Pulau Abadi

Pulau Abadi
Jarwo


__ADS_3

"yeee, enak saja, gini-gini aku masih suka sama manusia, huft."


"Hehe, ya sudah, ayo."


Joko pun beranjak dari duduknya, dan mengikuti Leon masuk ke dalam kamar, untuk beristirahat.


***


Sementara itu di sebuah pantai, Franky masih asik mengobrol berduaan dengan Rinjani yang tak lain adalah hantu penunggu hutan itu.


Franky memetik bunga yang tumbuh di sekitar tempat itu. Pria itupun berhasil memetik setangkai bunga anggrek bulan. Ketika dia hendak memberikannya kepada Rinjani, bunga itu tiba-tiba saja menjadi layu, tanpa di ketahui sebabnya.


Franky pun terkejut. "Hah? Bukankah tadi sewaktu aku petik, bunga ini masih segar, kenapa setelah aku petik, kok jadi layu ya? Aneh sekali," gumamnya dalam hati.


Franky pun hendak membuang bunga itu, namun ketika dia melangkahkan kakinya, menuju ke pantai, Rinjani mencegahnya.


"Tunggu, Fran! Anda mau ke mana?"


"Aku akan buang bunga ini, Rin, lihatlah, bunga ini sudah layu."


"Anda mau buang di mana?" tanya Rinjani.


"Di pantai itu, biar dia mengalir bersama ombak pantai," jawab Franky.


"Jangan buang bunga itu, apa lagi di pantai, itu hanya akan mengotori air pantai, nanti Ratu pantai akan marah," tutur Rinjani.


"Hah? Ratu pantai?"


"Iya, di setiap tempat pasti ada penunggunya, dan mereka tak ingin tempat mereka dikotori," papar Rinjani.


Franky pun terdiam sejenak ....


"Lebih baik, anda berikan bungan itu kepada orang yang anda sayang, pasti dia akan bahagia."


Franky terbelalak. "Tapi, bunga ini sudah layu, Rin."


"Bunganya memang sudah layu, tapi kalau anda memberikannya dengan tulus, bunga itu akan mekar kembali."


Franky menjadi bingung, kemudian dia berjalan mendekati Rinjani.


"Kalau begitu, bunga ini untuk kamu saja, Rin."

__ADS_1


Rinjani pun tertegun. "Kenapa untuk saya?"


"Ya, karna aku sayang sama kamu," lirih Franky membuat netra Rinjani basah, dan berkaca-kaca.


"Apa anda benar-benar sayang sama saya?"


"Rin, apa kamu masih meragukan cintaku? Bukankah dari pertama kita berjumpa, aku sudah suka sama kamu, bahkan ketika kamu menikah sama pangeran itu, aku pun rela, walaupun hati aku sakit, tapi aku terpaksa merelakan kamu sama pangeran yang sudah dijodohkan sama kamu, supaya kamu bahagia," tegas Franky.


Tanpa disadari, bulir bening menetes di kedua pipi Rinjani, dia sungguh tak mengira, bahwa Franky masih mengingat tentang pernikahannya dengan pangeran Endro.


"Fran, maafkan saya," lirih Rinjani.


"Aku sudah memaafkan kamu dari dulu, Rin."


Rinjani terdiam, dia sengaja tak memberi tahu Franky, bahwa pangeran Endro telah dibunuh olehnya, karena Rinjani khawatir setelah Franky mengetahui bahwa Rinjani sudah tak mempunyai pasangan, Franky akan bersikeras menikahinya. Sedangkan Rinjani telah sadar bahwa mereka tak akan bisa bersatu, dikarenakan alam mereka yang berbeda.


"Terimakasih, Fran."


"Terimakasih untuk apa, Rin?" Franky mengerutkan keningnya.


"Tak apa," jawab Rinjani.


"Oh iya, ini sudah malam, apa suami kamu nggak mencari kamu?" tanya Franky.


"Suami saya sedang pergi untuk beberapa hari, dia sedang ada keperluan." Rinjani berbohong.


Franky pun mengangguk ....


Dari kejauhan, tampak seorang pria paruh baya mengamati sepasang insan itu. Dia adalah Jarwo, paman dari Nawang, siluman kucing hitam.


"Itu kan Rinjani, kenapa ada di sini? Bukankah dia sudah beberapa tahun meninggal? Ah masa sih itu Rinjani? Atau mungkin aku salah lihat ... tapi, dia mirip sekali sama Rinjani. Ah, iya betul, wajah itu, baju itu, dan penampilannya .... "


Jarwo membatin sambil mengucek matanya, seakan ada yang salah dengan penglihatannya. Namun berkali-kali dia mengucek matanya, semakin jelas sosok Rinjani dari kejauhan.


