
Joko terus memperhatikan cincin yang melingkar di jari tangan kucing tersebut, cincin itu berwarna kuning tembaga, dan di tengahnya terdapat batu giok berwarna hijau lumut, batu itu bersinar bila terkena cahaya matahari.
"Ambillah cincin ini, kalau kau suka, asal kamu mau menolongku," ujar kucing hitam itu.
Joko terkejut, karena siluman kucing itu dapat mengetahui, kalau pada kenyataannya, Joko memang mengagumi cincin itu.
"Jadi, kamu ini sebenarnya manusia biasa?" tanyanya.
Kucing itu mengangguk ....
"Namaku Nawang, kedua orang tuaku sudah meninggal karena dibunuh oleh pamanku sendiri, dia adalah seorang dukun paling sakti di desaku, dia membunuh kedua orang tuaku, karna ingin menguasai harta kekayaan kami, sebelum orang tuaku meninggal, ibuku memberikan cincin ini kepadaku, ini adalah cincin sakti untuk melindungi kita dari kejahatan, tapi tidak untuk di salah gunakan, dan setelah kedua orang tua ku meninggal, aku pun hendak dibunuh, namun karena kekuatan cincin ini melindungiku, akhirnya aku hanya dikutuk menjadi seekor kucing hitam, dan aku diusir dari rumahku sendiri."
Seketika, Joko merasa iba dengan siluman kucing itu.
"Ternyata kamu adalah perempuan, lalu apa yang harus aku lakukan untukmu?"
"Aku hanya ingin, kau membunuh orang yang telah membunuh orang tuaku, dan yang ingin mencoba membunuhku juga."
"Tapi, di mana orang itu?"
"Bawalah aku ikut denganku, nanti aku kasih tahu pelan-pelan, karna kita juga nggak bisa gegabah, kita harus hati-hati, dan mempersiapkan rencana kita matang-matang, karna dia sangat sakti tak terkalahkan."
Joko terdiam sejenak ....
"Aku tahu, kau ada urusan penting, maka aku pun tak akan mengganggumu, kau selesaikan saja urusanmu dulu, tapi jika berkenan, ijinkan aku ikut denganmu."
"Memang, selama ini kau tinggal di mana?"
"Rumahku di belakang pulau abadi, dan setelah aku diusir dari rumahku, aku berkeliaran ke sana kemari, mencari makanan di jalan."
"Kasihan sekali kamu, baiklah, kamu boleh ikut denganku, tapi dengan syarat, jangan sekali-kali kamu mencampuri urusanku."
"Aku sama sekali tak mempunyai tipe suka mencampuri urusan orang lain, aku hanya ingin bersama orang yang bisa melindungiku, memberiku makan walau seadanya, dan aku akan mengabdi kepada orang itu."
"Mengabdi bagaimana, maksud kamu?"
"Ya, aku akan membantu dan memberi solusi untuk setiap masalah yang dia hadapi, ya intinya hanya sekedar membantu mencari jalan keluar dari sebuah masalah, tapi kalau memberikan kekayaan, mohon maaf aku tak sanggup, karna aku bukan jin lampu ajaib."
"Hahaha! Ternyata kamu lucu juga, ya sudah, ayo ikut denganku, kamu akan aku pelihara semampu aku."
"Sebelumnya, kau ambillah dulu cincin ini, kemudian, kamu pakailah, kau bisa menggosok batu di tengah cincin itu, jika kau sedang dalam bahaya, dan batu cincin itu akan melindungimu."
"Kalau memang cincin itu adalah cincin sakti, kenapa kamu memberikannya kepadaku?" Joko mengerutkan keningnya.
"Karna pamanku mengincar benda itu, dan tidak menutup kemungkinan, kalau dia mendapatkannya, dia akan membunuhku. Jujur, aku masih ingin menghirup udara bebas, di usia ku yang masih muda ini."
__ADS_1
"Memang, berapa umur kamu sekarang?"
"Bulan kemarin, genap dua puluh tahun."
"Hah? Ternyata masih muda," batin Joko.
"Oh iya, sampai lupa memperkenalkan diriku, namaku Joko, umurku dua puluh empat tahun."
"Kita hanya selisih tiga tahun saja."
"Iya, ya sudah ayo ikut aku."
Joko mengambil cincin dari jari tangan kucing itu, kemudian memakainya, setelah itu dia menggendong kucing itu.
"Apa kamu bisa jadi manusia lagi?" tanya Joko.
