
Nila berjalan-jalan di sepanjang kegelapan malam, berkeliling melewati rumah-rumah penduduk.
"Sepi, pasti sudah tidur orang-orang," gumam Nila dalam hati.
Nila terus berjalan, tak terasa langkah kakinya sampai di sebuah pos ronda.
Di sana, Nila melihat lima orang lelaki sedang berkumpul dan bersenda gurau di antara mereka ada orang tua, pemuda, dan sesepuh juga.
"Permisi," sapa Nila dengan malu-malu.
"Oh, monggo neng," balas salah satu pemuda itu.
Nila tersenyum sambil terus berjalan hingga menghilang dari kegelapan.
Di antara lelaki yang sedang berkumpul itu ada salah satu pemuda indigo, dia mempunyai kemampuan yang dapat merasakan kehadiran makhluk yang bukan manusia biasa.
"Eh, siapa tuh?" tanya Parto salah seorang pemuda yang ada di pos ronda itu.
"Nggak tahu aku, sepertinya aku baru lihat dia," jawab sesepuh yang bernama pak Ali.
"Cantik juga," lirih Parto.
"Ah, kamu itu To, setiap ketemu perempuan pasti di bilang cantik, terus yang jelek yang seperti apa?" kelakar pak Ali.
"Yeee, kalau yang ini memang asli cantik," kata Parto dengan pedenya.
"Jelas cantik lah To, kamu lihat kucing pakai bedak saja, di bilang cantik," timpal pak Ali.
"hahahahahaha!"
Tawa riuh terdengar dari kelima lelaki di pos ronda itu, seketika suasana tempat itu menjadi gaduh.
Tiba-tiba angin berhembus sangat kencang, membuat kelima lelaki itu menggigil kedinginan.
"Kok tiba-tiba jadi dingin gini sih," kata Parto.
"Iya nih, perasaan tadi biasa saja," pak Ali menimpali.
Sedangkan kedua pemuda lainnya hanya diam dan menyimak saja, karena mereka itu memang terkenal pendiam.
Tomo, pemuda indigo itu tampak tenang, sebenarnya dia sudah tahu, kalau Nila bukan manusia biasa, melainkan Bidadari, hanya saja Tomo sengaja tak memberitahu mereka karena Tomo takut mereka semua akan ketakutan dan tak ada yang mau jaga ronda.
"Tapi kalau di lihat-lihat, perempuan itu bukan asli sini ya?" tanya Parto.
"Iya ya To, tapi.. ngapain dia malam-malam begini, jalan sendirian," ujar pak Ali.
"Ah sudahlah, nggak baik kepo sama urusan orang lain, mungkin saja dia baru pulang dari mana gitu," sambung Tomo.
Parto dan pak Ali pun terdiam seketika.
Dan seketika itu juga, angin dingin yang tadi berhembus kencang kini telah berhenti.
Nila masih berjalan-jalan di sekeliling tempat itu, dan dari arah yang berlawanan lewatlah seorang perjaka berparas tampan memakai ikat kepala berbahan kain berwarna hitam.
Mereka berdua berpapasan.
Nila menghentikan langkahnya, begitu pula dengan perjaka tersebut.
"Wahai Bidadari, mengapa kau berkeliaran di bumi? Bukankah tempatmu di Kahyangan?" tanya perjaka itu dengan sopan.
"Cih, banyak sekali manusia indigo di bumi ini," batin Nila.
"Bukan urusanmu," jawab Nila spontan.
"Memang bukan urusanku, tapi kamu sudah membuat sebagian warga di sini menjadi resah, maka dari itu, ini akan menjadi urusanku," sahut perjaka itu dengan tenang.
"Terus, apa yang kau mau?" tanya Nila.
"Sebaiknya, kamu kembali ke tempat asal mu, sebelum terjadi kesalahpahaman antar warga di sini, karna kehadiranmu yang misterius ini," timpal perjaka itu.
"Kau tidak tahu kan, apa sebabnya aku tinggal di sini? Sebenarnya, aku pun tidak suka tinggal di bumi ini, semua serba membingungkan," ujar Nila dengan mimik wajah tak bersahabat.
"Katakanlah, apa masalahmu?" tanya perjaka itu.
"Aku tersesat, dan tak bisa pulang karna selendangku hilang, sehingga aku tak bisa pulang ke kahyangan," tutur Nila.
"Kenapa bisa begitu?"
"Ceritanya panjang," sahut Nila.
"Memang hilang di mana, selendang itu?"
Nila pun menceritakan kejadian yang dia alami sejak awal di hutan hingga bertemu Franky.
"Jadi, tanpa selendang itu, aku tidak bisa kembali ke Kahyangan, sedangkan aku tak ingin berada lama-lama di bumi ini, kau pikir aku senang tinggal di sini," ujar Nila.
"Ya sudah kalau begitu, semoga cepat ketemu selendang kamu itu, jaga baik-baik Franky, dia warga paling baik di sini, kasihan dia baru saja kehilangan anak dan istrinya."
"Sebaiknya, kita cari tempat duduk, biar enak ceritanya, kaki aku sakit sekali berdiri terus, huft," keluh Nila.
