
"Nggak masalah, itu saya yang bawa dari rumah, memang untuk diminum," ujar Franky kepada Nawang.
Nawang pun mengangguk, dan dia duduk di sebelah Joko.
"Cieee," ledek Leon.
"Apaan sih, Le?" Joko berpura-pura bingung.
"Nggak apa-apa, Jok hehe," kekeh Leon.
"Huuu, kamu itu, nggak jelas, Le," sorak Joko.
Franky pun tersenyum geli.
Tak terasa, sudah dua jam mereka asik mengobrol.
"Ya sudah, saya pulang dulu," Nawang pun berpamitan.
"Baiklah, ayo aku antar," kata Joko.
Nawang mengangguk.
"Aku antar Nawang dulu, Fran, Le."
"Iya, Jok," kata Franky.
"Hati-hati," timpal Leon.
"Oke."
Joko pun berjalan ke luar, diikuti Nawang, mengekor di belakang. Setelah sampai di jalan, mereka kini berjalan sejajar.
"Rumah kamu di mana, Na?" tanya Joko.
"Di belakang pulau ini," sahut Nawang.
Perlahan, Joko meraih punggung tangan Nawang, kemudian menggandengnya.
Deg!
Jantung Nawang berdegup kencang.
Mereka berdua terus berjalan melewati gapura, dan keluar dari pulau abadi, Nawang berjalan ke arah belokan hingga akhirnya mereka tiba di sebuah rumah yang cukup mewah.
"Ini rumahku, ayo masuk," ajak Nawang.
Joko tercengang. "Buset, keren sekali rumahnya," batinnya.
Joko pun masuk ke dalam.
"Duduklah," Nawang mempersilahkan Joko untuk duduk, dan Joko pun duduk di sebuah sofa, yang sangat empuk.
"Enak sekali tempat duduknya, empuk," kata Joko.
"Ah, biasa saja," kata Nawang merendah, dia pun duduk di sebelah Joko. Tak lama, Joko melepas cincin batu giok milik Nawang, untuk dia berikan kepada Nawang.
"Ini cincin kamu."
__ADS_1
"Pakailah saja, aku sudah memberikannya kepadamu," ujar Nawang.
Joko terbelalak. "Benarkah? Tapi kamu juga butuh kan?"
"Aku sudah tak membutuhkan benda itu, karna itu hanya untuk melindungiku dari paman-ku yang jahat, dan sekarang dia sudah mati, jadi aku sudah tak memerlukan benda itu lagi, tapi aku yakin, kau pasti membutuhkannya, dan anggap saja itu sebagai hadiah dari-ku, karna kau sudah membebaskan-ku dari kutukan itu."
"Makasih, Na," kata Joko.
Nawang mengangguk ramah.
"Oh iya, apa kau sudah punya pacar?" tanya Nawang.
Deg!
Pertanyaan Nawang membuat jantung Joko seakan hendak copot.
"Eh, aku belum pernah merasakan yang namanya pacaran seumur hidup-ku," ungkap Joko.
"Em, sebenarnya selama menjadi kucing, aku sudah menyukaimu, aku kagum dengan kebaikanmu."
Deg!
Joko benar-benar melayang, mendengar sanjungan dari Nawang.
"Tapi, kamu cantik, kaya, sedangkan aku adalah orang miskin, aku nggak punya harta apa-apa, jadi mana mungkin kamu suka sama orang sepertiku?"
Nawang terkekeh ....
"Memang siapa juga yang meminta hartamu?" ledek Nawang.
"Ya nggak ada, eh tapi maksud ucapan kamu barusan itu, apa, Na?" Joko merasa penasaran.
"Benarkah, kamu mau jadi pacar aku? Aku jelek dan miskin," lirih Joko.
"Aku suka sama hatimu, bukan sama hartamu," ucap Nawang.
Wajah Joko merah padam, dia benar-benar nervous saat itu, dia seolah tak percaya kalau wanita cantik yang duduk di sampingnya itu, akan menyukainya.
"Iya aku mau, Na," sahut Joko lirih.
Nawang tersenyum penuh arti.
"Makasih sudah mau menerima-ku," kata Nawang.
"Aku yang terimakasih, Na, aku nggak nyangka, akan dapat pacar cantik seperti kamu."
Nawang tersenyum, kemudian menyandarkan kepalanya di pundak Joko.
