
Malam pun merayap datang, saat itu, waktu menunjukkan pukul tujuh malam.
Tiba-tiba, ponsel Franky berbunyi.
Ada panggilan dari Nurdiana.
"Halo, Nyonya," sapa Franky.
"Fran, tolong saya," kata suara dari seberang sana.
"Ada apa, nyonya?"
"Saya kesasar, Fran, dan saya nggak tahu jalan pulang," balas Nurdiana.
"Lho, memangnya nggak ada papan penunjuk jalan, nyonya?"
"Nggak ada, Fran, di sini sepi sekali, nggak ada orang sama sekali, dan tempatnya juga aneh, jangankan penunjuk jalan, satu orang pun nggak ada di sini, saya juga bingung ini, perasaan, saya sudah melajukan mobil saya, sampai jauh, tapi selalu kembali ke tempat ini terus," ungkap Nurdiana.
"Hah? Kok bisa nyonya? Terus, sekarang nyonya di mana?" Franky terlihat ikut panik.
"Saya di Stasiun M."
"Stasiun M? Terus, nyonya naik apa? Apa nyonya sendiri saja?"
"Saya naik mobil, Fran, iya saya sendirian, ini saya mau pulang, karna tadi pagi habis ke tempat teman bisnis saya, ada bisnis besar yang harus saya kerjakan."
"Ya sudah saya ke sana sekarang, nyonya tunggu saya ya."
Panggilan pun berakhir ....
"Kok nyonya bisa kesasar ya? Apa Leon nggak tahu?" gumam Franky dalam hati.
Franky kemudian mencoba menghubungi Leon, karena dia hendak mengajak Leon pergi ke Stasiun M itu, namun nomor Leon tak aktif.
"Sial, nomer Loen nggak aktif lagi, hem." Franky berjalan hilir mudik, di depan kamarnya.
"Saya akan mengantar kamu ke Stasiun M."
Sebuah suara mengejutkan Franky.
Pria itu menoleh ke sebuah suara. "Masya Allah, Rin, kamu ini benar-benar deh, lama-lama bisa senam jantung aku," cetus Franky.
Hantu Rindi meringis, mengejek Franky.
"Kamu mau berangkat kapan?" tanya hantu Rindi.
"Sekarang, Rin, kasihan tante kamu, dia pasti bingung sekali." sahut Franky.
"Ya sudah, ayo."
Franky segera mengeluarkan mobilnya, kemudian menaikinya, dan hantu Rindi telah berada di dalam mobil itu, dia duduk di dekat Franky.
Tak lama, mobil pun melaju ....
"Kok aku curiga ya, Fran?"
"Curiga kenapa, Rin?"
__ADS_1
"Sepertinya, ada yang nggak beres."
"Apa itu, Rin?"
"Entahlah, ya sudah lanjut saja."
Franky penasaran dengan ucapan hantu Rindi, namun dia terus mengemudikan mobilnya.
Kurang lebih satu jam, mobil Franky tiba di Stasiun M, dia dan hantu Rindi turun.
Banyak gosip yang telah beredar mengenai Stasiun M itu, stasiun tersebut sudah lama berdiri, dan terkesan angker. Hal ini di karenakan banyaknya kecelakaan, yang merenggut korban jiwa.
Saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, dan suasana di tempat itu sudah sepi, tanpa seorang pun yang berlalu lalang di tempat itu.
Angin malam berhembus dengan kencang, menerpa tubuh Franky.
Karena cuaca terasa dingin, Franky memasukkan kedua tangannya ke dalam jaket, dia berjalan memasuki stasiun itu, diikuti hantu Rindi, yang melayang di sampingnya.
"Kok sepi ya, Rin?" gumam Franky.
"Tuh kan, aku bilang juga apa, ada yang nggak beres kan, sepertinya stasiun ini, sudah lama nggak berpenghuni, kamu lihat tuh, nggak ada orang sama sekali, apa lagi kendaraan lewat, nggak satu pun," ujar hantu Rindi.
"Terus mana ya nyonya Nur," gumam Franky.
"Nah itu dia masalahnya, Fran, kenapa juga aku baru kepikiran sekarang."
"Memang ada apa, Rin?" Franky makin penasaran.
"Harusnya tadi kita ke rumah tante Nur dulu, sebelum kesini, tante ada nggak di rumahnya, kalau dia ada di rumahnya, berarti ...." hantu Rindi menghentikan ucapannya.
