
Joko terus berjalan, ketika melewati rumah Franky, dia menghentikan langkahnya, kemudian dia menoleh ke rumah Franky.
"Ah sebaiknya aku mampir dulu di rumah Franky, bosen juga di rumah sendirian."
Di dalam kamar, Franky merasa bosan, dia pun keluar masih diikuti hantu Rindi yang kini menjelma menjadi manusia.
"Kita nonton tivi yuk Rin, bosan di kamar terus," kata Franky.
"Iya, Fran, aku akan menemani kamu."
"Menemani ya sampai besok, nggak hilang lagi."
"Hihihihi, iya, iya, hari ini sepertinya aku nggak ada urusan, jadi aku akan bersenang-senang sama kamu."
Kini posisi Franky saling berhadapan dengan hantu Rindi di depan televisi, hantu Rindi mengalungkan kedua tangannya di leher Franky, sedangkan Franky melingkarkan kedua tangannya di pinggang hantu Rindi.
Mereka saling berpandangan, perlahan Franky mendekatkan bibirnya ke bibir milik hantu Rindi. Terdengar detak jantung yang saling bersahutan, di antara kedua insan itu. Mereka pun saling berpagutan dengan mesra.
Sementara di luar rumah Franky, Joko berjalan masuk ke rumah Franky, kebetulan pintu rumah Franky terbuka sedikit, jadi Joko langsung saja membukanya.
Joko masuk dan berjalan ke dalam. "Angga di mana ya? Apa di kamarnya ya?" batinnya.
Kemudian Joko berjalan menuju ke kamar Franky.
Ketika melewati ruang tengah, langkah kakinya terhenti, dan kedua bola matanya membulat sempurna, pada saat netranya mengarah ke kedua makhluk yang sedang berpagutan itu.
"Cih, menjijikan sekali, manusia bermesraan sama hantu, hahaha!"
Ucapan Joko mengejutkan kedua makhluk berbeda alam, yang sedang bermesraan itu.
"Hey kamu, dasar manusia nggak punya sopan santun! Masuk ke rumah orang tanpa ijin!" hardik hantu Rindi.
"Apa urusannya sama kamu?" ujar Joko santai.
"Sudah-sudah jangan bertengkar." Franky melerai.
"Kamu dari mana, Jok?" tanya Franky.
"Biasalah, mencari inspirasi," kelakar Joko.
"Hem, seperti novelis saja, mencari inspirasi," seloroh Franky.
"Memang hanya novelis saja, yang boleh mencari inspirasi."
"Sudahlah kamu duduk saja, banyak bicara, sakit nih telinga," sambung hantu Rindi.
Joko pun duduk, diikuti oleh Franky. Pria itu duduk di samping Joko, sedangkan hantu Rindi, karena dia kini merubah wujudnya menjadi manusia yang dapat di sentuh atau menyentuh, ketika dia hendak duduk juga, kakinya tak sengaja tersandung kaki meja, dan hantu Rindi pun terjatuh.
Botol yang berada di dalam saku bajunya pun, ikut terbentur lantai, dan tanpa sengaja, botol itu pecah.
__ADS_1
Seketika itu, muncullah gumpalan asap putih, di hadapan mereka. Perlahan asap itu menghilang, dan berubah wujud menjadi jin Rinjani.
Hantu Rindi yang sudah mengira hal itu akan terjadi, segera menutup mata batin Franky sehingga jin Rinjani pun tak terlihat oleh Franky.
Kemudian Franky pun membantu hantu Rindi untuk berdiri. "Kamu ini, kenapa nggak hati-hati sih," ujarnya.
"Iya nih, ada-ada saja, hantu kok bisa jatuh," cibir Joko.
"Sudah diam, awas besok kalau kamu jatuh, aku hina kamu habis-habisan," gerutu hantu Rindi.
"Sudah-sudah, jangan bertengkar." Lagi-lagi Franky melerai mereka.
Hantu Rindi pun duduk. "Sialan, kenapa harus pecah sih botolnya, padahal kan mau aku kasih ke Joko," batin hantu Rindi.
"Kamu tenang saja, aku yang akan mengatasi semuanya, aku akan ikuti jin itu, kamu di sini saja sama Franky," balas suara hati Joko, yang dapat didengar oleh hantu Rindi.
Hantu Rindi pun mengangguk. Sedangkan Franky membereskan pecahan botol tadi, kemudian menyapunya.
Sementara itu, Rinjani terkekeh, dia pun berjalan keluar. "Akhirnya, saya bebas juga dari kurungan hantu sialan itu."
Rinjani terus berjalan, dan diam-diam Joko mengikutinya, dari belakang. Mereka kini sampai di sebuah hutan.
Rinjani menghentikan langkahnya seketika, dia merasa seperti ada yang membuntutinya.
"Siapa yang mengikuti saya?"
