Pulau Abadi

Pulau Abadi
Singkong Bakar


__ADS_3

Tapi kan jasadku belum dikubur," keluh Aish.


"Oh gitu, jadi kalau jasad kamu sudah dikubur, baru kamu pergi?" ujar Joko.


"Sepertinya, kamu benci sekali sama aku, nggak suka lihat aku lama-lama di sini." Aish memonyongkan bibirnya.


"Ya bukan begitu, Ish, ah sudahlah terserah kamu, aku bicara pun salah terus." Joko pun pasrah.


"Kalau aku tetap di sini, jadi pelindung kamu, gimana?"


"Apa? Hey, kamu jangan gila, aku paling nggak suka hidupku diikuti, apa lagi sama lelembut, dan aku nggak butuh pelindung, karna aku sanggup melindungi diriku sendiri!" cetus Joko.


Aish terdiam ....


"Kalau kamu keras kepala, akan aku musnahkan dengan tongkat saktiku, agar kamu nggak bisa merasakan kehidupan selanjutnya," ancam Joko.


"Huft, ya sudah, aku pergi sekarang."


Tanpa menunggu jawaban dari Joko, Aish pun menghilang dari hadapan.


"Dasar hantu bucin, sudah merepotkan, dan sudah aku bantu juga, eh ... malah ngelunjak," dalam hati, Joko mengumpat hantu Aish.


****


Tak terasa, hari pun beranjak sore, dan matahari telah kehilangan sinarnya. Di tempat lain, Franky sedang bersantai ria di ruang tengah, dia tengah menonton acara televisi favoritnya.


Franky pun merasa bosan dengan acara yang ditontonnya, dia pun meraih remote televisi, dan menekan beberapa tombolnya, mengganti chanel televisi yang dia inginkan.


Berkali-kali Franky mengganti chanel televisi itu, akhirnya Franky berhenti menekan tombol remote, ketika dia menemukan sebuah chanel, yang menarik perhatiannya.


Franky mengerutkan keningnya. "Film apa itu? Kok seperti film horor," batinnya.


Acara televisi itu, menampilkan sebuah cerita bergenre horor. Franky menyaksikannya dengan seksama. Tiba-tiba, Franky dikejutkan oleh sebuah adegan, yang mana pemeran dalam film itu, menjadi hantu, dan berjalan merangkak.


Seketika itu, Franky mendadak tegang, jantungnya berdetak kencang, iramanya tak beraturan, dan hal yang tak diduga pun terjadi. Tokoh hantu dalam film tersebut, kini merangkak keluar dari televisi membuat Franky terhenyak.


"Hah? I ... itu, apa yang ... keluar dari tivi?" tanyanya dalam hati, dengan terbata.


Hantu yang berasal dari dalam televisi itu pun bergerak maju ke arah Franky membuat benar-benar ketakutan.


"Jangan! Mau apa kamu? Pergi! Jangan ganggu aku!"


Namun hantu itu, tak menghiraukan seruan Franky. Dia terus merangkak, dan semakin dekat dengan Franky. Ketika jarak hantu itu sudah dekat, hantu itu mengulurkan tangannya ke arah leher Franky, seolah hendak mencekiknya.


"Aaaaaa!"


"Fran! Bangun, Fran!"


Seseorang mengguncang-guncangkan tubuh Franky. Dan Franky pun membuka matanya, dia pun terduduk di kasur lantai, di ruang televisi itu sambil celingukan, dia mengedarkan pandangannya ke kiri dan ke kanan. Seketika itu juga, netranya mengarah ke sosok di sampingnya.


"Joko?"


"Kamu ini, masih jam segini sudah tidur, mimpi apa kamu? Sampai teriak-teriak nggak jelas?" ketus Joko.


Franky mengucek matanya, lalu dia melihat ke arah televisi, namun tak menyala. "Siapa yang mematikan tivinya?"


"Ya mana aku tahu, tadi aku tuh bosan di rumah, jadi aku ke sini. Nah, sampai di depan rumah kamu, aku dengar kamu teriak-teriak nggak jelas," papar Joko.


Akhirnya, Franky pun menceritakan mimpinya.

__ADS_1


"Yah, kamu ini kebanyakan nonton sinetron, sampai kebawa mimpi segala," cibir Joko.


"Tapi, tadi aku memang sedang nonton film horor, Jok, jelas-jelas, aku cari chanelnya."


"Ya, mungkin kamu ketiduran, Fran, tapi kok tivinya mati ya."


"Nah, maka dari itu, Jok, aku juga nggak merasa mematikan tivinya."


