Pulau Abadi

Pulau Abadi
Keluarnya Roh dari Jasad


__ADS_3

Maksud kamu gimana, Nawang? Aku masih belum paham," kata Joko.


"Jadi, di gudang ini sepertinya menyimpan suatu misteri, yang aku pun tak tahu dengan pasti, intinya di dalam gudang ini ada makhluk gaib, makanya ibu pemilik penginapan ini melarang kalian untuk membuka pintunya," jelas Nawang.


Leon merasa aneh dengan Joko dan si kucing itu, karena dia melihat keduanya hanya saling bertatap muka saja, Leon tak mengetahui, bahwa mereka berbicara hanya dari hati ke hati saja.


"Jok, kamu sedang apa sih, kok malah pandang-pandangan sama kucing."


"Kamu diamlah dulu, Le, aku sedang menerawang, apa yang terjadi di dalam gudang ini."


"Oh begitu, oke deh, Jok."


"Tapi, kenapa Franky bisa buka pintu ini? Itu artinya, pintunya nggak terkunci," ujar Joko merasa penasaran.


"Entahlah, aku kan bukan penghuni tempat ini, jadi mana aku tahu, kau tanyakan saja pada yang punya penginapan ini," cetus Nawang.


"Terus, gimana ini?" tanya Joko.


"Ya itu tadi, aku sudah bilang, bahwa roh teman kamu, tak ada di dalam jazadnya, karna dibawa pergi oleh makhluk gaib, dan itu artinya, kau harus menjemput roh teman kau, dan membawanya kembali ke dalam raganya, tapi alangkah baiknya, besok kita tunggu ibu pemilik penginapan ini bangun, dan kita tanyakan dulu, apa yang sebenarnya terjadi di dalam gudang itu."


Joko mengangguk, tanda mengerti, kemudian dia membopong tubuh Franky dan membawanya masuk ke dalam kamar, diikuti oleh Leon, sementara Nawang berjaga di depan gudang itu.


Joko merebahkan tubuh Franky, di atas kasur.


"Le, tolong kamu jaga Franky ya, jangan ke mana-mana, besok, aku akan menjemput roh dia," titah Joko kepada Leon.


"Roh? Maksud kamu apa, Jok?" Leon merasa penasaran.


"Setelah aku menerawang ke dalam gudang itu, ternyata roh Franky dibawa sama makhluk gaib yang bersemayam di dalam gudang itu, kalau aku nggak menjemput, Franky bisa mati."


Leon bergidik ngeri. "Duh, Fran, kamu ngapain sih, pakai buka pintu gudang segala, aku saja nggak berani, kan kejadian dulu terulang lagi, dulu kamu juga pingsan selama dua bulan."


Tanpa sadar, netra Leon basah, dia sangat prihatin dengan keadaan temannya itu.


"Ya sudah, aku tinggal dulu ya, Le," kata Joko.

__ADS_1


Leon mengangguk, dan Joko pun keluar kamar, lalu berjalan ke arah gudang, dia melihat Nawang masih berdiri di depan gudang itu.


Joko hendak menutup pintu gudang itu, namun dia terkejut, karena pintu gudang itu tak ada, dengan kata lain, gudang itu tak berpintu.


"Lho, kok pintunya nggak ada? Aneh, Nawang, apa kamu tahu?"


Nawang hanya menggeleng. "Terlalu banyak kejadian misteri di tempat ini, sebaiknya kamu cepat tinggalkan tempat ini."


"Tentu saja, kalau urusanku sudah selesai," ujar Joko.


Tak terasa, pagi hari pun tiba, dan Joko segera ke rumah bu Regina, dia menceritakan semuanya tentang perbuatan Franky, yang telah membuka pintu gudang.


"Apa? Jadi teman kamu sudah membuka gudang itu, saya kan sudah peringatkan, jangan sekali-kali membuka pintunya, tapi teman kamu sudah melanggar!" Bu Regina terlihat gusar.


"Tapi, kenapa teman saya bisa membuka pintunya, itu artinya, pintu ibu nggak ibu kunci, ibu hanya menutupnya saja."


Bu Regina terdiam sejenak ....


"Pintu itu memang nggak bisa dikunci, berkali-kali saya memasang kunci pada pintu itu, tetap nggak bisa, saya pun heran, kenapa bisa begitu, maka dari itu, saya melarang kalian membuka pintu gudang itu, kalau saja pintu itu bisa dikunci, kalian nggak akan mungkin bisa membukanya."


