Pulau Abadi

Pulau Abadi
Nila VS Rinjani


__ADS_3

Hiiiiyyy!"


Orang itu pun mengambil langkah seribu, lalu berlari sekencang mungkin.


Nila yang menyaksikan hal itu tertawa terpingkal-pingkal.


"Apanya yang lucu?" tanya Rinjani.


"Siapa yang menertawakanmu, Jin genit, geEr sekali," cibir Nila.


"Dasar anda ini, membuat saya kesal!" seru Rinjani kemudian melayangkan kilatan berwarna hijau ke arah Nila, namun dengan sigap kilatan tersebut di tangkis oleh Nila.


"Sudahlah Jin genit, menyerah saja kau, dari pada buang-buang energi, percuma, kita berdamai saja, kan lebih enak," Nila mencoba menenangkan suasana.


"Saya tidak sudi berdamai dengan pelakor seperti anda!" ketus Rinjani terus melancarkan kilatannya.


Nila pun tak mau kalah, dia masih bertahan menghadapi serangan penghuni pulau itu.


"Kau kenapa? Masih saja tidak mau terima kenyataan, kalau Franky itu sudah melupakanmu, dan sekarang berpaling sama aku?" ujar Nila.


"Itu karna anda yang terlalu murahan, wahai pelakor!" seru Rinjani


"Maka dari itu, ikhlaskan Franky untukku, hahaha!" tawa menggelegar Nila kembali terdengar membuat dedaunan yang melekat pada tangkai pohonnya berjatuhan seketika.


Sella, seorang anak berusia dua belas tahun, yang tinggal berjarak tiga rumah dari rumah Franky sedang berjalan di depan rumah itu, dia baru saja pulang dari warung membeli sembako, seketika dia berhenti lantaran melihat daun-daun yang jatuh dari pohon dan berserakan di sekitar tempat itu.


Seketika pandangan Sella mengarah ke arah dua makhluk halus yang sedang bertarung itu.


Rinjani dan Nila menyadari kalau keberadaan mereka dapat di lihat oleh anak itu.


"Hey, kalian kalau mau bertarung, bisa nggak sih di lapangan, atau di mana gitu, bukan di rumah orang, lihat, kalian mengotori tempat ini, apa kalian mau membersihkan? Dasar siluman nggak tahu diri!" hardik Sella.


Rinjani dan Nila saling berpandangan.


"Hey anak kecil, bisa tidak sih, kamu lebih ramah sedikit sama kita-kita yang lebih tua? Kamu ingin aku membersihkan tempat ini? Oke, laksanakan, hahahaha!" Nila yang kembali tertawa menggelegar sehingga membuat dedaunan lain yang masih melekat di pohon kembali berjatuhan dan berserakan, namun dengan sigap Nila meniup dedaunan itu hingga berterbangan entah kemana dan kemudian menghilang.

__ADS_1


Sella hanya bersikap tenang menyaksikan semua itu.


"Kalau bisa, kalian segera pergi dari sini, karna ini bukan dunia kalian, supaya nggak menciptakan keresahan di antara para manusia yang ada di bumi ini," ujar Sella ketus kemudian dia segera berlalu meninggalkan tempat itu.


"Dasar anak kecil, slbanyak tingkah," umpat Rinjani geram.


"Sepertinya benar, apa yang di katakan oleh anak itu, kau harus pergi dari sini, karna kau sudah membuat kegaduhan, dan mengganggu para penduduk di sini," ketus Nila.


"Memang anda pikir, anda penghuni bumi ini? Anda pun harus pergi dari sini!" Rinjani tak mau kalah.


"Kita lihat saja, siapa yang akan bertahan di bumi ini, aku atau kau," tutur Nila.


"Sombong sekali anda, dasar pelakor murahan," Rinjani kembali mengeluarkan kilatan cahaya berwarna hijau dan mengarahkannya ke tubuh Nila, Nila pun menangkis serangan itu.


Terlihat kedua makhluk halus itu berdiri berhadapan dengan tangan terarah ke depan dan campuran cahaya berwarna hijau dan ungu memancar dari kedua tangan mereka.