"Hem ... aneh, ya sudah lain kali jangan nonton tivi sambil tiduran, jadi nggak jelas gitu kan."


Franky mengangguk ....


"Oh iya besok dua hari lagi, kita ke pulau abadi, kamu siapkan segala sesuatunya."


"Iya, Jok."


"Jangan lupa Leon dihubungi, katanya dia mau ikut."


"Beres kalau itu sih."


"Oh iya, Fran, kamu suka singkong bakar nggak?" tanya Joko.


"Nggak tahu, Jok, aku belum pernah makan hehe." Franky terkekeh.


"Ya sudah, ayo kita bakar singkong yuk, di belakang, aku tadi bawa singkong dari rumah."


"Mana, Jok?"


"Itu, aku taruh di depan, sebentar aku ambil."


Joko berjalan ke depan, kemudian kembali lagi dengan membawa beberapa umbi singkong yang masih mentah.


"Wah jadi juga nih singkong bakarnya, Fran!" seru Joko.


"Hehe, iya, Jok." Franky terkekeh.


Setelah singkong bakar itu agak hangat, joko membelahnya dengan pisau.


"Ayo dimakan, Fran."


"Iya, Jok."


Joko pun mengambil separuh dari singkong itu, dan menggigitnya."


"Em, enak nih, Fran," kata Joko, sambil mengunyah singkong bakar itu.


Franky pun mengikuti tingkah Joko. "Wah, iya, Jok, ternyata enak."


"Ayo dihabiskan, Fran."


"Siap, Jok, eh memangnya kamu habis panen singkong ya?"


"Enggak juga sih, Fran, tapi tanaman singkong di belakang rumahku sudah pada tumbuh, ya paling kalau aku butuh, baru aku cabut sebagian, ngapain juga panen."


"Ya buat dijual lah, Jok."


"Ah, ngapain juga di jual, Fran?"


"Ya, biar dapat uang lah, Jok."

__ADS_1


"Uang buat apa, Fran?


"Buat beli apa-apa yang kita butuhkan lah, Jok."


"Ah, aku nggak pernah butuh uang, Fran, hehe."


Franky pun menggeleng, merasa gemas dengan ucapan Joko.


"Eh, Fran, makan singkong bakar sambil minum teh melati cocok nih," seloroh Joko.


"Bilang saja, minta dibuatkan teh melati," kelakar Franky.


"Nah, tuh kamu pintar, haha!"


"Ya sudah, aku buatkan sebentar."


Franky pun berjalan masuk ke dalam dapur, kemudian membuat dua cangkir teh melati, setelah itu dia membawanya ke belakang rumahnya.


"Nih, Jok." Franky menaruh kedua cangkir teh itu di bawah, dekat di mana mereka duduk.


"Hem, aromanya sedap, Fran."


"Iya, Jok, namanya juga teh melati."


"Eh, Fran, ngomong-ngomong, kamu kok suka sekali minum teh melati."


"Ya suka saja, Jok, rasanya nikmat, aromanya pun sedap, beda sama teh lainnya.


"Iya juga sih, memang sedap," kata Joko, sambil menyesap tehnya perlahan.


"Fran, ini kan terang sore, habis ini kita jalan-jalan yuk."


"Jalan-jalan ke mana, Jok?"


"Ya keliling desa ini saja, memangnya kamu nggak bosan berdiam diri di dalam rumah terus?"


"Ya nggak juga sih, Jok."


"Hah? Ya ampun, Fran, aku saja jenuh."


"Nggak tahu kenapa, Jok, aku sedang malas saja hari ini."


"Ya sudah, kalau nggak mau nggak apa-apa kok, Fran. Aku temani kamu saja di sini, atau kamu juga sudah bosan denganku?"


"Kamu itu, ngomong apa sih, Jok?"


"Ya, siapa tahu saja, kamu bosan sama aku?"


"Siapa juga yang bosan?"


Joko terkekeh, dia memang suka sekali meledek Franky.


Tak terasa, mereka berdua telah menghabiskan singkong bakarnya, dan dua cangkir teh melati pun telah kosong.


"Ya sudah, Fran, aku pulang dulu ya, sudah petang juga, jangan lupa lho, dua hari lagi, dan Leon dihubungi," pamit Joko.


"Iya, Jok." Franky mengangguk.


Joko pun pulang ke rumahnya, sedangkan Franky membersihkan tempat yang berserakan di belakang rumahnya. Kala itu, hari sudah petang, adzan maghrib pun berkumandang.

__ADS_1


"Kotor sekali tempat ini," batin Franky kemudian masuk ke dapur, dan mengambil sapu lidi yang terletak di sekitar dapur itu.


__ADS_2