Pulau Abadi

Pulau Abadi
Obrolan Tiga Pria


__ADS_3

Franky pun segera beranjak dari tempat tidurnya, dia membukakan pintu kamarnya. Leon sudah berdiri di ambang pintu kamar.


"Lho kamu, Le?"


"Kamu seperti anak kecil saja, Frank, tidur siang segala."


"Justru aku baru bangun, Le."


"What? Busyet deh, Fran."


"Eh, kamu kok bisa masuk rumah aku, Le?"


"Lah, tadi aku ketok-ketok nggak di buka, terus aku iseng-iseng buka pintunya, eh ternyata nggak di kunci, Fran."


"Hah? Masa sih, Le?"


"Yeee, kamu lupa kunci mungkin, Fran."


Franky menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.


"Iya mungkin ya, aku lupa, tadi malam ngantuk sekali, ya sudah duduk dulu, Le, aku mandi sebentar, mau antar novel ku sama tante kamu."


"Kamu sudah buat novel baru lagi, Fran?"


"Sudah, Le, novel horor."


"Wih, serem dong, Fran," kelakar Leon.


"Ya namanya juga horor, ya pasti serem lah, Le."


"Hehe, iya juga ya, Frank." Leon terkekeh.


"Kamu mau minum teh nggak, Le? Aku buatkan sebentar."


"Nanti saja, Fran, selesai kamu mandi, kita minum berdua hehe."


"Huuu seperti sama pacar saja, minum berdua," cibir Franky.


"Lho, memang adanya hanya kita berdua kok, memang mau sama siapa lagi?"


"Sama aku, jadi bertiga."


Sebuah suara dari arah luar, membuat Franky dan Leon spontan menoleh. Saat itu, Joko sudah berada di depan rumah Franky sambil menarik senyum tipisnya.


Leon mengerutkan keningnya. "Siapa dia, Fran?"


"Oh iya, Le, kenalkan, ini Joko, pacar baru aku, eh ... salah, tetangga sebelah hehe."


"Kamu sudah bosan sama perempuan ya, Fran?" kelakar Leon.


"Hehe, bercanda lah, Le, sini Jok masuk, dari mana kamu?" ujar Franky kepada Joko.


"Dari rumah saja, Fran," sahut Joko sambil menyalami Leon dan berkenalan, kemudian duduk di sebelah Leon.


"Aku mandi sebentar ya, setelah itu aku buatkan teh melati, sambil ngobrol-ngobrol."


"Siap Ngga," sahut Joko antusias.


Franky pun menjalankan ritual mandinya. Sementara Joko dan Leon, tengah asik mengobrol.


"Kamu temannya Franky, ya?" tanya Joko.


"Bukan hanya sekedar teman, bahkan hampir seperti saudara sendiri," jawab Leon.


"Oh begitu, oh iya, apa kamu tahu tentang Franky?"


"Tentang Franky yang bagaimana?" Leon mengerutkan keningnya.


"Yang tingkahnya aneh gitu, deh."


"Oh itu, tentu saja sebagai teman dekat, aku sangat paham."


"Jadi kamu tahu, kalau si Franky diikutin makhluk halus?"


Leon terhenyak. "Ka-kamu juga tahu?"


Joko tersenyum penuh makna ....

__ADS_1


"Makhluk yang mengikuti dia itu adalah jin dari pulau abadi," ujar Joko tenang.


"Hah? Kamu tahu pulau abadi juga?"


"Hanya dengar-dengar saja, apa Feanky pernah pergi ke pulau abadi?"


"Pernah, justru aku yang mengantarkan dia, ya karna semenjak ditinggal istrinya, dia jadi terpukul, dan kehilangan konsentrasinya, sehingga novelnya selalu di tolak, karna nggak menarik gitu."


"Kasihan juga ya, kalau menurut aku, dia itu setelah ditinggal Soraya jadi aneh tingkahnya," kata Joko.


"Ya memang begitu, apa lagi setelah pulang dari pulau abadi."


"Eh, apa selama di pulau abadi, ada kejadian aneh?"


Leon pun menceritakan samua perihal mengenai pulau abadi dan hutan terlarang, serta tumbal pantai setiap tahunnya secara rinci kepada Joko.


"Hutan terlarang? Tumbal pantai?"


"Iya Jok, dan tahu nggak kamu, Angga juga sempat pingsan sekitar dua bulanan."


"Hah?" Joko terbelalak .... "Sebenarnya ada apa di dalam hutan itu?"


"Yang jelas ada kehidupan tak kasat mata, kata kiyai Romli, ulama di tempatku," ungkap Leon.


"Aku jadi penasaran ingin ke pulau abadi."


"Kalau menurutku, tempatnya sih asik, tapi angker."


"Memang kamu pernah diganggu makhluk halus di sana?"


"Kalau aku sih belum pernah, hanya saja, waktu kita pulang, kita mengalami kejadian-kejadian yang nggak masuk akal."


"Ya wajar saja, namanya juga tempat angker."


"Eh, Le, bagaimana, kalau kapan-kapan kita ke pulau abadi sama si Franky?"


"Ah, kamu saja deh, Jok, aku sudah kapok."


"Huuu, kamu itu, laki-laki tapi penakut," cibir Joko.