"Entahlah, aku pun tak tahu, aku hanya berharap ada keajaiban saja."
"Kasihan sekali kau, semoga suatu saat nanti, kamu bisa kembali ke wujud asalmu."
Joko berjalan menuju ke mobil, dia naik ke mobil dan memangku kucing itu, kemudian mengendarai mobilnya, melanjutkan perjalanan.
Sedangkan Franky dan Leon keheranan, melihat Joko yang membawa kucing itu.
"Jok, kenapa kamu bawa itu kucing?" tanya Leon.
"Hah? Siluman kucing?"
"Iya, Le, dia sebenarnya juga manusia, sama seperti kita, hanya saja, dia dikutuk oleh pamannya yang kejam."
"Memang kenapa, kok bisa sampai dikutuk?" tanya Franky.
"Ya pamannya membunuh kedua orang tuanya untuk menguasai hartanya, dan dia juga ingin dibunuh, tapi karna gagal, akhirnya dikutuk jadi kucing, dan diusir dari rumahnya."
"Wah, kejam sekali, benar-benar nggak punya peri kemanusiaan," ujar Leon.
"Makannya aku bawa dia saja, aku pelihara, siapa tahu bisa berubah wujud jadi manusia lagi," kata Joko."
"Iya, Jok, nanti aku bantu buat beliin makanan kucingnya," sambung Franky.
"Makasih ya, Fran, sudah mau repot-repot."
"Kamu tuh nggak perlu sungkan, Jok, kita kan sudah seperti saudara sendiri."
Joko tersenyum dalam anggukannya, sambil terus melanjutkan perjalanannya, dalam hati nawang, yang tak lain adalah siluman kucing hitam itu pun bersyukur, karena bisa bertemu dengan orang-orang baik.
__ADS_1
Mobil terus melaju, dan kali ini, mereka dihadang oleh sosok wanita berbaju hijau.
"Yah, dia lagi," batin Joko.
"Jangan kau tanggapi dia, terus saja jalan, kalau menghalangi jalan, tabrak saja," ucap kucing itu, dalam hati, namun dapat didengar oleh Joko.
"Memang, nggak apa-apa kalau ditabrak?" tanya Joko yang juga berbicara dalam hati.
"Tak apa-apa, dia hanya mencoba mencari mangsa, dengan mencelakai kalian, jadi jangan coba-coba terkecoh dengannya."
"Okelah," jawab suara hati Joko.
Joko pun menerjang sosok wanita berbaju hijau itu, dan ajaibnya, sosok tersebut pun menghilang dalam sekejap. Setelah sosok itu menghilang, tercium aroma melati yang menusuk hidung.
"Kok seperti bau melati," lirih Franky.
"Sudah, biarkan saja, Fran, nanti juga hilang sendiri," kata Joko.
Franky pun mengangguk.
"Sebenarnya, siapa dia?" tanya suara hati Joko kepada Nawang si kucing hitam.
"Dia itu kuntilanak yang bergentayangan, mencari mangsa," jawab suara hati Nawang.
"Mencari mangsa bagaimana, maksud kamu?"
"Ya dia membuat para penumpang kendaraan, yang melintas di jalan ini, supaya mengalami kecelakaan dan mati, setelah itu, dia akan mengajak roh para korban itu menjadi pengikutnya."
"Maksud kamu, mereka menjadi budak kuntilanak itu."
"Tentu saja, dan mereka harus mengabdi kepadanya."
"Hem, di mana-mana, yang namanya hantu memang kejam ya," gumam suara hati Joko.
"Mana ada hantu baik?" kata suara hati Nawang.
"Berarti Rinjani juga jahat," ucap isi hati Joko.
"Rinjani?" tanya suara hati Nawang.
"Oh iya, apakah kamu juga kenal sama Rinjani?" tanya suara hati Joko.
"Tentu saja kenal sekali, dia adalah ketua para kuntilanak, tapi dia itu sebenarnya tidak jahat, hanya saja, dia terikat oleh sebuah perjanjian."
"Berarti, kamu juga sudah mendengar ceritanya?"
__ADS_1
"Bukan hanya mendengar, aku justru menyaksikan langsung, karna rumahku kan di belakang pulau ini, jadi sudah pasti kalau aku ini, salah satu dari penduduk asli pulau ini, dan tentunya aku mengetahui apa saja yang terjadi di pulau ini."
Nawang memaparkannya secara detail kepada Joko.