Pulau Abadi

Pulau Abadi
Hantu Rindi


__ADS_3

"Tapi, kalau kamu adalah arwah Rindi, itu artinya Rindi sudah mati. Lantas, Rindi yang selama ini aku temui siapa? Setahu aku, dia sempat koma akibat kecelakaan itu, dan aku sendiri lah yang nenabrak dia, tapi dia sudah sembuh dari koma," papar Franky.


"Memang tubuhnya adalah tubuh milikku, tapi jiwanya bukan aku, dan Rindi yang sebenarnya, sekarang ini tubuhnya sedang di rasuki oleh sosok Jin bernama Rinjani, yang berasal dari pulau abadi, dia memakai tubuhku dengan tujuan ingin menyesatkanmu," jelas hantu Rindi.


Dan seketika itu juga ingatan Franky tentang pulau abadi dan sosok wanita bernama Rinjani pun bermunculan kembali dalam benaknya.


Dia kini mengingat kembali awal mula dia mengenal Rinjani.


Hantu Rindi memang sengaja membuka mata batin Franky sehingga dia bisa peka terhadap hal-hal gaib.


"Ah, sekarang aku ingat semua, aku pernah diajak ke pulau abadi setelah ada masalah dengan pekerjaanku, ketika aku sudah nggak fokus lagi untuk membuat sebuah novel, temanku yang bernama Leon mengajakku ke pulau abadi, karna katanya di sana tempatnya sangat tenang dan damai, sehingga aku bisa menghasilkan ide-ide cemerlang untuk aku jadikan alur cerita dalam novel ku. Dan memang benar, sejak aku berada di tempat itu, aku bisa merilis novel dengan sempurna, dan di sana aku bertemu sama perempuan bernama Rinjani. Kami saling mencintai, tapi kenyataannya dia justru memilih lelaki lain, hingga akhirnya aku pulang ke sini, tapi aku heran, sejak aku pulang dari pulau abadi, aku selalu mengalami kejadian-kejadian aneh dan nggak masuk akal." Franky menjelaskan secara detail.


"Sekarang, kamu sudah paham kan semuanya, misteri apa yang ada di pulau abadi itu, sekarang aku akan membantu kamu menguak misteri di pulau itu, semua rasa penasaran kamu akan terjawab," kata hantu Rindi.


"Eh, tunggu deh, apa kamu sudah mati? Bukankah kamu hanya koma? Dan sepertinya, kamu sudah sembuh," ujar Franky.


Hantu Rindi tersenyum sinis.


"Sewaktu aku kecelakaan, kepalaku membentur aspal dengan sangat keras, dan aku menjadi gegar otak, aku sempat koma, namun benturan di kepalaku cukup parah, hingga akhirnya aku nggak kuat dan mati deh," sahut Rindi.


Tanpa sadar bulir bening berjatuhan di pipi Franky membuat hantu Rindi menjadi heran.


"Kamu nangis?" tanya hantu Rindi.


"Maafkan aku, Rin, gara-gara kecerobohanku, kamu harus mati dengan tragis, padahal sekitar tiga bulan lagi, surat dudaku keluar, dan aku akan menikahi kamu," isak Franky.


"Semua sudah takdir, nggak perlu disesali, kita nggak bisa melawan takdir," ujar hantu Rindi.


"Terus, kenapa kamu malah berkeliaran di bumi, bukannya orang yang sudah mati, kembali ke alamnya ya?"


"Aku mati nggak tenang, untuk itu aku jadi hantu gentayangan, maka dari itu aku mencegah kamu bunuh diri, karna aku nggak mau nasib kamu seperti aku, gentayangan nggak jelas di bumi ini, tanpa tahu kapan menuju ke alam yang seharusnya, kamu pikir enak sekali jadi hantu gentayangan? Cape tahu!"


"Memangnya, kenapa kamu mati nggak tenang? Apa karna kecelakaan itu? Karna aku ya?"


"Bisa nggak, kamu berhenti menyalahkan diri sendiri, lama-lama gemas aku sama kamu."


"Terus kenapa?" Franky semakin merasa ingin tahu.


"Karna jazadku dipakai sama si Rinjani itu, jadi aku mati nggak sempurna, semua manusia pasti ingin mati dengan tenang, dan jazadnya ingin di kebumikan dengan layak, kamu paham kan?"


"Oh begitu, iya juga ya, kalo mati tapi badannya nggak di kubur dengan layak, pasti arwahnya nggak tenang."


"Nah, itu kamu paham," ujar hantu Rindi.

__ADS_1


Franky pun terkekeh ....


"Oh iya, aku mau tanya lagi, kenapa aku bisa lihat kamu? Bukannya kamu itu hantu? Dan kenapa juga, aku bisa lihat hantu?"


Hantu Rindi terkekeh mengerikan membuat Franky menutup telinganya.


