Pulau Abadi

Pulau Abadi
Tongkat Sakti


__ADS_3

Siang itu, Joko pergi ke Gunung S, dia kemudian bersemedi untuk menemui leluhurnya. Joko meletakan semua sesaji yang dibawanya, dan mulai berkidung memanggil arwah leluhurnya.


Tak lama, muncullah gumpalan asap berwarna keabuan, dan berubah menjadi sosok lelaki tua berambut putih, berdiri di hadapan Joko.


"Ada perlu apa kau memanggilku cucu?" tanya lelaki itu.


"Maafkan saya aki, kalau saya sudah menganggu istirahat aki, saya hanya ingin membantu seseorang, dan dia sudah mati, namun, jasadnya di kuasai oleh jin jahat, untuk itu, dia tak bisa menuju ke alamnya dengan tenang."


Lelaki tua itu tersenyum, dan menepuk pundak Joko.


"Saya tahu, apa yang kamu maksud, Cu."


Kemudian lelaki tua itu mengeluarkan sebuah tongkat, dan memberikannya kepada Joko.


"Ambillah tongkat ini, dan bunuh jin itu pada saat bulan purnama tiba," pesan lelaki tua itu.


"Apa Rinjani itu jin jahat?" tanya Joko, sambil menerima tongkat tersebut.


"Betul, dia berambisi ingin menjadi cantik dan awet muda semasa hidupnya, untuk menaklukan hati lawan jenisnya, sampai rela mengorbankan beberapa nyawa, untuk menjadi tumbal atas perjanjian yang dia sepakati, dan karna dia telat memberikan tumbal, akhirnya dia sendiri yang menjadi tumbal, dia mati, namun arwahnya belum terdaftar di buku kematian para malaikat, untuk itu, dia berkeliaran mengganggu manusia di sekitar tempat tinggalnya. Sampai akhirnya dia bertemu dengan manusia yang tinggal satu desa denganmu, dan memanfaatkan manusia itu, untuk menjadi budaknya, tapi sepertinya manusia itu dilindungi oleh beberapa makhluk. Untuk itu, dia selalu terhindar dari hasutan jin itu."


Joko mendengarkan ucapan lelaki tua itu dengan seksama.


"Jadi aku harus bunuh dia pada saat bulan purnama tiba, Ki?"


"Betul, Cu."


"Terus, bagaimana cara aku mengeluarkan jin itu dari jasad manusia yang sudah mati itu, Ki?"


"Itu sangat mudah sekali, kau tempelkan ujung tongkat itu, tepat di ubun-ubun jin itu, dengan begitu, rohnya akan tersedot ke dalam tongkat itu."


"Baiklah ki, trimakasih atas bantuannya," ucap Joko.


Dan dalam sekejap saja, lelaki tua itu, kembali berubah wujud menjadi gumpalan asap, dan menghilang dari pandangan mata.


Joko pun pulang dengan membawa tongkat pemberian lelaki tua itu, tongkat itu dia masukan di dalam karet pinggang celana yang dia kenakan.


****


Sementara itu, Franky keluar rumah, dia mengeluarkan mobilnya dari garasi. Lalu dia mengemudikan mobilnya, menuju kantor penerbit milik Nurdiana. Sesampainya, Franky masuk ke dalam kantor itu.


"Halo, Franky, silahkan duduk," sapa Nurdiana.


Erlangga membalas sapaan Nurdiana, kemudian duduk di hadapan Nurdiana.


Nurdiana membuka laci mejanya, dan mengambil sebuah amplop berisi uang, kemudian memberikannya kepada Franky.


"Ini honor untuk novel terakhir kamu, Fran."

__ADS_1


Franky menerimanya. "Trimakasih, Nyonya."


Nurdiana mengangguk "Kapan rencana merilis novel lagi? Tuh para reader sudah pada menanyakan."


"Mungkin beberapa bulan lagi nyonya, saya mau hiatus nulis dulu, mau menenangkan pikiran, karna saya merasakan lelah pada otak saya."


"Ya sudah nggak apa-apa, Fran, yang penting kamu jaga kesehatan kamu."


Franky mengangguk, kemudian berpamitan pulang.


****


Sementara di sebuah hutan, hantu Rindi sedang berjalan-jalan, sambil memegang dan memandangi botol berisi jin Rinjani. Hantu Rindi tertawa menggelegar, membuat dedaunan di pohon-pohon berjatuhan. Kemudian hantu Rindi melayang, dan kini tiba di depan rumah Franky.


