Pulau Abadi

Pulau Abadi
Cincin dan Tongkat Sakti


__ADS_3

Pagi itu Joko sedang duduk menikmati segelas kopi dan singkong rebus kesukaannya, kemudian datanglah Nila dari luar.


"Kamu dari mana, La?"


"Aku dari salonnya si Anton."


"Yang benar kamu."


"Kau ini, kalau ada orang bicara selalu tak percaya, huft."


"Hehe, iya, iya, terus, apa yang kamu dapat?"


"Sebaiknya, kita jangan terburu-buru deh menyelidiki salon itu."


"Lho, memangnya kenapa La?"


"Karna sekarang, penjagaannya sangat ketat, Anton menyewa anak buah yang lumayan banyak."


"Lantas, apa rencana kita selanjutnya?"


"Ya kita tetap melakukan penyelidikan, tapi tunggu waktu yamg tepat."


"Bukannya kamu bisa menghilang, La?"


"Itu saja tidak dapat menjadi jaminan, Jok."


"Aku jadi heran."


"Dengar ya, Anton ternyata dapat mengetahui keberadaanku."


"Hah? Yang benar kamu?"


"Kau tak percaya lagi?"


"Eh, percaya kok La, hehe." Joko meringis.


"Dia ternyata bermain dukun, jadi dia juga dapat merasakan hal-hal gaib," papar Nila.


"Wah, gawat dong kalau begitu, berarti dia sekarang punya kekuatan?"


"Aku tak begitu paham, hanya saja, tadi aku hampir ketahuan. Tunggu deh, kau bukannya punya kekuatan juga?" tanya Nila melirik ke arah cincin batu giok yang melingkar di jari tengah Joko.


"Punya sih, oh iya, kenapa aku nggak peka ya, aku punya tongkat sakti dan cincin batu giok ini."


"Tunggu deh ... sepertinya, aku kenal dengan cincin itu," Nila mengerutkan keningnya.


"Tentu saja kamu kenal, ini cincin pemberian Nawang."


"Benar, dan Nawang mendapatkannya dari ayahku."


"Memangnya, apa keistimewaan cincin ini?"


"Kalau bertarung melawan orang sakti, kau tinggal usap saja batu cincin itu, dan sudah pasti kau akan menang, karna kekuatan cincin itulah yang bekerja untuk melawan musuhmu."


"Begitukah?"


"Ya ... lantas, apa keistimewaan tongkat sakti yang kau punya!" Nila balik bertanya.


"Tongkat itu mampu menyerap kekuatan yang dimiliki oleh lawan kita, jadi kekuatannya masuk ke dalam tongkat itu, dan lenyap seketika."

__ADS_1


"Wah, kenapa tidak kita pergunakan? Kalau begitu, besok kau dan aku ke sana lagi."


"Okelah."


"Eh, Nawang sedang apa?"


"Jam segini, sudah pasti dia sedang memasak."


Nila mengangguk, kemudian berjalan ke dapur, di sana dia melihat Nawang sedang memasak.


"Duh, adikku rajin sekali," puji Nila.


"Eh, kakak mengagetkan saja, kakak dari mana?"


"Dari salon itu."


"Terus, bagaimana kak?"


"Ya biasalah, harus sabar, dan terus berusaha, intinya masih belum berhasil."


"Kakak yang sabar ya."


Nila tersenyum dalam anggukannya.


****


Sementara itu, Via selesai mandi, dia membangunkan Franky.


"Mas, sudah hampir siang, bangun dan makan dulu, aku sudah selesai masak."


Franky menggeliat, kemudian membuka kedua kelopak matanya. "Sudah siang rupanya."


"Hehe, sama saja Vi."


Franky bergegas mandi, setelah itu dia duduk di ruang makan, Via melayani Franky dengan segenap hati. Franky begitu kagum dengan Via, dia merasa beruntung mempunyai istri seperti Via.


"Benar-benar perempuan berkharismatik, dia tidak matrealistis, baik dan juga cantik, aku nggak salah pilih," batinnya.


Selesai makan, Franky duduk di teras depan rumah, dengan memangku laptop.


"Mumpung masih pagi, lebih baik aku menyicil cerita dulu deh, nanti agak sore baru aku ke rumah Joko." Franky membatin dan mulai mengetikan jari jemarinya di atas tombol laptopnya.