"Kamu nggak sadar saja, kalau kamu itu punya indera ke enam, yang artinya punya kemampuan bisa melihat dan merasakan kehadiran makhluk halus atau hantu, tapi nggak semua orang punya kemampuan seperti kamu."


Franky pun mengangguk tanda mengerti.


"Jadi, Rinjani itu hantu juga?"


"Betul, dan selama dia nggak keluar dari jazadku, aku juga akan terus bergentayangan, dan kematianku nggak akan sempurna."


"Terus, apa yang harus aku lakukan? Dia sering menemuiku."


"Jangan khawatir, mulai sekarang, aku akan menjagamu dari gangguan makhluk halus."


"Menjagaku?" Franky mengerutkan keningnya.


"Kenapa? Kamu nggak suka? Atau kamu takut? Tenang saja, aku nggak akan memakanmu."


Franky terdiam sejenak ....


"Tapi kalau kamu nggak nyaman dengan kehadiranku, aku akan pergi dari hidup kamu."


Hantu Rindi pun tersenyum menyeringai hingga memperlihatkan taring-taringnya yang tajam. Matanya yang merah kembali menyala menambah seram wajahnya.


Franky tak kuasa lagi dengan kenyataan yang baru saja dia dengar, tubuhnya pun limbung kemudian jatuh ke lantai di rumahnya dan dalam sekejap pria berpawakan kurus itupun tak sadarkan diri.


Tak lama hantu Rindi pun melayang menembus atap rumah Franky sambil tertawa cekikikan


"Hiii ... hiii ... hiii ...."


Kemudian hantu Rindi pun menghilang di balik atap rumah bersama derasnya hujan yang masih turun malam itu.


****


Matahari kini bersinar dengan terik cahayanya masuk menembus sela-sela kaca jendela di rumah Franky.


Franky beringsut bangun dari tidur nyenyaknya, tubuhnya menggigil kedinginan karena dia tertidur di lantai semalaman dan dia masih merasakan sakit kepala. Sejenak kemudian dia kembali teringat apa yang terjadi semalam.


Franky mengarahkan pandangannya ke sekeliling dan dia melihat pisau yang semalam dia pergunakan untuk bunuh diri.

__ADS_1


"Astaga! Hampir saja aku bunuh diri, nggak, aku nggak boleh mati, perjalanan hidupku masih panjang, dan impianku menjadi novelis paling terkenal dan sukses masih ada di hatiku," batinnya.


Untuk pertama kalinya Franky menyaksikan hal-hal yang tak masuk akal baginya melihat hantu cantik namun menyeramkan seperti Rindi.


Kemudian Franky segera berjalan ke kamar mandi dan segera melaksanakan ritual mandinya. Selesai mandi Franky merasa segar.


Seperti biasa dia menyeduh teh melati kesukaannya kemudian duduk di teras depan rumahnya.


Franky sangat terkejut karena sosok berwajah pucat bermata merah menyala dan bergigi taring dengan surai yang menutupi mata kembali hadir di hadapannya.


"Bagaimana tidurmu, Fran? Apakah nyenyak? Hihihi."


Franky bergidik ngeri mendengar kekehan hantu Rindi.


"Ka ... kamu? Kamu nyata?"


"Kenapa kaget begitu? Biasa saja, lagi," cibir hantu Rindi.


"Tapi, bukannya hantu itu munculnya kalau malam? Kalo siang, mereka kan nggak berani keluar, karna takut sama terik matahari."


"Kalau nggak terlalu panas,aku masih berani keluar."


"Oh begitu ...."


"Hey, kamu kenapa? Semalam mau bunuh diri?" tanya hantu Rindi tiba-tiba.


"Entahlah, aku merasa, kalau aku sudah nggak berguna di dunia ini."


"Jangan berpikiran bodoh, jalan hidup kamu masih panjang, dan masih banyak tugas menunggu kamu," sahut hantu Rindi.


"Tugas? Tugas apa yang kamu maksud?" Franky merasa heran.


"Ya tugas kamu sebagai manusia, selama hidup di dunia lah, huft."


"Ah, aku nggak paham maksud kamu," kata Franky.


"Lama-lama juga kamu akan paham."


Franky terdiam dan dalam sekejap mata hantu Rindi pun menghilang membuat Franky terlihat bingung.


"Dasar hantu, datang nggak diundang, pulang pun nggak diantar," batinnya.


Tak terasa Franky telah menghabiskan teh melati yang telah di seduhnya.

__ADS_1


"Ternyata Rindi sudah mati, maafkan aku, Rin, tapi aku senang bisa bertemu kamu lagi, sayangnya kamu sudah bukan manusia lagi sepertiku."


Bulir bening kembali berjatuhan di pipi Franky, dia merasakan penyesalan yang teramat dalam namun penyesalan tinggalah penyesalan.


__ADS_2