
Franky pun tiba di rumahnya, saat itu waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi. Dia pun turun dari mobil, netranya mengarah pada sosok Joko, yang sudah duduk di teras depan rumahnya, sambil membawa tas yang terbuat dari kain.
"Lho, kamu sudah dari tadi, Jok?" tanya Franky.
"Hehe, baru saja kok, Fran, kamu dari mana?" Joko bertanya balik kepada Franky.
"Aku habis ziarah ke kuburan Soraya, Jok, karna sudah lama aku nggak kesana, dan tadi Soraya datang di mimpi aku."
"Oh, ya sudah, apa kamu sudah siap?"
"Sudah, Jok, sebentar aku ambil koperku, terus kita ke rumah Leon."
"Oke, Fran."
"Oh ya, itu barang kamu taruh di koper aku saja, jadikan satu, masih cukup kok," ujar Franky sambil menunjuk ke arah tas Joko yang terbuat dari kain.
"Ah nggak perlu, Fran, aku lebih suka begini saja, lebih praktis," ucap Joko.
"Oh, ya sudah kalau begitu."
Franky pun masuk ke dalam rumahnya, dan mengambil koper beserta laptop nya, kemudian memasukkannya ke dalam bagasi mobilnya. Sementara Joko masuk ke dalam mobil, sambil memangku tas kainnya.
"Aku saja yang bawa mobilnya, Fran," kata Joko.
"Nanti kamu capek, Jok."
"Ah enggak kok, justru kamu yang capek sekali kan hari ini."
Franky terkejut, dia tak menyangka bahwa Joko mengerti akan kondisi tubuhnya. "Ya sudah Jok, kalau mau kamu begitu."
Franky dan Joko bertukar posisi duduknya, kemudian Joko mengendarai mobilnya secara perlahan, tapi pasti.
Namun di tengah perjalanan, Joko menghentikan mobilnya, karena seorang nenek menyetopnya. Joko mengerutkan keningnya, seolah mengenali sosok nenek tersebut.
"Lho, itu kan eyang Gayatri, neneknya si Sella," gumam Joko lirih, namun dapat didengar oleh Franky.
Franky pun menoleh ke arah yang dimaksud Joko. "Oh iya Jok, mau apa dia ya?"
Joko membuka kaca mobilnya pintu mobilnya. "Lho eyang, kok eyang ada di sini? Eyang mau ke mana?"
"Tolong antarkan aku pulang, bisakah? Kakiku sakit sekali untuk berjalan," mohon eyang Gayatri.
Joko pun mempersilahkan eyang Gayatri masuk ke dalam mobil. Eyang Gayatri pun duduk di jok bagian tengah.
"Eyang ini dari mana?" tanya Joko.
"Aku dari pasar, dan berangkat naik bis tadi. Nah, ini mau pulang, tapi sudah hampir satu jam aku menunggu bis, nggak datang juga. Huft ... kakiku sampai sakit, berdiri terus," ungkap eyang Gayatri.
"Ya ampun, kasihan sekali Yang, baiklah aku akan mengantar eyang terlebih dulu," kata Joko.
__ADS_1
"Apa aku mengganggu perjalanan kalian?" tanya eyang Gayatri.
"Oh, tentu saja enggak, Yang, santai saja, jangan berpikir yang macam-macam. Kita kan sesama warga, masa iya aku tega membiarkan orang tua di jalan sendiri, apa lagi dia membutuhkan bantuan," tutur Joko.
"Memangnya, kalian mau ke mana?"
"Biasa, Yang, mau berkelana, hehe," kekeh Joko.
"Hem, kamu ini suka sekali berkelana, mau mencari ilmu ya," seloroh eyang Gayatri.
"Ya begitulah, Yang," kata Joko, sambil meringis.
"Memangnya, ilmu yang kamu miliki masih kurang?"
"Masih, Yang, hehe."
Joko memang sengaja tak menceritakan tujuan dia pergi, karena dia tak mau mendapat banyak pertanyaan dari eyang Gayatri.
"Ya sudah, hati-hati ya kalian, dan kamu, Fran, apa kamu juga akan ikut mencari ilmu?"
Joko menginjak lembut kaki Franky, dan seketika itu juga Franky paham akan maksud Joko.
"Eh, iya, Yang, aku mau belajar sama Joko, biar jadi sakti juga, hehe," jawab Franky di sela kekehannya.
Eyang Gayatri hanya menggeleng, sambil tersenyum.
"Oh ya Sella sedang apa, Yang?" tanya Joko.
