Pulau Abadi

Pulau Abadi
Musnahnya Pangeran Endro


__ADS_3

Nun jauh di pulau abadi, Rinjani sedang berjalan masuk ke dalam hutan, kini dia sampai di istana gaib tempat tinggalnya.


"Dari mana kau, Rin? Berhari-hari kau meninggalkanku," tanya pangeran Endro.


"Saya sudah bilang berkali-kali, anda tak perlu tahu urusan saya!" cetus Rinjani.


"Kau ini masih istriku, itu artinya, kau juga masih menjadi urusanku."


"Cih! Siapa yang sudi menjadi istri anda?" Rinjani berdecih.


"Kau memang benar-benar keras kepala, Rin, kalau cara halus tak bisa merubahmu, cara kasar mungkin akan menyadarkanmu!


Pangeran Endro mulai hilang kesabaran.


Dia mengeluarkan kilatan berwarna kuning, dan melesatkan ke arah Rinjani.


Dengan tenang, Rinjani menangkis serangan pangeran Endro. Dan kilatan itu berbalik ke arah pangeran Endro.


"Aaarrrggghhh ....!"


Pangeran Endro mengerang kesakitan, terkena serangannya sendiri.


Makhluk sombong seperti anda, tak akan mampu melawan saya," ejek Rinjani sambil melesatkan kilatan cahaya hijau ke arah pangeran Endro sebagai balasan.


"Aaarrrgggghhh ....!"


Lagi-lagi pangeran Endro mengerang.


Rinjani tak memberikan kesempatan, kepada pangeran Endro untuk menyerang balik, dia terus melesatkan kilatan cahaya berwarna hijau bertubi-tubi, ke arah pangeran Endro.


Pangeran Endro hanya menghindari serangan Rinjani. Karena Rinjani terus menyerang pangeran Endro tanpa jeda, akhirnya pangeran Endro pun merasa kewalahan.


Wussshhh!


Karena kesal, akhirnya pangeran Endro langsung mengeluarkan kekuatan supranaturalnya, dan melesatkannya ke Rinjani.


Puluhan bola api menyerang Rinjani ....


"Ck, ck, ck, apakah anda tak percaya diri untuk melawan saya, dengan kekuatan anda sendiri, sampai-sampai menggunakan ilmu supranatural anda."


"Karna iblis sepertimu memang harus dimusnahkan sekalian, supaya tak meresahkan makhluk lain," sahut pangeran Endro, yang mulai geram.


Rinjani tertawa menggelegar.

__ADS_1


Kemudian terlihat kedua makhluk itu, bertarung dengan sengit.


Merasa kesal dengan ulah Rinjani, pangeran Endro pun melesatkan bola-bola api ke arah jin wanita itu. Namun, dengan tangkas Rinjani selalu menangkisnya.


"Mustahil, dia bisa melawan semua seranganku, kenapa dia bertambah sakti?" gumam pangeran Endro dalam hati.


Rinjani tersenyum menyeringai, mendengar suara hati pangeran Endro.


Pangeran Endro terus menyerang Rinjani menggunakan kekuatannya, yang paling sakti.


Namun, seketika Rinjani mengeluarkan sesuatu dari dalam tubuhnya.


"Hah? Batu kristal putih, dari mana dia mendapatkan benda sakti itu?" kata suara hati pangeran Endro.


"Anda tak perlu tahu, dari mana saya mendapatkan benda ini. Tapi yang jelas, benda ini dapat memusnahkan anda. Dan dengan batu ini, anda akan punah untuk selamanya." Rinjani kembali tertawa menggelegar, membuat pohon-pohon yang ada di tempat itu, menjadi bergetar.


Bersamaan dengan itu, Rinjani melemparkan batu kristal putih itu ke tubuh pangeran Endro yang tinggi besar dan berbulu itu.


"Aarrrggghhh! Rin ... ka-kau tega! Aaaaaaaa!"


Dan seketika, tubuh pangeran Endro pun limbung dan tergeletak tak berdaya. Perlahan, tubuh pangeran Endro berubah menjadi gumpalan asap berwarna hitam, hingga akhirnya menghilang, bersama dengan batu kristal putih, milik Rinjani.


Dan, tamatlah riwayat pangeran Endro ....


Rinjani pun tersenyum puas.


Tiba-tiba Raju, anak Rinjani dan pangeran Endro, berlari ke arah sisa-sisa asap yang perlahan menghilang.


"Ibu, kenapa ibu jahat? Ibu sudah membunuh ayah!" teriak Raju dalam isak tangisnya.


Rinjani hanya tersenyum smirk, dia sama sekali tak mempedulikan tangisan Raju.


