
Joko terperanjat, karena baru pertama kali dalam seumur hidup, dia merasakan kopi yang begitu nikmat tiada tara.
"Mereka telah mengotori tempat ini."
Ucapan kakek itu, membuat Joko menghentikan aktifitasnya, dia meletakan cangkir berisi kopi, yang kini hanya tinggal separuhnya saja.
"Maksud Kakek?" Joko mengerutkan keningnya.
"Ya, mereka telah berbuat yang melanggar aturan di desa ini," kata kakek itu.
"Bisa tolong diperjelas, Kek?"
"Mereka itu, buang air sembarangan, padahal sudah disediakan tempat khusus, malah mereka lebih memilih buang air di bawah pohon, dan kalau yang perempuan itu, dia sudah berbuat yang tak senonoh."
"Tak senonoh?"
"Kau pasti paham anak muda, dia telah melakukan sesuatu, yang melanggar asusila."
"Astaga! Benar-benar keterlaluan anak jaman sekarang," cetus Joko.
"Oh iya kek, apa Kakek tahu tentang temanku, yang tersesat di sini?"
Namun, kakek itu diam, tak menjawab pertanyaan Joko.
"Kek?"
Kemudian, kakek itu menunjuk ke arah pintu rumahnya, Joko menoleh, namun hanya ruangan kosong yang dia lihat.
"Hah? Maksudnya apa sih, nggak ada siapa-siapa di dalam," batin Joko.
"Kau perhatikan lagi baik-baik, anak muda!" seru kakek itu, seolah dapat mendengar suara hati Joko.
Joko pun memfokuskan pandangannya, ke dalam rumah itu, dia menggunakan ilmu terawangnya, dan seketika, dia pun melihat Franky sedang berjalan tertatih-tatih.
"Terimakasih, Kek," ucap Joko sambil menoleh ke arah kakek itu, namun kakek itu telah hilang entah ke mana.
Joko tak mempedulikan hal itu, dia segera menghampiri Franky.
"Franky!"
Franky menghentikan langkahnya, dia menoleh ke arah Joko.
"Joko, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Franky.
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu, Fran, kamu itu ngapain, koo bisa sampai ke tempat ini?" Joko bertanya balik.
"Aku nggak tahu, Jok, kenapa bisa ada di sini, terus kamu sendiri, ngapain di sini?"
"Aku ingin menjemput kamu pulang, Fran."
__ADS_1
"Apa kamu tahu, arah jalan pulang?"
"Kalau nggak tahu, untuk apa aku datang menjemput kamu."
"Tapi, kita harus pulang lewat mana?" Franky tampak kebingungan.
Joko menunjuk ke suatu tempat, yang berada lurus di depannya.
"Kemarin, aku datang ke sini, lewat jalan itu, mungkin kalau kita lewat jalan itu lagi, kita akan menemukan jalan pulang."
Franky pun berjalan mengekor di belakang Joko, dan saat itu hari telah menjelang petang, dan menurut kakek yang ditemui Joko, waktu mereka hanya tinggal satu hari lagi.
Malam pun semakin larut, namun Franky dan Joko masih terus berjalan, melewati desa misterius itu. Suasana masih terlihat sepi, seperti awal mula Joko memasuki desa itu.
Kegelapan malam, tak membuat mereka berdua menghentikan langkah kakinya, rasa lelah dan kaki yang terasa sakit, tak mereka hiraukan, yang ada di pikiran mereka hanyalah satu, yaitu ... mereka segera sampai ke dunia asal mereka.
"Jok, sebaiknya kamu pulang dulu nggak apa-apa, sepertinya perjalanan masih jauh, aku sudah nggak kuat berjalan lagi," kata Franky.
Plak!
Joko menampar pipi Franky.
"Aduh, sakit, Jok, kenapa kamu menamparku?" tanya Franky lemas.
"Aku jauh-jauh datang, untuk menjemput kamu, tapi kamu justru bersikap seperti itu, sekali lagi kamu bilang seperti itu, lebih baik kita nggak perlu kenal sama sekali!" cetus Joko.
"Maaf, Jok," lirih Franky.
Franky hanya mengangguk lemah, sambil terus berjalan mengikuti Joko. Mereka terus berjalan, kali ini tak ada percakapan lagi di antara mereka.
