Pulau Abadi

Pulau Abadi
Desa Misterius


__ADS_3

Joko pun tak terlalu menghiraukan suasana di tempat itu, dia terus berjalan, dan sekali lagi dia bertemu dengan seorang pemuda seumuran dengannya.


"Permisi, Mas, maaf saya mau tanya ...." Lagi-lagi Joko menghentikan ucapannya, karena pemuda itu segera tersenyum dalam anggukannya, seolah menyuruh Joko untuk mengikutinya.


Joko pun mengikuti langkah pemuda tersebut, tak lama, pemuda itu menoleh ke arah Joko dan tersenyum, kemudian pemuda itu mempersilahkan Joko masuk di salah satu rumah, dengan salah satu tangannya, yang Joko pikir, itu adalah rumah pemuda tersebut.


Joko masuk ke dalam rumah itu, di dalam, dia melihat anak perempuan berusia sepuluh tahun, yang duduk diam, menatap lekat ke arah Joko. Pemuda tadi pun menyuruh Joko duduk bersama anak perempuan tersebut, lalu pemuda itu pergi entah kemana.


"Kamu siapa? Dan apa ini rumah kamu, terus yang tadi itu siapa? Kakak kamu?"


Anak perempuan itu menggeleng. "Namaku Laras, aku tersesat di sini, dan nggak tahu jalan pulang," lirihnya.


"Oh, apa kamu mau ikut pulang denganku? Kita sama-sama mencari jalan untuk pulang, Oh ya, namaku Joko."


"Percuma, aku sudah berkeliling desa ini, dan ujung-ujungnya kembali kesini lagi, dan kamu sendiri, apa yang kamu lakukan di sini?" anak itu balik bertanya.


"Aku sedang mencari temanku, namanya Angga, apa kamu tahu?"


"Oh, mungkin yang datang bersama perempuan cantik itu, ya?" ujar Laras.


"Perempuan cantik? Apa dia makhluk yang menculik Franky, ya?" lirih Joko.


"Menculik?" tanya Laras.


"Ya, teman ku rohnya diculik sama makhluk gaib."


"Oh, begitu."


"Apa kamu tahu, Ras, di mana aku bisa menemukan dia?"


"Aku nggak tahu, coba tanya sama pemuda yang tadi membawamu."


"Tapi, kemana pemuda tadi?" tanya Joko.


"Entahlah, kamu tunggu saja, nanti juga pasti kembali," ujar Laras.


"Eh, Ras, kamu sendiri, kenapa bisa sampai di tempat seperti ini?"


"Aku sedang mendaki bersama teman-temanku, tapi aku terpisah, hingga sampai ke tempat ini."

__ADS_1


Laras menundukkan wajahnya, merasa sedih.


"Kamu jangan sedih, ikutlah denganku, dan kita bisa pulang bersama," ucap Joko antusias.


Laras hanya tersenyum, dan menggelengkan kepala.


Tak terasa, malam pun merayap datang, waktu begitu cepat berputar, dan Joko merasa aneh, selama di tempat itu, dia sama sekali tak merasa lapar dan haus, juga mengantuk.


Joko masih menunggu sang pemuda, yang tadi menyuruhnya masuk ke rumahnya, dan beberapa lama kemudian, lamat-lamat Joko melihat seorang pemuda yang tadi membawanya, sedang duduk di teras depan rumahnya. Joko pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia menghampiri pemuda tersebut.


Permisi, Mas, apakah saya boleh duduk di sini?" tanya Joko.


Pemuda itu tak menjawab, dia hanya tersenyum dalam anggukannya.


"Oh ya, namaku Joko, nama kamu siapa ya?"


"Suko," akhirnya pemuda itu berbicara juga.


"Oh iya, mas Suko, bisakah kamu mengantarku ke tempat teman saya yang tersesat?" tanya Joko, yang kemudian dijawab dengan anggukan dari Suko.


Dan pagi hari pun tiba, matahari bersinar dengan cerah sekali.


"Cepat sekali perputaran waktu di tempat ini," batin Joko.


"Mana si Suko?" batinnya.


Joko pun masuk ke dalam rumah, namun sepi dan kosong, tak ada siapa pun di dalam, dia pun tak melihat Laras si anak pendaki itu.


Namun, saat Joko berbalik badan, dia terkesiap, karena Suko telah berdiri di hadapannya, dengan senyum khas nya.


