Pulau Abadi

Pulau Abadi
Mimpi Bersamaan


__ADS_3

Franky pun menengadahkan kepala ke atas, dan tanpa sadar netranya mengarah ke sebuah lukisan di atasnya.


"Lukisan?"


"Ada apa ya, dengan lukisan itu? Kok seperti aneh gitu, tapi apa yang aneh ya?" Franky membatin sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Tiba-tiba, Franky melihat sebuah bayangan keluar dari lukisan itu, Franky terbelalak, dia terus mengamatinya. Bayangan itu kini berdiri di hadapan Franky, dan Franky terus mengamatinya dengan seksama.


****


Di sisi lain, Joko pun sedang berjalan lurus, hingga langkah kakinya tiba di sebuah gapura.


"Waduh, kenapa ketemu gapura lagi sih, eh tapi memang jalanan ini kan ujungnya sampai gapura ini ya, tapi kenapa juga ya, aku selalu ke sini, ah aku jadi pusing," batin Joko.


Joko pun memperhatikan gapura itu, dan perlahan kepalanya menengadah ke atas, dan ... Lagi-lagi dia melihat lukisan seorang wanita di atas gapura.


"Lukisan itu lagi, hem ... sebenarnya ada apa ya, dengan lukisan itu, kok aku merasa lukisan itu beda sama lukisan lainnya?" gumam Joko.


Saat Joko sedang mengamati lukisan itu, tiba-tiba Joko melihat sebuah bayangan keluar dari lukisan itu, sontak saja Joko terbelalak.


"Apa itu? Kok seperti ada yang keluar dari lukisan," batinnya.


Bayangan itu bergerak menjauhi Joko, dan Joko mengikuti arah bayangan itu.


****


Sementara itu, Franky masih mengamati bayangan yang berada di hadapannya, dan perlahan bayangan itupun bergerak menjauhi Franky. Karena di hantui rasa penasaran, Franky mengikuti bayangan tersebut.


Bayangan itu semakin menjauh, namun Franky terus mengikutinya.


Dan di sisi lain, Joko masih mengikuti bayangan itu hingga akhirnya bayangan itu sampai di pantai, dan menghilang.


"Hah, mana bayangan itu ya, kok hilang?" tamyanya dalam hati.


Joko berjalan menyamping, dan ....


Buggghhh!


Joko menabrak seseorang dan hampir saja terjatuh, Joko pun menoleh ke arah orang tersebut ....


"Franky!" serunya.


"Joko," lirih, seseorang yang ditabraknya, yang ternyata adalah Franky.


"Lho, kamu ngapain di sini, Fran?"


"Kamu sendiri juga ngapain, Jok?"


Baru saja Joko hendak menjawab pertanyaan Franky, tiba-tiba ombak dari pantai bergulung dan menghampiri mereka, kedua pria itu terkena cipratan air ombak.


"Aaaaaaaa ....!"


Mereka berteriak bersamaan, dan seketika pandangan menjadi gelap.


"Jok, bangun, Jok ... Fran, bangun, Fran."


Sebuah suara membangunkan mereka dari tidur nyenyaknya. Dan perlahan, Franky membuka matanya, diikuti oleh Joko, mereka berdua melihat Leon sudah berdiri di hadapan mereka.

__ADS_1


"Hah? Kok sudah terang, jam berapa ini?" tanya Franky.


"Jam tujuh pagi, Fran, kalian ini kenapa sih, kalau tidur teriak-teriak terus," heran Leon.


Franky dan Joko saling berpandangan ....


"Jam tujuh pagi? Perasaan aku baru tidur sebentar tadi malam," gumam Franky.


"Sama, Fran," sambung Joko.


"Kamu baru pulang, Le?" tanya Franky kepada Leon.


"Pertanyaan-ku belum dijawab, Fran."


"Eh, iya, Le, apa ya hehe."


"Haduh kamu ini, Fran, selalu lama koneknya," ledek Leon.


Franky meringis, sedangkan Joko masih mengumpulkan kesadarannya.


"Kalian ini, kenapa teriak-teriak? Memang diapakan sama siapa?" Leon mengulang pertanyaannya.


"Hah? Masa iya, aku teriak-teriak?" ujar Franky.


"Iya, Fran, keras lagi, dan kamu juga, Jok."


Joko kebingungan, sambil mengingat kembali, mimpi apa yang baru saja dia alami.


"Ya sudah, pada cuci muka, terus makan sana, tuh makanan enak sudah siap sedia," kata Leon antusias.


Joko menepuk keningnya. "Astaga! Lagi-lagi aku kalah cepat."


