Pulau Abadi

Pulau Abadi
Nyaris Saja


__ADS_3

"Ya nggak enak lah, Le, habis makan masa nggak dicuci."


"Ah kamu ini, Fran, nggak enak gimana, masa tamu suruh nyuci piring."


"Tamu apa, Le, tamu tak diundang ya haha!" Franky tertawa terpingkal.


"Sudah ayo sini, kita nonton tivi." Leon bersikeras.


Akhirnya, Franky mengikuti Leon ke ruang tengah.


"Eh, Fran, aku kemarin beli kaset dvd nih, kita coba tonton yuk," kata Leon sambil mengambil sebuah kaset dari dalam lemari kecil yang di pakai untuk menaruh televisi.


"Kaset apa, Le?"


"Kaset film lah, Fran."


"Maksudnya, film apa?


"Ini, ada judulnya."


Leon membaca judul yang tertera di kaset itu. "Inem Pelayan Sexy"


"Wah, judulnya menggiurkan nih, Fran, sepertinya cerita tentang percintaan."


"Ah nanti kamu baper, Le."


"Nggak apa-apa lah, Fran, buat hiburan kita para jomblo, hehe ...." Leon terkekeh.


"Kamu ini ada-ada saja, Le, ya sudah diputar, Le."


"Iya, Fran,"


Leon pun pun memutar kaset dvd tersebut, kemudian duduk di sebelah Franky. Dan film pun diputar. Franky dan Leon menyaksikan dengan seksama.


Film pun dimulai, di dalam adegan itu, tampak seorang wanita tengah tidur pada malam hari. Suasana saat itu sungguh mencekam, dan wanita yang sedang tidur itu, terlihat gelisah dalam tidurnya.


"Itu film apa sih, Le? Kok nggak sesuai sama judulnya?" Franky merasa heran.


"Iya nih, Fran, aku juga baru nonton pertama kali ini, aku baru beli kemarin, tapi belum sempat nonton."


"Ya sudah coba dilihat dulu, film apa itu?"


"Iya deh, Fran."


Tiba-tiba, wanita yang sedang tidur itu terbangun, dia mendengar suara-suara aneh. Wanita itu bangun dari tidurnya, membuka pintu, dan memeriksa keluar, mencari sumber suara yang dia dengar.


Wanita itu, kini berada di luar kamar, dia terus berjalan, dan dia mendengar kalau suara itu berasal dari arah kamar mandi.


Wanita itu pun berjalan menuju kamar mandi, dia membuka pintu kamar mandi itu, dan adegan yang tak diduga pun terjadi, dari dalam kamar mandi, keluarlah sebuah kepala menyembul, kepala itu terpental hingga keluar dari dalam televisi.


Franky dan Leon terkejut bukan main, dan bertepatan dengan itu, televisi pun mati seketika.


"Apa itu tadi yang keluar, Le?" tanya Franky dengan raut wajah kebingungan.


"Nggak tahu, Fran, seperti bola ya, tapi ke mana ya, perasaan tadi keluar dari tivi, tapi kok langsung hilang." Leon tak kalah ketakutan.


"Sudahlah, Le, jangan diteruskan nontonnya."

__ADS_1


"Iya, Fran, eh ... tapi kok tivinya mati sendiri ya?"


"Nggak tahu, Le, mungkin konslet."


"Iya, mungkin juga ya, kita jalan-jalan ke luar saja yuk, cari udara segar, lagian ini sudah hampir sore."


"Boleh deh, Le."


Franky dan Leon pun keluar rumah, mereka berjalan ke halaman belakang rumah Leon.


Di halaman itu sangat sepi, tak ada seorang pun di tempat itu. Leon mengajak Franky duduk di sebuah batu besar, yang ada di halaman itu.


"Kok sepi sekali ya, Le, padahal belum terlalu sore lho ini."


"Iya nih, Fran, biasanya banyak anak kecil main-main di sini, terus ada ibu-ibu juga yang ngajak anaknya main-main di sini, tapi kok, ini sama sekali nggak ada orang satu pun ya."


"Siapa bilang, Le?"


"Ya memang benar kan, Fran?"


"Kamu pikir, kita ini bukan orang ya, Le?"


"Hahaha, maksud aku, nggak ada orang selain kita, Fran."


"Ya sudah biarkan saja, Le, mungkin mereka sedang malas keluar."


"Iya, Fran ...."


Tiba-tiba, di hadapan mereka berdiri sosok wanita, mengenakan pakaian berwarna serba hitam. Franky dan Leon terkejut, mereka pun saling berpandangan.


"Kamu siapa?" Leon memberanikan diri bertanya kepada wanita itu.


