
Di dunia gaib, Pangeran Endro terlihat sangat kesal dengan Rinjani.
"Sebenarnya apa maumu Rin? Raju itu anak kita, tapi kenapa kau persenjata dia?"
"Maksud anda itu apa sih? Datang-datang sudah mengajak ribut."
"Kau bilang, kalau Raju anak kau dan manusia itu, kau pikir aku tak tahu apa yang kau lakukan di bumi?"
"Bukan urusan anda!"
"Tentu saja itu menjadi urusanku, kau sudah mengaku-ngaku kalau anak kita adalah anak manusia itu, huft.. kau ini semaunya sendiri, kalau aku bawa pergi Raju baru tahu rasa."
"Silahkan saja."
Pangeran Endro benar-benar merasa kesal dengan sikap Rinjani, dia pun berlalu dari hadapan Rinjani.
Perkawinan Pangeran Endro dengan Rinjani telah melahirkan seorang anak, namun Rinjani justru menggunakan kesempatan, dia memperalat anaknya yang bernama Raju untuk membuat Franky luluh sehingga dapat memilikinya kembali.
"Ah, bosan sekali saya, setiap hari seperti ini, sekarang saya harus bagaimana lagi?" gumam Rinjani.
"Aku akan berjalan-jalan di pantai, siapa tahu aku mendapat mangsa," pikir Rinjani, dia pun berjalan ke arah pantai.
"Kau mau kemana anakku?" tanya Raja Jin.
Rinjani menghentikan langkahnya.
"Aku bosan Romo, aku akan mencari udara segar di pantai."
"Silahkan anakku, tapi ingat, kau jangan mengganggu membuat ulah."
Rinjani tak menjawab ucapan Raja Jin, dia melangkahkan kakinya sambil tersenyum sinis.
Malam hari pun tiba, di pantai terlihat dua orang pria sedang duduk menikmati suasana di tempat itu.
Kedua pria itu bernama Agung dan Joni, sedang asik mengobrol, tiba-tiba Rinjani berjalan melintas di depan mereka.
"Eh, lihat tuh, ada cewek cantik," kata Agung sambil menunjuk ke arah Rinjani.
Rinjani menoleh ke arah dua lelaki tersebut dan tersenyum, kemudian dia berjalan lagi.
"Ayo kita ikuti Gung," ajak Joni.
kedua lelaki itu mengikuti jejak langkah Rinjani.
Tanpa sadar mereka sudah tiba di depan hutan.
Oada saat kedua lelaki itu melangkahkan kaki hendak masuk ke hutan, seseorang mencegahnya.
"Jangan masuk!" kata sebuah suara yang ternyata Kyai Toha.
Agung dan Joni menoleh ke arah sumber suara.
"Sebaiknya, kalian pulang ke rumah sewa kalian, dan jangan sekali lagi berani masuk ke dalam hutan itu, atau kalian tidak akan pernah Kyai Toha.
"Tapi, tadi kita lihat perempuan masuk ke hutan ini kok Pak, ya kan Jon," kata Agung meyakinkan.
"Dia bukan manusia seperti kalian, dia adalah makhluk jahat yang menyamar menjadi manusia, dan kalian sedang terkena ajian ilusi jiwa," kata Kyai Toha.
"Tapi kita penasaran, ingin lihat di dalam hutan ini ada apa," kata Agung.
"Rupanya kalian sungguh keras kepala, silahkan saja kalau kalian tidak mau mendengarkan saya, dan kalau ada apa-apa dengan kalian, maaf, saya tidak bisa membantu, saya hanya mencoba mengingatkan kalian saja," kata Kyai Toha, lalu berlalu pergi dari hadapan kedua lelaki itu.
"Kita pulang saja yuk Gung, sepertinya tempat ini memang angker, lagi pula kalau di dalam hutan ada binatang buas bagaimana?" ujar Joni.
__ADS_1
"Kamu ini memang penakut Jon, kalau kamu mau pulang, silahkan saja, biar aku yang mengejar perempuan tadi, siapa tahu aku bisa jadi pacarnya hehe," Agung terkekeh.
Bulu kuduk Joni mendadak meremang.
"Aku kok merinding ya, benar nih kamu nggak apa-apa, kalau aku tinggal di sini sendiri?" tanya Joni lagi.
"Iya kamu pulang saja aku nggak apa-apa kok," sahut Agung.
"Ya sudah, kamu hati-hati ya, cepat pulang, jangan malam-malam," kata Joni.
"His berisik sekali sih dia," batin Agung.
Agung berjalan masuk ke dalam hutan, melewati sungai kecil dan beberapa tanjakan terjal, di dalam hutan tersebut sangat gelap, jadi Agung berjalan dengan bantuan senter dari ponselnya.
Setelah masuk ke dalam hutan cukup jauh, Agung melihat seorang wanita berkebaya putih sedang duduk di sebuah batu besar.
Agung pun mendekatinya tanpa ragu.
"Hey, siapa kamu? Mengapa malam-malam keluar sendiri?"
Rinjani menatap tajam ke arah Agung, kemudian tersenyum.
"Saya sedang kesepian, dan saya juga merasa, malam ini gerah sekali, jadi saya mencari udara segar," jawab Rinjani santai.