"Siapa suruh berdiri terus," seloroh perjaka itu.
"Hem, mau buli aku?" telaah Nila.
__ADS_1
Perjaka itu hanya tersenyum kemudian mengajak Nila duduk di sebuah batu besar yang ada di sekitar tempat itu.
"Namaku Nila."
"Aku Joko," kata perjaka itu sambil mengajak bersalaman.
Nila pun menjabat tangan Joko.
"Dingin sekali tanganmu," gumam Joko dengan nada datar.
"Kau ini, seperti tidak pernah bertemu dengan makhluk halus saja, memang suhu tubuhku dingin, karna aku bukan manusia biasa," ujar Nila santai.
Joko terkekeh.
"Kamu sendiri, malam-malam begini dari mana?" Tanya Nila.
Aku baru pulang dari bertapa di Gunung S," jawab Joko.
"Biar kesaktianmu bertambah?" Terka Nila.
Joko tersenyum.
"Nah, itu kamu tahu, ya sudah, aku pulang dulu, kamu mau kemana lagi?" tanya Joko.
"Aku juga mau pulang, sepertinya sudah hampir pagi, aku hanya bosan di sini, perputaran waktu lama sekali," sahut Nila.
"Memang benar, kalau di alam gaib, waktu lebih cepat dari pada di dunia manusia, ya sudah, semoga selendang kamu cepat ketemu, sebenarnya selendang itu keberadaannya nggak jauh," ucap Joko yang kemudian segera berlalu dari hadapan Nila.
Nila tampak keheranan.
"Eh tunggu!" seru Nila.
Namun sayangnya Joko tak menghiraukan panggilan Nila, dia terus berjalan menembus kegelapan malam dan kemudian menghilang dari pandangan.
"Sial, dia tidak dengar lagi, eh.. tapi, apa maksud ucapan Joko tadi ya?" Tanya Nila kepada diri sendiri sambil terus berpikir.
"Ah sudahlah, pasti dia itu sok tahu huft," gumam Nila kemudian berjalan pulang ke kostnya.
Adzan subuh pun berkumandang.
Nila duduk sebentar di dalam kamarnya, perlahan langit mulai terang, waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi.
"Franky sudah bangun belum ya, aku akan memasak untuk dia, kasihan dia, tidak ada yang melayani," gumamnya.
Nila keluar dan berjalan menuju rumah Franky, tanpa disadari dari kejauhan pak Bani memperhatikan gerak gerik Nila.
"Dia bukan manusia biasa, tapi mau apa dia di dunia ini? Aku harus menyelidikinya, karna aku nggak ingin dia meresahkan warga sini," gumamnya dalam hati.
Sesampainya di rumah Franky, Nila masuk ke dalam kemudian dia berjalan menuju ke kamar Franky, dia mengintip melalui celah pintu yang sedikit terbuka.
Kemudian Nila berkomat-kamit membaca mantera untuk menghilangkan pengaruh ajian sirep miliknya yang telah membuat Franky tertidur.
Dalam sekejap saja, Franky membuka mata perlahan, Nila segera berlari ke arah dapur dan bersembunyi di dalam kamar mandi.
Franky duduk di atas kasur, wajahnya tampak kebingungan, dia melirik jam dinding yang melekat di tembok kamarnya.
"Jam enam lebih lima belas menit, aku tidur jam berapa ya? Sepertinya lama sekali," gumam Franky dalam hati.
Franky turun dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah dapur, dia tercengang melihat kondisi di dapur itu.
"Kapan Nila mencuci bajuku? Dia juga mencuci semua piring dan peralatan makan yang kotor, rajin sekali dia," batin Franky.
Kemudian Franky mengambil gelas dan membuat teh manis, lalu membawanya ke ruang depan, Franky duduk di ruang itu, tak terasa sinar matahari mulai menembus ke dalam jendela kaca rumah milik Franky.
Nila keluar dari kamar mandi, dia segera menyulap meja yang kosong, Nila mengarahkan kedua jari telunjuknya ke arah meja tersebut, kini meja yang semula kosong telah tersedia beberapa piring berisi sayuran dan lauk matang, serta buah-buahan segar.
Nila tersenyum puas, lalu dia berjalan ke ruang depan.
"Kau sudah bangun?"
Franky menoleh ke arah sumber suara itu, dia memperhatikan Nila dari ujung rambut hingga ujung kaki, netranya tak berkedip.
"Wah, bangun tidur saja tetap terlihat cantik seperti Bidadari," batin Franky.
"Di tanya, malah melamun," ketus Nila.
"Eh, iya La, kamu kok repot-repot mencuci baju sama merapikan rumahku, kalau capek nggak perlu di paksa, kamu istirahat saja di kost," kata Franky.
"Memangnya kenapa? Aku bosan hanya berdiam diri saja," sahut Nila dengan nada santai.
"Ya sudah, kalau itu mau kamu, yang jelas aku nggak pernah menyuruh kamu, untuk melakukan pekerjaan rumah," kata Franky.
"Aku pun tak pernah merasa di suruh kamu," balas Nila.
"Eh, aku buatkan teh manis mau?" tanya Franky.
