Pulau Abadi

Pulau Abadi
Jin Botol


__ADS_3

Pada saat Rinjani hendak mengecup bibir Franky dengan sigap hantu Rindi berkomat-kamit membaca mantera sambil mengarahkan botol yang di temuinya di jalan tadi.


Dan dalam sekejap tubuh Rinjani berubah menjadi asap putih dan tersedot masuk ke dalam botol tersebut. Setelah itu hantu Rindi cepat-cepat menutup botol itu, dia menyimpannya pada saku bajunya karena botol itu berukuran mini jadi hantu Rindi tak khawatir botol itu akan jatuh.


Kemudian hantu Rindi berjalan menghampiri Franky yang masih terdiam mematung dan hantu Rindi pun membaca sebuah mantera untuk menghilangkan sihir dari Rinjani.


Setelah membaca mantera hantu Rindi pun mengusap wajah Franky dan seketika pria tersebut pun sadar namun dia tampak kebingungan.


"Rindi, aku ada di mana ini? Kenapa langitnya gelap? Apa ini sudah malam? Perasaan tadi masih pagi."


"Huft, kamu ini, baru saja sadar sudah memberiku banyak sekali pertanyaan, kalau saja aku nggak menyelamatkanmu, kamu nggak akan pernah keluar dari tempat ini!"


Hantu Rindi sengaja tak menceritakan kepada Franky bahwa Rinjanilah yang mengajak Franky ke tempat itu, hantu Rindi khawatir jiwa Franky akan kembali terganggu.


"Ayo, sekarang ikut aku." Hantu Rindi menarik tangan Franky.


Franky merasa heran kenapa Rindi bisa memegang tangannya padahal setahu Franky bahwa hantu itu selalu menembus ketika tangan atau tubuh mereka bersentuhan dengan benda maupun makhluk hidup.


Namun Franky enggan membahas soal itu kepada hantu Rindi, dia hanya mengikuti hantu Rindi.


Setelah berjalan beberapa langkah hantu Rindi pun berhenti, dan sontak saja membuat Franky pun ikut berhenti.


"Tutup mata kamu, Fran," kata hantu Rindi.


"Memangnya kenapa?" Franky mengerutkan keningnya.


"Sudah, ikuti saja perintahku, dan jangan banyak tanya, kalau kamu ingin keluar dari alam ini, kecuali kalau kamu ingin terus berada di sini, ya silahkan."


Akhirnya Franky pun memejamkan matanya dan dalam hitungan detik hantu Rindi menyuruh Franky untuk membuka matanya kembali.


Betapa terkejutnya Franky karena dia kini sedang duduk di teras depan rumahnya dengan laptop di pangkuannya, dan kala itu hari telah menjelang siang.


Franky pun menoleh ke samping, dia melihat hantu Rindi sedang duduk dengan senyum smirknya.


"Rindi? Kapan kamu datang?"


"Dari tadi pagi, apa kamu nggak peka?"


"Eh, bukan begitu, aku pikir kamu sudah pulang tadi."


"Memangnya, aku nggak boleh ke sini lagi? Kalau nggak boleh, ya sudah, aku pulang saja."


"Tentu saja boleh, kamu itu sudah jadi hantu, tapi masih suka ngambek," cibir Franky.


Hantu Rindi hanya tersenyum sinis.


"Eh, Fran, kamu itu kalau di kasih tahu berapa kali, selalu nggak mau mendengarkan."


"Apa sih, Rin?" Raut wajah Franky seperti heran dengan hantu Rindi.


"Aku sudah mengingatkan kamu berkali-kali, jangan suka melamun!" cetus hantu Rindi.


"Lho, memangnya aku sedang melamun?" sahut Franky dengan wajah terlihat bodoh.


"Astaga!"


Hantu Rindi menepuk keningnya, dia pun menggeleng kepala merasa gemas dengan tingkah Franky.

__ADS_1


"Kenapa, Rin?" tanya Franky.


Hantu Rindi pun mulai kesal.


"Sudah, pokoknya aku peringatkan kamu satu kali lagi, jangan suka melamun, titik!"


"Iya, iya," sahut Franky.


"Oh iya, kamu sudah makan belum, Rin?" tanya Franky.


Seketika hantu Rindi tertawa dengan tawa yang menggelegar membuat Franky menutup telinganya.


"Stop ...!" seru Franky.


Seketika hantu Rindi menghentikan tawanya.


"Kamu itu Rin, tertawa seperti kuntilanak saja," kata Franky.


"Apa? Hihihi ...."


Hantu Rindi kembali tertawa terkekeh dengan nada mengerikan.