Pagi pun menyongsong, dan matahari bersinar sangat terang, baru satu desa yang mereka lewati, masih ada satu desa lagi, untuk mereka keluar dari tempat itu. Joko berjalan sejajar dengan Franky. Dia merasa iba, ketika melihat Franky merasa kelelahan.
"Apa kamu capek, Fran?"
"Eh, enggak kok, Jok, aku masih kuat," jawab Franky berbohong.
Joko tahu, kalau Franky sedang berbohong, namun di juga tak dapat berbuat apa-apa saat itu, dia hanya pasrah menunggu keajaiban.
Satu per satu rumah mereka lewati, dan kini matahari memancarkan sinar teriknya, terasa menyengat dan menusuk kulit tubuh mereka berdua.
"Franky, apa kamu masih kuat?" tanya Joko, meskipun dia sendiri pun sudah merasa tak sanggup lagi untuk berjalan.
"Masih, Jok, kamu?" Franky balik bertanya.
"Aku juga masih kok, kita harus kuat, biar bisa keluar bareng, nggak mau kan harus mati sia-sia di tempat ini," ujar Joko, menutupi dirinya yang sejujurnya merasakan letih yang amat sangat.
"Iya, Jok, ayo kita lanjut jalan lagi," sahut Franky yang berpura-pura tegar.
Hari pun menjelang sore, dan tengah malam nanti, adalah batas mereka harus sudah kembali ke dalam raga mereka masing-masing. Mereka berdua tetap optimis dan yakin, bahwa mereka bisa menyelesaikan masalah itu.
__ADS_1
Srek ... srek ... srek ....
Joko merasa gembira, karena dia mendengar suara seorang ibu, sedang menyapu halaman rumah, sama seperti saat Joko pertama kali memasuki desa itu.
"Fran, ayo kita jalan lebih cepat lagi, itu ibu yang aku temui, waktu pertama kali masuk ke desa ini!" seru Joko antusias.
"Permisi, Bu," sapa Joko.
Ibu itu hanya menatap diam, sambil terus menyapu, dan kedua pria itu pun melewatinya begitu saja.
Joko merasa lega, karena sudah melewati gapura desa, namun dia tak yakin, apakah bisa pulang dengan selamat, karena matahari sudah tak nampak lagi.
"Apa masih jauh, Jok?" tanya Franky yang sudah merasa tak sabar, untuk pulang ke dunia nya.
"Em, yang aku ingat, kita nanti masuk ke dalam hutan, Fran ... nah, di sanalah, kita bisa pulang."
"Ya sudah, ayo agak cepat, Jok, biar nggak kemalaman," ujar Franky.
Mereka berdua terus melangkah, namun Joko menjadi ragu, karena banyak pohon-pohon besar, yang mereka lalui, dan Joko menjadi bingung, ke arah mana dia harus pulang.
"Ikuti cahaya kecil di sana!"
Tiba-tiba Joko mendengar suara leluhurnya, yang dia dengar sebelumnya, dan bertepatan dengan itu, sayup-sayup terdengar suara lantunan ayat suci, suara itu tak asing di telinga Joko.
"Nawang? Masa iya, kucing bisa baca ayat suci? Eh iya aku lupa, dia kan sebenarnya manusia juga ya, hehe," kekeh Joko dalam hati.
Seberkas cahaya pun menyambut kedatangan mereka berdua.
"Lihat, Fran! Kita hampir sampai," seru Joko sambil menunjuk ke arah cahaya di depan mereka.
Langkah kaki Franky dan Joko semakin berat, dan juga semakin lambat, namun mereka tak menyerah, untuk sampai ke dunia mereka. Semakin lama, cahaya itu semakin besar, dan semakin menyilaukan mata.
Franky dan Joko pun memejamkan mata, karena merasa silau.
****
"Jok, bangun, Jok,"
Terdengar suara Leon di telinga Joko, dan perlahan Joko membuka matanya. Dia pun terbangun, dan menoleh ke kanan dan ke kiri, dia melihat, Leon di sampingnya.
"Le," panggil Joko lirih.
"Kamu sudah sadar, Jok?" ujar Leon.
Joko mengangguk, "Franky mana, Le?"
"Itu di dekat kamu," sahut Leon.
Joko menoleh ke arah Franky yang masih terbaring di sampingnya.
__ADS_1
"Fran?" panggil Joko, sambil mengguncang tubuh Franky.