Pulau Abadi

Pulau Abadi
Gagal


__ADS_3

Joko berjalan mendekati mobil Franky, sebelum dia masuk ke dalam mobil, bayangan yang baru saja merasukinya pun keluar, Joko baru menyadari bahwa bayangan itu adalah leluhur yang selalu menolongnya.


"Terimakasih, Aki."


"Sama-sama cucuku, ya sudah lain kali hati-hati ya, dan kalau butuh bantuan, panggil saja aku, jangan sungkan, dan satu lagi ...."


Leluhur Joko menghentikan ucapannya.


"Apa Aki?"


"Bukankah istrimu telah memberimu cincin sakti," ucap leluhur Joko sambil melirik ke arah cincin batu giok yang dipakai oleh Joko.


Seketika Joko melirik ke arah cincin yang di pakainya.


"Astaga, iya ya, kenapa aku bisa lupa," gumamnya


"Ya sudah, aku pergi dulu, Cu."


"Baik, Aki."


Setelah leluhur Joko menghilang, Joko berhasil kembali ke dalam mobil.


"Bagaimana, Jok, apa kamu dapat informasi mengenai salon itu?" tanya Franky.


"Hampir saja, Fran, aku ketahuan sama anak buahnya, dan sepertinya ada pemilik salon juga, jadi aku kabur, besok kita ke sini lagi."


"Tapi, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Via yang terlihat cemas.


"Oh, nggak apa-apa kok," sahut Joko berusaha berbohong, karena dia tak mau kedua temannya itu khawatir terhadapnya.


"Ya sudah, kita pulang yuk, sudah hampir malam," ajak Franky.


"Tunggu!" cegah Via.


"Ada apa, Vi?" tanya Franky bingung.


"Aku ... pulang kemana?"


"Iya, Vi, kita sekalian cari kos yang dekat sama rumah-ku," ujar Franky.


Via terdiam, dia pun menuruti ucapan Franky. Kemudian Franky mengemudikan mobilnya menuju rumahnya, sesampainya mereka bertiga turun.


"Aku langsung pulang ya, kasihan istri-ku, dia pasti sudah lama menungguku," kata Joko.


"Oke, Jok, makasih ya," balas Franky.


Joko tersenyum dalam anggukannya, kemudian berjalan pulang menuju rumahnya.


"Ayo, Vi, kita ke ketua desa ini, kebetulan dia punya kos-kosan," ajak Franky.


"Iya, Mas."


Franky dan Via berjalan menuju rumah ketua desanya.


"Assalamualaikum," sapa Franky.


Tak lama, pintu rumah terbuka, keluarlah pak Bani, ketua rt di desa itu.


"Oh, kamu, Fran, ada yang bisa saya bantu?"


"Begini, Pak, apa masih ada kamar kosong?"


"Kebetulan masih ada dua, silahkan tinggal pilih, mau yang di depan atau di belakang."

__ADS_1


Franky pun menoleh ke arah Via. "Bagaimana, Vi?"


"Saya mau yang belakang saja," ujar Via.


"Ya sudah, mari saya antar." Pak Bani mengajak mereka menuju kamar kos-kosan.


"Ini kamarnya, sudah saya bersihkan kemarin," kata pak Bani.


"Baik, Pak, ini uang untuk bayar kos enam bulan ke depan," kata Franky seraya menyerahkan sejumlah uang kepada pak Bani.


Pak Bani menerimanya dengan senyum ramah.


"Terimakasih, ya sudah saya tinggal dulu."


Franky mengangguk ramah, lalu dia mengajak Via masuk ke dalam kamarnya.


"Mas, kamu kok yang bayarin kosnya, enam bulan lagi, kan aku bisa bayar sendiri."


"Sudah uang itu simpan saja untuk kebutuhan kamu."


"Aku nggak enak, Mas."


"Santai saja."


"Ya sudah, makasih ya."


Franky pun tersenyum. "Apa kamu berani tinggal di sini sendiri?"


"Berani, Mas."


"Kalau begitu, aku pulang dulu, nggak enak di lihat tetangga, kita kan belum muhrim."


"Belum muhrim?"


Via tersenyum malu-malu, kemudian dia menutup pintu kamarnya, sedangkan Franky pulang ke rumahnya. Di tengah jalan, dia bertemu dengan Tomo, pemuda indigo di desanya, yang sekaligus tetangga Franky.


"Cieee, dapat baru lagi nih," cibir Tomo.


"Eh kamu, Mo, dari mana?"


"Biasa, mau ronda nih, saranku sih, sebaiknya kamu nikahin saja dia, Fran, sebelum hilang lagi."


