
"Nah justru itu, aku ke sini mau membicarakan sesuatu," kata Franky.
"Ya sudah, ayo silahkan duduk dulu," kata Joko.
Franky mengajak Via duduk di kursi yang telah tersedia, sementara Joko menyuruh Nawang membuatkan minuman untuk Franky dan Via.
Nawang pun berjalan ke arah dapur, tak lama kembali lagi membawakan minuman untuk mereka berempat, kemudian dia duduk di sebelah Joko.
Dan Franky Pun bercerita mengenai pendonor ginjal, yang telah dia dengar dari Via.
"Apa? Bisnis ginjal berkedok salon? Gila ... terus kamu bilang, orang yang sudah donorin ginjalnya langsung dibunuh?"
"Iya, Jok, wah kalau di biarkan bisa-bisa seluruh manusia di bumi ini habis jadi korban orang itu," ujar Franky.
Apa kamu tahu tempatnya?" tanya Joko.
"Via yang tahu," kata Franky sambil menoleh ke arah Via.
"Oh iya, Via ini siapa kamu, Fran?" selidik Joko.
"Ya itu tadi, Jok, aku tadi ke hutan mau bikin novel, aku pikir kan di sana tenang tempatnya, terus nggak sengaja aku lihat Via ini sedang lari-lari, karna penasaran, ya aku kejar saja, terus dia bilang kalau dia sedang dipaksa donorin ginjal sama orang itu," jelas Franky dan Via pun mengangguk.
"Memang bagaimana ceritanya, kok sampai dipaksa donorin ginjal kamu?" tanya Joko kepada Via.
"Em, jadi gini, aku kan mau creambath, nah aku jalan cari salon yang dekat sama rumahku, aku jalan kaki keluar dari rumah ke jalan, cukup jauh juga sih aku jalan, terus aku lihat ada salon, aku masuk, terus disambut sama pegawai salonnya, aku bilang kalau mau creambath, terus aku di suruh nunggu. Nah tiba-tiba aku ditawarin, apakah aku bersedia donor ginjal, katanya mereka sedang butuh untuk seseorang yang menderita gagal ginjal, nah aku nggak mau, karna aku takut badanku kenapa-kenapa setelah donor ginjal, karna aku sendiri juga merasa kalau badan aku agak kurang sehat gitu. Tapi kok mereka memaksa gitu, aku mulai curiga, itu kan salon, tapi kenapa mereka malah membahas tentang donor ginjal. Akhirnya aku pamit pulang, eh ... mereka malah mengejar aku, jadi ya aku lari saja, dan nggak sadar aku sampai di hutan. Sebelum sampai di hutan, aku sempat bertemu sama ibu-ibu, dia heran kenapa aku lari-lari, nah aku sempat singgah sebentar di rumahnya, jadi aku cerita semuanya tentang salon itu, terus ibu itu cerita semuanya, kalau salon itu memang untuk sarana bisnis ginjal, sudah banyak nyawa yang melayang akibat dibunuh setelah donor ginjal dengan cara disuntik cairan pemicu serangan jantung, karna semua orang yang meninggal setelah donor ginjal, selalu terkena serangan jantung, kan itu nggak masuk akal."
"Ck, ck, ck, bejat sekali mereka. Em ... apa kamu tahu nama orang itu?" tanya Joko kepada Via.
"Namanya Anton," jawab Via singkat.
Joko terdiam sejenak, dia terlihat sedang berfikir.
"Begini saja, nanti malam kita selidiki tempat itu, dan kamu Vi, kasih tahu kita tempatnya dari kejauhan, biar nggak menimbulkan kecurigaan," tutur Joko.
"Baiklah," angguk Via.
"Na, kamu di sini saja ya, aku takut kalau kamu ikut bakal beresiko," kata Joko kepada Nawang.
"Baiklah, tapi kalian hati-hati," sahut Nawang.
"Tentu sayang," sahut Joko.
"Duh, yang sayang-sayangan," cibir Franky.
"Biarin, Fran, biar kamu cepat-cepat cari istri juga, orang kok hanya novel saja yang dipikir," balas Joko.
__ADS_1
Franky hanya menggeleng kepala, dengan senyum penuh arti.
****
Sementara itu di sebuah salon ....
Suasana saat itu sangat sepi dan kondusif, tiba-tiba menjadi gaduh ketika seorang lelaki tua mendatangi tempat tersebut.
"Anton! Keluar kau! Di mana anakku?" teriak lelaki tua itu sambil memporak porandakan halaman depan salon itu.
Dua orang pengawal datang, dan segera menjegal lelaki tua itu, namun ternyata lelaki tua itu cukup kuat untuk melawan kedua pengawal itu.
