
Hai.. hai.. selamat membaca ya, semoga terhibur, maaf kalo upnya lama karna author masih sangat sibuk di dunia nyata 🙏
Suatu siang, Rindi baru saja keluar dari kantornya, dia menuju ke parkiran di samping kantor, untuk membawa motornya.
Rindi pun mengendarai motornya, dia berniat hendak pulang ke rumah, dia harus melewati jalan besar untuk sampai di rumahnya, karena memang tak ada jalan pintas yang mengarah ke rumahnya.
Ketika Rindi membelokkan motornya ke tikungan sebelah kanan, sebuah mobil melaju dengan kecepatan kencang, Rindi terkejut, dia berusaha menginjak rem motornya, namun Rindi menjadi hilang keseimbangan, dan ....
Braakkkkk!!!
Mobil tersebut menabrak motor Rindi, dan Rindi beserta motornya pun jatuh terguling, kepala Rindi sempat membentur jalan beraspal itu.
Rindi tak sadarkan Rindi, motor Rindi remuk, tak lama, pengemudi mobil pun keluar dan turun dari mobilnya. Dia menghampiri Rindi, yang tergeletak tak berdaya.
"Astaga, Rindi!"
Ternyata pengemudi mobil itu adalah Franky. pria itu mendekap erat tubuh Rindi.
"Bangun, Rin!" seru Franky.
Namun Rindi tetap diam tak bergeming.
"Ya Tuhan, kenapa aku ceroboh sekali," batin Franky, kemudian dia memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Rindi.
"Alhamdulillah, masih hidup, aku harus segera membawanya ke rumah sakit."
Franky segera membopong tubuh Rindi, dan membawa masuk ke dalam mobilnya.
Kemudian Franky mengemudikan mobilnya, menuju ke rumah sakit.
Butuh waktu tiga puluh menit, untuk sampai ke rumah sakit.
Kini Franky tiba di Rumah Sakit Famili. Franky mengeluarkan Rindi dari mobilnya, dan membawanya masuk ke dalam rumah sakit tersebut.
Sampai di dalam, dia disambut oleh seorang perawat.
"Maaf, Mas, ada yang bisa saya bantu?"
"Sus, tolong saya, teman saya ini kecelakaan."
Perawat itu segera mengambil kasur dorong, kemudian meletakkan tubuh Rindi membawanya ke ruang rawat pasien.
"Silahkan tunggu di luar, Mas, biar dokter yang akan memeriksa."
Franky pun mengangguk, dia duduk di kursi yang berada di depan ruang rawat Rindi.
Tak henti-hentinya dia mengumpati dirinya sendiri Dalam hati pun terbesit sebuah penyesalan yang sangat mendalam.
"Kenapa juga aku ngebut tadi? Coba kalau tadi aku bawa mobilnya pelan saja, pasti kejadiannya nggak akan seperti ini," gerutu Franky dalam hati.
__ADS_1
Tak lama, keluarlah seorang dokter dari dalam ruangan Rindi, Franky segera beranjak dari tempat duduknya, dan menghampiri dokter tersebut.
"Dok, bagaimana kondisi teman saya?"
"Maaf, Mas, apa anda salah satu keluarganya?"
"Saya calon suaminya, Dok," sahut Franky dengan tegas.
"Oh ... begini Mas, calon istri anda mengalami gegar otak, akibat benturan yang sangat keras, dia saat ini masih koma."
Franky menjadi lemas seketika, mendengar pengakuan dokter tersebut.
"Apa saya boleh masuk, Dok?"
"Silahkan, ya sudah saya tinggal dulu."
Franky mengangguk, kemudian segera masuk ke dalam ruang rawat Rindi. Franky melihat Rindi terbaring tak berdaya, lama dia memandangi wajah Rindi, tak terasa bulir bening berjatuhan di pipinya.
"Rin, kenapa jadi begini? Maafkan aku, Rin, aku benar-benar nggak sengaja," gumam Franky lirih.
Franky pun mengambil ponsel di saku celananya, dia segera mengirim pesan kepada Leon, memberitahukan tentang kejadian yang menimpa Rindi.
Satu jam kemudian, Leon bersama Nurdiana dan bu Mira, ibu kandung Rindi, datang ke rumah sakit family.
Mereka segera menuju ruangan di mana Rindi dirawat. Melihat kedatangan Leon dan tantenya, Franky segera menyalami mereka.
"Le, Nya, Bu, sebelumnya saya minta maaf, semua salah saya."
"Kalian kalau mau marah dan menuntut saya, silahkan, saya akan hadapi, karna memang saya yang salah."
Leon dan Nurdiana saling berpandangan, sementara bu Mira hanya terdiam, dia memang tak banyak bicara, dan mengenai musibah yang dialami anaknya pun, bu Mira hanya pasrah.
