Pulau Abadi

Pulau Abadi
Suara Minta Tolong


__ADS_3

Sementara di pantai, Franky menutup laptopnya.


"Cukup dulu cerita hari ini, lanjut besok," gumamnya dalam hati.


Kemudian Franky menatap lurus ke depan.


"Rinjani kok nggak datang ya, apa memang dia nggak pernah keluar siang, tapi kenapa juga?" batin Franky.


Kemudian, Franky beranjak dari tempat duduknya, dan berjalan pulang.


"Kok sudah pulang, Fran? Cepat sekali," sambut Joko yang sedang duduk di ruang depan, bersama Leon di sebelahnya, saat Franky masuk ke dalam.


"Iya, Jok, lanjut besok lagi," sahut Franky yang kemudian duduk di dekat Joko.


"Eh, kamu sudah bangun, Le?" tanya Franky kepada Leon.


"Sudah dari tadi, Fran, nih sudah wangi aku," seloroh Leon.


"Gimana hari pertama kerja? Pasti menyenangkan ya?" tanya Franky.


"Menyenangkan apaan, Fran, justru aku disambut sama hantu," jawab Leon.


"Hah? Hantu? Masa sih?"


"Iya, Fran, dia katanya dengar suara orang minta tolong," sambung Joko.


"Minta tolong? Siapa yang minta tolong, Le?" tanya Franky.


"Ya hantu lah, Fran, masa iya perempuan cantik."


"Kalau perempuan cantik, pasti kamu tolong kan, Le?" ledek Joko.


"Ah nggak juga Jok, buktinya tadi malam, aku datangin suara itu."


"Ya itu kan karna kamu nggak tahu, kalau ternyata hantu." lagi-lagi Joko mengejek Leon.


"Hehe, iya sih." Leon meringis, dan Franky menggelengkan kepala, merasa geli dengan tingkah Leon.


"Oh ya, Fran, nanti aku mau antar Leon kerja, sekalian mau menyelidiki suara misterius yang dia dengar, kamu mau ikut atau di sini saja?" tanya Joko.


"Em, gimana ya, aku males kalau urusan begitu."


"Ya sudah, kalau kamu nggak mau ikut, tapi aku pesan ya."


"Apa, Jok?"


"Tolong jangan kamu buka pintu gudang itu."


"Eh iya, Jok, aku nanti tidur saja di kamar," kata Franky.


****


Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, Leon dan Joko bersiap akan berangkat ke apartemen, tempat Leon bekerja.

__ADS_1


"Jalan kaki saja ya, Jok, naik mobil ribet," kata Leon.


"Iya, Le, nggak apa-apa," sahut Joko.


Pukul setengah sembilan, Leon dan Joko berpamitan kepada Franky, tak lupa Joko membawa tulang babi yang dia dapat.


Kemudian mereka berdua berjalan hingga sampai ke apartemen. Leon segera mengajak Joko ke ruangannya, dan di ruangan itu, Eki sudah bersiap akan pulang.


"Eh, kamu sudah datang, Le," kata Eki.


"Iya nih, Ki," sahut Leon.


"Lho, itu siapa?" tanya Eki sambil menunjuk ke arah Joko.


"Eh, ini temanku, dia baru pulang kerja, nah tadi ketemu aku di jalan, terus katanya ada yang mau diomongin sama aku, jadi ya aku suruh dia mampir ke sini, nanti juga pulang kok." Leon sengaja berbohong agar Eki tak curiga dengannya.


"Oh gitu, okelah ... ya sudah, aku duluan ya," kata Eki.


"Ya, Ki, hati-hati ya," angguk Leon.


Eki mengiyakan ucapan Leon, kemudian berlalu pergi.


"Duduk, Jok," titah Leon.


"Iya, Le." Joko pun duduk di sebelah Leon, kursinya hanya ada satu, jadi mereka duduk berhimpitan.


Tanpa disadari, mereka sudah mengobrol selama satu jam.


"Tolooong ...."


"Eh, Jok, kamu dengar nggak itu?" tanya Leon dengan mulut gemetar.


"Iya, Le, aku dengar, suaranya dari bawah," sahut Joko.


"Di lantai delapan, Jok, kemarin aku dengar di sana."


"Ya sudah, kamu tunggu sini saja ya, Le, biar aku yang akan menyelidiki, kalau bareng-bareng, takutnya nanti menimbulkan keributan, nggak enak kan kalau ketahuan sama atasan kamu," ujar Joko.


"Tapi atasan-ku kalau malam sudah pulang, tinggal aku dan temanku, tapi dia di lantai dua puluh."


