
Bu Monika berjalan ke dapur, kemudian kembali lagi dengan membawa sebuah nampan di tangan, berisi beberapa gelas minuman hangat.
"Kalian dari mana?" tanya bu Monika, sambil menaruh gelas di hadapan mereka masing-masing.
"Sebenarnya, kita hanya iseng-iseng jalan-jalan saja, eh malah sampai ke sini," sahut Franky.
"Oh begitu, terus kalian mau piknik di sini?"
"Ya, ini teman saya mau berpetualang katanya, hehe," kekeh Franky sambil melirik ke arah Joko.
"Oh iya ini teman kamu juga, Fran? Kok ibu baru lihat," tunjuk bu Monika ke arah Joko.
"Iya, Bu, ini tetangga saya."
"Oh tetangga, ya sudah silahkan diminum, saya lanjut jaga warung dulu ya," kata bu Monika.
"Iya, Bu, silahkan," angguk Franky.
Bu Monika pun berjalan menuju ke warung makannya.
"Eh, Ben, nanti malam kita ke pantai yuk," ajak Franky antusias.
"Oke, Fran, boleh," angguk Bento.
Keempat jomblo itu pun asik mengobrol.
"Eh, sudah sore ini, apa nggak sebaiknya kita cari penginapan?" usul Leon.
Franky melirik waktu yang tertera di ponselnya. "Benar juga, ya sudah ayo."
"Ayo aku antar," kata Bento.
Franky dan ketiga temannya pun berpamitan kepada bu Monika, untuk mencari penginapan. Mereka berjalan mengikuti Bento, hingga sampai di sebuah tempat, yang mirip dengan sebuah losmen sederhana. Bento menekan bel yang menempel di samping pintu, dan tak lama keluarlah seorang wanita paruh baya.
"Selamat sore, ada yang bisa saya bantu? Oh iya perkenalkan, nama saya Regina" ujarnya.
Kemudian, keempat pria itu pun saling memperkenalkan dirinya masing-masing.
"Em, begini, Bu, ini ada yang mau menginap untuk beberapa hari," kata Bento.
"Oh silahkan masuk."
Keempat pria itu berjalan masuk, mengikuti Regina.
Mereka kini berada di sebuah lorong, dan di hadapannya tersedia beberapa kamar minimalis.
"Ini ada lima kamar, apakah kalian akan menyewa per kamar, atau satu kamar?" tanya Regina.
Franky dan kedua temannya itu, terlihat sedang berunding.
"Bagaimana, Le, Jok? Mau kamar sendiri, atau jadi satu saja?" tanya Franky.
__ADS_1
"Ah jadi satu saja, Fran," kata Leon.
"Benar, Fran, kita kumpul saja jadi satu, jangan misah-misah, nggak asik," sambung Joko.
"Ya sudah, kami ambil satu kamar saja, Bu, biar tidur jadi satu," ujar Franky kepada Regina.
"Oke, nggak masalah," kata Regina.
"Kalian pakai kamar yang ini saja ya," kata Regina, dia menunjuk sebuah kamar nomor dua dari ujung, setelah sebuah kamar dekat kamar mandi.
"Baik, Bu, kata Franky dan kedua temannya secara bersamaan.
"Nah itu kamar mandinya," kata Regina, sambil menunjuk sebuah kamar kecil.
"Lalu, itu di sebelah kamar mandi, ada dapur, kalian bisa masak, kalau kalian ingin masak."
Ketiga pria itu mengangguk ....
Kemudian, Regina menunjuk sebuah kamar paling ujung, di sebelah kamar mereka.
"Dan di sebelah kamar ini, adalah gudang, tolong jangan sekali-kali kalian membuka pintu gudang ini, apapun yang terjadi, kalian paham kan?"
Franky dan ketiga temannya, saling berpandangan sejenak.
"Baik, Bu," angguk Franky.
"Jadi, kalian akan menyewa kamar ini berapa hari?" tanya Regina lagi.
"Kurang lebih selama satu minggu, Bu, dan saya akan membayar sekalian," sahut Franky.
Franky mengeluarkan dompet dari dalam sakunya, dan mengambil sejumlah uang, kemudian memberikan kepada Regina.
"Ini uang sewa untuk satu minggu, kalau kita ingin memperpanjang sewa kamar ini, saya akan konfirmasikan sama ibu."
Regina menerima uang tersebut. "Baiklah, terimakasih, ya sudah saya tinggal dulu, kalau kalian butuh sesuatu, kalian bisa hubungi saya, rumah saya di sebelah penginapan ini."
