Pulau Abadi

Pulau Abadi
Nawang itu Bidadari


__ADS_3

"Ayo masuk Nil, buat diri kamu supaya bisa terlihat oleh siapapun," kata Joko.


"Baiklah."


Nila dan masuk ke dalam, dan bersamaan dengan itu, Nawang keluar dari kamarnya, dia tertegun melihat Nila.


"Kakak?"


"Lho, Nawang, kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Nila.


"Eh, itu kak ...."


Joko ikut bingung dengan situasi di hadapannya.


"Lho, kalian saling kenal?"


"Dia itu saudaraku, Jok, cucu ayahku," sahut Nawang.


"Apa? Jadi, dia Bidadari juga?" Joko terbelalak.


"Ya iyalah Jok, namanya juga saudara, ya satu darah, kan kau sudah mendengar ceritaku tadi."


"Tapi, kamu bilang, kalau Bidadari nggak bisa lama-lama hidup di bumi."


Tanpa disengaja, pandangan Nila mengarah ke perut Nawang.


"Kau hamil, Na?"


"Eh, iya kak."


"Hem, sepertinya dia akan hidup abadi di bumi ini," tutur Nila.


"Maksud kamu?" ucap Joko.


"Dia sudah berbau manusia, karna sudah berhubungan badan denganmu, nanti aku akan menyampaikan kepada ayahku, karna beliau sudah lama mencari Nawang."


"Hem, apa aku bilang dulu, jodohku bukan manusia biasa, tapi makhluk halus juga," batin Joko.


"Siapa bilang? Dia sekarang sudah menjadi manusia biasa," kata Nila, yang dapat mendengar suara hati Joko.


Joko menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Benarkah dia sudah menjadi manusia seutuhnya?" tanyanya lagi.


"Sepertinya begitu, dia sudah menyatu denganmu, pesanku satu, jaga dia selama hidupnya, jangan sekali-kali kau sakiti hatinya."


"Yeee, nggak perlu kamu bilang begitu, aku bukan lelaki jahat, yang suka menyakiti hati perempuan."


"Bagus deh kalau begitu."


"Ya sudah, kamu istirahat dulu La, aku juga mau tidur sebentar, capek, besok kita ke salon itu, untuk melakukan penyelidikan."


"Hey, kau lupa atau pura-pura lupa? Bidadari tidak pernah tidur, sekali tidur, bisa sampai berhari-hari.


"Ah masa bodo deh, terserah kamu saja, mau tidur atau mau jadi satpam. Huft ... dasar lelembut, unik."


"Sudah, sana tidurlah, jangan banyak bicara," cetus Nila.


"Yeee, ini mulutku, mau banyak bicara ya suka-suka aku lah."


"Sudah, sudah, kalian ini bertengkar terus." Nawang berusaha menengahi mereka.


Joko masuk ke dalam kamar tanpa sepatah katapun, sedangkan Nila menyandarkan tubuhnya di dinding, dan memutar bola mata malas."


"Duduk sini kak, kita ngobrol-ngobrol," ajak Nawang.


"Baiklah." Nila pun duduk di sebelah Nawang.


"Kenapa kau bisa menjadi istri Joko?"


Nawang menceritakan kejadian sewaktu di Pulau Abadi, dari dia dikutuk menjadi kucing, dan bertemu Joko yang merawatnya, hingga menikah dan tinggal di tempat itu.


"Oh, begitu, berarti kau punya orang tua angkat, sudah meninggal?"


"Iya kak, mereka dibunuh oleh paman Jarwo, tapi dia sudah meninggal juga, dibunuh sama mas Joko, dan menghilangkan kutukanku."

__ADS_1


"Hem, sepertinya suami kau itu, sayang sekali denganmu."


"Iya kak, dia baik sekali sama aku."


"Syukur deh, kalau dia tidak menyia-nyiakan kau."


"Iya kak, kakak sudah makan belum?"


"Aku sedang tidak ingin makan."


"Ya sudah, kakak istirahat kalau capek."


"Tidak mungkin, kalau aku tidur bisa lama lagi bangunnya."


"Iya juga sih," gumam Nawang.


"Kau bangun jam segini, mau apa?"


"Biasa, bersih-bersih rumah, aku punya usaha salon, tapi mas Joko melarangku bekerja selama hamil, padahal aku jenuh kalau tidak berbuat apa-apa."


"Tidak apa-apa, kau patuhi saja perintah suamimu, selama itu demi kebaikan."


"Iya kak, terus, kakak ke sini mau apa, kakak sudah lama kenal dengan mas Joko?"


"Ya lumayan lama juga, ceritanya panjang juga, dan aku ke sini, di ajak Joko untuk menyelidiki salon ilegal itu."