Hantu Rindu menembus masuk ke dalam rumah Franky, dia duduk di ruang depan. "Franky mana sih?" gumamnya.


Tak lama, Franky sampai di rumahnya, dia memasukkan mobilnya di garasi, kemudian berjalan masuk ke dalam rumahnya.


Ketika melewati ruang depan, dia terperanjat melihat hantu Rindi, yang tengah duduk di sebuah kursi, sambil tersenyum ke arah Franky.


"Dasar hantu gila," gumam Franky.


"Gila, tapi kamu suka kan, hihihihi," sahut hantu Rindi sambil terkekeh.


Franky menggembungkan kedua pipinya, dan duduk di samping hantu Rindi.


"Habis ambil uang honor, Rin."


"Oh ...."


"Kamu sendiri, dari mana? Terus, buat apa kamu membawa botol itu?" tanya Franky penasaran.


"Bukan urusan kamu," ketus hantu Rindi.


"Oh begitu? Main rahasia-rahasiaan."


Rindi semakin terkekeh melihat wajah kusut Franky.


"Nggak semua urusan hantu, kamu harus tahu kan? Kamu saja mau melakukan apapun, aku nggak pernah ikut campur, kecuali bunuh diri!"


Franky terkesiap mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut hantu Rindi, seketika dia diam membisu.


"Kenapa diam?"


Dan Franky pun menoleh ke arah hantu Rindi.


"Bukannya kamu sudah menggagalkan rencanaku? Kenapa masih saja kamu bahas?"

__ADS_1


"Cieee, marah nih yeee," hantu Rindi meledek.


"Buat apa juga aku marah? Oh iya, aku lapar, aku mau keluar mencari makan, apakah kamu mau ikut?" tanya Franky.


"Ikutlah, aku nggak mau ditinggal sendiri di sini," sahut hantu Rindi.


"Bukankah kamu, yang selalu meninggalkanku?"


Hantu Rindi meringis, kemudian melayang mengikuti Franky.


Mereka berdua naik ke dalam mobil, dan Franky pun mengemudikan mobilnya, mencari rumah makan.


Tak beberapa lama kemudian, mobil Franky berhenti di sebuah rumah makan.


Franky mengajak hantu Rindi turun, dan masuk ke dalam.


Seorang pelayan menghampiri Franky. "Silahkan, Mas, mau makan apa?"


"Tolong buatkan udang asam manis satu porsi, jus jeruk satu, sama pesan udang mentah satu mangkuk."


Pelayan tersebut terbelalak mendengar pesanan Franky yang terakhir.


"Udang mentah?" pelayan itu mengerutkan keningnya.


"Iya u-dang men-tah, apa masih belum jelas?" ujar Franky terbata.


"Eh, ba-baik, Mas, saya akan segera buatkan, mohon ditunggu," ucap pelayan itu, kemudian berlalu dari hadapan Franky.


Franky pun duduk, diikuti hantu Rindi di sebelahnya. Tak lama, datang pelayan membawa pesanan Franky.


Franky meletakan satu mangkuk udang mentah, di hadapan hantu Rindi. "Makanlah."


Hantu Rindi tersenyum. "Kamu kok tahu kesukaanku?" tanyanya heran.


"Aku mana tahu makanan kesukaanmu, hanya saja, yang aku tahu, makhluk halus menyukai daging mentah," ujar Franky.


Hantu Rindi tersenyum, dia pun segera melahap habis udang mentah tersebut.


Pelayan dan para pelanggan lain merasa heran, karena mereka melihat Franky berbicara sendiri. Dan hal yang lebih mengejutkan lagi, mangkuk berisi udang mentah itu, dalam sekejap kini telah kosong.


Mereka semua bergidik ngeri, sedangkan Franky tampak menikmati hidangannya dengan santai, dan hantu Rindi tersenyum geli, melihat para pelanggan yang menatap Franky dengan tatapan aneh.


Selesai makan, Franky membayar makanannya, kemudian mengajak hantu Rindi pulang.


Sampai di rumah, Franky memasukkan mobilnya ke dalam garasi, kemudian berjalan masuk ke dalam rumah, diikuti oleh hantu Rindi yang melayang di atasnya.


Franky pun masuk ke dalam kamarnya, diikuti pula oleh hantu Rindi. Hantu Rindi hendak menjelma menjadi manusia.

__ADS_1


Sementara itu, Joko telah tiba di desanya, dia baru saja pulang dari Gunung S.


__ADS_2