Jantung Joko benar-benar tak karuan saat itu, karena dia belum pernah berdekatan dengan seorang wanita, seumur hidupnya.
Perlahan, Joko mengajak Nawang untuk berdiri, dan kini posisi mereka berdua, sedang berdiri berhadapan. Joko memandang lekat wajah Nawang, dan mereka pun saling berpandangan.
Perlahan, Joko mendekatkan bibirnya ke bibir milik Nawang, sedangkan Nawang hanya diam dan pasrah.
Joko memagut bibir Nawang, penuh dengan gairah, dan Nawang pun membalasnya, mereka asik berpagutan dengan mesra.
Dua puluh menit mereka berpagutan, perlahan Joko melepaskan pagutannya, dia menatap Nawang dalam-dalam, wajah Nawang pun merona membalas tatapan Joko.
__ADS_1
"Na, apakah kau mau menjadi istri-ku?" tanya Joko.
Kedua bola mata Nawang membulat seketika, mendengar ucapan Joko.
"Benarkah?" Nawang memastikan.
"Benar, aku juga sangat mencintaimu, kamu adalah gadis yang baik," sahut Joko meyakinkan.
Nawang mengangguk pelan.
"Jadi kamu mau, jadi istri-ku?" mata Joko berbinar.
"Iya, aku mau," jawab Nawang.
"Tapi aku orang nggak punya, apa kamu nggak akan menyesal nantinya?" ujar Joko.
"Aku nggak memikirkan itu, Mas, nanti kalau kita sudah menjadi suami istri, rumah ini dan semua yang ada di rumah ini adalah milik kau," tutur Nawang.
Joko terdiam sejenak ....
"Kau kenapa?" tanya Nawang, seperti mengetahui apa yang dirasakan oleh Joko.
"Em, maksud kamu, aku harus tinggal di sini?"
"Aku nggak memaksa kau, untuk tinggal di sini, aku tahu, kau tak betah tinggal di pulau ini, aku pun sama, terlalu banyak misteri yang terjadi di tempat ini, membuat aku pun tak betah tinggal di sini, dan ingin keluar dari pulau ini?"
"Jadi, kamu mau ikut dengan-ku, pulang ke rumahku?" tanya Joko antusias.
"Kenapa tidak? Dan besok aku akan menjual semua barang-barang, ini, uangnya buat biaya hidup kita," kata Nawang.
"Eh, tapi rumah kamu?"
"Rumah beserta isinya akan aku jual," tegas Nawang.
"Maaf ya, aku jadi merepotkan kamu."
"Tak perlu berpikiran seperti itu, atau merasa bersalah, memang sudah lama aku merencanakan semua ini."
"Merencanakan apa, Na?"
"Sebelum bertemu kau, dan ketika kedua orang tua-ku masih hidup, aku memang sudah berencana ingin menjual rumah ini dan pindah ke tempat lain, yang damai, tapi pamanku justru membunuh kedua orang tua-ku, dan mengutuk aku menjadi kucing," ungkap Nawang.
"Malang sekali nasib kamu, Na, kamu yang sabar ya," Joko berusaha menghibur Nawang.
Nawang pun memeluk Joko, dan Joko membalas pelukan Nawang.
Tak terasa, hari sudah sore, dan Joko berpamitan hendak kembali ke penginapannya.
"Aku pulang dulu, apa kamu berani tinggal di sini sendiri?" tanya Joko.
"Berani, Mas, ya sudah kamu hati-hati ya," sahut Nawang.
Joko mengangguk, kemudian mengecup kening Nawang, lagi-lagi pipi Nawang memerah bak kepiting rebus.
Joko pun berlalu dari hadapan Nawang, dan Nawang pun menutup pintu rumah, dan menguncinya. Dia masuk ke dalam kamar, dan merebahkan diri di atas kasur.
"Lelaki itu benar-benar baik dan lembut, tak salah aku memilih dia sebagai pendamping hidup aku," batin Nawang, dia pun tersenyum sambil menatap ke arah langit-langit kamar.
__ADS_1
Sementara itu, Joko berjalan menuju ke penginapan sambil tersenyum-senyum sendiri, dia benar-benar merasa bahagia saat itu, hingga tak menyadari, bahwa setiap orang yang berpapasan dengan Joko di jalan, selalu menganggap Joko aneh karena senyum-senyum sendiri.
Namun, Joko tak menghiraukan hal itu, dia terus saja berjalan sambil tersenyum-senyum sendiri.