"Dulu, di desa ini pernah terjadi hal yang mengerikan, satu persatu warga pulau ini hilang, mereka dibawa oleh makhluk gaib, sampai akhirnya semua pada berdiam diri di dalam rumah, dan nggak ada yang berani keluar, warga hanya berani keluar kalau siang hari saja, dan kalau sudah di atas jam enam petang, tidak ada yang berani keluar, karena jam segitu, waktunya mereka mencari tumbal, dan anak bayi yang baru lahir saja, bisa hilang kalau nggak ditunggu, dan mereka yang telah hilang, nggak pernah kembali lagi." jelas bu Regina.


"Tapi, apa hubungannya dengan gudang itu?" Rasa ingin tahu Joko semakin besar.


Entahlah, saya juga nggak begitu paham, apa yang terjadi di dalam gudang itu, saya hanya menjalankan pesan turun temurun dari nenek saya, beliau sekarang sudah meninggal, karna memang sudah tua, tapi saya sempat mendengar sekilas, kalau gudang itu dulu dipakai sebagai tempat ritual, oleh orang-orang yang pernah tinggal di penginapan itu, mereka bersekutu dengan iblis untuk menambah kesaktian mereka, karena semakin sering disembah, para iblis pun akhirnya menguasai gudang itu, sebagai tempat tinggal mereka, dan memperbudak orang-orang yang memujanya. Hingga akhirnya, para pemuja itulah kini menjadi mangsa para makhluk gaib."


"Kok aneh sekali, Bu? padahal mereka sudah menyembah makhluk gaib itu, tapi kenapa malah dimangsa juga?"


"Ya, ibarat kita memelihara macan, suatu saat macan itu kelaparan, dan nggak menemukan makanan apa pun, akhirnya mereka akan memangsa tuannya sendiri, kamu paham kan maksud saya?"


Joko pun mengangguk lemas ....


"Dan, kalau dalam waktu empat puluh hari, roh teman kalian terus berada di dunia gaib itu, maka, roh teman kalian nggak akan pernah kembali lagi ke dalam raganya, untuk selamanya.


"Hah?" joko terbelalak.

__ADS_1


"Karena dia sudah dijadikan budak oleh makhluk itu, dan pintu yang menghubungkan antara dunia manusia, dan dunia alam gaib sudah dibuka, maka yang membuka lah, yang harus menutupnya kembali."


"Gila, benar-benar mengerikan," batin Joko.


"Ya sudah, Bu, saya mewakili teman saya minta maaf, dan saya akan menjemput roh teman saya."


"Baiklah, tapi sebaiknya, selama teman kalian belum sadar, janganlah keluar-keluar dulu, apa lagi pergi-pergi, karna saya takut, kalau makhluk itu ikut keluar dan mengacau warga di sini, kamu harus menemukan teman kamu dulu, maaf saya nggak bisa bantu apa-apa, saya hanya bisa memperingatkan saja," ujar bu Regina.


"Nggak apa-apa, Bu, makasih, saya kembali dulu."


"Eh tunggu!" bu Regina masuk ke dalam rumahnya, dan tak lama, dia kembali lagi dengan membawa bungkusan.


"Ini ada beberapa mie instan, roti, dan camilan, sementara untuk mengganjal perut kalian, selama kalian nggak bisa keluar," kata bu Regina, sambil menyerahkan bungkusan tersebut kepada Joko.


Joko pun menerimanya. "Terimakasih, Bu, ya sudah saya permisi."


Bu Regina mengangguk, dan Joko pun kembali ke penginapannya.


Joko masuk ke dalam kamar.


"Gimana Jok?" tanya Leon, yang masih berada di samping tubuh Franky.


"Aku sudah ke tempat bu Regina tadi."


"Terus, apa kata dia, Jok?"


Joko pun menceritakan semuanya.


"Hah? Jadi gudang itu, tempat tinggal para hantu yang mencari mangsa?"


"Betul, Le, dan besok aku akan menjemput roh Franky. Pokoknya, aku minta kamu jangan keluar-keluar dulu, dan ini ada makanan, sementara makanlah ini dulu."


"Iya, Jok."


Joko pun keluar kamar, dan menemui Nawang si kucing hitam.

__ADS_1


__ADS_2