Satu jam mereka beradu kekuatan, tak ada yang menang atau pun kalah, karna mereka berdua sama kuatnya.


Tiba-tiba sebuah cahaya berwarna kuning menyerang mereka berdua hingga membuat mereka sama-sama terpental ke belakang dan tubuh mereka membentur sebuah pohon yang berada di belakang mereka.


Kedua makhluk halus itu jatuh terduduk.


Di tengah-tengah mereka sudah berdiri Pangeran Endro.


"Kalian ini, tak bosan-bosan bertarung, sebenarnya, apa sih, mau kalian ini? Rin, kau pulanglah, Romo mencarimu!" seru Pangeran Endro.


Rinjani yang malas berdebat dengan Genderuwo itu, segera berubah wujud menjadi kepulan asap putih dan perlahan menghilang dari pandangan.


"Kau juga, tak ada bosannya mengganggu istriku," tukas Pangeran Endro.


"Apa aku tidak salah dengar? Istrimu saja yang tidak tahu malu, mengejar lelaki milik orang, kalau punya istri tuh di jaga yang benar, jadi tidak mudah kecantol sama orang lain," sahut Nila dengan santai.


"Kau memang tak pernah jera, awas saja kau, sekali lagi berani mengganggu istriku, tak ada ampun lagi bagimu," ketus Pangeran Endro kemudian berubah menjadi kepulan asap hitam dan menghilang perlahan.


"Dasar Wowo gila, sudah tahu istri dia yang genit, eh.. aku yang di salahkan, huft."

__ADS_1


Kemudian Nila masuk ke dalam rumah, dia mengintip ke kamar dan melihat Franky masih tertidur pulas akibat terkena ajian sirep milik Nila.


Nila pun duduk di ruang depan, malam pun merayap datang.


"Ke mana lagi ya, aku harus mencari selendang itu?" gumam Nila.


"Sebenarnya, aku rindu dengan tempat tinggalku Kahyangan, aku juga rindu dengan kakak-kakakku, tapi apalah daya, baju kerajaan istanaku malah hilang."


Nila pun berjalan ke arah belakang, dia melihat baju-baju kotor Franky yang sudah menumpuk di sebuah keranjang.


Dengan segenap kekuatannya, dia memutar jari telunjuknya dan mengarahkannya ke arah tumpukan baju itu.


Sebuah keajaiban pun terjadi, baju-baju itu tiba-tiba melayang ke arah jemuran yang berada di dekat kamar mandi, seakan baju-baju itu baru selesai di cuci dan kini posisinya tergantung di jemuran.


Lalu Nila mengambil sapu dan menyentuhnya sehingga sapu itu menyapu sendiri, dari ruang depan ke arah belakang.


Dia pun menata barang-barang yang berantakan agar tersusun rapi di tempatnya, Nila tersenyum puas melihat rumah itu menjadi rapi dan bersih.


"Mumpung Franky tidur, besok pagi dia pasti senang sekali melihat rumah ini sudah rapi."


Kemudian Nila kembali duduk di ruang depan.


"Bosan juga ya, setiap hari seperti ini, aku harus segera menemukan selendang itu, tapi di mana ya, aku sendiri juga tidak tahu selendang itu jatuh di mana," gumam Nila.


"Ah sudahlah, besok kan aku ikut Franky ke.. ke mana ya? Lupa aku, siapa tahu saja ada kesibukan, buatku."


Nila berjalan pulang ke kosnya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Dia berguling ke kanan dan ke kiri, seperti sedang gelisah.


"Aku tidak boleh tidur, nanti susah bangunnya, secara aku ini Bidadari, tapi bingung juga mau ngapain, malam di sini sangat panjang di bandingkan malam di kahyangan."


Konon para Bidadari di kahyangan tak pernah tidur, karena sekali mereka tidur akan sangat lama bahkan sampai tiga bulan, dan susah untuk bangun.


"Apa Franky sudah siuman ya," gumam Nila dalam hati.

__ADS_1


Nila pun bangun dan duduk di atas tempat tidurnya.


"Lebih baik aku keluar saja, cari udara segar," gumam Nila, dia segera keluar kamar menuju ke jalanan.


__ADS_2