"Oh, tempat untuk transaksi donor ginjal yang tidak lazim itu?"


"Benar sekali, apa kau tahu ceritanya?"


"Cerita apa kak?"


"Ya, tentang salon untuk bertransaksi pendonoran ginjal itu."


"Kurang tahu aku, karna aku tidak suka ikut campur masalah yang bukan masalahku, yang jelas, salon itu seperti meminta tumbal."


"Tumbal?"


"Ya, tumbal.. karna menurut yang aku dengar, setelah orang-orang mendonorkan ginjalnya, mereka langsung meninggal di tempat, dan di duga, mereka di bunuh oleh pemikik salon itu."


"Mungkin takut, mereka akan membocorkan perbuatan pemilik salon itu kepada orang-orang."


"Ck, ck, ck, kejam sekali orang itu."


"Kakak hati-hati ya."


"Kau tenang saja, aku kan bisa menghilang."


Lama mereka mengobrol, tiba-tiba terdengar suara pintu di ketuk. Nawang membukakan pintu, dan melihat siapa yang datang.


"Eh, Mas Franky kok pagi sekali?"


"Hehe, iya Na, oh iya, Joko ada?"


"Dia baru saja tidur."


"Buset, memang dia dari semalam nggak tidur?"


"Dia baru saja pulang tadi pagi."


"Pulang dari mana?"


"Menjemput kakakku."


"Hah? Kakak? Memang kamu punya kakak, Na?"


"Punya dong, itu dia," Nawang menunjuk ke arah Nila.


Franky pun masuk ke dalam, betapa tercengang dia, melihat Nila sedang duduk di dalam.


"Nila?"


"Franky?"

__ADS_1


"Kamu apa kabar?"


Nila menunduk, tanpa menjawab pertanyaan Franky.


Prok.. prok.. prok!


"Cieee, cinta lama bersemi kembali nih," celetuk Joko yang keluar dari kamarnya, sambil bertepuk tangan.


Franky terkesiap. "Bukannya kamu tidur Jok?"


"Aku dengar suara kalian, jadi bangun deh."


"Wah, kalau begitu, aku ganggu kamu ya Jok?"


"Ah, santai saja lagi Fran, seperti sama siapa saja, ayo duduk, Fran."


Franky pun duduk di dekat Joko.


"Mas, aku mau masak dulu ya, kalian mengobrollah," kata Nawang kepada Joko.


"Eh, iya Na, masak yang enak ya hehe."


Nawang hanya tersenyum, dan berjalam ke dapur.


"Kamu sudah bertapa, Jok? Kok cepat sekali," tanya Franky kepada Joko.


"Aku belum bertapa, Fran, tapi kebetulan aku lewat danau yang ada di hutan itu, dan nggak sengaja lihat bidadari sedang mandi, jadi ya aku curi saja salah satu selendang mereka, eh ternyata punya dia."


"Huft, kau pintar sekali bersandiwara, aku yakin, kau sudah tahu warna selendangku," cetus Nila.


"Nanti kalau aku ambil selendang warna lain, kamu pasti cemburu," ledek Joko.


"Cemburu? Sama kau? Ih ... apaan sih?"


Joko terkekeh, sedangkan Franky menahan senyumnya, dia merasa nervous saat itu.


"Gimana Fran, kamu kangen nggak sama Nila?"


"Ah, kamu apaan sih Jok, aku kan sudah beristri."


"Istri dua juga nggak masalah," cibir Joko, sambil menahan tawa.


"Huuu, kamu ini ngawur saja Jok."


Mereka bertiga pun terkekeh.


"Apa rencana kita selanjutnya?" tanya Franky.


"Nanti Nila akan menyusup ke salon itu, untuk menyelidiki makanan yang berbahan dasar ginjal manusia itu, dan dia aku suruh mengambil sampel ginjal, untuk di jadikan barang bukti nanti."


"Oh gitu, tapi itu sangat rawan, Jok."


"Rawan bagaimana, Fran?"


"Ya dia kan perempuan, dan Anton mempunyai anak buah yang ganas."


"Hahaha! Kau lupa ya, Nila ini kan bidadari, bisa menghilang."


"Oh iya Jok, aku sudah lupa hehe."


"Ya sudah, kita pantau dia dari jauh kan bisa," ujar Joko.


"Iya Jok, nah kita berangkat sekarang?"


"Enggak ... tahun depan."


"Ah dasar kamu, Jok."


Lagi-lagi Joko terkekeh.


"Kamu sudah makan, Fran?"


"Belum, Via sedang memasak, dan belum matang."

__ADS_1


"Kalau gitu, nanti kamu makan sini saja, istriku masaknya cepat hehe."


"Okelah, Jok."


__ADS_2