**Flashback


Lima puluh tahun silam ....


"Saya mau es krim, Kang mas, cuaca hari ini panas sekali, tenggorokan saya menjadi kering dan haus."


Seorang gadis bergelayut manja di lengan seorang pria. Dia adalah Rinjani, kala itu usia Rinjani baru menginjak dua puluh dua tahun, dan pria yang berada di sebelahnya adalah Jarwo, usia mereka hanya terpaut satu tahun, dan Jarwo saat itu berusia dua puluh tiga tahun. Mereka berdua telah menjalin hubungan selama satu tahun. Baik Rinjani maupun Jarwo saling mencintai, mereka berencana akan menikah dalam waktu dekat, dan saat itu mereka berdua sedang berada di sebuah taman.

__ADS_1


Namun, Jarwo sangat berambisi menjadi orang sakti yang tak terkalahkan, dia tinggal seorang diri di rumahnya, kedua orang tuanya sudah lama meninggal. Jarwo adalah dua bersaudara, dia memiliki adik perempuan bernama Indah, namun mereka tinggal terpisah, karena orang tua mereka telah mewariskan dua buah rumah untuk mereka berdua, dan Indah memutuskan untuk menempati rumahnya sendiri, dia mempunyai usaha jual beli sapi.


Karena kepandaian Indah dalam menjalankan usahanya, dia bisa meraup keuntungan yang sangat besar, sebagian keuntungannya dia tabung untuk masa depannya. Hal itu, membuat para warga kagum akan kepandaian Indah, mereka tak menyangka, di usia Indah yang masih terbilang muda, sudah pandai mencari uang sendiri.


****


"Ya sudah, ayo kita beli, tuh di sana ada supermarket kecil, pasti ada es krimnya," tunjuk Jarwo.


Mereka berdua pun berjalan ke arah supermarket, tak jauh dari taman itu. Sampai di sana, Jarwo membelikan Rinjani dua buah ice cream. Dengan senang hati, Rinjani meraih ice cream dari tangan Jarwo, dan langsung memakannya hingga habis, Rinjani dan Jarwo terlihat seperti pasangan serasi.


Suatu malam, Jarwo sedang duduk di dalam rumahnya, sambil menonton televisi, dia berencana akan pergi ke gunung M, untuk memenuhi panggilan dari leluhurnya.


"Akhirnya, ilmu-ku hampir sempurna, setelah aku bertapa untuk yang terakhir kali, dan saat itu juga aku akan menjadi orang paling sakti di desa ini, nggak ada yang bisa mengalahkan kesaktian-ku," batinnya.


Dia pun berencana menemui Rinjani, dengan tujuan untuk berpamitan. Jarwo pun mendatangi rumah Rinjani dan mengajak-nya ke pantai.


"Ada apa kang mas memanggil saya?" tanya Rinjani dengan nada manjanya.


"Rin, aku ada urusan, dan harus pergi selama beberapa bulan, kamu jaga diri baik-baik, dan aku janji, setelah aku pulang nanti, aku akan melamar kamu," sahut Jarwo dengan nada beratnya.


"Ah, kang mas tega, meninggalkan saya sendiri," keluh Rinjani.


"Aku pun nggak tega, Rin, tapi bagaimana lagi, ini sudah menjadi tugas, yang harus aku jalani."


"Tapi saya takut, kang mas akan kecantol sama perempuan lain, yang lebih cantik."


"Itu nggak akan terjadi, Rin, karna hati-ku sudah buat kamu seorang."


Semakin Rinjani mencegah kepergian Jarwo, semakin gigih juga Jarwo untuk tetap pergi. Akhirnya Rinjani pasrah, dengan berat hati dia merelakan kepergian Jarwo.


"Tapi janji ya, kang mas jangan berpaling dengan perempuan lain."


"Tentu saja, Rin, aku sudah nggak tertarik sama perempuan lain, hanya kamu saja yang ada di hati aku."


"Buktikan ucapan anda kang mas, aku akan setia menunggu anda di sini."


"Pasti, Rin, ya sudah aku pulang dulu, dan besok malam aku akan berangkat."


Rinjani mengangguk lemah, Jarwo pun mengecup kening Rinjani kemudian mengantarkan Rinjani pulang ke rumahnya. Setelah itu, Jarwo berpamitan untuk pulang.


Jarwo pun berjalan pulang. Sampai di rumahnya, dia segera mengemasi pakaiannya dan menyiapkan segala sesuatunya untuk dibawa ke gunung M.

__ADS_1


__ADS_2