"Bukan takut, tapi nggak berani Jok, hehe."


Mereka berdua pun terkekeh.


Sementara itu Franky telah selesai mandi, kemudian pria itu menyeduh tiga gelas teh melati, kemudian membawanya ke ruangan di mana Leon dan Joko duduk.


"Wah, kalian sedang bicara apa? Sepertinya asik sekali."


"Ini si Joko, katanya punya pacar," seloroh Leon.


"Hah? Serius kamu, Jok?"


"Iya, Fran, pacar hayalan hehehe."


"Hem, kamu ini, ada-ada saja, ayo diminum ini, mumpung masih panas."


Mereka bertiga pun menikmati teh melati, yang masih panas itu.


"Eh Jok, tadi malam aku mimpi," kata Franky kepada Joko.


"Mimpi apa, Fran?" tanya Joko. Manik matanya menelisik wajah Franky.


"Mimpi Rinjani ...."


"Hah? Rinjani? Apa aku nggak salah dengar, Fran?" Leon terkesiap.


"Kamu kenapa, Le? Kok kaget gitu, dengar nama Rinjani?" Franky merasa heran dengan tingkah Leon.


"Eh, enggak kok, Fran, hehe."


"Hem, kamu ini, Le." Franky menggeleng.


"Franky mimpi Rinjani? Gawat, jangan-jangan, dia di ganggu sama hantu pulau itu lagi," gumam Leon dalam hati.


"Kamu mimpi di datangi Rinjani, Fran?" tanya Joko kepada Franky.


"Iya, Jok," angguk Franky.

__ADS_1


"Mimpi apa, kamu sama, Fran?" Joko merasa ingin tahu.


"Ah, ada deh," seloroh Franky.


"Hem, main rahasia-rahasiaan nih," kata Joko.


"Mungkin dia mimpi sedang bercinta sama Rinjani, Jok," sambung Leon.


Wajah Franky merah padam.


"Eh Jok, apa kamu ada acara?" Franky mengalihkan pembicaraan.


"Enggak, Fran, kamu kan tahu, aku orang santai, kan pengangguran, hehe," kekeh Joko.


"Memangnya, ada apa, Fran?" lanjut Joko lagi.


begini, aku nanti mau antar naskah ceritaku, apa kamu mau ikut? Kita sekalian jalan-jalan, aku bosan di rumah terus."


"Ya boleh deh, Fran. Oh iya, kapan-kapan kita ke pulau abadi yuk."


"Wah boleh juga tuh Jok, ayo, Le, kamu ikut juga ya."


"Ah nggak perlu ajak dia, Fran, orang penakut gitu." Joko mengejek Leon.


"Dari pada ketemu hantu Rinjani lagi, lebih baik aku tidur di rumah," ujar Leon.


"Hus, sembarangan kamu, Le, cantik gitu di bilang hantu."


Joko dan Leon saling berpandangan mendengar ucapan Franky, kemudian mengangkat kedua bahunya masing-masing, Joko pun menahan tawa.


Kejiwaan Franky memang sedikit terganggu, terkadang dia sadar, kalau Rinjani itu makhluk gaib, namun terkadang, dia pun menganggap kalau Rinjani adalah manusia sama seperti dirinya.


Setelah teh melati habis, Franky segera bersiap hendak ke tempat Nurdiana.


"Kamu naik apa, Le?" tanya Franky kepada Leon.


"Kebetulan aku naik taxi, Fran, kan mobilnya dipakai tante ke kantor."


"Ya sudah, kita bertiga naik mobilku."


Ketiga pria itu, keluar, dan menaiki mobil Franky. Dan, Franky pun mengemudikan mobilnya, sambil bersiul-siul dengan riang.


"Sepertinya ada yang kasmaran nih," ledek Joko.


"Ya iyalah, sudah didatangi lewat mimpi juga," sambung Leon.


Franky kembali tersipu. "Kalian ini, suka sekali menggodaku."


Leon dan Joko terkekeh.


"Eh, Fran, makan dulu yuk," ajak Leon.


"Iya, Le, memang aku mau ke rumah makan dulu, karna aku tahu, kalau kamu belum makan," kelakar Franky.


Joko terbahak ....


"Kamu jangan kaget, Jok, dia itu nggak bisa jauh-jauh dari yang namanya makanan."


Leon tersipu.


"Kamu mau makan di mana, Le?" tanya Franky.


"Kita cari warung tongseng kambing yuk," ajak Leon.


"Kalau aku sih oke saja, nah itu si Joko, mau apa enggak? Dia kan vegetarian."


"Eh, akau ngikut kalian saja, Fran."


"Tapi kan kamu nggak suka daging-dagingan, Jok," ujar Franky.


"Ya jelas, aku nggak suka daging-dagingan, dan aku yakin, kamu juga pasti nggak suka daging-dagingan kan?"


"Aku suka sih, Jok, kamu itu yang nggak suka," sahut Franky.


"Hah? Kamu suka daging-dagingan, Fran?"


"Iya Jok, memang kenapa?" Franky merasa heran, dengan perkataan Joko.

__ADS_1


"Kalau aku lebih suka daging betulan, ya kali kita mau makan daging mainan," kelakar Joko.


Lima menit kemudian, baru pada paham ....


__ADS_2