
Kemudian, Franky dan Nila menikmati hidangan yang telah tersaji.
Franky merasa heran, sebab setiap kali melihat Nila makan, porsinya sedikit sekali, bisa di bilang hanya dua suapan saja.
"Kamu kalau makan kok sedikit sekali La? Memangnya kenyang?"
"Iya Fran, Bidadari tidak boleh makan terlalu banyak, nanti bisa mengantuk, dan kalau sudah ketiduran, pasti susah bangun, bisa berbulan-bulan."
"Hah? Bidadari?"
Nila menepuk keningnya.
"Duh, kenapa sih aku selalu keceplosan," batinnya.
"Eh, itu.. maksudnya aku itu ingin sekali badannya seperti artis, langsing dan ideal gitu," Nila mencari alasan!
"Kamu itu La, badan kamu sudah oke banget kok."
"Ah.. kau bisa saja, sudahlah tidak perlu mempermasalahkan porsi makan ku, mau banyak atau sedikit, bukankah perutku sendiri yang merasakan," kelakar Nila.
"Oke deh, oh iya La, apakah kamu sudah siap? Kita akan pergi bersama Leon, dia hari ini berangkat kerja, aku juga mau bikin novel lagi."
"Iya, aku selalu siap kapan pun."
"Ya sudah, nanti selesai makan, kamu mandi ya."
Nila mengangguk.
Terus, kostnya tidak di terusin?"
"Sementara berhenti dulu, besok kalau sudah kembali kesini, kamu busa kost lagi, aku menyuruh kamu tinggal di kost untuk menghindari fitnah warga, kamu paham maksud aku?"
"Iya, aku tahu kok, kalau laki-laki dan perempuan belum nikah, tidak boleh tinggal satu rumah 'kan?"
"Nah, pinter," kata Franky sambil mencubit hidung mungil Nila.
Nila tersipu malu, kemudian dia pulang ke kostnya untuk mandi dan mempersiapkan segala sesuatunya.
Dia pun berpamitan kepada pak Bani, bahwa dia tidak meneruskan masa kostnya.
"Memangnya, mau pindah kost di mana?" tanya pak Bani.
"Saya tidak pindah kost, hanya saja, ada suatu urusan di tempat yang jauh," sahut Nila berbohong.
"Maaf, kalau nggak keberatan, bisakah kita mengobrol sebentar?"
Ucapan pak Bani membuat Nila tak tenang.
"Duh, dia pasti mau menanyai asal usulku, dia kan punya indera ke enam," batin Nila.
"Maaf pak, bukannya saya tidak mau, tapi saya sudah tidak ada waktu, mungkin lain kali kalau saya sudah kembali kesini."
Pak Bani hanya diam dan menatap tajam ke arah Nila, sedangkan Nila menurunkan pandangannya.
"Ya sudah, saya permisi."
Tanpa menunggu jawaban dari pak Bani, Nila segera berjalan menuju rumah Franky.
"Sepertinya, makhluk itu sedang mencari sesuatu di dunia ini," ungkap isi hati pak Bani.
Waktu menunjukan pukul setengah sembilan pagi, dan Leon baru saja tiba di rumah Franky.
Leon hendak masuk kedalam, namun baru saja dia hendak mengetuk pintu rumah, hawa dingin dirasakan oleh Leon, dia juga merasa ada yang meniup tengkuk lehernya, seketika bulu kuduk Leon meremang.
Leon menoleh ke belakang, dia hampir saja tersentak melihat Nila sudah berdiri di sana dengan senyuman khasnya.
"Kamu ini, selalu bikin kaget orang."
Nila terkekeh kemudian masuk ke dalam rumah, Leon yang menyaksikan hal itu hanya menggelengkan kepala sambil berjalan masuk ke dalam.
"Apa Leon sudah datang? Gumam Franky yang telah selesai mandi dan berpakaian.
__ADS_1
"Halo Fran, gimana? Apa kamu sudah siap?" tanya Leon.
"Eh kamu Le."
"Iya Fran, kamu sudah siap atau belum?"
"Sudah dong Le, ini baru selesai mandi, tunggu sebentar ya," ujar Franky.
"Santai saja Fran," kata Leon tenang.
"Oh iya, kita kan pergi naik mobil aku, terus kamu ke sini naik apa?" tanya Franky.
"Naik taxi," jawab Leon.
"Oh, naik taxi," Franky mengulangi kata-kata Leon.
La, kamu juga sudah siap?" Franky bertanya kepada Nila yang sedang duduk.
"Sudah," jawab Nila.
Franky masuk ke dalam kamarnya mengambil koper, kemudian membawanya keluar.
"Ya sudah, ayo kita berangkat Le," ajak Franky.
Franky mengeluarkan mobilnya dari garasi, kemudian memasukkan koper miliknya dan juga milik Leon.
Sedangkan Nila membawa tasnya yang berisi pakaian yang pernah dibelikan oleh Franky, dia duduk di dalam mobil sambil memangku tasnya.
Nila duduk di jok belakang.
Kemudian Franky dan Leon naik ke dalam mobil, mereka duduk di bagian depan.
"Eh, pacar kamu kok duduk di belakang Fran, ayo La, kita tukar tempat," ujar Leon sambil menoleh ke belakang.
"Duduklah yang tenang, di mana saja tidak masalah," sahut Nila dengan nada datar.
"Ya, tapi nggak perlu pakai jutek gitu kali, hahaha," Leon terbahak.
"Aku nggak pusing kok, kepalaku baik-baik saja," seloroh Leon sambil tersenyum dengan raut wajah di buat semanis mungkin.
