Pulau Abadi

Pulau Abadi
Kencan yang Aneh


__ADS_3

Malam pun merayap datang, dan waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam.


Di dunia gaib, Rinjani memulai aksinya, dia mengerjapkan matanya dan dalam sekejap saja dia sudah berada di dalam kamar Rindi.


Saat itu Rindi sedang duduk di atas kasur, dengan sebuah buku di tangannya, dia tengah membaca buku novel karya Franky.


"Bagus sekali ceritanya, ternyata dia memang novelis handal," batinnya.


Seketika Rinjani meniupkan sesuatu ke wajah Rindi.


"Hoaaahemmm, kenapa mendadak aku jadi ngantuk sekali?"


Rindi pun merebahkan tubuhnya di kasur, dan dalam hitungan detik, Rindi pun terlelap dan bermain di alam mimpinya.


Rinjani tersenyum smirk, kemudian dia kembali mengerjapkan matanya, dan dalam sekejap pun dia sudah berada di depan rumah Franky, dia menyamar sebagai Rindi.


"Franky.. Franky," panggil Rinjani lirih.


Suara Rinjani pun menembus masuk ke dalam rumah, menuju kamar Franky, dan kini sampai di telinga Franky yang telah berpakaian rapi.


"Hah? Seperti ada yang memanggilku, siapa ya? Tapi suaranya aku kenal," batinnya.


Franky pun keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah pintu depan.


Dia membuka pintu, betapa terkejutnya Franky melihat Rindi yang tak lain adalah jelmaan dari Rinjani telah berdiri di hadapannya, dia tersenyum ke arah Franky.


"Rindi?"


Rinjani mengangguk.


"Anda bilang akan berkencan dengan saya malam ini."


"Oh iya Rin, wah kamu tampak anggun sekali malam ini."


Rinjani sengaja mengubah penampilannya menjadi mirip seperti Rindi, dia mengenakan gaun panjang berwarna merah dengan blazer sebagai luarannya, dan aroma melati pun menusuk hidung.


Franky mengernyitkan dahinya.


"Sejak kapan kamu suka parfum melati?"


"Hah? Bukannya, dari pertama kita kenal ya?"


"Ah enggak juga, bukankah kamu sangat suka dengan parfum beraroma vanila?"


"Sial, kenapa pula saya kurang teliti," dalam hati Rinjani mengumpati dirinya sendiri.


"Ah sudahlah, masalah parfum tak perlu terlalu di pikirkan, yang penting sekarang kita jadi kencan atau tidak?"


"Eh, iya kamu benar juga, ya jadi dong, oh iya ngomong-ngomong, kamu kesini naik apa?"


Rinjani tampak gugup.


"Ya ampun, benar juga ya, mengapa saya tak memakai motor milik Rindi saja tadi? Ah sudahlah, ribet sekali sih ini manusia," batinnya.


"Eh itu Fran, tadi ban motor saya kempes, jadi saya coba mencari bengkel yang masih buka, kebetulan tadi ada nampak bengkel tak jauh dari sini, dan antriannya banyak karna sepertinya tadi banyak orang pula, jadi saya tinggal saja, dan saya berjalan kaki kesini."

__ADS_1


Franky mulai merasa aneh dengan sikap Rindi.


"Perasaan di dekat sini nggak ada bengkel yang masih buka jam segini," batinnya.


"Siapa bilang? Saya tadi memang baru saja dari bengkel, apakah anda pikir saya ini pembohong?"


Franky pun terkejut, dia tak menyangka bahwa wanita yang dia sangka adalah Rindi itu dapat mendengar suara hatinya.


"Eh, bu.. bukan seperti itu Rin, maksud aku.. ah ya sudah lah, aku minta maaf kalau sudah menyinggung perasaanmu."


"Sudah ya, kita tak perlu membahas motor lagi, itu tak penting, yang terpenting sekarang, kita mau kemana nih Fran?"


"Em.. ke taman bunga kamu mau?"


"Boleh deh, kemana saja, asalkan saya bisa terus bersama anda malam ini," Rinjani tersenyum puas.


Franky pun menyuruh Rinjani masuk kedalam mobilnya.


Kemudian Franky mengemudikan mobilnya. Sepanjang perjalanan Franky terus merasa kedinginan, dan sesekali bulu kuduknya meremang.


"Kenapa ya, perasaanku nggak enak sekali?" batin Franky.