"Boleh," jawab Nila.
Franky pergi ke dapur, dia menyeduh teh melati, kemudian membawanya ke depan untuk di berikan kepada Nila.
"Silahkan di minum," kata Franky sambil menyerahkan teh melati itu.
"Terimakasih," kata Nila.
__ADS_1
Erlangga tersenyum dalam anggukannya, kemudian Nila meminum teh tersebut.
"Hem, nikmat sekali, ini teh apa?" Tanya Nila.
"Itu teh melati," sahut Franky.
"Teh melati? Kenapa bisa seenak ini?" Ujar Nila keheranan.
"Karna di buat dari sari melati, di olah sebaik mungkin, dan.. jadi deh, cita rasa teh melati yang sangat enak," papar Franky.
"Ternyata, para manusia di bumi ini, sangat pandai ya," gumam Nila.
"Lho, memangnya kamu bukan manusia?" Seloroh Franky.
"Ups, aku hampir keceplosan lagi," ujar Nila dalam hati.
"Em, maksudku, di tempatku tidak ada teh melati, apa lagi teh seenak ini."
"Hah? Yang benar, teh ini di seluruh dunia ada lho," Franky meyakinkan.
"Mana aku tahu, nyatanya, aku memang tak pernah minum minuman seperti ini," sahut Nila cuek.
"Mungkin orang tua kamu nggak pernah beli," ujar Franky.
"Ya, bisa jadi," kata Nila kembali menyesap tehnya hingga habis.
"Kamu suka sama teh itu? Besok aku akan beli yang banyak, untuk stok di kost kamu, dan kamu bisa meminumnya setiap pagi, bagus lho teh itu, bisa buat kecantikan dan menjaga tubuh tetap langsing," kata Franky asal bicara.
"Hah? Buat kecantikan sama biar tetap langsing? Bukannya itu teh hijau ya?" heran Nila.
"Nah.. itu kamu tahu," kelakar Franky.
Nila menepuk keningnya.
"Aku suka dengar-dengar saja dari orang, tapi belum pernah minum,"
"Maksud aku teh hijau hehe," Franky terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.
"Tadi, kamu bilang teh melati," ujar Nila.
"Hehe.. lupa," Franky meringis salah tingkah.
Nila merasa gemas dengan tingkah manusia di dekatnya itu.
"Kamu sudah lapar belum? Tanya Nila.
"Mungkin sebentar lagi, ini baru minum teh, biar perutnya terasa hangat."
"Baiklah, kamu duduk-duduk dulu, kalau lapar bilang ya," kata Nila.
"Bukanya aku geEr, tapi, pasti kamu akan memasak lagi buat aku, kamu kalau capek, duduklah dulu, jangan terlalu di paksa," Franky berusaha menghalangi rencana Nila.
"Memangnya, aku habis ngapain, kok capek, orang aku baru saja bangun tidur," ujar Nila.
"Maksud aku, kalau malas masak, kan bisa beli di warung La."
"Justru aku sebenarnya tidak suka makan di warung, lebih enak makan di rumah, masakan sendiri, lebih puas gitu," kata Nila tak mau kalah.
"Berarti kita sama La."
"Sama apanya Fran?" Tanya Nila.
"Aku dulu lebih suka makan masakan istriku," sahut Franky.
Nila terdiam.
"Maaf, bukan maksudku mengungkit soal istriku, tapi, itu..." ucapan Franky terhenti.
Nila tersenyum.
"Tidak masalah Fran, aku juga tidak mempermasalahkan itu kok," kata Nila mencoba mendinginkan suasana.
Akhirnya Franky pun ikut tersenyum.
"Ya sudah, yuk kita makan," ajak Nila, dia pun membalikkan tubuhnya dan hendak berjalan ke arah dapur.
Namun Franky segera menghampirinya dan menangkap tangan Nila.
Seketika Nila tersentak karena terkejut.
Dia menatap Franky, jarak wajah mereka berdua sangat dekat sekali.
Jantung Franky berdetak kencang, dia sungguh kagum dan terkesima oleh kecantikan Nila.
Begitu pun dengan Nila, perasaannya tak menentu, dia menatap Franky dalam-dalam, hatinya berdesir halus.
Perlahan Franky mendekatkan bibirnya hingga melekat di kedua bibir milik Nila, Franky pun memagutnya.
Akhirnya kedua insan itu, saling berpagutan dengan mesra.
Cukup lama mereka saling memagut, akhirnya Nila mendorong wajah Franky dengan lembut, supaya menjauh dari wajahnya.
"Sudah, ayo kita makan, setelah itu, kamu pergi mandi, biar segar," kata Nila.
__ADS_1
Franky mengangguk sambil terus menatap wajah Nila, sedangkan Nila segera berlalu dari hadapan Franky, menuju ke dapur di ikuti Franky mengekor di belakang.
"Ya ampun, perasaan apakah ini? Apakah aku benar-benar telah jatuh cinta dengan manusia ini, aku bingung, di sisi lain, aku ingin segera menemukan selendang itu, tapi di saat ini, aku seperti berat untuk meninggalkan Franky," batin Nila.