Pulau Abadi

Pulau Abadi
Tongkat Warisan


__ADS_3

"Hantu? Ah ... yang benar saja kamu, Jok."


"Lho, pacar kamu bukannya hantu, Fran? Hehe."


"Pacar yang mana, Jok?"


"Yang mana ya? Pacar kamu banyak, jadi aku bingung, hehe," Joko terus meledek Franky.


"Ah, satu saja nggak ada kok, Jok, malah calon ku meninggal kemarin."


"Rindi?"


"Iya, Jok, padahal kita hampir saja menikah."


Seketika itu juga, Joko merasa bersalah, dengan ucapannya.


"Maaf ya, Fran."


"Maaf? Maaf buat apa, Jok?"


"Ya aku sudah mengingatkanmu, sama calon kamu."


"Terus, apa masalahnya? Santai saja lagi, kan hanya sekedar obrolan."


"Hehe iya, Fran, ya semoga kamu segera menemukan jodoh kamu lagi ya?"


"Iya Jok, kamu juga ya, eh ngomong-ngomong, kamu belum punya pacar?"


"Nggak tahu nih, Fran, aku kok sepertinya nggak tertarik sama perempuan."


"Eh, jangan gitu, Jok, setiap manusia kan diciptakan berpasangan, kamu masih normal kan?"


"Ya masih lah, Fran, enak saja, bilang aku nggak normal."


"Lho, aku kan nggak bilang kamu nggak normal, Jok, aku hanya tanya, apa kamu masih normal hehe."


"Ya masih lah, hanya saja, aku memang belum menemukan jodohku, mungkin kapan-kapan, lagian aku masih ingin memperdalam ilmu ku, jadi aku belum mikir perempuan dulu."


"Iya lah, Jok, lagian kamu juga masih muda."


"Hehe, iya, Fran, kalau kamu sekarang umur berapa?"


"Aku bulan besok, genap kepala tiga."


"Tiga puluh tahun?"


"Iya, Jok."


"Wah kamu sudah kepala tiga, tapi nggak kelihatan, Fran."


"Nggak kelihatan gimana, Jok?"


"Ya, masih tampan, masih kelihatan seperti anak ABG, hehe," kelakar Joko.


"Ah, kamu menghinanya keterlaluan, Jok," seloroh Franky.


"Yee, beneran, Fran, aku nggak menghina, kamu tuh masih terlihat muda seperti masih dia puluh lima tahunan."

__ADS_1


"Ya alhamdulilah deh dibilang muda, makasih ya, Jok."


"Hehe iya, Fran."


Franky dan Joko asik bersenda gurau, hingga hari mulai panas, dan matahari terus berjalan, kini posisinya di atas kepala, menandakan bahwa waktu telah menujukan pukul dua belas siang, dan bertepatan dengan itu, adzan dzuhur pun berkumandang.


"Eh kamu lapar nggak, Fran? Aku buatkan nasi goreng ya, aku ada nasi sisa semalam, nggak habis, tapi sayang kalau di buang. Masih enak, lebih baik, digoreng terus kita makan berdua yuk."


"Wah boleh juga tuh, aku yang masak ya, Jok, kamu duduk manis saja."


"Eh, ya nggak enak aku, Fran, masa tamu suruh masak."


"Ah, tamu apaan, Jok, sudah nggak apa-apa, sekali-kali coba masakanku, hehe."


"Hem, iya deh, Fran."


Franky pun berjalan ke dapur, dia meracik bahan-bahan yang tersedia di sana, seadanya, dan mulai berperang dengan alat dapurnya. Tak lama, nasi goreng pun matang, Franky dan Joko pun segera melahapnya.


"Wah, enak juga masakan kamu, Fran," puji Joko.


"Ah biasa saja, Jok, hanya nasi goreng, gampang juga masaknya."


"Gampang, tapi kalau nggak enak, juga percuma, Fran."


"Ya sudah, ayo dihabiskan."


Akhirnya, dua piring nasi goreng itupun habis, dan hanya tersisa piring nya saja.


"Mantap sekali, Fran, kenyang, hehe."


"Ya syukur kalau kamu suka masakan aku, Jok. Oh Ya, aku pulang dulu ya."


"Sama-sama, Jok, aku juga makasih."


Kemudian Franky berlalu dari hadapan Joko.


****


Malam hari pun tiba, Joko berencana akan bertapa di gunung S. Dia pun bergegas mandi, dan bersiap-siap. Setelah mandi dan berpakaian, Joko pun keluar rumah, dan berjalan ke arah gunung S.


Jarak yang di tempuh dari rumah Joko ke gunung S, memakan waktu dua jam, dan Joko sudah terbiasa berjalan kaki. Dia mempunyai sepeda motor, namun hampir tak pernah dia pakai.


