
"Kau sudah berani memasuki kerajaan kami, dan mengganggu istriku!" seru Pangeran Endro.
"Bukan saya yang mengganggu dia, tapi istrimulah yang sudah mengacau di dunia kami, dia menghasut salah satu manusia yang ada di dunia kami untuk dijadikan pengikutnya, nggak akan ada api kalau nggak ada asap, apa kamu paham wahai iblis laknat?" ujar Kyai Toha geram.
Pangeran Endro ikut menggeram.
"Banyak bicara kau!"
Kemudian Pangeran Endro mengeluarkan kilatan cahaya berwarna kuning dan mengarahkannya ke tubuh Kyai Toha.
Dengan sigap kyai Toha menghalau kilatan itu, kemudian mulutnya berkomat kamit membaca mantra, tak lama keluarlah kilatan cahaya berwarna putih dari telapak tangan Kiyai Toha, kilatan tersebut mengarah kepada para makhluk yang menyerupai Pangeran Endro.
Tanpa menunggu waktu lama semua makhluk jelmaan Pangeran Endro pun lenyap dan tubuh Pangeran Endro terhempas melayang ke udara kemudian jatuh ke tanah hingga menimbulkan suara benturan yang sangat dahsyat.
Dalam sekejap tubuh Pangeran endro berubah menjadi kepulan asap berwarna hitam dan perlahan-lahan menghilang dari pandangan bersama sosok Kuntilanak yang menjelma menjadi Rinjani.
Kyai Toha memejamkan matanya dan dia pun menghilang.
Sementara sosok perempuan yang bersama Franky terus berjalan melewati jalan setapak yang berada di hadapan mereka berdua.
Setelah cukup lama melewati jalan setapak mereka melihat sebuah cahaya yang bersinar terang, mereka pun memasuki cahaya itu dan seketika di sekeliling Franky menjadi gelap.
"Fran, Fran, bangun, Fran!"
Sebuah suara membuat Franky membuka matanya, dia melihat Leon, Bento, dan pak Yusuf menatap iba kepada dirinya.
Kemudian Franky mengarahkan pandangannya ke sosok perempuan yang duduk di sudut kamarnya dengan sebuah buku di tangannya, dia tampak seperti baru selesai melantunkan ayat suci.
"Aisyah?" batin Franky.
Franky juga melihat kiyai Toha duduk di sebelah Aisyah.
"Ternyata Aisyah, yang selama ini membaca ayat-ayat suci, suaranya merdu sekali," gumam Franky dalam hati.
Aisyah tersenyum ke arah Franky.
"Kamu sudah sadar, mas Franky?" tanya Aisyah.
Franky tampak bingung.
"Sadar? Memangnya aku kenapa? Dan kenapa semua pada kumpul di sini?"
"Kamu tuh pingsan selama dua bulan Fran," kata Leon dengan raut wajah sedih.
"Iya bener, Fran, tapi syukurlah, kamu akhirnya sadar juga," Bento menimpali.
"Apaaa? Aku pingsan selama dua bulan?" tanya Franky tak percaya.
"Sudah, biarkan Mas Franky beristirahat, kasihan dia, jangan di ajak bicara panjang lebar dulu," sambung Kyai Toha.
Akhirnya semua orang yang berada di kamar Franky satu persatu keluar meninggalkan Franky seorang diri.
Franky termenung, dia mencoba mengingat sesuatu namun sangat sulit.
Tiba-tiba pandangannya mengarah ke sebuah laptop miliknya yang tergeletak di atas meja dekat tempat tidurnya.
Franky memperhatikan sejenak benda itu, merasa ada yang aneh, dia meraih benda tersebut.
Dia mengecek semua naskah yang dia tulis selama berada di Pulau itu.
Kedua bola matanya membulat seketika melihat novel karyanya yang berjudul :
'TRAGEDI SILAM'
Telah selesai di tulis dengan sempurna.
"Apakah aku sedang bermimpi?" tanya Franky dalam hati.
"Ini ... ini benar-benar hasil tulisanku sendiri, tapi ...." Franky terdiam, dia merasa heran bercampur senang.
__ADS_1
Franky keluar dari kamarnya menemui Leon.
"Le, coba lihat ini!" seru Franky dengan wajah ceria.
Leon mengamati laptop Franky yang berisi novel karyanya.
"Wah hebat kamu, Fran, akhirnya selesai juga novel kamu," puji Leon ikut gembira.
Franky mengerutkan keningnya.
"Tapi Le, kapan aku nulisnya ya?"
"Ya ampun, Fran, sejak kapan kamu jadi pelupa begini?" ujar Leon.
Pelupa gimana, Le?"
"Kamu kan setiap hari selalu nulis di teras depan rumah ini," ujar Leon.
Franky tampak berpikir sejenak kemudian mengangguk dan tersenyum.
Leon yang memperhatikan hal itu menggeleng dan mengelus dada.
"Kasihan si Franky, sejak dia kerasukan roh penunggu hutan itu, tingkahnya jadi semakin aneh," batin Leon.
"Le, karna novelku sudah selesai, jadi besok kita pulang," kata Franky antusias.
"Kamu serius, Fran?" tanya Leon tak percaya, dia sebenarnya sudah tak tahan tinggal di pulau itu lantaran gosip mengenai makhluk gaib yang telah beredar di tempat itu.