Suko memberi isyarat kepada Joko, untuk mengikutinya dari belakang, dan Joko pun berjalan di belakang Suko.


Langkah demi langkah mereka lalui, dan kini mereka berdua tiba di sebuah perbatasan desa baru. Suko terus melangkah, memasuki desa baru itu, diikuti oleh Joko di belakangnya. Akhirnya, mereka sampai di sebuah rumah.


Suko mengetuk pintu, tak lama keluarlah sosok kakek tua, dia tersenyum dan mempersilahkan mereka masuk. Namun, ketika Joko sudah berada di dalam, pemuda itu pun pergi begitu saja, tanpa sepatah kata pun.


"Dih, nih orang, main ninggal saja, nggak jelas sekali," batin Joko, sambil memonyongkan bibirnya.


Kakek tua itu mempersilahkan Joko untuk duduk, dan di hadapan Joko, kini sudah ada dua orang pemuda, dia pun bercerita sama seperti anak perempuan pendaki itu, rupanya mereka pun tersesat, dan sedang mencari jalan pulang.

__ADS_1


Setelah lama berbincang dengan kedua pemuda itu, malam pun kembali datang, Joko merasa bingung, karena kedua pemuda itu hilang entah kemana, dan Joko mendekati kakek pemilik rumah itu, yang sedang duduk di teras depan rumahnya, dia mengutarakan maksud kedatangannya.


"Kau perhatikan saja baik-baik."


Hanya itu yang terucap dari mulut kakek itu, kemudian kakek itu menghilang.


"Aneh sekali sih semua penduduk di sini. Hem, eh tunggu deh, tadi kakek itu menyuruhku memperhatikan, mungkin yang di maksud, aku harus memperhatikan keadaan sekitar, dan nggak boleh lengah, ya, siapa tahu aku bisa menemukan roh Franky," batin Joko.


Malam semakin larut, namun Joko terus memperhatikan keadaan sekitar depan rumah itu, meskipun terhalang oleh kegelapan, saat itu dia berada di teras depan rumah, namun dia merasa heran, karena tak merasa kedinginan sama sekali.


Samar-samar, Joko mendengar suara langkah kaki, Joko pun terus memperhatikan jalan di depan rumah itu, sembari mencari sumber suara yang dia dengar.


Lamat-lamat, Joko melihat seekor kerbau sedang berjalan, kemudian menghilang dengan cepat.


Tap ... tap ... tap ....


Terdengar lagi suara langkah kaki, yang serupa dengan langkah kaki seekor kerbau tersebut, dari arah belakang.


Joko pun menoleh ke belakang, dan betapa terkejutnya dia, ketika melihat seekor kerbau, namun berkepala manusia, dan lebih terkejutnya lagi, Joko melihat manusia itu ternyata adalah seorang ibu yang Joko ajak bicara tempo hari.


"Ya Tuhan!" seru Joko dalam hati.


Dan seketika kerbau berkepala manusia itu pun menghilang dalam kegelapan malam.


Tap ... tap ... tap ....


Joko kembali mendengar suara langkah kaki seekor kerbau, dan kali ini berasal dari dalam rumah kakek itu.


Joko menoleh, lagi-lagi dia terkejut, melihat dua orang manusia berbadan kerbau, dan wajah mereka mirip dengan kedua pemuda pendaki gunung itu.


Joko masih tercengang, melihat kerbau berkepala manusia itu berkali-kali menampakan wujudnya, dan menghilang di kegelapan malam, setelah melewati Joko.


Dan pagi hari pun kembali tiba ....


"Joko."


Samar-samar Joko mendengar suara orang memanggilnya, dari arah belakang, Joko pun menoleh, dia melihat kakek pemilik rumah itu, tersenyum kepadanya. Kakek itu mengajak Joko masuk ke dalam, kemudian mereka duduk bersama.


"Kek, mengapa aku melihat banyak sekali orang-orang dengan wujud kerbau? Sebenarnya, apa yang telah terjadi dengan mereka?" Joko memberanikan diri bertanya kepada kakek itu.

__ADS_1


Kakek itu tersenyum, dan memberikan Joko secangkir kopi hitam. "Minumlah dulu, anak muda."


Joko pun mengambil cangkir berisi kopi, dari tangan kakek itu, kemudian dia menyesapnya perlahan.


__ADS_2