
Sementara itu, Franky dan Rinjani sedang berdiri berhadapan.
"Rin, selamat jalan, tenanglah kamu di sana," kata Franky tanpa disadari netranya basah.
Rinjani menatap sendu ke arah Franky. Fran, saya tak sanggup berpisah dengan anda."
"Tapi, Rin, kamu kan sudah meninggal, dan sekarang jasad kamu sudah diketemukan, jadi sekarang kamu harus pulang ke duniamu," tegas Franky.
"Tapi, Fran, saya sangat mencintai anda, tak dapatkah kita hidup bersama?"
"Duh ... Rin, kamu ini bagaimana sih, bukankah dulu kamu sendiri yang bilang, kalau kita nggak bisa hidup bersama?"
Rinjani terdiam cukup lama, dia bingung sendiri, dia pun merasa bahwa Franky telah membalikan semua ucapannya yang dulu pernah dia lontarkan terhadap Franky.
"Maksud saya ... Saya ingin kita dapat terus bertemu setiap saat, Fran." Rinjani akhirnya angkat bicara.
"Hey, apakah kamu lebih senang menjadi hantu bergentayangan, ya? Memangnya, kamu nggak mau tenang di alam-mu yang seharusnya? Dan, apa kamu juga nggak bosan menjalani hubungan semu kita?" cetus Franky.
Rinjani pun kembali terdiam, dia merasa putus asa, dia berpikir bahwa Franky sudah tak mau lagi menemuinya.
"Maafkan aku, Rin, sebenarnya aku nggak mau menyakitimu dengan menolak untuk bertemu dengan-mu, tapi aku mempunyai alasan yang kuat, kenapa aku mengatakan itu semua kepadamu, dunia kita sudah berbeda, kau harus kembali ke alam-mu, dan aku pun harus meneruskan hidup-ku, aku ingin hidup normal seperti yang lainnya, nggak bakal ada kebahagiaan kalau kita menjadi sepasang kekasih, yang ada kita justru menentang takdir, dan itu akan membuat kita berdua menderita, lagi pula mencintai itu nggak harus saling memiliki," ucap Franky dalam hati namun dapat didengar oleh Rinjani.
"Iya, iya, saya mengerti itu!" ketus Rinjani membuat Franky terkejut, dia lupa bahwa Rinjani dapat mendengar suara hatinya.
"Ya sudah kalau begitu, saya akan kembali ke alam saya, namun saya berharap, semoga suatu saat kita dapat bertemu lagi," ujar Rinjani dengan terpaksa.
"Maafkan aku Vio," sahut Franky lirih.
Rinjani mengangguk lemah, kemudian dia membalikkan badan membelakangi Franky.
"Di mana jasad saya?" tanyanya.
"Di penginapan kita," jawab Franky.
"Kalian tunggu disini saja, aku akan membawa jasad-mu kemari!" seru Joko yang datang tiba-tiba.
Franky dan Rinjani menoleh ke arah Joko secara bersamaan.
"Anda menguping pembicaraan kami, ya?" tukas Rinjani dengan tatapan sinis.
"Enak saja, aku kesal karna kalian lama sekali ngobrolnya," sahut Joko.
"Ya sudah, Jok, kamu ambil deh jasad Rinjani" sambung Franky.
"Ok, Fran."
__ADS_1
Joko pun berjalan pulang ke penginapan, sebelumnya dia menghampiri Leon yang sudah lama menunggu.
"Huft, kalian lama sekali sih," gerutu Leon.
"Sudahlah nggak perlu marah-marah, ayo pulang," kata Joko.
Leon pun berjalan beriringan dengan Joko, tanpa banyak bicara. Sesampainya di penginapan, Joko membuka pintu dan masuk ke dalam diikuti Leon.
"Le, aku akan membawa jasad ini, dan mengubur di dekat hutan itu, kamu di sini saja ya, nggak perlu ikut," kata Joko sambil membopong jasad Rinjani.
"Iya deh, Jok, lagian aku juga ngantuk nih," sahut Leon.
"Ya sudah, kamu tidur saja, Le, aku duluan ya," ujar Joko.
"Iya, Jok," kata Leon.
Joko pun berjalan menuju hutan di seberang pantai, sambil membopong jasad Rinjani, tak lupa dia juga membawa cangkul.
Sementara di depan hutan, Franky dan Rinjani berdiri berdekatan, mereka hening satu sama lain.