"Kenapa, Fran? Anda masuk angin?" tanya Rinjani.


"Ini Rin, entah kenapa cuaca menjadi sangat dingin, dan aku juga merinding."


Rinjani terdiam sejenak....


"Mungkin, memang cuaca pada malam hari terasa dingin, Fran.. di tempat saya pun begitu."


Franky dan Rinjani turun dari mobil, Franky menggandeng tangan Violetta.


"Kok dingin sekali tangan si Rindi," batinnya.


"Tentu saja, cuaca saja dingin, jadi badan kita pasti juga ikut dingin kan?"


Lagi-lagi Franky terkejut, karena Rinjani selalu dapat mendengar suara hatinya.


Akhirnya Franky memilih untuk tidak membatin apapun lagi.


Mereka berdua duduk di sebuah tempat duduk yang telah tersedia.


"Kamu lapar nggak, Rin? Mau makan apa?'


"Kapur barus juga boleh," jawab Rinjani dengan tenang.


"Hah?" Franky terperanjat.


"Ups, mengapa saya keceplosan begini," batinnya.


"Eh itu.. apakah ada sate ayam mentah?"


Franky semakin bertambah bingung di buatnya.


"Maksud kamu sate ayam, tapi di bakar dulu kan, baru bisa di makan."

__ADS_1


"Iya tapi setengah matang saja ya."


Franky tersenyum.


"Kamu itu kalau bicara yang jelas dong, Rin, kan aku jadi bingung."


Rinjani terkekeh.


"Ya sudah, aku belikan dulu, itu di sana ada warung sate," kata Franky sambil menunjuk ke arah sudut taman.


"Ah, biarkan saya ikut dengan anda, saya tak bisa di tinggal sendiri."


"Hem, kamu manja juga ternyata," ujar Franky dengan senyum manisnya.


Franky dan Rinjani berjalan ke arah warung sate.


"Bang, sate dua porsi ya, yang satu setengah matang saja."


"Oh baik mas, tunggu sebentar ya."


Franky mengangguk ramah.


Rinjani berdiri di dekat penjual sate yang sedang membakar sate-satenya, seketika penjual sate itu menoleh ke arah Rinjani, dan Rinjani pun menatap sinis ke arah penjual sate, tiba-tiba penjual sate itu bergidig ngeri.


"Kenapa tiba-tiba, aku jadi merinding ya," batin penjual sate itu.


"Mungkin ada hantu di sekitar sini bang, jadinya merinding deh hihihi," ujar Rinjani sambil terkekeh mengerikan.


Penjual sate itu bertambah terkejut, sedangkan Franky hanya duduk tenang menunggu sate matang, karena Rinjani telah menutup telinga Franky, jadi Franky pun tak mendengar percakapan antara Rinjani dan penjual sate itu.


"Cepat dong, bang satenya, saya sudah lapar sekali," kata Rinjani.


"Iya, neng, sebentar lagi ya," sahut penjual sate itu dengan gemetar, dia terus membakar dan mengipas satenya, bulu kuduknya meremang berkali-kali.


Diam-diam Rinjani mengambil beberapa tusuk sate yang masih mentah dan melahapnya sekaligus, tanpa sepengetahuan penjual sate tersebut.


Tak lama sate pun matang, Franky membayar sate itu dan mengajak Rinjani kembali ke tempat duduknya.


"Ayo Rin, kita makan, sepertinya sedap sekali nih."


"Baik, Fran," angguk Rinjani.


Rinjani melahap habis semua sate yang telah terhidang di hadapannya, termasuk sate milik Franky.


Sementara itu, si penjual sate terkejut bukan main, karena stok sate yang masih mentah berkurang drastis.


"Hah? Kenapa sate-sateku tinggal sedikit? Perasaan tadi masih banyak sekali."


Penjual sate itu pun menoleh ke arah tempat duduk yang berada di taman, di mana Franky dan Rinjani duduk.


Penjual sate menatap tajam ke arah Rinjani.


"Jangan-jangan... dia kun.. kun-ti-la-nak."


Penjual sate membatin sambil bergidig ngeri, dia pun berencana akan menutup warung satenya dan pulang ke rumah.

__ADS_1


Setelah mengemasi barang-barang yang berada di dalam warungnya, penjual sate itu menutup dan mengunci warungnya.


__ADS_2