pikiran nggak tenang."
"Ya di bikin enak lah."
"Hem, memang susah ya bicara sama kucing."
Nawang tertawa kecil, kemudian berjalan ke dapur, meninggalkan Joko seorang diri di ruang depan.
"Hem, dasar kucing, malah ditertawakan."
Nawang pun kembali meringkuk di sudut dapur, dia tersenyum penuh arti, kemudian memejamkan matanya.
"Siapa sih yang masak sebanyak itu? Aku nggak habis pikir sampai sekarang. Bayangkan, tiap hari dan siapa orangnya pun aku nggak kenal. Sebenarnya, apa tujuan orang itu, memasak buat kita orang setiap hari? Aneh nggak sih, ah ini benar-benar aneh," gumam Joko dalam hati, dia merasa gemas dengan diri sendiri.
Mau ketemu si Rinjani juga nggak jadi, ah nanti malam saja. Lagian aneh juga, masa iya, sama keberadaan jasad sendiri nggak tahu di mana, huft, ada juga ya, lelembut aneh macam Rinjani, hem."
Joko terus menggerutu dalam hati.
__ADS_1
"Perasaan, aku di sini malah jadi dapat tugas cukup banyak, nyari jasad jin bucin, suruh bunuh paman siluman kucing itu, dan menyelidiki chef misterius itu."
Joko pun menghembuskan nafas kasarnya.