
"Masakan kamu benar-benar menggugah selera, baru kali ini saya mencicipi masakan seenak ini, dan kamu saya terima bekerja di sini, mulai hari senin, kamu bisa langsung ke sini, stay jam sepuluh pagi pulang jam sepuluh malam, saya minta, berikan pelayanan terbaik untuk para pelanggan," kata pak Beni."
Kemudian pak Beni menjelaskan sekalian upah kerja yang akan di terima Leon per bulannya.
Leon terbelalak mendengar jumlah nominal gajih yang akan di terimanya.
"Eh ba.. baik pak, terimakasih, kalau begitu saya pulang dulu, mau menyiapkan segala sesuatunya," kata Leon.
"Baiklah kalau begitu, hati-hati."
Leon pun keluar dari hotel, dia mengemudikan mobilnya menuju warung makan, karena perutnya berasa lapar.
Sampai di sebuah warung yang tak jauh dari Hotel Merpati, Leon menemukan sebuah warung makan sederhana, dia pun singgah sejenak.
"Permisi bu," sapa Leon.
Ibu pemilik warung tersenyum ramah, dia di temani oleh anak perempuannya yang juga seumuran dengan Leon.
"Silahkan, ambil sendiri apa yang mau di makan, Mas," kata pemilik warung itu.
Leon mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauk, tak lupa dia memesan minuman.
"Dari mana Mas? Sepertinya, Mas ini bukan asli sini," tanya ibu pemilik warung itu.
"Saya dari kota yang jauh bu, ini saya baru saja melamar kerja di Hotel Merpati," kata Leon.
Seketika raut wajah ibu pemilik warung itu menjadi ketakutan.
"Hotel Merpati? Mas nggak salah bicara?"
"Iya Bu, Hotel Merpati, masa Ibu nggak tahu," sahut Leon.
"Mas, Hotel Itu kan belum di bangun lagi, tempatnya saja hancur, terbakar beberapa bulan yang lalu, dan Mas kerja apa di sana?"
"Hah? Yang benar Bu? Saya baru saja dari sana, tempatnya bagus kok, saya juga di tes memasak sama pak Beni, manager Hotel itu, katanya masakan saya enak, dan saya di terima kerja mulai hari senin," Leon menjelaskan.
Ibu pemilik warung itu bertambah terkejut ketika Leon menyebut nama pak Beni.
"Apakah benar, kamu bertemu dengannya, dia itu salah satu korban kebakaran di Hotel itu."
"Tapi.. saya tadi ketemu dia, masih sehat gitu kok," bantah Leon.
Ibu pemilik warung dan anak perempuannya saling berpandangan kemudian mereka saling mengangkat bahunya.
Selesai makan, Leon membayar lalu berpamitan untuk meneruskan perjalanannya.
"Kalau saran ibu, sebaiknya Mas batalkan niat untuk bekerja di tempat itu, sebelum nanti menyesal," perintah ibu pemilik warung sambil menerima uang yang di berikan Leon.
Leon terdiam sejenak...
"Ibu ini apaan sih, orang mau kerja di larang-larang," batin Leon.
"Ya sudah, saya permisi bu," kata Leon.
"Iya Mas hati-hati, kalau lewat di jalan sempit yang ada jembatan kecil, beri salam atau setidaknya mengklakson lah," pesan ibu pemilik warung.
Leon mengangguk, kemudian berlalu meninggalkan warung itu.
"Kok bisa, dia ke Hotel itu, padahal hotel itu kebakaran dan bangunannya hancur, sampai sekarang belum di bangun lagi, dan yang lebih mengenaskan lagi, semua penghuni hotel itu nggak ada yang selamat," tutur anak ibu pemilik warung.
"Sudah, biarkan saja, kita jangan ikut campur urusan orang lain, lagi pula kita sudah memperingatkan dia, terserah dia mau bagaimana," kata ibu pemilik warung.
Sementara Leon masih berada di sekitar tempat itu, dia berencana mencari kos atau kontrakan terlebih dahulu.
Leon mendatangi salah satu rumah warga di tempat itu, dan mengetuk pintu.
Pintu terbuka, salah seorang wanita berusia kisaran tiga puluh tahunan keluar.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Maaf bu, saya mau tanya, apakah di dekat sini ada rumah kontrakan atau kos gitu?" tanya Leon.
"Ada, tapi di seberang sana," jawab wanita itu sambil menunjuk ke suatu tempat.
"Kalau begitu terimakasih bu," kata Leon.
Wanita itu mengangguk, dan leon pun naik ke mobilnya.
Leon sampai di sebuah tempat yang mirip dengan kos-kosan, dan di sebelahnya terdapat rumah biasa, Leon berjalan mendekati rumah tersebut, kemudian dia mengetuk pintu.
Tak lama, pintu terbuka, keluarlah seorang wanita paruh baya.
"Apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita itu dengan nada datar, dia menyalami Leon.
"Kenapa ya, tangan orang-orang di sini dingin-dingin, padahal udara di sini sangat panas," gumam Leon dalam hati.
"Begini bu, saya mau kost, apakah masih ada kamar yang kosong?" tanya Leon.
"Kebetulan, masih ada satu kamar," jawab wanita itu, lalu dia mengajak Leon untuk melihat kamar kostnya.
"Wah, cocok nih buat aku," gumam Leon dalam hati sambil melihat-lihat kamar kos itu.
"Bagaimana? Apakah Mas berminat?" tanya wanita itu.
"Ya, saya mau kamar ini, saya bayar sekalian untuk tiga bulan," kata Leon sambil menyerahkan sejumlah uang sesuai harga kost per bulannya kepada wanita itu.
Wanita itu menerima uang itu dengan pandangan kosong.
__ADS_1
Ya sudah saya permisi dulu bu, besok senin saya kesini lagi," kata Leon.
Wanita itu mengangguk, kemudian Leon naik ke mobil untuk melanjutkan perjalanan pulang.
Sampai di tengah perjalanan, Leon kembali bertemu dengan seorang kakek tua berbaju putih yang Leon temui sewaktu berangkat ke tempat itu.
Kake itu berdiri di tengah jalan, membuat Leon menghentikan mobilnya.
Leon membuka kaca mobilnya.
"Ada apa kek?" tanya Leon sopan.
"Sebaiknya, jangan kembali ke tempat ini lagi," kata kakek itu dengan nada datar.
"Maaf kek, saya ke sini mencari pekerjaan, permisi," kata Leon, kemudian mengendarai mobilnya, dia terkejut karena kakek tersebut sudah menghilang seketika.
"Aneh, kenapa kakek itu cepat sekali hilangnya," batinnya.
Namun Leon tak mempermasalahkan hal itu, dia terus mengemudikan mobilnya.
Beberapa jam kemudian, Leon pun sampai di rumahnya, dan hari menjelang malam.
"Bagaimana Le? Apakah kamu di terima kerja?" tanya Nurdiana.
"Alhamdulillah tante, hari senin aku berangkat, dan aku juga sudah dapat kost di dekat tempat kerja," jawab Leon.
"Syukurlah Le," kata Nurdiana dengan raut wajah ceria.
"Tante, aku ke tempat Franky ya," kata Leon.
Nurdiana mengangguk.
Leon pun mengemudikan mobilnya menuju ke rumah Franky.
"Halo Ngga, apa kabar?"
"Eh Le, kabar baik, kamu dari mana malam-malam begini?" tanya Franky.
Leon pun menceritakan tentang pekerjaan barunya.
"Wah syukurlah Le, kalau kamu sudah dapat pekerjaan."
"Iya Fran, eh.. Nila itu misterius sekali ya," ujar Leon.
"Misterius bagaimana Le?" heran Franky.
"Percuma juga aku bicara, kalau orang sedang kasmaran, di kasih tahu cerita apa pun, dia nggak akan percaya hehehe," Leon terkekeh.
Franky hanya tersenyum.
"Em, boleh juga tuh, aku rencana mau buat buku baru nih, butuh tempat yang tenang, tapi aku ajak Nila gimana?"
"Nggak apa-apa, tapi tolong bilang ke dia, jangan sinis-sinis sama aku, takut nih, suruh yang ramah lah," seloroh Leon.
"Yeee, kamu ini Le, dia itu orang baik dan lembut," Franky tertawa kecil.
"Tapi kemarin, aku lihat dia kok seram sekali," ujar Leon.
Tiba-tiba angin dingin berhembus kencang menerpa wajah Leon.
"Kok, mendadak aku jadi dingin begini," gumam Leon heran.
"Ah, mungkin itu hanya perasaan kamu saja Le," kata Franky.
"Eh, iya mungkin, hehe, jadi bagaimana besok senin, kita berangkat bersama, kamu setuju kan, pakai mobil aku saja, biar nggak ribet," ujar Leon.
"Oke, nanti aku bicarakan sama Nila, senin kamu bisa jemput aku, minggu nya aku siap-siap," sahut Franky.
"Oke Fran, eh aku lapar nih, cari makan yuk," ajak Leon.
"Kamu tuh, hobi sekali makan Le, pantas saja badan kamu gendut gitu," cibir Franky.
"Ini sudah malam, aku baru makan terakhir siang tadi," kata Leon sambil meringis.
"Memangnya, kalau nggak makan kenapa Le?"
"Ya lapar lah, kalau lapar nanti tidur nya nggak pules hehe."
Franky tersenyum geli melihat tingkah Leon.
"Ada tamu rupanya," kata sebuah suara.
"Nila? Kamu dari mana, dan mau kemana? Ini sudah malam lho, kenapa kamu nggak di kost saja, untuk beristirahat?" tanya Franky.