Ketika Rinjani hendak membalikkan tubuhnya ke belakang, dengan sigap Joko mengeluarkan tongkat sakti, dan membaca mantera yang di berikan oleh arwah leluhurnya. Dan tongkat sakti itu tepat menempel di ubun-ubun Rinjani.
Rinjani mengerang kesakitan, dan dalam sekejap rohnya melayang keluar dari jasad milik hantu Rindi. Kini Rinjani menghilang entah kemana.
Dan bersamaan dengan itu, waktu seolah berputar mundur. Franky terbangun dari tidurnya.
Dia tampak heran sekali, karena saat itu dia berada di sebuah tempat duduk, di depan ruangan rumah sakit.
"Hah? Berapa lama aku tidur?" gumam Franky dalam hati.
Franky tampak mengingat sebuah kejadian. Dia teringat, kalau dia telah menabrak Rindi hingga koma.
"Rindi? Oh iya, bagaimana kondisi dia ya?" Franky pun berjalan ke depan ruangan, tempat di mana Rindi di rawat.
Sampai di depan ruangan kamar Rindi, Franky hendak masuk, namun belum sempat Franky membuka pintu kamar Rindi, seorang dokter keluar dari kamar Rindi, bersama Leon, Nurdiana, dan bu Mira. Dokter itu segera meninggalkan ruangan itu.
Franky melihat Leon dan Nurdiana, sedang menenangkan bu Mira yang tengah menangis. Franky merasa heran, dan dia pun mendekati mereka.
"Nyonya, Leon, ada apa ini? Bagaimana kondisi Rindi?" tanya Franky.
Nurdiana terdiam, dia tak sanggup untuk mengatakannya kepada Franky.
"Rindi sudah meninggal, Fran. Kata dokter, benturan di kepalanya cukup parah, dan menyebabkan gegar otak, dan malangnya kondisi badan Rindi lemah, jadi dia nggak bisa tertolong," ucap Leon lirih.
__ADS_1
Deg!
Bagai petir menyambar di siang bolong, Franky seolah tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Kamu jangan bercanda, Le!" seru Franky.
"Kamu yang ikhlas ya, Fran," kata Leon lirih.
Sedangkan Nurdiana masih menenangkan bu Mira, yang masih terus menangis.
Franky terduduk lemas. "Rindi, kamu kenapa pergi meninggalkan aku? Enggak, Rin, kamu nggak boleh pergi!" seru Franky.
Kemudian ketiga orang tersebut, berjalan meninggalkan Franky mereka hendak mengurus kepulangan jenazah Rindi.
Franky pun berdiri, dan berlari masuk ke dalam kamar Rindi. Pria itu menghambur ke arah tubuh Rindi yang terbaring kaku, sekujur wajahnya pucat dan membiru, suhu tubuhnya pun dingin.
Franky mengguncang tubuh Rindi sekencang-kencangnya "Rin, bangun Rin, kamu nggak boleh pergi!"
Namun Rindi tetap diam tak bergeming.
Tanpa sadar, pecahlah tangis Franky.
Dalam hatinya, tersirat penyesalan yang mendalam.
"Rin, maafkan aku Rin, karna kecerobohanku, kamu jadi seperti ini. Tolong Rin, bangun, bukankah dua bulan lagi, kita akan menikah? Aku nggak sanggup kalau harus kehilangan orang yang aku cintai untuk kedua kalinya." Franky terus menangis, meratapi kepergian Rindi.
"Ikhlaskan aku, Fran, semua sudah takdir, kita nggak bisa melawan yang namanya takdir, dan trimakasih atas semua kebaikanmu kepadaku selama ini, aku akan selalu mengingatmu di alam sana."
Sebuah suara mengejutkan Franky, dan Franky pun menoleh ke sumber suara tersebut.
Di sampingnya, telah berdiri arwah Rindi, arwah itu tersenyum ke arah Franky. Perlahan menghampiri arwah Rindi, dan memeluk Rindi, namun tangannya menembus tubuh Rindi. Akhirnya, Franky hanya menatap Rindi dengan pasrah.
"Rin, aku mohon, kembalilah untukku, jangan tinggalkan aku, Rin."
Arwah Rindi tersenyum ....
"Ini sudah menjadi takdirku, Fran, aku harus pergi, masih ada alam selanjutnya, yang harus aku jalani, semoga suatu saat nanti, kamu menemukan penggantiku."
"Tapi Rin, aku nggak bisa hidup tanpa kamu, tolong kembalilah untukku."
"Maaf, Fran, semua sudah di gariskan."
"Kalau begitu, aku ikut pergi denganmu."
"Nggak bisa, Fran, kehidupan harus diteruskan, dan perjalanan hidup kamu masih panjang, belum saatnya kamu pergi dari dunia ini, masih banyak yang harus kamu lewati. Selamat jalan, Fran, aku pamit."
Perlahan arwah Rindi pun lenyap.
"Rindiiiiii!!!!!"
__ADS_1
Franky berlutut di lantai, meratapi kepergian Rindi untuk selamanya.