"Ya yang menelpon kamu itu ... hantu."
"Hah?" Bulu kuduk Franky meremang seketika.
"Terus, bagaimana ini?"
Hantu Rindi tampak berpikir sejenak. "Coba kamu telpon tante lagi."
Franky pun mengeluarkan ponselnya, dia mencoba menghubungi Nurdiana.
"Halo?" panggilan tersambung.
"Halo nyonya, em, nyonya di mana?"
"Saya di rumah, Fran, ada apa ya?"
Franky terbelalak, mendengar jawaban terakhir dari Nurdiana, dia terdiam sejenak.
"Halo? Fran? Apa kamu masih dengar saya?" panggilan masih tersambung, dan Nurdiana masih berbicara di seberang sana.
Namun tangan Franky gemetar seketika, tanpa sengaja, dia menjatuhkan ponselnya, hantu Rindi segera mengambilnya, seketika itu juga, panggilan berakhir.
"Bagaimana, Fran?" tanya hantu Rindi.
Franky masih diam tak bergeming.
Kemudian hantu Rindi segera mengusap wajah Franky, dan seketika itu juga, pria itu tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
"Eh, Rin."
"Kamu itu telpon tante Nur, dia bilang apa?" Hantu Rindi nampak kesal.
Mendadak Franky teringat, kalau dia baru saja berbicara dengan Nurdiana lewat telponnya.
"Astaga, kok aku jadi lupa begini ya, nyonya Nur di rumah, Rin."
Rindi menghembuskan napas kasarnya.
"Tuh kan, berarti yang menelpon kamu tadi han ...."
"Cukup!" Franky menyela ucapan hantu Rindi.
Rindi pun terdiam.
"Jangan diteruskan lagi, serem tahu."
Hantu Rindi tersenyum smirk.
"Ya sudah, ayo kita pulang," ajak hantu Rindi.
Franky pun membalikan badannya, hendak menuju ke mobilnya, namun, baru saja dia melangkahkan kakinya, terdengar suara aneh, yang menarik perhatiannya.
Bug!
Bunyi seperti sebuah benda jatuh.
Franky menoleh ke belakang, namun dia tak melihat seorang pun di sana, akan tetapi, seketika bau busuk dan bau anyir menyeruak, menusuk hidung, baunya cukup menyengat, membuat perut Franky menjadi mual.
"Ada apa, ya? Kok tiba-tiba perasaanku nggak enak," gumam Franky menoleh ke kiri dan ke kanan.
"Huft, si Rindi hilang lagi, dasar tuh hantu, bikin kesal saja," gerutu Franky.
Masih dalam suasana mencekam, Franky merasakan ketakutan yang amat sangat, tiba-tiba, ada yang menetes dari atas, mengalir di kening Franky.
Franky menyentuh cairan yang mengalir di keningnya itu, dengan jari tengahnya.
Kemudian dia mengamati cairan itu dengan seksama, betapa terkejutnya dia, ketika melihat cairan itu berwarna merah.
"Hah? Apa ini ya? Kok seperti darah, darah dari mana ya?" gumam Franky dalam hati.
Karena dihantui rasa penasaran yang besar, Franky pun perlahan menengadahkan kepalanya ke atas.
Betapa terkejutnya Franky, di langit-langit atap stasiun, tepat di atas kepalanya, Franky melihat sebuah kepala manusia tanpa tubuh, kepala ini berambut panjang, berwajah mengerikan, bola matanya seakan ingin keluar dari kedua rongga matanya, lidahnya menjulur panjang ke arah luar, dan kulit wajahnya mengelupas.
Franky bergidik ngeri, dia tak dapat menahan rasa takutnya lagi, akhirnya dia pun pingsan di tempat itu.
Dalam remang-remang cahaya, samar-samar Franky melihat sosok wanita berkebaya putih, lengkap dengan kerudungnya.
Wanita itu tersenyum, dan melambaikan tangannya, ke arah Franky.
"Siapa dia?" Franky terpesona oleh senyum manisnya.
Tanpa sadar, Franky berjalan mendekati wanita yang dilihatnya, namun wanita tersebut justru berjalan menjauh.
Franky terus mengikuti wanita itu, hingga wanita itu memasuki salah satu gerbong kereta api. Franky pun ikut masuk ke dalam gerbong tersebut, kini dia berada di dalam kereta api, bersama wanita berkebaya putih itu.
__ADS_1