Franky semakin kesal dengan Rindi, akhirnya dia pun menyetel musik mp3 dari laptopnya sehingga dia tak begitu mendengar tawa hantu Rindi itu.


Franky terlihat asik mendengarkan lagu-lagu di laptopnya sembari tangannya membuka-buka layar laptopnya.


Dan ... untuk yang ke sekian kalinya Franky terkejut lagi.


Sebuah novel baru lengkap dengan judul dan isi babnya telah terliris sempurna.


Franky membelalakan matanya ....


Dia memang berusaha ingin membantu Franky dalam membuat novel baru.


"Kamu kenapa, Fran? Kok kaget begitu?" tanya hantu Rindi.


"Ini lho, Rin, aku sepertinya belum membuat novel apa pun, tapi kenapa ini ada novel yang baru di buat, dengan tulisan tanganku sendiri?"


"Kamu lupa mungkin, masa nulis sendiri, nggak ingat," seloroh hantu Rindi.


Franky masih belum percaya, kalau dia telah merilis novel nya.


"Em, memang, apa judul novel kamu yang terbaru?" Hantu Rindi merasa kepo.


"Jin Botol," jawab Franky.


"Hah? Hihihi!" Hantu Rindi kembali terkekeh.


"Yeee, malah tertawa huft."


"Aku nggak mentertawakan kamu, Fran, aku hanya lucu saja sama judul buku kamu," seloroh hantu Rindi.


Sebenarnya Rindi yang sudah membantu Franky menulis novel barunya, namun dia tak mau Franky tahu, dia hanya ingin Franky merasa yakin bahwa dialah yang membuat karyanya.


Franky pun menjadi tersipu ....


"Oh iya, kamu belum jawab pertanyaanku."

__ADS_1


"Pertanyaan yang mana, Fran?" Hantu Rindi balik bertanya.


"Em, kamu sudah makan atau belum?" tanya Franky.


"Hantu mah mana pernah makan, Fran? Kamu ini ada-ada saja."


"Memang, nggak pernah merasakan lapar gitu?" heran Erlangga.


"Ya enggaklah, kalaupun aku mau makan, ya mungkin, aku mau makan kamu."


Franky terkekeh ....


"Maksud kamu apa, Rin?"


"Pikir saja sendiri, Fran."


"Hem ...." Franky hanya berdehem.


Sedangkan Rindi hanya tersenyum, dia sangat senang mengajak Franky bercanda dengan begitu Franky tak mudah lagi banyak melamun.


"Ya sudah, aku nant ...." Belum sempat Franky meneruskan ucapannya tiba-tiba hantu Rindi sudah hilang.


"Lho, hilang lagi, hem ... dasar hantu," gumam Franky.


"Ah, sebaiknya aku kasih file ini ke nyonya Nurdiana, biar segera di cek ulang," batin Franky.


Franky pun membawa laptopnya masuk ke dalam mobilnya setelah sebelumnya dia mengunci pintu rumah. Kemudian Franky mengendarai mobilnya hingga sampai di sebuah kantor penerbit milik Nurdiana.


Nurdiana menyambut kedatangan Franky.


Franky pun masuk dan menyerahkan file berisi dokumen novelnya.


Nurdiana menerima dan mengecek di komputernya.


"Ck, ck, ck," Nurdiana berdecak kagum.


"Kamu makin hari makin terampil saja, Fran."


"Ah, biasa saja, Nyonya."


Franky pun tak menceritakan tentang keanehan pada novelnya kepada Nurdiana karena Franky tak mau Nurdiana menganggap dia aneh.


Kemudian Nurdiana menyimpan file milik Franky.


"Nanti saya serahkan kepada manager PT. Bintang Kejora, supaya karya kamu segera di terbitkan, dan nanti satu minggu lagi, kamu kesini ya, ambil honor kamu," kata Nurdiana. Franky mengangguk ramah.


"Oh iya, Leon sedang apa, Nyonya?"


"Seperti biasa, Fran, dia hanya bersantai di rumah, karna memang belum mendapatkan pekerjaan," kata Nurdiana dengan nada sedikit mengeluh.


"Yang sabar, Nyonya, suatu saat pasti dia akan mendapatkan pekerjaan, yang sesuai sama ketrampilannya." Franky berusaha menghibur Nurdiana.


Nurdiana tersenyum dalam anggukannya.


"Ya sudah, saya permisi dulu, Nyonya," pamit Franky.


"Oke, Fran, hati-hati ya."

__ADS_1


Franky mengangguk kemudian berlalu dari hadapan Nurdiana.


__ADS_2