Pulau Abadi

Pulau Abadi
Hilangnya Potongan Ayam


__ADS_3

Setelah memakan potongan ayam Rinjani kembali ke kamarnya. Tak lama bu Mira pun keluar dari kamar mandi.BDia hendak melanjutkan aktifitas memasaknya.


Ketika sampai di dekat kompor di mana bu Mira menaruh potongan ayam yang akan di masak, bu Mira pun terkejut karena dia melihat tempat untuk menaruh ayam tadi sudah kosong.


"Lho, mana ayam tadi ya, kok nggak ada satu potong pun?" batinnya.


Bu Mira pun berjalan ke kamar Rindi.


"Rindi! Rin, buka pintunya." Bu Mira mengetuk pintu kamar Rindi.


Pintu pun terbuka ....


"Ada apa sih, Bu? Kenapa berteriak-teriak seperti itu?" tanya Rinjani yang tampak kesal.


"Itu Rin, ayam yang mau ibu masak, kok nggak ada ya?"


Rinjani pun terkesiap namun dia berusaha untuk tenang.


"Lho, memang Ibu taruh di mana?"


"Ya, di tempat tadi, Rin, kan ibu suruh kamu jagain, kenapa kamu malah masuk kamar? Kan jadi hilang semua ayamnya," keluh bu Mira.


"Jadi, ibu menyalahkan saya?"


Bu Mira pun gugup.


"Eh, ya enggak Rin, ya sudahlah nggak apa-apa, nanti kita makan pakai telur saja, ibu kan masih ada persediaan."


"Ya maaf, Bu, saya tadi ada telpon, nah, di dapur tadi berisik suara kran yang mengalir di kamar mandi, terdengar sampai ke dapur, jadi saya ke kamar yang tenang, saya lupa kalau saya harus jaga ayam itu, sekarang malah hilang," ujar Rinjani seolah merasa bersalah.


Seketika bu Mira menjadi tak enak hati.


"Ya sudah, nggak apa-apa, nanti kita makan lauk telur saja, kamu mau kan?"


"Saya sih mau saja, tapi kan saya tidak enak, ayamnya jadi hilang, atau saya belikan yang sudah di masak ya, saya akan keluar sebentar."


"Eh, nggak perlu Rin, sudah nggak apa-apa, kamu lapar kan, ibu goreng telur dulu ya."


"Nanti sajalah, Bu, saya mendadak kenyang ini, nanti kalau saya lapar, saya akan goreng sendiri, Ibu tidak perlu repot-repot ya, lebih baik Ibu goreng telur buat makan Ibu saja."


"Em, ya sudah deh kalau begitu, ibu minta maaf ya, ayamnya jadi hilang."


"Tidak seperti itu juga, Bu, justru saya yang minta maaf, harusnya saya menjaga ayam yang mau di masak itu, malah saya tinggal, kan jadi hilang deh."


"Sudah nggak apa-apa Rin, ya sudah, ibu ke dapur dulu ya."

__ADS_1


Rinjani mengangguk ramah kemudian kembali masuk ke dalam kamar dan menutup pintu.


Bu Mirah pun menggoreng telur untuk lauk makan, setelah itu dia mengambil piring dan mengisinya dengan nasi putih lalu menaruh telur yang baru saja dia goreng di atas nasi.


Dia pun duduk dan menikmati nasi yang masih panas dengan telur dadar sebagai lauknya.


"Ini hari apa sih? Kenapa aku sial sekali, mau masak ayam saja, pakai acara hilang segala, tahu begitu, aku nggak perlu membeli ayam tadi, malah hilang," gerutu bu Mira dalam hati sambil mengunyah makanannya.


"Si Rindi memang benar-benar sudah berubah, seperti bukan Rindi, bahasanya juga sangat asing, kenapa ya? Atau, memang orang yang baru sembuh dari koma itu, memang begitu ya?" bu Mira terus membatin.


****


Sementara itu, di kediaman rumah Erlangga ....


Tok ... tok ... tok ....


Terdengar puntu rumah Franky di ketuk. Franky saat itu sedang duduk santai menonton televisi.


"Siapa itu, yang datang?" batinnya.


Franky segera membukakan pintu dan di hadapannya kini berdiri sosok pria muda. Dia adalah Joko si pertapa sakti.


"Eh, kamu Jok, ada apa? Kok tumben sekali."