Sesampainya di gunung S, Joko masuk ke dalam sebuah goa, lalu dia menyiapkan sesaji dan peralatan tertentu, dan Joko memulai bersemedi. Tak lama, muncullah sosok pria tua di hadapan Joko.


"Ada apa, kau memanggilku, Cu?"


"Saya hanya ingin menyampaikan sesuatu, Ki, bahwa saya tidak bisa membunuh jin pulau itu."


"Lho, memangnya kenapa, Cu?"


"Entahlah, setelah saya bertemu dengannya, dan dia menceritakan duduk perkaranya, saya jadi tidak tega, dia sebenarnya tidak jahat, dia hanya sedang mencari jasadnya, supaya matinya sempurna, dan mengenai hubungannya dengan teman saya, ya wajar saja, karna dia jin bucin, tapi saya yakin, dia tidak akan menyesatkan teman saya, dia sudah berjanji untuk itu."


"Apa cucu yakin? Bisa saja itu hanya tipu muslihat dia, cucu harus hati-hati."


"Saya yakin sekali Aki, dan feeling saya tidak pernah melesat."


"Ya sudah terserah cucu saja, semoga saja dia memang bukanlah jin jahat seperti yang kita kira."

__ADS_1


"Iya Aki, oh iya, saya ingin mengembalikan tongkat ini."


Joko pun meletakan tongkat sakti pemberian leluhurnya itu, dia atas sesaji.


"Kenapa kamu kembalikan? Bawa saja, kamu masih membutuhkan benda itu."


Joko terbelalak. "Be-benarkah? Apa tidak apa-apa saya bawa lagi tongkat ini?"


"Kamu berhak memiliki benda itu, Cu, karna jiwa keprihatinan kamu sangat besar, kamu bisa menahan hawa nafsu, kamu benar-benar serius dalam mencari ilmu. Untuk itu, kamu berhak memiliki benda itu, anggap saja itu hadiah dariku, karna kamu sudah melaksanakan tugas dengan baik."


Wajah Joko bersinar, dia tak menyangka akan mendapatkan tongkat itu, dia benar-benar merasa bahagia.


"Terimakasih banyak Aki."


"Sama-sama Cucuku."


Kemudian, sosok pria tua itupun menghilang, sedangkan Joko segera mengemasi peralatan dan bekas sesajinya, kemudian berjalan pulang.


Di sepanjang jalan, dia bersiul dengan riang.


Ketika hendak sampai di sebuah jalan, tak jauh dari rumahnya, Joko mendengar suara tangis.


"Siapa yang nangis, malam-malam gini?" batinnya.


Joko celingukan, mencari sumber suara yang dia dengar. Netranya mengarah ke sudut jalan, dia melihat sosok wanita sedang berjongkok. Joko pun berjalan mendekati sosok tersebut.


"Neng, malam-malam gini kok nangis? Kenapa? Ditinggal pacarnya ya?" kelakar Joko.


Sosok itu tak menghiraukan ucapan Joko, dan tetap pada posisinya, sambil terus menangis.


"Yee, ditanya malah nggak jawab, neng, neng. Jawab neng, kamu ini kenapa?"


Sosok itu tetap diam, tak bergeming.


"Mau aku antar pulang?"


Akhirnya sosok itu pun menengadahkan kepalanya, betapa terkejutnya Joko, melihat wajah sosok wanita itu hancur, hampir tak berbentuk, darah mengalir di sekitar wajahnya.


"Buset, hantu lagi. Huft, apes sekali sih aku, selalu ketemu sama hantu, jangan-jangan jodohku hantu juga lagi, hiiii amit-amit deh, jangan sampai."


Joko pun berkomunikasi dengan hantu tersebut dari hati ke hati, kemudian, dia menerawang apa yang telah menimpa hantu wanita itu. Ternyata, sebuah kecelakaan telah merenggut nyawanya.


"Terus, apa yang kamu mau? Bukankah jasadmu sudah dibawa ke rumah sakit sama orang-orang?"


Akhirnya, hantu itu pun angkat bicara. "Memang benar, jasadku sudah dibawa ke rumah sakit, tapi aku masih tetap butuh bantuan."


"Katakan, bantuan apa yang kamu mau?"


Kita cari tempat dulu saja, biar enak ngobrolnya," kata hantu itu.


"Dih, ngomong tinggal ngomong, pakai cari tempat segala, seperti mau kencan saja," cibir Joko.


"Kamu mau dinilai gila? Sama orang-orang yang lewat," ujar hantu itu.


"Kok bisa?" Joko mengerutkan keningnya.


"Ya, karna mereka melihat kamu bicara sendiri."

__ADS_1


"Memang siapa yang lewat malam-malam gini? Paling hanya alasan kamu saja kan, supaya bisa dekat-dekat sama aku?"


"Kamu itu, ge-er sekali, aku memang sudah mati, tapi aku nggak mungkin kegenitan sama manusia, jangan kamu anggap semua hantu itu sama."


__ADS_2