Dan di belakang Raju, kini telah berdiri Raja Jin.


"Anakku, kenapa kau membunuh pangeran?"


"Biarkan saja Romo, saya benci dengannya, dia selalu mengganggu urusanku!" cetus Rinjani.


"Tapi, dia itu suamimu, ayah dari Raju. Apa kau tak memikirkan perasaan Raju? Kasihan dia, pasti sedih kehilangan ayahnya.


Rinjani berlalu dari hadapan Raja Jin, tanpa menanggapi ucapan Raja Jin. Dia terus berjalan hingga menghilang dari pandangan.


Raja Jin hanya menggeleng, melihat tingkah Violetta. Kemudian Raja Jin menggendong Raju, dan membawanya pulang ke istana.

__ADS_1


Sore hari, Rinjani tengah berada di sebuah pantai, dia duduk di sebuah batu besar, yang terletak di pesisir pantai itu.


"Rinjani, kau benar-benar jahat, bukannya melakukan tujuh kebaikan, tapi kau justru membunuh banyak makhluk," kata sebuah suara.


"Saya kesal Ratu, dia terus mengganggu saya," ujar Rinjani dengan wajah kusut.


"Ya wajar saja, karna kau adalah istrinya, lelaki mana yang rela, kalau seorang istri yang dicintainya, telah mengkhianati."


"Ah Ratu sama saja, dengan yang lainnya, selalu menyalahkan saya." Rinjani pun berjalan menjauh dari pantai itu. Kini Rinjani sudah tak memiliki batu kekuatan lagi.


Dan dia pun sadar, bahwa dia merasa kekuatannya telah berkurang, dia merasa lemas tiba-tiba.


"Ada apa dengan saya ya?" gumamnya.


Rinjani terus berjalan hingga masuk ke dalam hutan. Dia duduk di sebuah batu besar, yang ada di dalam hutan itu, dan merenungi semua kejadian yang dia alami selama ini.


"Franky ... saya kangen sekali."


Rinjani tampak sedang menyusun rencana, untuk menghasut Franky kembali.


Tiba-tiba di hadapannya, telah berdiri Raja Jin, menggendong Raju.


"Anakku, pulanglah, kau urus nih Raju anakmu, kasihan dia, kau janganlah egois."


"Romo kan bisa urus dia sendiri, saya sedang tak punya kekuatan Romo."


"Itu karna perbuatanmu sudah terlalu jahat anakku, semua pasti ada batasannya, tak bisa seenaknya sendiri."


Rinjani terdiam, dia malas berdebat dengan ayahnya.


"Ayah hanya mau memperingatkan kau, berhentilah mengganggu manusia itu lagi, sudah saatnya kau berdiam diri di tempat tinggalmu. Hiduplah normal sebagai makhluk gaib pada umumnya, dan jika sudah tiba waktunya, kau pasti akan bereinkarnasi menjadi manusia, dan kau bisa menemukan cinta sejatimu, yang belum kau dapatkan selama ini."


Rinjani tetap diam, dan Raja Jin pun berlalu dari hadapan Rinjani.


Rinjani benar-benar merasa kesal, dia beranjak dari tempat duduknya, dan dia mengangkat batu yang dia dudukinya, kemudian batu itu dia banting sekeras mungkin. Dan tanah di sekitar hutan itu bergetar, menimbulkan bunyi yang sangat kencang, beberapa pohon tumbang, dan sebagian hewan-hewan di dalam hutan itupun berlarian karena merasa takut.


Rinjani tengah melampiaskan amarahnya, setelah itu, dia menendang batu tersebut, hingga terpental jauh ke dalam laut yang berada di pantai, di seberang hutan.


Dan, seketika itu pula, batu tersebut terombang ambing di laut, dan menciptakan ombak yang sangat dahsyat.


Bersamaan dengan itu, ombak pun datang bergulung-gulung, serasa ingin mengajak bermain orang-orang yang berada di sepanjang pantai itu.


Melihat ombak bergulung dengan sangat dahsyat, orang-orang di sekitar pantai itu, pun panik, dan mereka berlarian ke sana dan ke mari, melindungi dirinya. Sementara sebagian pulang ke rumahnya masing-masing.

__ADS_1


Melihat hal tersebut, Rinjani tertawa menggelegar. Kemudian dia berjalan kembali, hingga jauh ke dalam hutan itu, hingga tiba di istananya. Dia pun masuk ke dalam istana, yang merupakan rumah tempat tinggalnya.


Rinjani masuk ke dalam kamarnya, dan duduk di bibir ranjang. Dia terlihat sedang merencanakan sesuatu ....


__ADS_2