"Kamu sungguh cantik, siapa namamu?" tanya Agung.
Rinjani mengulurkan tangannya mengajak Agung bersalaman, Agung pun membalas jabat tangan Rinjani.
"Nama saya Rinjani."
"Tangannya dingin sekali," batin Agung, tapi dia tak mempermasalahkan hal tersebut.
"Eh, nama yang bagus, oh iya namaku Agung."
Rinjaini tersenyum.
"Aku nggak sengaja mengikuti kamu masuk ke sini, memang rumah kamu di mana?" tanya Agung.
"Rumah saya di hutan ini."
"Hah? Memang nya di hutan ini ada rumah juga?" Agung semakin penasaran.
"Kenapa tidak, bahkan di alas pun banyak orang-orang yang hidup di dalamnya," kata Rinjani.
"Betul juga ya, kamu di rumah tinggal sama siapa?" tanya Agung.
"Saya tinggal sendiri."
"Memangnya, orang tua dan saudara kamu di mana?"
"Orang tua saya sudah meninggal," Rinjani tersenyum sinis.
Agung hanya mengangguk.
"Maaf, kalau boleh tahu, perempuan secantik kamu apakah belum bersuami atau berpasangan?" tanya Agung dengan hati-hati.
"Apakah anda tidak paham dengan apa yang saya katakan baru saja?" Rinjani balas bertanya.
"Hehe, oke deh, kalau begitu maukah kamu jadi pacar aku, kebetulan aku pun single," kata Agung.
"Mau saja," jawab Rinjani.
"Ini sudah malam, mari aku antar pulang, nggak baik seorang perempuan berjalan sendiri," ajak Agung.
__ADS_1
Rinjani mengangguk, dia pun berjalan diikuti Agung mengekor di belakang.
Setelah berjalan cukup jauh hingga masuk ke dalam hutan, mereka tiba di sebuah bangunan yang mirip sebuah Istana.
Agung berdecak kagum.
"Apakah ini rumahmu?"
Rinjani tersenyum dalam anggukkannya.
"Masuklah dulu," Rinjani mengajak Agung masuk dan membawa ke dalam kamarnya.
Agung duduk di bibir tempat tidur.
"Rumah kamu bagus sekali Rin, sayang kalau nggak ada yang menemanimu," Agung berbasa-basi.
"Memang anda mau menemani saya?" tanya Rinjani.
"Em.. ma.. mau Rin," Agung gugup, keringat dingin mulai membasahi keningnya, ada perasaan aneh yang bermain di dalam benaknya.
"Kamu menginaplah di sini, dan pulanglah besok pagi, bahaya kalau pulang sekarang, ini sudah malam," ujar Rinjani.
Bak pucuk di cinta ulam pun tiba, Agung seakan tak percaya.
"Saya ganti baju dulu," kata Rinjani.
Rinjani melepas pakaian yang melekat di tubuhnya satu persatu, hingga tanpa sehelai benang pun yang tersisa, hal itu dia lakukan di hadapan Agung.
Agung menelan salivanya, dia sedikit gemetar, sambil terus memandangi kemolekan tubuh Rinjani tanpa berkedip sedetik pun.
Ada yang mengeras di bawah sana.
Agung beranjak dari duduknya dan berjalan perlahan mendekati Rinjani
"Indah sekali badanmu Rin, sungguh menggoda iman kamu ini," kata Agung antusias.
Rinjani membalikkan badannya, terlihat jelas buah kembarnya yang menonjol ke depan.
Rinjani menatap lekat ke arah Agung.
Agung menelan salivanya sekali lagi, bagai di hipnotis oleh tatapan netra Rinjani, tangan Agung mulai menyentuh tubuh Rinjani, jari jemarinya mulai bermain di sekujur tubuh Rinjani, Agung mengecup leher Rinjani lalu bibirnya turun ke bawah.
Tak lama mereka pun bergumul dengan seru.
Agung terlihat sangat menikmati keindahan tubuh Rinjani, hingga akhirnya dia menusukkan pusakanya ke dalam milik Rinjani.
"Ahhh!"
Kedua insan tersebut mendesah.
Tiba-tiba Agung merasakan panas yang luar biasa pada alat vitalnya, dia mengerang kesakitan.
Erangannya sungguh memekakkan telinga yang mendengarnya.
Rinjani tertawa menggelegar, dalam sekejap dia berubah wujud menjadi Kuntilanak yang sangat menyeramkan.
Agung terkejut, dia pun berteriak histeris.
Rinjani mendekati Agung, dia mengulurkan kedua tangannya hendak mencekik Agung.
Agung berteriak minta tolong, dia pun berlari keluar kamar, betapa terkejutnya dia melihat suasana di sekelilingnya, rumah yang semula megah bak Istana kini berubah menjadi bangunan tua yang di penuhi sarang laba-laba, dia pun dikelilingi oleh beberapa kuburan.
Agung bergidik ngeri, dia terus berlari mencari jalan keluar, namun sayangnya dia hanya berputar-putar di dalam hutan itu.
__ADS_1
Tawa Rinajani masih terdengar menggelegar membuat bulu kuduk Agung meremang.
Agung terus saja berlari, tanpa sadar kakinya tersandung sebuah batu dan...