
Dari alam gaib, melalui terawangannya, Rinjani menyaksikan semua kejadian yang tengah dialami oleh Franky.
"Ini kesempatan bagus untuk saya."
Rinjani pun mengerjapkan matanya, dan kini dia sudah berada di dalam ruangan tempat Rindi di rawat. Rinjani menatap intens ke arah Rindi.
"Kasihan sekali anda wahai manusia, yang lain sedang dijenguk oleh keluarganya, sedangkan anda justru sendirian di sini." Rinjani terus menatap wajah Rindi, wajahnya terlihat tersenyum, seperti sedang tertidur pulas.
"Wahai manusia, supaya anda tak merasa sendirian, saya akan menemanimu barang sebentar." Rinjani pun duduk di atas kasur, di samping Rindi.
Tak lama, masuklah seorang perawat, untuk memeriksa kondisi tubuh Rindi.
Seketika bulu kuduk perawat tersebut meremang.
Selesai memeriksa, ketika perawat itu hendak keluar, dia tak sengaja menyenggol kabel infus milik Rindi hingga terjatuh. Namun perawat itu tak menyadarinya, dia terus berjalan keluar kamar karena merasa ketakutan.
"Hem, apa dia tak tahu, kalau dia sudah menjatuhkan infus ini," gumam Rinjani.
Rinjani pun berusaha mengambil infus yang terjatuh, namun tangannya tak mampu menyentuh infus itu.
"Huft, saya lupa kalau saya ini adalah hantu, jadi tak bisa menyentuh barang-barang dengan tangan saya," gerutu Rinjani.
Kemudian Rinjani berjalan ke luar ruangan, dia melihat Franky sedang tertidur pulas.
"Kasihan Franky, dia pasti lelah."
Rinjani pun merasuki tubuh Franky, namun tubuh Franky menolaknya membuat Rinjani merasa heran.
"Kenapa saya tak bisa masuk? Aneh sekali."
Rinjani kembali merasuki tubuh Franky, namun berkali-kali dia mencoba masuk ke dalam tubuh pria itu, berkali-kali juga tubuh itu menolaknya.
Rinjani menjadi kesal dibuatnya.
"Mungkin Franky terlalu banyak dosa, sehingga tak bisa menerima roh perempuan cantik seperti saya ini," gumam Rinjani penuh percaya diri.
Rinjani kembali ke dalam ruang rawat Rindi.
Dia menatap intens ke arah Rindi.
"Bagaimana cara saya menolong dia ya, kalau dia mati karna infusnya terlepas, rencana saya bisa gagal," gumamnya.
Rinjani tampak sedang berpikir ....
"Anda tunggu sebentar ya, saya akan membuat Franky supaya dia bangun dari tidurnya, dan melihat infus anda jatuh, supaya dia segera memasangkannya," ujar Rinjani sambil mengusap lengan Rindi.
Tiba-tiba Rinjani merasakan keanehan saat dia mengusap lengan Rindi, seperti ada energi kuat yang menyedot tubuh Rinjani sehingga tubuh Rinjani pun masuk ke dalam tubuh Rindi.
"Aaahhh ....!"
Rinjani yang kini telah bersemayam di tubuh Rindi, pun berteriak histeris, dia terkejut bukan main.
"Rindi?" Franky terbangun dari tidurnya mendengar teriakan dari kamar Rindi.
"Apa Rindi sudah sadar?" Tanpa menunggu lama, Franky segera berlari kecil, masuk ke dalam ruang rawat rindi.
__ADS_1
"Rindi, akhirnya kau sadar juga, setelah dua bulan lebih koma," kata Franky sambil memeluk Rindi.
Namun tiba-tiba Franky mengerutkan keningnya. "Kenapa dingin sekali tubuhnya?"
Rindi yang kini dirasuki oleh roh Rinjani itupun berpura-pura tidak paham, atas apa yang menimpanya.
"Apa? Saya koma selama dua bulan lebih?"
"Iya Rin, dan ...."
Akhirnya Franky pun menceritakan kecerobohannya, hingga Rindi menjadi korban.
"Maafkan aku ya, Rin, aku benar-benar menyesal."
Rindi pun tersenyum pucat. "Tak mengapa, Fran, ini kecelakaan, dan saya kurang hati-hati pula, jadi Anda tak perlu merasa bersalah."
Dan Franky pun bertambah bingung, dia merasa ada yang berubah pada diri Rindi, namun Franky tak tahu, apa yang dimaksudnya.