"Jalan-jalan, cari udara segar," sahut Nila.
"Malam-malam kok jalan-jalan, udara segar tuh adanya pagi kali," cibir Leon.
"Suka-suka aku dong," kata Nila ketus.
"Dih, jangan galak-galak dong neng, aku jadi takut nih hehe," Leon terkekeh.
Sebenarnya Leon sedang menahan rasa takut, lantaran saat berdekatan dengan Nila, bulu kuduk Leon selalu meremang.
"Siapa yang galak? Biasa saja tuh," cibir Nila.
"Kalian ini, seperti anjing sama kucing saja, berantem terus."
__ADS_1
"Iya, aku kucingnya, kan aku lucu," kata Leon sambil memasang wajah sok imut.
"Hahaha, kucing garong percaya aku," ejek Nila.
"Sudah-sudah, jangan ribut, jadi makan nggak?"
"Ya jadi lah, cacing di perut aku sudah demo," kelakar Leon.
"Kamu ikut nggak La? Kita mau pergi makan," tanya Franky.
"Boleh deh, kebetulan, aku sedang jenuh juga," sahut Nila.
"Tapi, kamu makannya jangan banyak-banyak, nanti jadi gendut, nggak cantik lagi deh," ledek Leon.
"Bukan urusan kamu!" seru Nila.
"Sudah-sudah, kalian ini berantem terus, malu di lihat orang," Franky melerai.
Mereka bertiga masuk ke dalam mobil, Franky mengendarai mobilnya menuju warung makan lesehan.
Mereka berdua masuk, Leon segera memesan makanan dan minuman.
Beberapa saat kemudian, makanan yang mereka pesan datang, ketiga insan tersebut segera menikmatinya.
Sementara di dapur, terjadilah percakapan antar pelayan warung tersebut...
"Eh, aku kok merasa aneh," kata seorang pelayan.
"Aneh bagaimana?" tanya pelayan satunya.
"Coba kamu lihat, tiga orang yang sedang makan di sebelah pojok itu, nah yang perempuan itu sedikit aneh."
"Aneh bagaimana?" tanya pelayan satunya merasa heran.
"Aku nggak tahu juga, apa yang aneh dari dia, tapi waktu aku berdekatan sama dia, aku langsung merinding gitu," jawab pelayan itu.
"Masa sih, cantik gitu kok, apa mungkin dia jelmaan hantu atau kuntilanak?"
Seketika angin dingin menyeruak masuk ke dalam dapur, dan menerpa wajah kedua pelayan tersebut.
"Kok tiba-tiba jadi dingin ya," lirih pelayan satunya.
"Iya nih," sahut pelayan lainnya.
"Sudahlah, kerja lagi yuk, nggak baik gibahin orang," ujar pelayan satunya.
Kedua pelayan itu pun melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.
"Kok nggak di habiskan makannya La?" tanya Franky.
"Aku sudah bilang, aku harus menjaga pola makanku, biar badanku tetap ideal," jawab Nila cuek.
"Makan tinggal makan, pakai diet segala, nanti tambah tipis seperti triplek baru tahu rasa," ejek Leon.
"Biarin saja, dari pada kamu seperti gentong begitu hahahaha!" Nila tertawa menggelegar membuat semua orang yang berada di warung itu bergidik ngeri.
"Ketawa kok seperti kuntilanak," bisik salah seorang pengunjung kepada orang yang berada di sampingnya.
Seketika Nila menoleh dan melirik sinis ke arah orang tersebut.
Melihat lirikan sinis Nila, orang itu langsung menundukkan kepalanya.
Selesai makan, Leon membayar.
"Mas, itu siapa sih?" tanya pelayan itu sambil menerima uang dari Leon.
"Memangnya kenapa? Kamu pasti merinding ya, sama aku juga hehe, dia pacarnya temanku, entahlah nemu di mana," Leon pun pergi.
Kedua pelayan itu saling berpandangan lalu mengangkat bahu mereka masing-masing.
Leon kemudian mengantar Franky dan Nila sampai di rumahnya.
"Aku langsung pulang, besok senin aku kesini jemput kamu," kata Leon.
"Nggak tidur di sini saja? Ini sudah malam Le," kata Franky.
Leon menggeleng.
"Memangnya kenapa kalau sudah malam?"
"Kamu nggak takut di jalan?" tanya tanya Franky.
"Justru aku lebih takut, kalau menginap di rumah kamu, hehe," Leon terkekeh sambil melirik ke arah Nila.
Nila pun membalas Leon dengan lirikan tajamnya.
Leon bergidik ngeri.
Franky mengajak Nila turun dari mobil.
"Terimakasih Le, sudah ajak makan kita."
"Sma-sama," sahut Leon.
Mobil Leon perlahan melaju, hingga akhirnya menghilang dari pandangan.
Franky mengantar Nila pulang ke kostnya.
__ADS_1