"Seriuslah, Le, buat apa di sini terus, kan aku sudah selesai menulis."
"Tapi ...." Leon menghentikan ucapannya, dia ingin bertanya tentang Rinjani, tapi dia mengurungkan niatnya.
"Sebaiknya, aku nggak membahas tentang Rinjani, karena sepertinya Franky sudah nggak ingat lagi," batin Leon.
"Tapi apa Le?" tanya Franky.
"Eh anu, nggak jadi, Fran, hehe," Leon terkekeh.
Leon hanya tersenyum.
Malam hari Franky dan Leon mengunjungi rumah pak Yusuf.
"Saya dan teman saya mengucapkan banyak terimakasih, karna sudah diperbolehkan tinggal di rumah Bapak, dan besok kami akan pulang, karna urusan kami sudah selesai," kata Franky.
"Sama-sama Mas, saya juga senang kalau kalian merasa nyaman tinggal di rumah saya, hati-hati pulangnya, oh iya, saya hanya ingin berpesan kepada Mas Franky, jangan sering melamun, karena orang yang pikirannya kosong sangat mudah dirasuki roh-roh jahat."
"Baik Pak, kami minta maaf, kalau selama tinggal di sini, kami pernah melakukan kesalahan," kata Leon.
"Kalian nggak punya salah apapun," kata pak Yusuf.
"Ya sudah, kami permisi dulu pak," kata Franky.
Kedua pria tersebut kemudian menuju ke rumah Aisyah.
"Terimakasih Mbak Aisyah, karna sudah menolong teman saya, sekarang dia sudah lepas dari makhluk halus, yang selama ini mengganggu," kata Leon.
"Sama-sama, Mas Leon, saya juga ikut senang, mas Franky sudah normal lagi."
"Oh iya, bapak mana?" tanya Leon.
"Bapak sedang pergi, dia ada urusan," jawab Aisyah.
"Ya sudah, tolong sampaikan salam kami untuk bapak," kata Leon lagi.
Aisyah tersenyum dalam anggukannya.
"Baik, nanti pasti saya sampaikan."
Kemudian Franky dan Leon berpamitan pulang.
__ADS_1
Kini mereka menuju ke rumah Bento.
"Jadi, besok kalian mau pulang?" tanya Bento memastikan.
"Iya Ben, terimakasih sudah mau jadi teman kita selama di Pulau ini," kata Leon.
"Wah, bakalan sepi nih kalau nggak ada kalian," seloroh Bento.
"Kapan-kapan, kita main sini lagi deh," kata Leon berbasa basi
"Oke Le, ya sudah, kalian hati-hati, semoga kamu tambah sukses, Fran."
"Amin, terimakasih, Ben," kata Franky.
Sesampainya di rumah kontrakan, mereka berdua segera mengemasi barang-barang mereka.
"Hem, akhirnya tugasku menemani Franky selesai juga, besok aku bisa nerusin kuliah lagi deh," lirih Leon sambil tersenyum di dalam kamarnya.
Leon bernyanyi dan bersiul riang, tiba-tiba pintu kamar Leon di ketuk dari luar.
"Siapa itu?" Leon membuka pintu kamarnya, dia tak melihat seorang pun di luar kamar.
"Hah? Perasaan tadi ada yang ketuk pintu deh," gumam Leon dalam hati.
Leon pun berjalan ke kamar Franky.
"Fran, kamu yang ketuk pintu kamarku ya?"
"Enggak tuh, aku dari tadi sedang beres-beres kok," ucap Franky.
Bulu kuduk Leon meremang seketika.
"Terus, siapa yang ketuk pintu tadi ya?"
Leon pun masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu. Saat tubuh Leon berbalik betapa terkejutnya dia melihat Franky sedang rebahan di atas kasur.
"Fran, kapan kamu masuk?"
Franky diam tak bergeming.
"Yeee ... di tanya, kok diam saja."
Franky masih dalam posisinya diam tak bergeming, Leon pun merinding seketika.
Tiba-tiba pintu di ketuk lagi.
"Siapa lagi sih? Sudah malam kok masih ada tamu," batin Leon.
Leon membukakan pintu, kedua bola matanya membulat seketika melihat Franky berdiri di depan pintu kamarnya.
"Hah, Franky? Terus, yang di sana siapa?" tanya Leon sambil menunjuk ke arah kasur, lagi-lagi Leon dibuat terkejut, sosok yang menyerupai Franky telah menghilang.
"Lho, kok nggak ada," lirih Leon.
"Kamu kenapa sih, Le? Dari tadi aneh sekali," tanya Franky.
Leon pun bergidik ngeri.
"Fran, aku tidur sama kamu ya?" mohon Leon.
Franky terkekeh.
"Ya ampu, Le, sebenarnya kamu ini kenapa sih?"
"Sudahlah, pokoknya aku malam ini tidur sama kamu," Leon memaksa.
"Ya sudah, ayo kita tidur, jangan sampai besok kesiangan," ajak Franky.
Leon segera mengambil guling di kasurnya kemudian dia berlari menuju kamar Franky.
__ADS_1
"Si Leon kenapa sih?" batin Franky.