
Tiba-tiba Roy melihat pelangi di depan mobilnya.
"Fran! Lihat itu ada pelangi," seru Roy.
Franky melihat ke depan mobil, dan benar saja di sana terdapat pelangi melingkar.
"Kok aneh ya, kenapa ada pelangi, padahal nggak hujan deh."
"Iya ya, Fran, terus pelanginya deket lagi, kan biasanya pelangi itu di atas awan."
Franky dan Roy pun terus mengamati pelangi itu, dalam hati dia merasa kagum akan keindahan sinarnya yang berwarna warni.
Sementara di balik pelangi itu, ada sesuatu yang tak kasat mata.
Saat itu berdirilah Nila sang Bidadari dan di hadapannya telah berdiri sosok Kuntilanak mangenakan pakaian lusuh berwarna putih agak menguning dan kotor seperti kena tanah, mukanya hancur, dan salah satu bola matanya menjulur ke luar.
Nila merasa mual melihatnya, namun dia berusaha tenang.
"Hey kuntilanak jelek, mau apa kau mengganggu manusia itu?"
"Dan kau Bidadari kesasar, kenapa juga kau ikut campur dengan urusanku?"
"Jelas aku ikut campur, karna manusia itu di bawah perlindunganku."
"Ya terserah padamu, tapi sayang sekali dia telah memasuki wilayahku, jadi dia harus menyempurnakan kematianku."
"Apa yang kau inginkan?"
Dia harus mencari jasadku di rumah makan itu, dan menguburkannya secara layak, baru aku akan pergi dari kehidupannya, kalau tidak, aku akan selalu berada di dekatnya untuk mengganggu dia dan orang-orang yang dekat dengannya."
"Baiklah kalau begitu, biar aku saja yang melakukannya."
"Oh tidak perlu Bidadari kesasar, aku hanya menginginkan tangan manusia yang melakukannya.
"Kau sungguh keras kepala kuntilanak jelek! Baiklah, rasakan ini!" seru Nila yang kemudian mengeluarkan kilatan cahaya berwarna ungu.
"Sudah simpan saja bola-bola kekuatanmu, percuma saja mau menyerangku, kau hanya membuat energimu berkurang saja hahaha!"
Kuntilanak itu tertawa menggelegar, membuat tampat di sekita bergetar.
"Sialan, kenapa nggak mempan," batin Nila keheranan melihat serangannya tak mengena.
Nila mengeluarkan bola-bola cahaya sekali lagi dan menyerang kuntilanak itu, namun kuntilanak itu tak bergeming sama sekali, bola-bola kekuatan Nila seakan hanya menembus tubuh kuntilanak itu.
Akhirnya Nila menyerah.
"Baiklah, aku akan menyuruh manusia itu untuk menguburkan jasadmu secara layak, tapi tolong sekarang juga kau pergi dari sini."
"Baiklah kalau begitu, aku tunggu selama tiga hari, kalau sampai dia tidak melaksanakan kemauanku, lihat saja apa yang bakal terjadi."
Nila tersenyum sinis, kemudian kuntilanak tersebut pun menghilang dari hadapan, begitu pula dengan Nila, dia juga menghilang bersama cahaya pelanginya.
Dan di dalam mobil...
"Eh Fran, barusan seperti ada gempa."
"Iya Roy, kok mobilnya bergetar ya."
"Eh coba lihat Fran! Pelanginya sudah hilang."
__ADS_1
Franky menatap ke depan mobil, dan benar saja, dia sudah tak melihat pelangi itu.
"Kok cepet sekali menghilangnya ya Roy."
Dan seketika mobilpun menjadi ringan kembali.
"Eh Fran, lu merasa juga nggak, kalau mobilnya sudah nggak berat lagi."
"Iya bener, Roy."
Franky pun melajukan mobilnya hendak melanjutkan perjalanan pulang.
Di tengah perjalanan, dia di hadang oleh seorang ibu paruh baya, Franky menghentikan mobilnya.
"Kenapa ibu itu berdiri di tengah jalan? Cari mati dia," gumam Roy.
"Coba aku tanya dulu, mau dia apa."
Franky pun turun dan menghampiri ibu-ibu tersebut.
"Maaf bu, kenapa ibu di tengah jalan? Kami mau lewat."