"Tumben bagaimana, Fran?"


"Iya, Fran, aku sibuk hehe." Joko terkekeh.


"Sibuk ngumpulin kekuatan, ya," kelakar Franky.


"Ya begitulah, Fran," sahut Joko sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.


"Sini duduk, Jok, mau minum apa?"


Joko pun masuk dan duduk.


"Ah ... nggak perlu repot-repot, Fran, aku hanya singgah sebentar saja," tolak Joko.


Franky pun duduk di dekat Joko.


"Memangnya, ada apa? Kok sepertinya serius sekali?" tanya Franky sambil mengernyitkan dahinya.


"Em, begini, Fran, tapi kamu jangan marah ya, kalau aku bicara."


"Marah kenapa Jok? Ya enggaklah, masa ada orang biacara, aku marah, kamu ini ada-ada saja," gumam Franky.

__ADS_1


"Hehe ... ini, Fran, aku mau tanya tentang perempuan yang suka ke sini, apa itu pacar kamu?"


"Oh, namanya Rindi, dia itu calon istriku, dan setelah aku selesai mengurus surat duda, aku akan segera menikahi dia." Franky menjawab dengan santai.


Joko terbelalak ....


"Apa? Kamu mau nikah sama Jin itu?"


"Hah? Jin? Maksud kamu apa, Jok?" Franky merasa tak mengerti dengan ucapan Joko.


"Ups, kenapa aku kelepasan sih, gimana ya, apa sebaiknya aku kasih tahu tentang siapa Rindi yang sebenarnya sama Franky, atau nggak perlu ya? Hem, sebenarnya dia itu punya indera ke enam, sayangnya dia nggak menyadari, maka dari itu, dia selalu nggak percaya kalau diceritakan tentang hal-hal gaib," ujar Joko dalam hati.


"Jok? Hey!"


"Eh... iya, Fran?"


Panggilan Franky membuyarkan lamunan Joko.


"Kamu kok melamun sih, mikir apa kamu?"


"Hehe, enggak, Fran, aku tuh mendadak ingat, kalau barang aku ada yang ketinggalan," sahut Joko berbohong.


"Fran, kamu serius mau nikah sama perempuan itu? Sebaiknya kamu selidiki dulu deh, seluk beluk dia itu seperti apa."


Franky menjadi heran dengan Joko.


"Aku tuh sudah mengenal Rindi cukup lama, Jok, dan aku sudah tahu tentang dia." Franky berusaha meyakinkan Joko.


"Oh begitu, ya aku sih hanya kasih saran saja, Fran, maaf ya, kalau aku terlalu ikut campur dalam urusan kamu."


"Ah, santai saja Jok." Franky berusaha bersikap tenang."


"Ya sudah, aku pulang dulu, nanti malam ada urusan lagi, aku mau istirahat dulu sebentar, biar nanti malam nggak ngantuk."


"Iya, Jok, makasih sudah mau singgah ke sini."


Joko pun tersenyum dalam anggukannya kemudian dia segera berlalu dan menghilang dari pandangan.


Joko masuk ke dalam rumahnya, dia merebahkan dirinya di sebuah kursi panjang yang terbuat dari anyaman bambu.


Joko tinggal sendiri di rumah itu, orang tuanya sudah lama meninggal.


Di usianya yang masih terbilang muda yaitu dua puluh empat tahun. Joko sangat dingin terhadap wanita, dia bahkan tak mempunyai ketertarikan dengan lawan jenisnya karena dia hanya berambisi menjadi orang yang sakti mandra guna. Untuk itu dia melakukan tapa di gunung S setelah melaksanakan berbagai latihan terlebih dahulu.


"Sebaiknya, aku kasih tahu si Franky atau nggak ya, tentang siapa Rindi sebenarnya? Tapi, aku yakin Franky nggak akan percaya denganku, dia itu kan keras kepala, nanti malah dia mengira, kalau aku ini iri dengannya, hem ... apa sebaiknya aku selidiki sendiri saja, siapa Rindi itu," batin Joko.

__ADS_1


"Besok deh, tunggu waktu yang tepat, baru aku selidiki dia, dan aku juga akan menyelidiki, dari mana dia mendapatkan batu kristal putih, sumber kekuatan itu, aku harus memilikinya."


Tanpa sadar Joko tertidur pulas di kursi panjang itu.


__ADS_2