"Oh iya, Eyang kan jualan kue basah ya, hem, itu anak rajin sekali ya, Yang."
"Iya, Jok, kasihan sejak kecil sudah ditinggal orang tuanya."
"Nggak apa-apa, Yang, tapi aku lihat, Sella itu mandiri anaknya, aku salut sama dia, masih kecil tapi pikirannya sudah dewasa, semoga saja kelak dia menemukan kebahagiaan."
"Amin, tapi aku heran, aku suka mendengar Sella itu bicara sendiri di dalam kamarnya, setelah aku buka, ternyata nggak ada siapa-siapa selain Sella di kamar itu."
Joko terdiam sejenak, dia sudah paham, bahwa eyang Gayatri tak menyadari, bahwa Sella mempunyai indera ke enam, dan Sella juga bisa berkomunikasi dengan makhluk halus.
Joko tampak sedang menerawang sesuatu ... dan, dalam terawangannya itu, dia melihat bahwa Sella sedang berbicara dengan leluhurnya, dan Joko pun tersenyum.
"Em, mungkin dia sedang mengobrol sama teman khayalannya, Yang."
"Teman khayalan? Maksud kamu apa, Jok?"
"Ya biasalah, anak kecil kan memang kadang suka bicara sendiri, memang Eyang nggak pernah bicara sendiri waktu kecil?"
Eyang Gayatri menggaruk kepalanya yang tak gatal itu. "Em, aku lupa, Jok, mungkin saja pernah, hehe."
"Ya sudah, jangan terlalu diambil pusing, Yang, yang penting Sella sehat, kan?"
__ADS_1
"Iya deh." Eyang Gayatri mengangguk ramah.
Tak lama, mobil yang dikendarai oleh Joko tiba di rumah eyang Gayatri.
"Ya sudah, aku turun di sini saja, Jok, makasih ya, ayo Fran ...."
"Iya, Yang," ucap Joko, sedangkan Franky tersenyum dalam anggukannya.
Kemudian, Joko kembali mengemudikan mobilnya, untuk menuju ke rumah Leon. Tak lama, sampailah mereka di rumah Leon. Franky dan Joko pun turun, sementara Leon, sudah menunggu di depan rumahnya dengan ditemani oleh Nurdiana.
"Halooo kalian, nih si Leon sudah menunggu kalian," sambut Nurdiana.
"Lho, Nyonya belum ke kantor?" tanya Franky ramah.
"Habis ini, Fran, hari ini saya santai kok, nggak terlalu banyak pekerjaan," sahut Nurdiana.
"Kamu sudah siap, Le?" tanya Joko kepada Leon.
"Sudah, Jok," angguk Leon.
"Ya sudah, ayo kita berangkat, mumpung masih pagi," kata Joko.
"Oke, Jok, Tante, aku pergi dulu ya, mungkin di sana beberapa hari."
"Iya, Le, kamu hati-hati ya, dan kalian hati-hati juga ya?"
"Baik, Nyonya," kata Franky dan Joko bersamaan.
Kemudian ketiga pria itu masuk ke dalam mobil, Joko yang mengemudikan mobilnya di depan bersama Franky di sampingnya, sedangkan Leon duduk di belakang Franky.
"Eh, kalian sudah pada makan, atau belum?" tanya Leon.
"Hem, bilang saja kamu mau mengajak kita makan, Le," ledek Joko.
Franky pun terkekeh.
"Hehe, aku belum makan," kekeh Leon, sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.
Joko dan Franky saling berpandangan, lalu mereka tersenyum.
"Nanti sajalah, Le kalau hampir sampai, kita sedang mengejar waktu, karna pulau abadi itu kan jauh sekali, kamu tahanlah sebentar," ujar Joko.
"Atau kita mampir warung, beli roti dulu sementara buat mengganjal perut kamu itu," sambung Franky.
"Iya deh, nggak apa-apa, Fran, tapi aku pinjam dulu uang kamu ya, hehe."
Sudah, nggak perlu pinjam, aku akan membeli roti, dan air mineral, untuk bekal kita di jalan nanti," sahut Franky.
Kemudian, mobil itu pun berhenti di sebuah warung. Franky turun dan membeli beberapa bungkus roti dan air mineral, serta beberapa makanan ringan sebagai camilan."
__ADS_1
Setelah mendapatkan apa yang dibutuhkan, mobil kembali melaju. Leon yang sudah merasa kelaparan sedari tadi, langsung menyerbu roti yang telah dibeli oleh Franky.
Leon mengambil dua buah Roti, kemudian memakannya sekaligus ....