"Fran, ini adalah kecelakaan yang nggak disengaja, kamu nggak perlu menyalahkan diri sendiri," ujar Nurdiana menenangkan.
"Iya, Fran, kamu mau tanggung jawab saja, itu sudah bagus," Leon menimpali.
Franky akhirnya mengangguk pasrah.
"Oh iya, tuan Abdul mana, Nyonya?"
"Dia sedang ada tugas di luar kota, oh iya, saya juga besok ada kepentingan, jadi saya titip Rindi ya, kamu nggak keberatan kan kalau menjaga Rindi sendiri? Karna Leon juga akan membantu saya besok, dan ibunya Rindi juga akan membantu mengurus pengajian besok, di dekat rumahnya," ujar Nurdiana sambil menunjuk ke arah bu Mira.
"Nggak masalah, Nyonya, biar saya yang menjaga Rindi, dua puluh empat jam pun saya siap, anggap saja sebagai penebus kesalahan saya," sahut Franky antusias membuat Nurdiana tersenyum.
"Ya sudah, kita pulang dulu, Fran, pokoknya saya titip Rindi, dan sekali lagi terimakasih."
"Iya Nyonya, silahkan," angguk Franky.
Ketiga orang itu pun berjalan meninggalkan Franky seorang diri, menuju ke luar rumah sakit.
__ADS_1
Sedangkan Franky kembali duduk di depan ruangan Rindi.
Hari berganti hari, Franky dengan setia menunggu Rindi, dia pulang hanya untuk mandi, makan, dan berganti pakaian saja. Selebihnya, waktunya dia habiskan untuk menunggu Rindi yang masih koma, di rumah sakit itu.
Tak jarang Franky pun mengintai dari balik kaca kecil tembus pandang, yang terdapat di pintu masuk kamar Rindi.
"Rin, cepatlah sadar, setelah itu aku akan menikahimu, dan juga membahagiakanmu," batin Franky.
Dua bulan telah berlalu, namun Rindi masih saja terbaring koma di ruangannya.
Franky semakin cemas, dan sore itu, Leon datang membesuk Rindi, Leon pun mencoba menguatkan Franky.
"Sabar, Fran, banyak berdoa saja, supaya keadaan Rindi cepat membaik."
"Iya, Le," ucap Franky lirih.
"Apa kamu sudah coba tanya dokter, tentang keadaan Rindi?"
"Hampir setiap hari, aku selalu tanya dokter, Le, tapi jawaban dokter tetap saja sama, katanya luka dalam akibat benturan di kepala Rindi cukup parah."
Leon menjadi iba dengan sahabatnya itu. "Kamu harus kuat, Fran, aku yakin Rindi pasti sembuh, yang penting kamu harus tetap makan, jangan sampai telat, nanti kamu sakit, kalau kamu sakit, siapa yang jagain Rindi?"
Dan seketika itu juga, tangis Franky pecah, dia memeluk Leon.
"Ini semua salahku, Le, kalau saja waktu itu aku nggak ngebut, pasti Rindi nggak akan mengalami nasib seperti ini."
"Husss, kamu jangan terus-terusan menyalahkan diri kamu sendiri, Fran, sudah jangan menangis lagi." Leon berusaha menenangkan.
Perlahan tangis Franky pun reda.
"Kamu nggak marah sama aku, Le?"
"Marah kenapa, Fran?"
"Kan aku yang sudah menyebabkan saudara kamu jadi seperti ini."
"Fran, setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan yang nggak disengaja, kalau aku marah sama kamu, pun percuma, nggak akan bisa membuat Rindi jadi sadar, kan? Sudah dong, Fran, kamu jangan terus-terusan menyalahkan diri kamu sendiri."
"Trimakasih, Le, kamu memang benar-benar sahabatku yang paling bisa mengerti aku."
Leon tersenyum dalam anggukannya. "Ya sudah, aku pulang dulu, titip Rindi ya, ingat, jaga kesehatan kamu."
Franky mengangguk, dan Leon pun segera berlalu dari hadapan.
Kini Franky kembali memandangi Rindi yang masih terbaring, dari balik kaca pintu kamar itu.
Seketika, dia menjadi teringat dengan soraya, bayangan masa lalu pun kembali melintas dalam benaknya.
"Enggak, Rindi nggak boleh mati, dia harus tetap hidup," batin Franky kemudian duduk di kursi.
__ADS_1
Karena merasa sangat lelah, tanpa sadar Franky tertidur di kursi dengan posisi duduk.
Apa kalian suka sama ceritanya? jika suka beri like, tinggalkan komentar dan vote juga 🤗