"Iya, aku tahu, walaupun nggak ada atasan kamu, tapi usahakan kita nggak bikin keributan."


"Ya sudah, aku tunggu sini, Jok."


Joko mengangguk, kemudian dia berjalan menuju lift, dan masuk untuk menuju ke lantai delapan.


Sampai di lantai delapan, suara minta tolong itu terdengar semakin jelas di telinga, Joko terus berjalan menghampiri, dia masuk ke sebuah ruangan. Dan betapa terkejutnya Joko, melihat apa yang ada di dalam ruangan itu.


Joko melihat mayat seorang perempuan, berceceran darah di kepalanya. Joko menerawang ke arah mayat tersebut.


Dalam penerawangannya, Joko melihat seorang perempuan melakukan bunuh diri, dengan cara menggantungkan dirinya dengan tali tambang.


Namun, dikarenakan talinya yang sudah usang, akhirnya tali itu terputus, dan mengakibatkan korban terjatuh ke lantai dengan kepala korban bocor, akibat terbentur lantai. Sementara arwah mayat itu, sedang berdiri di dekat jasadnya.

__ADS_1


"Gila, kenapa dia ya," lirihnya.


Kemudian, Joko mencoba berkomunikasi dengan arwah mayat tersebut.


"Hey, apa yang terjadi denganmu?" tanya Joko.


"Aku diputus sama pacarku," jawab arwah itu.


"Yah, masalah cinta kok sampai bunuh diri, bodoh sekali kamu, lelaki kan banyak nggak hanya satu," cibir Joko.


"Kamu nggak perlu ikut campur urusanku," cetus arwah tersebut.


"Terus, apa yang kamu mau? Kamu sudah mengganggu orang bekerja."


"Aku hanya ingin, jasad-ku dikubur secara layak."


"Tapi aku nggak kenal sama kamu, dan masalah kamu pun nggak ada hubungannya dengan-ku, jadi bagaimana mungkin aku yang menguburkan mayat kamu."


"Aku pun nggak menyuruh kamu."


"Terus?"


"Ya, aku hanya ingin orang yang membuat aku seperti ini yang bertanggung jawab."


"Oh iya, aku lupa tanya, kamu itu siapa dan dari mana? Kenapa bisa sampai bunuh diri di sini? Dan, siapa yang sudah membuat kamu seperti ini?"


Joko menghujani arwah itu, dengan beberapa pertanyaan.


"Namaku Eli, dan aku berpacaran dengan Rubi sudah dua tahun."


"Rubi? Siapa dia?" Joko mengerutkan keningnya.


"Dia adalah satpam yang berjaga di lantai dua puluh."


"Oh, terus kenapa kamu bunuh diri di lantai delapan?"


"Aku hanya mencari ruangan kosong."


"Tolong jelaskan kronologinya."


"Malam itu, aku berniat ingin memberi kejutan kepada Rubi, karna dia berulang tahun, aku sengaja nggak memberi tahu Rubi, kalau aku mau ke sini. Tapi, setelah aku sampai di tempat ini, aku lihat dia sedang asik bermesraan dengan seorang perempuan di depan apartemen ini, dan aku langsung menjauh, karna nggak tahan lihat pemandangan itu. Aku berlari ke toilet yang ada di belakang apartemen ini. Di depan toilet, aku menemukan tali tambang, entah setan apa yang merasuki-ku, aku mendadak punya pikiran untuk mengakhiri hidup, dan setelah perempuan yang bermesraan dengan Rubi pulang, aku berjalan masuk ke apartemen, dan aku mencari ruangan kosong, lalu aku menemukan ruangan ini. Dan akhirnya, aku melakukan bunuh diri di tempat ini."


Joko mendengarkan penuturan arwah Eli, dengan seksama.


"Kamu ini aneh, bunuh diri, tapi orang lain nggak tahu, kok masih ingin jasad kamu dikubur dengan layak."


"Sudahlah, kamu nggak perlu ikut pusing, kalau kamu nggak bisa menolong-ku, aku akan terus mengganggu orang-orang yang bekerja di sini."


"Dih, bisanya mengancam."


"Makannya bantu aku."


"Kenapa kamu nggak mengganggu pacar kamu itu? Biar dia yang peka sama kamu."

__ADS_1


"Dia itu, nggak punya indera ke enam, aku sudah mengganggu dia, dengan cara apa pun, tapi dia benar-benar nggak peka, jangankan melihat-ku, bahkan dia pun nggak bisa mendengar suara-ku."


Joko pun terdiam sejenak, dia tampak sedang berpikir.


__ADS_2