"Sekarang aku sudah menemukan jodohku, semoga saja hubungan kami langgeng sampai maut memisahkan kami, karna saat ini aku hanya ingin hidup bahagia tanpa gangguan apapun, dan Via adalah belahan jiwa sekaligus pelabuhan terakhirku, ya ... semoga saja."


Franky menuliskan kalimat tersebut ke dalam laptopnya, seketika dia seperti menyadari sesuatu ....


"Lho, kenapa aku jadi curhat sih, kan aku mau bikin cerita novel, haduh ... bisa-bisanya aku nggak fokus," batinnya sambil menepuk keningnya.


Kemudian Franky tersenyum-senyum sendiri. "Aku kenapa sih, kok hari ini aneh sekali ya, ah aku sendiri pun tak tahu," batinnya.


"Kemudian, dia menghapus kalimat yang baru saja dia tulis di laptop.


"Kali ini, aku ingin membuat novel kisah percintaan yang benar-benar romantis, dan bisa membuat para pembaca menjadi baper."


Dengan senyum manisnya, Franky mulai memikirkan judulnya.


"Apa ya, judul yang cocok buat ceritaku?" Franky terus memutar otaknya.


"Aha, Cinta dan Misteri, ya kurasa judul ini sesuai dengan isi ceritaku, aku ingin menceritakan tentang kisah misteri, namun di balik kisah itu ada cerita cinta yang romantis. Ya, intinya cerita misteri berbalut roman."

__ADS_1


Setelah mengetik judul, Franky mulai memikirkan ide cerita, bab demi bab. Tak diduga, Franky begitu lancar menuangkan ide-ide yang singgah di otaknya.


Satu buku novel berhasil diciptakan oleh Franky. Novel berjudul Cinta dan Misteri, terdiri dari dua ratus bab hingga cerita tamat.


Franky sungguh tak menyangka, kalau dia telah menyelesaikan satu novel dalam sekejap saja, setelah itu dia membawa laptopnya masuk ke dalam.


"Via, lihat ini." Franky memperlihatkan naskah yang baru saja selesai dibuatnya.


"Apa Mas?"


"Coba kamu baca."


Via mengambil laptop Franky dan membukanya, betapa terkejutnya dia saat itu.


"Kamu habis bikin novel, Mas?"


Franky tersenyum dalam anggukannya.


"Lho, ini tanggalnya hari ini."


"Iya, aku membuatnya tadi di luar."


"Masa sih Mas, kok cepat sekali, biasanya kamu menyelesaikan novel paling cepat satu bulan."


"Aku sendiri juga heran."


Via meletakkan laptop itu dan menatap Franky. Kini posisi mereka berdiri berhadapan.


"Kamu hebat Mas, aku kagum sama kamu."


"Makasih ya, Vi."


Via mengangguk, kemudian Franky menatap lekat wajah Via, dan Via pun membalasnya, kemudian Franky menempelkan bibirnya ke bibir Via, kemudian dia memagut lembut.


Via pun membalasnya, mereka berdua saling berpagutan, tangan Franky bermain di sekujur tubuh Via, sesekali terdengar ******* lirih dari bibir Via, membuat Franky semakin panas membara.


Lalu Franky membopong tubuh Via dan membawa masuk ke dalam kamar, mereka hanyut dalam kemesraan.


Setengah jam mereka bertarung di dalam kamar, akhirnya mereka terkulai lemas di atas kasur.


"Makasih, Vi," bisik Franky.


"Sama-sama, Mas," balas Via yang juga berbisik.


Franky tersenyum bahagia, dan mengecup kening Via. "Kamu jangan tinggalkan aku ya."


"Siapa juga yang mau ninggalin kamu, Mas?"


"Em, siapa tahu suatu saat, kamu kenal sama laki-laki lain yang lebih tampan dari aku dan kamu suka."


"Ya ampun Mas, pikiran kamu kok pendek sekali, aku orangnya setia Mas, kalau sudah satu, ya satu terus."


"Iya Vi, aku percaya sama kamu, makasih ya, sudah bikin aku bahagia."


"Sama-sama mas, kamu juga sudah bikin aku bahagia."


"Iya, Vi."


Franky dan Via saling berpandangan, kemudian kembali berpagutan cukup lama, terbuai di pesona keasikan mereka, hingga lupa dengan segala aktifitas mereka, saat itu, hanya dinding kamar yang menjadi saksi.

__ADS_1


__ADS_2