
"Saya pun tak tahu, yang jelas, saya sudah tak ada minat lagi bekerja di tempat itu."
"Lalu, sekarang kamu kerja apa, Rin?"
"Saya menjadi selebgram."
"Wah, pantas saja, Rindi berhenti dari pekerjaannya, ternyata dia sudah menjadi artis online sekarang, tentu penghasilannya lebih banyak lagi, dari penghasilannya di PT," Nurdiana membatin namun dapat di dengar oleh Rinjani.
"Tentu saja, penghasilan saya kali ini lebih besar, dan pekerjaannya pun santai, tak perlu keluar rumah."
Nurdiana terbelalak.
"Kok dia bisa tahu, kalau aku bicara dalam hati ya?" batin Nurdiana lagi.
Rinjani tersenyum sinis ke arah Nurdiana.
Tiba-tiba bulu kuduk Nurdiana meremang.
"Kenapa tiba-tiba, aku jadi merinding ya," batin Nurdiana.
"Em, ya sudah Rin, saya pulang dulu ya, kalau ada apa-apa kamu kabar-kabar ya, dan kalau kamu ingin masuk ke PT. Bintang kejora lagi, saya akan sampaikan ke managernya."
Nurdiana pun menyalami Rinjani dan Rinjani membalas jabat tangan Nurdiana.
"Baik, terimakasih," ucap Rinjani.
Nurdiana terkejut karena tangan Rindi terasa dingin namun dia tak berani membatin apa pun di depan Rinjani yang di kira Rindi itu.
Kemudian Nurdiana pun pulang.
Sampai di rumah dia menghampiri suaminya dan juga Leon yang sedang duduk di ruang tengah.
"Ibu dari mana?" tanya Abdul Rozak.
"Dari tempat Rindi, Pak, aku tadi menanyakan kenapa dia mengundurkan diri, dan dia bilang kalau sudah bosan kerja di PT. Bintang kejora, dan katanya dia sekarang jadi selebgram."
"Wih, keren tuh, jadi artis online uangnya banyak lho, Tante," celetuk Leon.
"Nah itu dia, Le."
"Sudah lah, Bu, biarkan saja dia mau bagaimana, itu kan hak dia, mau kerja apa saja, kita tak perlu mencampuri urusan dia," tutur Abdul Rozaq.
"Iya, Pak, memang betul, hanya saja sangat di sayangkan."
"Kenapa memangnya, Bu?"
"Kan PT. Bintang Kejora sudah bekerja sama, dengan kantor kita Pak, nah kita kesusahan mencari karyawan seperti Rindi, karna dia itu sangat terampil dan cekatan dalam bekerja.
"Ya sudah, Bu, nggak apa-apa, yang penting kan kantor kita tetap berjalan lancar, besok juga pasti dapat karyawan yang serajin Rindi."
Nurdiana mengangguk, dia tak mau berdebat dengan suaminya itu.
"Pak, si Rindi kok sekarang aneh deh," kata Nurdiana tak lama kemudian.
"Aneh bagaimana, Bu?" heran Abdul Rozak.
"Nggak tahu juga sih, Pak, tapi pas aku salaman, tangan dia dingin, terus aku tiba-tiba merinding gitu, pas ada di dekat dia."
"Ah, masa sih, Tante?" sela Leon.
"Benar, Le, tante nggak bohong." Nurdiana mencoba meyakinkan.
__ADS_1
"Mungkin dia habis ngapain, Bu, habis cuci piring atau apa, jadi tangannya dingin."
"Nurdiana terdiam sejenak ....
"Ah sudahlah, lebih baik aku tak perlu melanjutkan cerita ini, pasti suamiku nggak akan percaya, justru bisa-bisa aku yang di sangka aneh, biar mereka tahu sendiri saja," batin Nurdiana.
"Ya sudah, aku mau tiduran ya, Pak."
"Iya, Bu, silahkan."
Nurdiana pun masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan diri di atas kasur.
Dia pun merenung ....
"Sepertinya, sejak Franky dan Leon pulang dari pulau abadi, selalu saja ada kejadian aneh, dan penuh misteri. Apa mungkin, tempat itu angker ya? Jangan-jangan benar kata kiyai Romli, si Franky itu diikuti makhluk halus, dan parahnya lagi, sampai dicintai pula."
"Ih, kok aku jadi merinding ya, sudahlah aku nggak mau membahas Franky lagi."
Tanpa sadar Nurdiana pun terlelap dalam tidurnya.