"Rin, maafkan aku kalau kita harus berpisah, semoga kamu tenang di alam kamu," batin Franky.
"Anda tak perlu bicara dalam hati, saya bisa dengar," celetuk Rinjani.
"Aku sudah tahu," sahut Franky tenang.
"Iya, Rin, saya akan menunggu kamu, semoga kita bisa bersatu," sambung Franky.
Tanpa sadar, bulir bening menetes di pipi Franky. Dan Rinjani yang mengetahui hal itupun segera mengusap pipi Franky dengan tangannya yang halus.
"E, e, e, ditinggal ambil jasad malah pacaran ya, kalian!" seru Joko yang telah tiba di hadapan mereka.
Franky dan Rinjani pun terkejut, mereka menoleh ke arah Joko.
"Itu jasad kamu, Rin," lirih Franky.
Rinjani mengangguk lemah, dan Joko pun berjalan mendekat ke arah mereka berdua.
"Kuburkan di sana, tepat di dekat gang masuk hutan itu," tunjuk Rinjani.
Joko pun meletakkan jasad Rinjani kemudian berjalan ke arah yang telah ditunjuk oleh Rinjani. Dia mulai menggali tanah dengan dibantu oleh Franky. Setelah dirasa cukup dalam, Joko dan Franky mengambil jasad Rinjani untuk dipindahkan ke dalam liang kubur yang telah di galinya.
Setelah selesai penguburan dan sekaligus mendoakan, kedua pria itu membersihkan tangannya, kemudian mereka berjalan ke arah Rinjani.
"Rin, beristirahatlah dengan tenang," kata Franky.
__ADS_1
Sedangkan Joko hanya menatap Rinjani dengan raut wajah yang terlihat santai.
Rinjani mengangguk dengan senyum yang dipaksa, kemudian muncullah sinar yang cukup menyilaukan. Dan bersamaan dengan itu, Rinjani pun menghilang, kini tinggallah Franky dan Joko.
Sesaat kemudian ....
"Ikhlasin, Fran," kata Joko.
"Iya, Jok, ya sudah kita pulang yuk, besok kita kembali ke rumah kita," sahut Franky lemas.
"Ayo deh," sahut Joko.
Franky dan Joko pun berjalan menuju penginapan mereka, sesampainya mereka segera menuju ke dalam kamar, di sana mereka melihat Leon sudah tertidur pulas.
Franky dan Joko saling berpandangan, kemudian menuju kasur dan merebahkan tubuhnya masing-masing.
"Akhirnya ... selesai juga peristiwa aneh selama ini, semoga saja setelah ini hidup-ku kembali normal dan bisa menjalani kehidupan pada umumnya," gumam Franky dalam hati kemudian memejamkan matanya, hingga akhirnya pulas dalam tidurnya.
Sementara itu, Joko masih terjaga, dia menatap ke arah langit-langit.
"Nawang ... Aku rindu sekali dengannya, apa besok aku ajak dia ya, aku lamar sekalian dan aku suruh tinggal di rumah-ku? Ah gila, mana mau dia, pasti nggak mungkin mau sama lelaki miskin seperti aku, aku ini nggak punya apa-apa, bahkan rumahpun hanya terbuat dari gubug reot, pasti Nawang malu menjadi istri-ku," batin Joko.
Tak terasa Joko pun telah terlelap dalam tidurnya.
Keesokan hari, ketiga pria itu bangun bersamaan, Franky keluar dan duduk di kursi ruang depan, diikuti oleh kedua temannya.
"Gimana, Fran? Apa kita pulang hari ini?" tanya Joko mengawali pembicaraan.
"Aku ngikut saja, Jok, mau sekarang atau besok nggak apa-apa," sahut Franky.
"Lebih baik, kita pulang sekarang saja, Jok, Fran, aku sudah nggak tahan di sini," sambung Leon.
Franky dan Joko saling berpandangan.
"Bagaimana, Fran?" tanya Joko.
"Sekarang juga nggak apa-apa, Jok? Atau kamu masih ada urusan?" Franky balik bertanya.
Joko meringis, sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.
"Hehe, aku mau ke rumah Nawang dulu, mau rundingan sesuatu."
"Ya sudah sana, Jok, kita santai kok, pulang agak siangan kan nggak masalah," kata Franky.
"Ya sudah, aku mandi dulu terus keluar sebentar."
__ADS_1
Joko pun beranjak dari tempat duduknya, kemudian menuju ke belakang dan bersiap untuk mandi.