"Dasar gila," gumam Nila.
"Lho, kalau waras, nggak mungkin ketemu kamu dong La, hehehe," kekeh Leon seolah merasa tak mempunyai dosa.
"Memangnya, siapa yang berharap bertemu gentong seperti kau? Jangan geEr," ujar Nila.
"Nggak apa-apa gentong, bisa buang angkut makanan banyak," kata Leon lagi.
"Cocoklah, otakmu isinya makanan saja, patutlah badanmu jadi gentong," sahut Nila tak mau kalah.
Franky terkekeh.
"Sudah, hop stop! Kalian ini, di mana saja selalu bertengkar," Franky tersenyum, merasa gemas dengan tingkah kedua temannya itu.
"Tuh, nona cantik duluan yang mulai," kata Leon dengan polosnya.
"Apa aku tidak salah dengar? Bukannya kau yang banyak berbicara?" ketus Nila.
"Hehe, bicara itu sehat," gumam Leon.
"Dasar tidak waras," gumam Nila lagi.
"Kan sudah kubilang, kalau aku waras, nggak bakal ketemu kamu weeek," cibir Leon.
Franky hanya tersenyum geli mendengar ucapan Leon.
Karena merasa kesal, diam-diam Nila menghembuskan udara dari mulutnya, tanpa sepengetahuan Franky dan Leon.
Tiba-tiba kedua pria itu merasa kedinginan.
"Kok tiba-tiba dingin ya Le, padahal aku nggak hidupin AC," gumam Franky.
__ADS_1
"Iya Fran, aneh sekali, panas begini, sinar matahari saja mulai menyengat," sahut Leon sambil mendekap tubuhnya sendiri.
"Hem, rasakan kau manusia banyak bicara," batin Nila menahan tawa.
Leon menoleh ke arah Nila.
"Kamu nggak kedinginan nona cantik?" tanya Leon penasaran.
"Kedinginan bagaimana? Jelas-jelas aku sehat begini, lagi pula cuaca panas, sungguh aneh kalau kau merasa kedinginan," cibir Nila.
"Terus, kamu pikir, aku sakit, gitu?"
"Pikir saja sendiri, kau kan punya otak, ya di pakai buat mikir, jangan buat koleksi makanan saja hahaha!" Nila tertawa menggelegar, membuat mobil yang di kendarai oleh Franky berguncang seketika.
"Lho, kok ada gempa," lirih Franky.
"Iya nih, kok mendadak bergetar gini," ujar Leon mengerutkan keningnya.
Nila diam sambil menahan tawa, dan seketika keadaan kembali seperti semula.
Di antara mereka pun tercipta keheningan, sedangkan Franky tetap fokus mengendarai mobilnya.
Beberapa jam kemudian, mobil Franky memasuki perbatasan kota L.
Tiba-tiba ada seorang kakek tua berambut putih berbaju serba putih dan tangan kanannya memegang tongkat, sama seperti yang Leon lihat tempo hari.
Kakek itu menyeberang tiba-tiba dan berhenti di depan mobil yang kendarai oleh Franky.
Franky mendadak menginjak rem mobilnya, seketika mobil pun berhenti.
"Lho, itu kan kakek yang waktu itu," gumam Leon.
"Kamu kenal Le?" Tanya Franky.
"Enggak sih Fran, hanya saja, dia menceramaihku, melarang aku ke kota L," ujar Leon.
"Memangnya kenapa Le?" heran Franky.
Belum sempat Leon menjawab pertanyaan Franky, kakek tua itu menghampiri mobil mereka dan mengetuk kaca pintu mobil itu.
Franky membuka kaca pintu mobilnya, dan terlihat jelas wajah kakek itu.
Ketika kakek itu hendak berbicara sesuatu, netranya mengarah kepada Nila, sementara Nila pun menatap tajam ke arah kakek tersebut.
"Syukurlah, kalau kalian ada yang menjaga, ya sudah hati-hati, semoga selamat sampai tujuan, dan kau, aku minta tolong jagalah mereka, karna di tempat itu, banyak sekali aura jahat yang mengincar mereka berdua," pesan kakek itu sambil menunjuk ke arah Nila.
Franky dan Leon saling berpandangan, kemudian mengangkat kedua bahunya masing-masing.
Nila terdiam tak menjawab sepatah kata pun ucapan kakek itu, dia hanya tersenyum sinis seakan sudah tahu maksud dari ucapan kakek tersebut.
Kakek itupun berjalan ke arah belakang mobil Franky, kemudian menghilang entah kemana.
Franky kembali melanjutkan perjalanannya.
"Eh Fran, maksud kakek tadi apa sih?" Tanya Leon yang masih penasaran.
"Aku juga nggak tahu Le," jawab Franky terus mengemudikan mobilnya.
Leon pun beralih menoleh ke arah Nila.
"Apa? Mau tanya sama aku? Makannya otak tuh buat mikir, jangan di isi makanan terus hahaha!" lagi-lagi Nila tertawa menggelegar membuat mobil dan seisinya berguncang sekali lagi.
"Hey nona cantik, berhentilah tertawa, tawa kamu mengandung bencana!" seru Leon memasang wajah serius.
Franky tak menghiraukan mereka berdua, dia tetap fokus mengemudikan mobilnya.
"Memang kenapa? Kau takut sama tawaku?" Nila tersenyum sinis.
"Yeee, ngapain juga takut, bukan takut sama orangnya tapi sama ketawanya," ujar Leon.
Nila tersenyum penuh makna.
__ADS_1