
"Ya sudah, kita pulang yuk," ajak Joko.
Kucing itu hanya mengangguk. Dan, Joko pun berjalan menggendong Nawang.
Dalam perjalanan, Joko dihadang oleh seorang lelaki paruh baya, memakai pakaian serba hitam, dan sorban berwarna putih melingkar di kepalanya.
Joko menghentikan langkahnya. "Hey, siapa kamu? Berani sekali menghalangi jalanku!" serunya.
"Dia adalah pamanku, yang aku ceritakan padamu, bunuhlah sekarang juga, karna dia pasti akan membunuhku, saat ini juga," kata suara hati Nawang.
"Oh, jadi ini, psikopat itu," batin Joko.
"Hahaha! Ternyata kau yang menemukan kucing itu," kata lelaki tua itu.
"Terus, apa urusanmu? Bahkan kamu pun sudah nggak menginginkan dia."
Lelaki tua itu bertepuk tangan, dan menatap kucing hitam itu. "Cih, ternyata kau sudah berani curhat, dengan lelaki yang baru saja kau kenal, Nawang!"
Namun, Nawang hanya diam seribu bahasa, dia tak ingin berdebat dengan pamannya sendiri. Tiba-tiba, lelaki tua itu mengeluarkan kilatan cahaya berwarna biru, dan mengarahkan ke tubuh Joko.
Dengan sigap, Joko menghalau serangan itu. Kemudian, Joko cepat-cepat berlari menjauhi lelaki tua itu, dan menaruh kucing itu di dekat semak-semak, tak jauh dari lelaki tua itu berdiri.
"Kamu duduk manis di sini, dan jangan ke mana-mana."
Kucing itu hanya mengangguk. Joko pun kembali lagi, menemui lelaki itu dan melanjutkan pertarungannya. Pertarungan sengit pun berlangsung, keduanya sama kuatnya, baik lelaki tua itu, mau pun Joko. Lelaki tua itu melesatkan kilatan cahaya biru, secara bertubi-tubi ke arah Joko, dan Joko selalu menghindar dengan sigap.
"Sial, sakti sekali pemuda itu," umpat lelaki itu dalam hati. Karena kesal, lelaki tua itu mencabut keris yang dia punya, kemudian hendak menusuk Joko. Namun Joko tak tinggal diam, dia pun mengeluarkan tongkat saktinya, yang selalu dia bawa ke mana-mana, dan dia taruh di dalam bajunya. Joko pun mengarahkan tongkat sakti itu, ke arah lelaki tua itu, dan lelaki tua itu terkejut.
"Hah? Dia punya tongkat sakti itu, sebenarnya siapa dia?" batin lelaki tua itu.
Kemudian, Lelaki tua itu pun menyerang Joko secara membabi buta, dia sudah gelap mata. Namun Joko terlihat santai, dia hanya tersenyum.
Saat lelaki tua itu mengarahkan kerisnya ke tubuh Joko, Joko segera menangkis menggunakan tongkat saktinya.
Duaaarrr!
Terdengar ledakan dari keris milik lelaki tua itu, dan seketika keris itu pun hancur berkeping-keping.
__ADS_1
"Kurang ajar kau anak muda, beraninya kau menghancurkan pusaka sakti ku!" seru lelaki tua itu, sambil kembali melesatkan kilatan cahaya berwarna biru, dan mengarahkan ke tubuh Joko.
Dan dengan cekatan pula, Joko menangkis semua kilatan itu, menggunakan tongkat saktinya, kemudian Joko mengarahkan balik kilatan itu ke arah lelaki tua itu.
"Aaarrrggghhh ....!"
Lelaki tua itu mengerang, tubuhnya terpental jauh ke belakang, hingga membentur batang pohon besar di belakangnya. Seketika tubuh lelaki tua itu rubuh, dari dalam mulutnya, dia memuntahkan gumpalan darah kental berkali-kali, hingga lelaki tua itu terkapar tak berdaya. Joko mendekati lelaki tua itu, dia membungkuk, dan memeriksa urat nadi lelaki itu.
"Inalillahi wa inalillahi rojiun, dia sudah mati," lirih Joko.
Joko pun berdiri, ketika dia membalikkan tubuhnya, betapa terkejutnya dia, karena kini di hadapannya telah berdiri seorang wanita cantik, beriris mata coklat, bersurai coklat, dan bertubuh tinggi semampai, wanita itu mengenakan gaun panjang berwarna hitam.