Dan ketiga pria itu pun mengangguk, sedangkan Bento hanya menyimak pembicaraan mereka. Kemudian, Regina berlalu dari hadapan mereka.
"Ya sudah, Fran, aku pulang dulu ya, besok aku ke sini, antar baju ganti untuk kalian," kata Bento.
"Oke, Ben, makasih ya sudah mengantarkan kami," sahut Franky.
Bento mengangguk, kemudian berlalu dari hadapan mereka.
Kemudian Franky membuka pintu kamar. "Ya sudah yuk, masuk."
Ketiga pria itupun masuk ke dalam kamar tersebut, ukuran kamar itu memang minimalis, namun lumayan besar. Dan di kamar itu tersedia satu buah kasur yang lumayan besar dan lebar, sehingga cukup untuk tidur tiga orang, namun kasur itu, terletak di bawah lantai, beralaskan karpet dan ada satu buah lemari kecil, kemudian sebuah meja, dan sebuah kursi.
"Wah lumayan besar nih, Fran, kamarnya, kasurnya juga lebar," kata Leon.
"Iya, Le, huft, sayangnya aku nggak bawa laptop, jadi gabut," kata Franky.
__ADS_1
"Laptop buat apa, Fran? Nggak perlu laptop segala lah, memang kamu mau bikin novel? Sudahlah, hiatus dulu nulisnya, kita kan nggak hanya di kamar ini saja, tapi kita akan berpetualang juga, haha!" Kata Joko sambil tertawa terpingkal, seolah merasa senang hari itu.
"Hem, ya sudahlah, rupanya kamu nekat ingin menyetir mobil, ini alasannya, menyasarkan kita ke pulau ini," keluh Franky.
"Hehe, kalau aku bilang terus terang, kalian nggak akan setuju," kekeh Joko, sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.
Franky hanya menggeleng, sementara Leon merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Eh, Fran, di sebelah kamar kita ini kan ada gudang, terus kata bu Regina tadi, kita nggak boleh buka gudang itu, memang ada apa ya?" tanya Leon penasaran.
"Sudahlah, ikuti saja apa katanya," kata Franky.
"Iya, Le, mungkin juga di dalam gudang itu, banyak barang-barang berharga, jadi dia takut kita mengambilnya." Joko menimpali.
Leon pun mengangguk. Tiba-tiba dia mendadak ingin buang air.
"Duh, aku kebelet nih."
"Ya sudah sana, nanti ngompol malah repot," ejek Joko.
"Iya, Le, lagian kamar mandinya kan dekat, di sebelah kamar ini, jadi nggak perlu jalan jauh-jauh," sambung Franky.
"Ya sudah, bentar ya." Leon pun berjalan keluar, dan menuju ke arah kamar mandi.
Sampai di kamar mandi, Leon masuk ke dalam dan melaksanakan hajatnya. Setelah selesai, Leon keluar kamar mandi, lalu berjalan hendak kembali ke kamarnya. Sampai di depan gudang, tanpa sengaja Leon mendengar suara wanita memanggil namanya.
"Leon ...."
Leon berhenti sebentar, dia menoleh ke arah gudang itu.
"Hah? Seperti ada yang memanggilku," batin Leon.
Namun, suara itu sudah tak terdengar lagi.
Tiba-tiba, angin berhembus menerpa tubuh Leon, dan seketika bulu kuduk Leon meremang.
"Hiiiyyy, kok aku jadi merinding begini ya," batinnya kemudian berlari menuju ke kamarnya, dia membuka pintu kamar dan masuk ke dalam, dengan nafas tersengal.
Joko yang melihat Leon masuk, pun keheranan.
"Kamu kenapa, Le? Seperti dikejar hantu saja."
"Iya, Le, kamu kok ngos-ngosan gitu? Memang habis lari-lari ya?" Franky menimpali.
"Ini, Fran, Jok, tadi aku kan lewat di gudang itu, nah tiba-tiba aku dengar suara perempuan manggil-manggil aku."
"Ah masa sih, Le?" Franky mengerutkan keningnya.
"Betul, Fran."
Joko terdiam sejenak, dia terlihat sedang menerawang.
__ADS_1
"Besok lagi, kalau kamu lewat gudang itu, terus kamu dengar suara apapun itu, kamu terus saja jalan, jangan didengarkan," kata Joko.
"Memangnya kenapa, Jok?" Leon penasaran.