"Ya pelan-pelan lah, Mo, masa iya baru ketemu langsung nikah, kan kelihatan gombalnya."


"Tuh sadar juga kalau kamu tukang gombal haha!"


Franky pun terkekeh mendengar ledekan Tomo.


"Ya sudah, Fran, kalau mau pulang."


"Iya, Mo." Franky berlalu meninggalkan Tomo.


Sementara itu, Nawang menyambut Joko pulang.


"Maaf ya, Na, aku tinggal kelamaan."


"Tak apa mas, terus, bagaimana urusannya?"


"Rumit."


"Rumit bagaimana, Mas?"


"Ceritanya panjang, Na."

__ADS_1


"Ya sudah Mas yang sabar ya, semoga cepat selesai."


"Iya Na, besok aku keluar lagi."


"Iya tak apa, yang penting mas hati-hati."


"Iya Na, makasih ya, kamu sudah pengertian."


Nawang tersenyum, dan Joko pun terhanyut oleh senyuman Nawang, seketika hasratnya muncul.


"Na ...."


"Iya, Mas? Ada apa?"


Joko mengerlingkan sebelah matanya, dan Nawang pun bingung dengan sikap Joko.


"Kau kenapa, Mas? Kok hari ini aneh sekali."


Joko tak menjawab pertanyaan Nawang, melainkan berjalan mendekati Nawang, kini posisi dia di belakang tubuh Nawang, Joko memeluk Nawang dari belakang.


"Aku kangen, Na," bisik Joko lirih.


"Ih, kau ini apaan sih, Mas, tiap hari kita kan ketemu, kenapa bisa kangen."


"Ya bisalah, karna kamu itu selalu bikin kangen, sebentar saja nggak ketemu kamu, aku sudah kangen sekali."


"Ah, gombal kau, Mas."


Kemudian Joko membalikkan tubuh Nawang, kini posisi mereka berhadapan, Joko dan Nawang saling berpandangan, perlahan Joko mendekatkan bibirnya ke bibir Nawang, dengan cepat Joko memagut lembut bibir Nawang.


Nawang tak melawan, karena dia pun menikmati sensasi yang diberikan oleh Joko, adrenalinnya ikut bermain.


Joko melepaskan pagutannya, dan membopong tubuh Nawang, lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya, dia pun merebahkan tubuh Nawang di atas kasur.


Nawang hanya pasrah dan tak melakukan perlawanan, perlahan Joko melucuti pakaian Nawang satu persatu, hingga tanpa sehelai benang pun melekat di tubuhnya.


Joko segera mengecupi tubuh Nawang dari leher hingga turun ke bawah. Terdengar ******* lirih dari bibir Nawang, menikmati setiap adegan yang dia dapat dari Joko. Sementara Joko bertambah semangat menyerang Nawang, kini mereka bertarung melewati malam yang panjang.


Pertarungan di atas kasur selesai, mereka berdua terkulai lemas tak berdaya di dalam selimut, hingga akhirnya terlelap.


****


Di tempat lain, Franky duduk di atas kasur di dalam kamarnya, dengan memangku sebuah laptop miliknya, dia melanjutkan inspirasinya.


Namun, Franky tak dapat berkonsenterasi, dalam benaknya selalu melintas wajah Via, yang tak asing baginya.


"Duh, kenapa sih dari tadi aku memikirkan dia terus? Tapi ... kenapa ya, wajahnya nggak asing? Mirip ... huft, kenapa aku nggak ingat sama sekali sih?" batinnya.


Franky melanjutkan menulis, namun berkali-kali dia menghentikan jari jemarinya, karena bayangan Via selalu melintas di benaknya.


Akhirnya Franky menutup laptopnya, dan meletakkan di meja dekat kasur, kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dia menatap ke langit-langit kamar.


"Apa aku jatuh cinta sama Via ya? Ah ... tapi apa mungkin Via juga suka sama aku? Karna aku kan duda, dan umurku lebih tua dari dia." Franky terus membatin, hingga akhirnya dia merasakan berat pada matanya, tanpa sadar Franky memejamkan matanya dan masuk ke alam mimpi.


Pagi hari tiba, Nawang bangun dari tidurnya, dia merasakan mual pada perutnya. Nawang pun berlari ke kamar mandi, dia mengeluarkan isi perutnya.


"Hoeeeekkk ....!"


"Hoeeeekkk ....!"


"Kamu kenapa, Na?" sebuah suara mengejutkan Nawang, dari luar kamar mandi.


Nawang pun menoleh ke luar kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2