"Ya biasa, Le, mau menyelidiki orang yang selalu masak setiap hari, tapi gagal terus.


"Oh gitu, ya sudah sana pada makan, terus mandi, gantian aku yang mau tidur, ngantuk," kata Leon yang langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Franky dan Joko pun beranjak dari tidurnya, dan keluar kamar, Joko duduk di ruang depan, tak lama Franky menghampirinya.


"Kamu kalau lapar makan dulu, Fran, aku nanti saja, belum lapar," kata Joko.


"Aku juga nanti saja Jok, belum lapar," sahut Franky kemudian duduk di samping Joko.


Joko pun menceritakan mimpinya, mengenai lukisan di atas gapura.


Franky pun ternganga. "Kok sama, Jok?"


"Sama apanya, Fran?" Joko merasa heran.


"Ya mimpi kita sama," kata Franky, dia pun menceritakan mimpinya tentang bayangan yang keluar dari lukisan itu.


"Kok bisa sama ya? Aneh," gumam Joko.


"Iya ya, Jok, aneh sekali ... eh tunggu deh, sebenarnya ada apa sih, dengan lukisan itu? Kok aku merasa lukisan itu beda sama lukisan lainnya, seperti bukan lukisan biasa," ujar Franky.


"Bukan lukisan biasa, maksud kamu luar biasa gitu, Fran?" tanya Joko.


"Ya begitulah, Jok, maksud aku seperti ada yang aneh sama lukisan itu," ucap Franky.

__ADS_1


"Aku juga, sering sekali mimpi tentang lukisan itu, Fran."


"Kok sama, Jok, aku pun sering mimpi tentang lukisan itu."


"Sebenarnya, itu lukisan siapa, ya?" tanya Joko.


"Ya mana aku tahu, Jok, mungkin lukisan salah satu orang yang tinggal di sini, atau bisa juga lukisan milik yang membangun gapura itu," ujar Franky.


"Memang siapa, Fran, yang membangun gapura itu? Bukannya tukang bangunan, ya," kata Joko.


"Ya kan aku hanya mengira-ngira saja, hehe," kekeh Franky.


"Hem ... eh Fran, aku kok kepikiran terus ya sama lukisan itu, bagaimana kalau kita selidiki?"


"Selidiki bagaimana maksud kamu, Jok?"


"Ya, kita ambil lukisan itu, kita periksa, sebenarnya apa yang membuat lukisan itu aneh," kata Joko.


"Memang nggak apa-apa, Jok? Nanti kalau ternyata ketahuan yang membuat lukisan itu, malah kita dikira maling, Jok," ujar Franky.


"Iya juga ya, tapi aku penasaran sekali, Fran."


Franky terdiam sejenak, dia terlihat berpikir apa yang harus dilakukan dengan lukisan itu.


"Aku nggak punya ide apa-apa, Jok, sama lukisan itu," sesal Franky.


"Hem, kamu kan selalu banyak ide, Fran," kelakar Joko.


"Itu kalau bikin cerita, Jok, ide selalu mengalir, nah ini masalah barang nyata, aku bingung harus bagaimana."


"Ya sudah, Fran, biar nanti aku pikirkan, bagaimana caranya, menyelidiki lukisan itu."


"Oke lah, Jok, eh makan yuk," ajak Franky.


"Ayo deh, aku pun sudah lapar," sahut Joko.


Mereka berdua pun menikmati masakan yang telah tersaji, setelah itu, mereka mandi secara bergantian. Setelah mandi, mereka berdua kembali duduk di ruang depan, sambil mengobrol.


Sementara Franky, telah siap dengan laptop di pangkuannya.


"Kamu bikin novel berapa lama, sampai novel itu selesai?" tanya Joko.


"Maksud kamu, sampai tamat?" Franky balik bertanya.


"Iya, Fran," angguk Joko.


"Nggak pasti, Jok, kadang satu bulan lebih, kadang sampai dua bulan baru selesai," sahut Franky.


"Oh, terus satu buku selesai, langsung dibayar?"


"Ya enggak, Jok, diseleksi dulu lulus atau enggak, kalau lulus ya dapat honor, kalau enggak, ya enggak dapat apa-apa," jelas Franky.


"Oh, gitu ... terus, novel kamu lulus terus, ya?"


"Ah nggak juga, Jok, ini aku bisa sampai ke sini, kan karna kemarin-kemarin, novel-ku selalu ditolak sama kantor penerbit."


"Lho, memang kenapa, Fran?"

__ADS_1


"Ya biasalah, Jok, setelah kematian istri aku, kan aku jadi nggak fokus nulis."


Joko mengangguk. "Sekarang istri kamu sudah tenang di alamnya."


__ADS_2