"Mana anakku?" lelaki tua itu kembali bertanya, setengah berseru.
Beberapa orang yang berada di dalam salon itu segera berhamburan keluar, dan lelaki tua itu semakin emosi ketika tak menemui anak perempuannya.
Bruuummm ....
Sebuah mobil berwarna putih berhenti di depan salon itu, dan seorang lelaki berbadan kekar keluar dari mobil tersebut, seketika itu juga lelaki tua itu, setengah berlari menghampirinya.
"Kamu pasti yang namanya Anton kan? Di mana anakku?"
"Ya, anda tidak salah, saya Anton Saputra, pemilik salon ini, dan tentang anak anda, siapa namanya? Bagaimana anda bisa mencari di salon saya?"
"Anak saya bernama Sasa, dan dia bilang mau mendonorkan ginjal di tempat ini, pasti kamu tahu, jadi sekarang katakan, di mana dia? Karna sudah hampir satu minggu, dia tidak pulang ke rumah."
"Saya betul-betul tidak mengira, bahwa anda melakukan bisnis ilegal," cetus lelaki tua itu.
"Apa maksud anda berbicara seperti itu?" Anton nampak mulai emosi.
Bug!
Lelaki tua itu meninju bagian atas perut Anton.
Aarrrrggghhh!
Anton meringis kesakitan.
"Sial!" umpatnya dalam hati.
Anton hendak membalas lelaki tua itu, namun dia mengurungkan niatnya, karena dia takut para warga sekitar menjadi curiga terhadapnya.
"Maaf pak, begini saja, mari kita bicarakan baik-baik di dalam, biar enak."
Lelaki tua itu menuruti perkataan Anton, kemudian Anton menyuruh anak buahnya mengajak masuk lelaki tua itu.
__ADS_1
"Bereskan semua peralatan di dalam salon, dan jangan sampai ada yang mencurigakan," bisik Anton di telinga anak buahnya.
Anton pun bergegas menemui lelaki tua itu, di dalam salonnya.
"Mari pak, saya antar mencari Sasa anak bapak, kalau misal anak bapak terbukti tidak ada di sini, bapak harus pergi dari sini," tegas Anton.
"Baiklah," sahut lelaki tua itu.
Kemudian Anton mengantar lelaki tua itu memeriksa setiap ruangan-ruangan kecil yang ada di salon tersebut untuk mencari keberadaan Sasa. Ruangan di dalam salon milik Anton memang dibuat khusus seperti klinik, dari depan nampak seperti sebuah salon, namun di dalamnya terdapat beberapa kamar kecil berjajar.
Setelah semua ruangan mereka periksa, mereka memang tak menemukan keberadaan Sasa, akhirnya lelaki tua itupun pergi meninggalkan salon itu.
Setelah lelaki tua itu pergi, Anton menginterogasi kedua anak buahnya.
"Sebenarnya di mana Sasa? Bukankah kalian aku suruh untuk menyuntikan cairan pemicu serangan jantung? Terus di mana mayatnya?"
Maaf, Bos, kemarin kita masuk ke ruangan itu, tapi Sasa sudah tidak ada," kata salah satu anak buahnya sambil menunjuk salah satu ruangan di hadapannya.
Plakkkk!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi salah satu anak buahnya, hingga ujung bibirnya berdarah.
"Dasar bodoh! Kenapa kalian diam saja, dan tidak mengejarnya? Bagaimana kalau Sasa lapor polisi? Nama baikku bisa rusak dan karirku pasti hancur, kalau sampai itu terjadi, kalian semua akan kuhabisi!" seru Anton geram.
Kedua anak buahnya hanya terdiam sambil menunduk.
"Saya tidak mau tahu, pokoknya cari gadis itu sampai dapat, dan habisi juga lelaki tua itu, sebelum dia melaporkan kita ke polisi!" titah Anton.
Dua anak buah Anton pun bergegas keluar dari salon.
****
Sementara itu, Franky, Via, dan Joko bersiap hendak melakukan penyelidikan, mereka menaiki mobil milik Franky meninggalkan Nawang seorang diri di rumah Joko.
Di tengah perjalanan, mereka melihat seorang gadis berjalan terseok-seok sambil memegangi perutnya.
"Eh berhenti, Fran!" seru Joko.
Franky mengerem mobilnya, seketika mobil pun berhenti.
"Kenapa, Jok?" tanya Franky sambil mengerutkan keningnya.
"Lihat perempuan itu, dia seperti kesakitan, jangan-jangan dia juga salah satu korban donor ginjal itu," tunjuk Joko.
Franky dan Via menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Joko.
__ADS_1
"Lho, itu seperti perempuan yang tadi donorin ginjal di salon, aku lihat sendiri waktu aku ke salon itu," ujar Via.