"Nak, apa bisa menolong ibu? Karna ibu nggak tahu, harus minta tolong sama siapa lagi."
"Menolong apa ya, bu?"
"Anak saya kan punya rumah makan, dan dua hari dia nggak pulang ke rumah, terus kemarin ibu lihat berita pemerkosaan seorang gadis, dan penganiayaan, nah ibu takutnya anak ibu yang jadi korban itu," kata ibu tersebut dengan suara serak.
Franky terdiam, dia tampak berpikir.
"Duh, kenapa harus aku sih," batinnya.
"Eh iya bu, tapi rumah makan mana yang ibu maksud?"
"Rumah makan bebek goreng di jalan B."
Franky terbelalak mendengarnya.
"A.. apa?"
Ibu itu tersenyum kemudian menghilang.
"Lho, kemana ibu tadi? Kok cepet sekali menghilang."
Dan Franky pun kembali melihat pelangi terbentang di hadapannya, dan seketika itu pula pelangi tersebut segera menghilang.
Ternyata ibu tua tadi adalah jelmaan bidadari Nila.
"Kenapa mendadak aku teringat Nila ya, ah sudahlah lebih baik aku pulang," batin Franky kemudian masuk ke dalam mobilnya.
"Ada apa dengan ibu itu Fran?"
Franky pun menceritakan apa yang baru saja di dengarnya, Roy terbelalak.
"Rumah makan bebek goreng ya kita singgahi tadi maksud kamu?"
"Mungkin, Roy."
"Pantas saja aku merasa merinding terus waktu ada di sana."
__ADS_1
"Masa sih? Kok aku nggak merasakan apa-apa."
"Ya itu karna kamu nggak peka, Fran."
Franky diam, dia kembali mengemudikan mobilnya.
"Terus apa rencana kamu, Fran?"
"Ya besok aku akan mencari jasad anak si ibu tadi, sekarang aku sangat lelah, mau istirahat dulu, padahal besok aku harus ke Lembah Ilusi, aku akan merilis novel terbaru."
"Hah? Lembah ilusi? Tempat apa tuh? Kok aku baru pernah denger."
"Aku juga nggak tahu Roy, aku di ajak temanku."
"Oh gitu."
"Oh iya Roy, besok kamu ikut aku ya ke rumah makan bebek goreng tadi, temani aku mencari jasad anak ibu itu."
Roy bergidig ngeri seketika.
"Duh, aku nggak ikut deh Fran, takut tadi saja seram sekali."
"Yah kamu ini Roy, laki-laki kok penakut sekali," cibir Franky.
"Ah biarinlah, pokoknya aku nggak mau ikut, maaf ya, Fran kamu sendiri saja."
"Huft, ya sudah besok aku kesana sendiri."
Tak lama, mereka sampai di depan rumah Franky, Roy pun turun di ikuti Franky.
"Fran, aku langsung pulang ya."
"Iya Roy silahkan, maaf ya mau ajak kamu makan malah jadi kacau."
"Nggak masalah Fran, santai saja, kan bisa lain kali."
Franky pun tersenyum dalam anggukannya, Roy berlalu dari hadapan, sedangkan Franky masuk ke dalam rumahnya, dia duduk di kursi.
"Kenapa ya, sejak aku pulang dari Pulau Abadi, aku selalu mengalami berbagai macam keanehan, sebenarnya ada apa dengan pulau abadi itu," batin Franky.
Franky pun berjalan ke dapur, dia hendak membuat teh melati untuk menghangatkan tubuhnya.
Saat melangkah ke arah dapur, Franky merasa dirinya seperti di ikuti oleh seseorang dari belakang.
Franky berhenti.
"Seperti ada yang mengikutiku."
Franky menoleh, namun dia tak melihat seorang pun di belakangnya.
Franky kembali berjalan ke arah dapur.
Ketika dia hendak menyeduh teh, terdengarlah suara orang mandi dari dalam kamar mandinya.
"Siapa yang mandi?"
Franky berjalan ke arah kamar mandi, dia mengintip ke dalam, namun tak ada seorang pun di dalamnya, dan pintu pun terbuka lebar.
"Tuh kan, rumah ini beneran berubah sekarang, jadi aneh," batin Franky sambil kembali menyeduh teh nya.
__ADS_1