
Wanita itupun menghentikan langkahnya, dan Franky ikut berhenti, tepat di belakang wanita itu. Kemudian wanita itu membalikkan badannya, ke arah Franky kemudian dia tersenyum.
Franky sungguh terlena dengan senyuman wanita itu. Namun mendadak Franky mengerutkan keningnya. Bau anyir kembali menyeruak, menusuk hidung, dan seketika, pemandangan di sekitar berubah menyeramkan.
Terlihat banyak sekali makhluk halus, yang menatap dingin ke arah Franky, dan dengan cepat, bulu kuduk Franky pun meremang.
Dan, yang paling mengejutkan Franky, wanita yang tadi diikutinya, kini telah berubah wujud menjadi sundel bolong, wajahnya pucat pasi, dengan mata berwarna hitam, kemudian wanita itu berbalik arah, membelakangi Franky.
Franky dapat melihat, punggung wanita itu berlubang, dan dari punggung tersebut, keluar darah yang sangat banyak, dan beberapa belatung meloncat keluar.
Kemudian, Franky menoleh ke sebelah kiri, dia tak kalah terkejutnya, kali ini melihat sosok berwarna putih, meloncat-loncat, mencoba mendekati Franky dengan kain kafan yang masih terikat di kepalanya.
Franky benar-benar merasakan ketakutan yang luar biasa saat itu, dan perlahan semua makhluk halus yang Franky lihat, kini berjalan mendekati Franky. Pria itu mundur beberapa langkah, namun para makhluk itu, terus mendekatinya.
Karena tak kuasa menahan rasa takutnya, Franky pun berteriak sekuat tenaga. "Aaaaaaaaaaaa!"
Tiba-tiba, muncullah sinar yang menyilaukan di depan Franky, dan pria itu memejamkan matanya. Seketika di sekeliling Franky menjadi gelap.
Tak lama Franky membuka matanya, dia terlihat bingung, karena dia kini berada di dalam mobilnya.
Franky menoleh ke kiri dan kanan, wajahnya seperti orang linglung.
"Kamu sudah sadar?" Suara hantu Rindi mengejutkannya.
Franky menoleh ke kiri, dan hantu Rindi sedang duduk di sampingnya. "Kamu Rin? Kita di mana?"
Rindi terkekeh. "Kamu pingsan ...."
"Pingsan?" Franky mengerutkan keningnya.
"Benar, kamu pingsan di stasiun M tadi."
Franky pun mencoba mengingat sesuatu .... "Astaga, aku baru ingat sekarang, kita tadi kan mau menjemput nyonya Nur di sana."
"Tapi nggak ada kan tante Nurnya," sahut hantu Rindi tenang.
Seketika Franky bergidik ngeri. "Sekarang kita di mana?"
"Di luar stasiun," jawab hantu Rindi.
"Berarti tadi yang menelponku ...."
"Ya, dia adalah makhluk halus, yang menjelma menjadi tante Nur. Dia berusaha ingin menyesatkan kamu."
"Tapi kenapa harus aku?" heran Franky.
"Aku sudah bilang kan, ini pasti ada hubungannya sama Rinjani," ujar hantu Rindi.
"Rinjani?" beo Franky.
__ADS_1
"Ya, Rinjani, untuk itu kita harus bisa memusnahkan dia secepatnya."
"Tapi, bagaimana caranya, Rin?"
"Aku sendiri juga belum tahu kelemahan jin itu, makannya aku suka menghilang, datang dan pergi, karna aku sedang berusaha mencari tahu tentang jin itu."
Franky pun mengangguk pertanda paham. "Sekarang kita kemana?"
"Pulanglah, memang mau kemana lagi?"
Franky pun mengendarai mobilnya. Di tengah perjalanan, tiba-tiba perut Franky terasa lapar.
"Kita cari makan dulu ya, aku lapar sekali, dari tadi perutku belum diisi apapun."
"Ya sudah, silahkan saja."
"Kamu mau makan nggak, Rin?" Franky bertanya kepada hantu Rindi.
"Makan apa? Nasi? Hihihihi, kamu mencoba mengajakku bersenda gurau rupanya." Hantu Rindi terkekeh.
Franky pun menepuk keningnya. "Astaga aku hampir lupa, kalau kamu ini hantu, datang dan pergi seenak hati," kelakarnya.
Hantu Rindi tersenyum smirk, dan Franky pun berkeliling, mencari warung makan yang masih buka. Tak lama, dia menemukan sebuah rumah makan dua puluh empat jam. Kemudian Franky memarkirkan mobilnya di depan rumah makan tersebut, kemudian dia turun dan masuk ke dalam.