Joko terkesima sesaat akan kecantikan yang dimiliki gadis itu, namun seketika raut wajahnya terheran-heran.
"Nimas ini siapa, dan dari mana? Kenapa malam-malam sendirian di tempat seperti ini.
Wanita itu tersenyum manis ke arah Joko.
"Terimakasih, kau sudah membunuh pamanku, orang paling kejam di tempat ini, dan sekarang aku telah kembali ke wujud asliku, kutukan itu sudah hilang, karna yang mengutuk aku sudah mati, aku adalah Nawang Wulan, kucing hitam yang kau pelihara selama ini."
Kedua bola mata Joko membulat sempurna, dia sungguh tak mempercayai apa yang dia lihat saat itu, dan dia pun berjalan ke arah semak-semak, tempat dia menaruh kucing hitam itu, namun kucing itu sudah tak terlihat.
Joko menoleh ke arah Nawang. "Eh, jadi kau adalah Nawang, kucing yang dikutuk itu?"
Nawang mengangguk lembut.
"Ternyata kau cantik sekali, andai saja kau adalah pacarku, pasti aku bahagia sekali," gumam Joko lirih, namun dapat didengar oleh Nawang.
"Aku akan mengabulkan keinginanmu, karna kau telah menolongku. Dan bukan hanya itu, karna kau mempunyai hati yang baik, selain tampan, kau juga suka sekali menolong orang yang membutuhkan pertolongan."
"Maksud kamu apa, Nawang?" Joko tak mengerti dengan ucapan Nawang.
"Aku mau menjadi pacarmu," ucap Nawang.
Joko terbelalak, bibirnya gemetar, dan wajahnya merah padam seketika. "Be-benarkah itu, Nawang?"
Nawang tersenyum dalam anggukannya.
__ADS_1
Perlahan, Joko meraih punggung tangan Nawang, dia mengecup lembut, kemudian menggenggamnya.
"Terimakasih Nawang, aku bahagia sekali, dan aku nggak menyangka, akan bertemu dengan wanita secantik kamu."
Nawang tersenyum, dan Joko terus menatap lekat ke arah Nawang, kini mereka saling bertatap mata, jantung Joko berdegup kencang, perlahan dia mendekatkan bibirnya ke bibir milik gadis cantik di hadapannya itu. Lalu perlahan, Joko mengecup bibir mungil Nawang, lalu memagut lembut.
Nawang pun sangat menikmati adegan itu, dia pun merasa bahagia, dan tak menyangka, akan bertemu pria setampan Joko. Lama mereka berpagutan, perlahan Nawang menjauhi Joko, dia mundur beberapa langkah.
"Kita belum muhrim, nggak baik melakukan ini," ucap Nawang lirih.
"Astaga! Maafkan aku, Nawang, aku janji, akan segera melamar kamu, kalau urusan ku sudah selesai."
"Benarkah?" Nawang mencoba memastikan ucapan Joko.
"Tentu saja benar, tapi ...." Ucapan Joko terputus, dia pun menunduk sedih.
"Tapi apa? Hey, kenapa kau mendadak sedih begitu? Apa yang kau pikirkan?"
"Aku ini orang miskin, nggak punya harta benda apa pun, dan mungkin aku nggak akan bisa membahagiakan kamu," lirih Joko.
Nawang pun melingkarkan kedua tangannya di leher Joko.
Deg!
Jantung Joko pun berdetak kencang.
"Joko, aku tulus mencintai kamu, bukan dari harta kamu, tapi aku kagum dengan kepribadian kamu. Kalau masalah harta, aku sudah memiliki segalanya, semua itu akan menjadi milik kamu juga, karna kamu telah jadi milikku. Saat ini, aku sudah tak memiliki siapa-siapa lagi, jadi aku berharap, ada orang yang akan menggantikan peran orang tua ku."
"Maksud kamu apa, Nawang?" heran Joko.
"Aku ingin memiliki lelaki, yang bisa memainkan dua peran sekaligus, menjadi suami dan juga menjadi orang tua untukku, menyayangiku dengan tulus, sebagaimana orang tuaku pun menyayangiku."
Deg!
Jantung Joko berdetak sekali lagi.
"Aku akan menuruti apa yang kamu mau, Nawang."
__ADS_1
Nawang tersenyum manis. "Terimakasih Joko," bisiknya.
"Rumah kamu di mana? Sekarang aku antar pulang, karna ini sudah malam, nggak baik perempuan secantik kamu berkeliaran."