"Rindi kok jadi aneh ya," batin Franky.
"Aneh bagaimana?"
Deg!
Jantung Franky berdetak kencang, kedua matanya membola sempurna.
"Eh enggak, Rin, sebentar ya aku panggilkan suster, untuk memeriksa kondisimu."
Franky keluar dari kamar Rindi, dan kembali lagi bersama seorang dokter dan juga suster di sampingnya.
"Alhamdulillah, trimakasih, Dok," kata Franky dengan raut wajah ceria.
Dokter itu mengangguk, kemudian keluar ruangan, di ikuti suster yang mendampinginya.
"Ayo Rin, aku akan mengantarmu pulang," kata Franky antusias.
Rindi tersenyum dalam anggukannya.
Setelah membayar biaya administrasi, Franky menggandeng tangan Rindi, masuk ke dalam mobil.
Franky merasa heran, karena suhu tubuh Rindi sangat dingin, namun kali ini Franky tak berani membatin lagi, dia merasa kalau Rindi dapat mendengar suara hatinya.
Franky mengantar Rindi pulang ke rumahnya, sebelum Rindi masuk ke dalam rumah, terjadilah percakapan di antara mereka berdua.
"Rin, sebelumnya aku minta maaf, kalau motor kamu rusak akibat kecelakaan kemarin, tapi kamu jangan khawatir, besok aku akan membelikan mu motor baru."
"Iya, Franky, terimakasih ya."
Franky mengangguk kemudian mengantar Rindi masuk ke dalam rumahnya.
Mereka disambut oleh bu Mira.
"Kamu sudah sembuh, Rin? Maaf ya, ibu jarang jenguk kamu, ibu banyak tugas."
Rindi tersenyum, dia pun merangkul pundak ibunya itu, bu Mira merasa heran, karena suhu tubuh Rindi terasa dingin.
__ADS_1
"Kamu kedinginan, Rin? Sebentar, ibu ambilkan jaket ya?"
Rindi yang tak lain adalah Rinjani pun menolak, karena dia justru merasa kepanasan.
"Tak perlu, Bu, saya justru merasa gerah," sahut Rindi.
Bu Mira yang tak tahu menahu mengenai apa yang menimpa anaknya itu, pun hanya pasrah.
"Ya sudah, Rin, aku pulang dulu ya," Franky berpamitan.
"Iya, Fran, anda hati-hati ya."
Franky mengangguk.
"Mari bu, saya pulang dulu ya."
Bu Mira mengangguk ramah.
"Hati-hati, Mas, terimakasih sudah mau mengantar anak saya," balas bu Mira.
Franky mengangguk dan berlalu dari hadapan mereka.
"Apa kamu mau makan, Rin? Ibu gorengkan telur dadar ya?"
"Em, iya bu boleh deh, telurnya diceplok setengah matang saja, Bu, enam butir ya."
Bu Mira terbelalak. "Enam? Nggak salah kamu, Rin?"
"Tidak salah kok, Bu."
"Baiklah, Rin." Bu Mira pun berjalan ke dapur.
"Mungkin Rindi lapar sekali, kan dia koma selama dua bulan," batin bu Mira.
Sebenarnya, Rindi yang tak lain adalah Rinjani itu ingin sekali memakan kembang kantil dan meminum kopi hitam, namun dia tak ingin ibunya menjadi curiga. Rindi pun berjalan ke dapur menghampiri ibunya.
"Bu sama tolong buatkan kopi hitam ya.
Bu Mira terbelalak. "Sejak kapan kamu suka dengan kopi hitam?"
"Rindi terkesiap, dia tak paham kalau Rindi itu tak menyukai kopi hitam.
"Eh, sudah lama kok, Bu, biasanya saya main ke rumah teman, pastilah saya di suguhkan kopi hitam. Ya kalau di rumah, saya memang jarang minum kopi hitam, tapi saya suka sekali, ternyata kopi hitam itu segar."
"Ya sudah, ibu buatkan, sekarang kamu duduk dan istirahatlah, kamu pasti sangat lelah kan."
Rindi pun masuk ke dalam kamarnya, dia duduk di bibir ranjang tempat tidur itu, sambil menunggu ibunya memasak makanan untuknya.
Selesai membuat telur ceplok setengah matang, bu Mira memanggil Rindi.
Rindi pun keluar dari kamar, dan berjalan ke dapur.
"Sudah matang, Rin, ayo dimakan mumpung masih panas, kalau sudah dingin nggak enak."
"Iya, Bu."
__ADS_1