****
Nurdiana kini tengah berada di sebuah hutan belantara. Dia berjalan-jalan di hutan itu.
"Tempat apa, ini?" batin Nurdiana keheranan.
Tiba-tiba dia mendengar suara.
"Tolong ...."
"Tolong ...."
"Tolong ...."
Seketika netranya mengarah ke sebuah sosok berbaju putih lusuh berambut panjang tak beraturan dan wajahnya hancur.
Nurdiana bergidik ngeri, tubuhnya gemetar dan sosok wanita itu berjalan perlahan mendekati Nurdiana.
Nurdiana gemetar, dia hendak berlari namun sekujur tubuhnya kaku tak dapat bergerak.
"Duh, kenapa aku nggak bisa bergerak ya," batinnya.
Sosok itu semakin lama semakin mendekati Nurdiana.
Pada saat sosok itu telah mendekat ke arah Nurdiana dan terlihat seolah sosok itu hendak menembus tubuh Nurdiana, seketika muncullah sinar terang yang menyilaukan mata.
Nurdiana pun memejamkan matanya dan beberapa saat kemudian dia membuka matanya.
"Hah? Di mana aku?" batinnya.
Nurdiana melihat ke sekeliling.
"Lho, ini kan kamarku sendiri? Tapi tunggu deh, perasaan tadi aku ada di hutan, kenapa sekarang bisa ada di sini lagi?"
Nurdiana merasa heran pada dirinya sendiri, dia mencoba mengingat kembali kejadian yang baru saja dia alami namun dia sama sekali tak dapat mengingatnya.
"Hem, mungkin hanya mimpi saja."
Nurdiana keluar dari kamarnya, dia berjalan ke dapur menyeduh teh manis.
Kemudian Nurdiana berjalan ke ruang tengah.
__ADS_1
"Lho, kamu nggak jadi istirahat, Bu?" tanya Abdul Rozaq.
"Sudah tadi, Pak, merem sebentar hehe."
Nurdiana memang sengaja tak mau menceritakan mimpinya.
"Istirahat kok sebentar sekali?"
"Ya, memang ngantuknya hanya sebentar kok, Pak."
Abdul Rozaq pun menggelengkan kepala merasa aneh dengan sikap istrinya itu sedangkan Nurdiana hanya meringis.
"Leon kemana, Pak?" tanya Nurdiana.
"Itu, tadi di telpon temannya, mungkin membahas masalah pekerjaan."
"Oh, ya sudah kalau begitu, semoga saja dia segera mendapatkan pekerjaan, kasihan di rumah terus, seperti nggak punya pandangan hidup."
"Iya juga sih, Bu."
"Pak, kamu mau kopi nggak? Aku buatin."
"Enggak dulu deh, Bu, aku kekenyangan, habis makan tadi."
"Oh, ya sudah."
****
Sementara itu di rumah Rindi ....
Rinjani sedang duduk di bibir ranjang sambil memainkan ponselnya. Dia tampak senyum-senyum sendiri.
"Ah lumayan, masuk lagi nih uang, bisa buat membeli kebutuhanku sehari-hari," gumam Rinjani dalam hati.
Tiba-tiba perutnya terasa lapar, Rinjani keluar kamar dan berjalan ke dapur. Di sana dia melihat bu Mira sedang memasak. Rinjani pun menghampirinya.
"Anda masak apa, Bu?"
"Eh, ini Rin, ibu masak opor ayam."
"Oh, sedap dong."
"Iya, Rin, apa kamu sudah lapar?"
"Iya, Bu."
"Sebentar ya, ibu racik bumbunya dulu."
"Jadi, belum dimasak?"
"Belum, Rin, kamu sabar sebentar ya, maaf tadi ibu baru saja mendapatkan ayam di warung sebelah, karna tadi ibu kesiangan."
"Tak apa, Bu, santai saja." Rinjani tersenyum, dia merasa bahagia sekali melihat beberapa potong ayam yang masih mentah.
Dan pucuk di cinta ulam pun tiba. Bu Mira berasa ingin buang air kecil.
"Aduh, ibu mau buang air, Rin, kamu tunggu di sini sebentar ya."
Rinjani tersenyum penuh makna sedangkan bu Mira pun segera berjalan menuju ke kamar mandi.
Dia masuk dan menutup pintunya.
__ADS_1
Rinjani tak menyiakan kesempatan itu, dia segera melahap seluruh potongan ayam yang masih mentah itu tanpa tersisa satu potong pun.