Seorang pelayan menghampiri Franky. "Silahkan, Mas," sambil memberikan sebuah buku daftar menu.
Franky menerimanya sambil tersenyum, kemudian duduk di salah satu tempat yang ada di rumah makan itu.
Lagi-lagi pria itu dibuat kesal, karena hantu Rindi telah menghilang.
"Huft, sekali hantu, ya tetap hantu," batinnya kesal.
Lalu Franky mencatat makanan yang telah dia pilih di selembar kertas yang telah di sediakan, kemudian memberikannya kepada pelayan.
Tak lama, seorang pelayan mengantar makanan yang telah dipesan oleh Franky. Pria itupun segera menyantap makanan itu hingga habis.
Setelah itu, Franky membayar dan segera keluar dari rumah makan menuju ke mobilnya. Franky masuk ke dalam mobilnya. Dia dikejutkan sekali lagi oleh hantu Rindi, yang sudah duduk di sampingnya.
"Hem, kamu itu, Rin, kebiasaan sekali." kesal Franky.
Hantu Rindi meringis, menampakkan gigi taringnya yang tajam.
Franky hanya menggelengkan kepalanya, dia kembali mengendarai mobilnya.
Beberapa lama kemudian, Franky sampai di depan rumahnya, dia memasukkan mobilnya ke dalam garasi, kemudian masuk ke dalam rumahnya. Sementara Hantu Rindi sudah duduk di dalam.
"Aku cape Rin, mau tidur, kamu mau ngapain?" tanya Franky.
"Ya ikut tidurlah, masa aku disuruh jadi satpam."
__ADS_1
"Ya sudah, ayo."
Franky berjalan masuk ke dalam kamarnya, dia segera merebahkan tubuhnya di atas kasur, dan hantu Rindi pun ikut berbaring di sebelah pria itu.
Seketika tercium bau melati menusuk hidung Franky.
"Rin, kamu berubah wujud dulu deh."
"Memang, kenapa, Fran?"
"Parfum kamu nggak enak tahu."
Hantu Rindi tersenyum smirk, kemudian dia menjelma menjadi manusia, yang dapat disentuh oleh Franky.
Franky segera menarik tangan hantu Rindi, dan membaringkan tubuhnya di atas kasur. Kemudian dia memeluk hantu Rindi dari belakang, dan tanpa sadar Franky tertidur pulas.
Hantu Rindi tersenyum menatap Franky kemudian dia menghilang dari hadapan pria itu.
****
Sementara itu, di rumah Rindi, bu Mira tampak gelisah, karena anaknya itu, beberapa hari tak pulang ke rumahnya. Dan malam itu, bu Mira sedang duduk di ruang depan sambil merenung.
"Kemana si Rindi, kenapa dari kemarin dia nggak pulang," batinnya.
Bu Mira terus merenung ....
"Lebih baik aku ke rumah Nur besok, mungkin Rindi ada di sana."
Kemudian, bu Mira pun masuk ke dalam kamarnya, dia merasa mengantuk sekali.
Di dalam kamar, bu Mira merebahkan tubuhnya, dia memejamkan matanya, hingga tertidur pulas.
"Tolong ... tolong ....!"
Samar-samar, bu Mira mendengar suara minta tolong.
"Siapa itu yang minta tolong? Kok sepertinya aku kenal sama suaranya," batinnya.
Suara minta tolong itu kembali terdengar di telinga bu Mira, bahkan kini semakin jelas. Bu Mira pun beranjak dari tidurnya, dia berjalan keluar kamar dan mencari-cari sumber suara itu. Bu Mira mengelilingi rumahnya, dan memeriksa setiap sudut ruangannya, namun dia tak menemukan sumber suara itu.
Bu mira pun hendak kembali ke dalam kamarnya, pada saat dia melangkahkan kakinya, tepat di depan pintu kamar, tanpa sengaja kakinya tersandung sebuah benda, dan bu Mira pun terjatuh.
Bug!
Bu Mira terbangun dari tidurnya, keringat dingin mengucur di keningnya.
"Ya Tuhan, ternyata hanya mimpi," gumamnya dalam hati sambil mengusap dadanya.
"Besok, aku harus mencari informasi tentang Rindi secepatnya, aku takut dia kenapa-napa."
__ADS_1
Tak lama, bu Mira melanjutkan kembali tidurnya.