"Mau tahu, siapa aku?" tanya wanita itu.


Franky dan Leon mengangguk.


"Ayo ikuti aku." Wanita itu pun berjalan menjauhi Franky dan Leon.


Sedangkan Franky dan Leon mengikuti wanita itu, berjalan lurus ke arah depan. Beberapa langkah mereka berjalan, sebuah panggilan menghentikan langkah kaki mereka.


"Tunggu!"


Franky dan Leon menoleh ke arah sumber suara. Kiyai Romli telah berdiri di belakang mereka.


"Pak kiyai," ujar Leon.


"Kalian sedang apa di sini?" tanya kiyai Romli.


"Eh ini, kita sedang berjalan-jalan, menghilangkan jenuh, pak kiyai," sahut Leon.


"Kalian ini aneh, sudah malam begini, kenapa jalan-jalan di belakang rumah, yang namanya jalan-jalan ya ke mall, alun-alun, atau kemana gitu," ujar kiyai Romli.


"Hah? Sudah malam? Tapi ini kan masih sore pak kiyai," tutur Leon heran.


Kiyai Romli memperhatikan kedua pria itu dengan seksama.


"Rupanya indera kalian sedang ditutup, ada sosok yang sengaja menutup untuk menyesatkan kalian," gumam kiyai Romli.

__ADS_1


Lagi-lagi, Franky dan Leon saling berpandangan.


"Maksud pak kiyai apa ya?" tanya Leon memastikan.


"Sekarang sudah jam dua belas malam," kata kiyai Romli.


"Apa?" ucap Franky dan Leon secara bersamaan.


Kiyai Romli mengangguk.


"Tapi, ini masih terang pak kiyai, bagaimana mungkin sudah jam dua belas? Kita juga tadi sedang mengobrol sama perempuan," papar Leon, sambil menunjuk ke sudut halaman itu.


"Dia bukan manusia, tapi dia adalah makhluk halus yang ingin menyesatkan kalian," tutur kiyai Romli.


Franky dan Leon masih belum percaya, akhirnya kiyai Romli mengusap wajah Franky dan Leon.


Dan seketika, Franky dan Leon terbelalak. Saat itu, hari sudah gelap, suasana pun sepi mencekam. Pandangan netra Leon tertuju ke sudut halaman, dia seolah sedang mencari wanita yang baru saja ditemui, Leon merasa heran, karena wanita itu, tak tampak batang hidungnya.


"Ya sudah, ayo kalian saya antar pulang," kata kiyai Romli.


Franky dan Leon berjalan mengekor di belakang kiyai Romli. Lima menit kemudian, mereka tiba di rumah Leon. Mereka disambut oleh Nurdiana.


"Kalian ini, dari mana saja, kok jam segini baru pulang?"


"Memang, ini jam berapa tante?" tanya Leon.


"Jam dua belas."


"Hah?" Leon membelalakan matanya.


"Kok bisa ya, Fran?" Leon bergumam kepada Franky.


"Entahlah, Le, aku juga bingung," sahut Franky.


Nurdiana merasa heran, karena mereka pulang bersama kiyai Romli.


"Kok, mereka bisa sama pak kiyai?"


"Kebetulan, saya tadi hendak menutup pintu rumah saya, dan nggak sengaja saya melihat mereka berjalan, tapi pandangan mereka kosong, dan saya jadi curiga, seperti ada yang aneh dengan mereka berdua. Lalu saya ikuti saja mereka, dan ternyata mereka diajak bermain sama lelembut."


"Apa?" Nurdiana bergidik ngeri.


"Ya sudah, saya permisi dulu, Mbak," kata kiyai Romli.


"Eh, iya Pak kiyai, silahkan, terimakasih sudah membawa mereka pulang."


Kiyai Romli mengangguk. "Lain kali, kalian hati-hati, dan ingat, jangan suka melamun."


Kemudian kiyai Romli berlalu dari hadapan Nurdiana dan kedua pria itu, dia pulang ke rumahnya, yang hanya bersebelahan dengan rumah Nurdiana.


"Ayo masuk, lho, Franky, kamu belum pulang?"


"Ya belum nyonya, tadi saya pikir masih siang, jadi saya ngobrol dulu sama Leon, eh nggak tahu tiba-tiba saja, kita sudah ada di belakang rumah," sahut Franky.


"Iya tante, tadi tuh kita berencana jalan-jalan saja di belakang rumah. Lagi pula, tadi tuh masih siang kok tante, ya kan, Fran?"


Franky mengangguk, membenarkan ucapan Leon.

__ADS_1


Nurdiana mengerutkan keningnya. "Kok bisa ya?"


__ADS_2