
Pagi hari, Joko bangun dan bergegas ke kantor polisi, Joko melaporkan semuanya kepada polisi.
"Apa anda punya bukti-bukti yang kuat?" tanya polisi itu.
"Banyak Pak," jawab Joko.
Joko menyerahkan cctv yang dipasang di hutan oleh Franky, yang telah berisi rekaman adegan pembuangan mayat-mayat di hutan itu.
Dia juga menyerahkan sampel ginjal manusia, yang telah diambil Nila di salon milik Anton, beserta bungkusan makanan kering yang diolah dengan campuran ginjal tersebut. Terakhir Joko melaporkan percakapan Anton dengan artis perempuan yang dipergoki di sebuah hotel.
"Baiklah, kami akan menjerat tersangka dengan hukuman seberat-beratnya."
Tak lama, polisi itu mengamankan kedua anak buah Anton, yang terlibat dalam kejahatan. Sementara itu, beberapa polisi mendatangi tempat kediaman Anton, beserta surat penangkapan untuknya.
Anton pun menyerahkan diri tanpa melakukan perlawanan, dan polisi pun segera menyegel salon milik Anton, dan mencabut ijin operasionalnya.
"Kurang ajar! Siapa yang berani mengacak-acak bisnisku, dan menjebloskanku ke penjara? Sialan sekali orang itu!" umpat Anton dalam hati. Dia menyesali perbuatannya sendiri, di dalam sel tahanan itu.
Setelah urusan selesai dan mengucapkan terimakasih, Joko pun pulang ke rumahnya.
"Gimana, Jok?" sambut Franky yang berada di rumah Joko bersama Via, Nila dan Nawang.
"Sudah beres semua Fran, mulai sekarang kita aman, karna sudah nggak ada kejahatan yang meresahkan lagi," sahut Joko.
"Syukurlah." Franky mengelus dada merasa lega, begitupun dengan ketiga wanita di dekatnya.
"Karna urusan sudah selesai, sekarang tolong kembalikan selendangku," timpal Nila.
"Oh, oke La, makasih ya, kamu sudah mau membantu," sahut Joko.
"Sudah menjadi tugasku," senyum Nila melebar.
Joko masuk ke dalam kamar, dan keluar lagi membawa selendang berwarna ungu, lalu memberikannya kepada Nila. Nila menerimanya, dan segera memakainya, dalam sekejap, dia berubah menjadi Bidadari yang cantik jelita.
"Nawang, aku pulang dulu, kau jaga dirimu baik-baik."
"Iya kak, hati-hati, salam buat kakek ya," ucap Nawang.
Nila mengangguk, perlahan dia menghilang dari pandangan.
****
Enam bulan berlalu semenjak kejadian itu, dan suatu pagi, Nawang sedang memasak di dapur.
"Aduh!" tiba-tiba dia mengaduh kesakitan, sambil memegangi perutnya.
"Mas!" Nawang berteriak memanggil suaminya.
Joko berlari menghampiri.
"Kamu kenapa Na?"
"Mas, perutku sakit sekali."
"Atau jangan-jangan kamu mau melahirkan?"
"Sepertinya begitu, Mas."
"Ya sudah, kalau begitu kita ke klinik bersalin sekarang," ajak Joko.
"Iya Mas,"
"Eh, tunggu sebentar, aku akan meminjam mobil Franky."
Joko pun berlari ke rumah Franky.
"Fran, pinjam mobilnya ya, Nawang mau melahirkan."
"Oh, kalau gitu, ayo aku antar saja."
"Ya sudah, ayo Fran."
Franky memanasi mobilnya, sementara Joko memapah Nawang masuk ke dalam mobil Franky disusul oleh Via.
Beberapa lama kemudian, mereka tiba di depan klinik bersalin, Joko membantu Nawang turun, dan masuk ke dalam klinik itu.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian ....
"Oeeekkk!"
"Oeeeekkk!"
"Selamat ya Pak, istri bapak melahirkan dengan selamat, dan anak bapak perempuan," kata seorang dokter yang baru saja keluar dari ruangan bersalin.
"Alhamdulillah," tak henti-hentinya Joko mengucap syukur.
"Selamat ya, Jok," kata Franky dan Via secara bergantian.
"Makasih Fran, Vi."
Sore hari, Nawang telah di bolehkan pulang, dan kini mereka pulang ke rumah masing-masing.
"Makasih ya Na, kamu sudah memberikan buah hati untukku," kata Joko.
"Iya Mas, sama-sama, aku juga makasih, kau sudah jadi suami yang baik untukku."
Malam hari, Franky dan Via sedang duduk santai dan mengobrol di ruang depan.
"Kalau mengantuk, tidurlah Vi."
"Sebentar lagi Mas, masih belum ngantuk kok."
"Oh iya, kalau aku berhenti menulis, menurut kamu gimana, Vi?"
"Memangnya kenapa, Mas?"
"Ya nggak apa-apa, aku hanya sudah capek, ingin fokus menemani kamu, menghabiskan waktu bersamamu sampai tua nanti hehe, lagipula tabunganku sudah lebih dari cukup untuk bekal hidup kita."
"Ya terserah kamu saja, Mas."
"Rencana sih, aku ingin membuka toko buku."
"Lho, bagus itu Mas, nanti aku bantu untuk penjualannya."
"Iya Vi, di antara buku-buku itu, ada buku aku juga."
"Wah, buku kamu pasti sudah banyak sekali ya Mas."
"Wih, banyak juga Mas."
"Iya, Vi."
"Hoeeek!"
Tiba-tiba Via merasakan mual pada perutnya.
"Kamu kenapa, Vi?" tanya Franky cemas.
"Nggak tahu Mas, tiba-tiba perutku nggak enak rasanya."
"Apa kamu salah makan?"
"Enggak juga Mas, makan seperti biasa saja."
Franky terdiam sejenak ....
"Hoeeekkk!"
Lagi-lagi Via memegangi perutnya.
"Ayo kita ke dokter."
Franky memapah tubuh Via menuju ke mobilnya, dan Franky pun mengendarai mobilnya hingga tiba di klinik.
"Ada yang bisa saya bantu?" seorang dokter menyambut mereka.
Franky pun menceritakan keluhan yang dirasakan oleh istrinya itu.
Kemudian dokter segera memeriksa Via, dan tak beberapa lama, dokter keluar lagi.
"Bagaimana, Dok? Istri saya sakit apa?" Raut wajah Franky masih memancarkan kecemasan.
__ADS_1
Dokter itu tersenyum ....
"Yeee, dokter malah senyum-senyum, nggak tahu orang sakit saja," gumam Franky dalam hati.
"Selamat, istri bapak hamil, dan usia kandungannya baru berjalan satu minggu."
Franky terbelalak. "Benarkah dok?"
Dokter itu mengangguk.
"Alhamdulilah, akhirnya aku akan punya keturunan juga," lirih Franky.
Setelah dokter memberikan resep vitamin, Franky mengajak Via pulang.
"Makasih ya Vi, akhirnya kamu kasih aku keturunan juga."
"Iya Mas, aku juga senang, aku pikir, aku nggak akan bisa hamil."
"Ya keadaan setiap orang kan berbeda Vi, ya sudah kita tidur yuk, sudah malam."
Mereka berdua pun masuk ke dalam kamar.
****
Sembilan bulan kemudian, Via melahirkan seorang anak laki-laki.
"Wah, selamat ya Fran, akhirnya kamu punya jagoan juga." Joko memberi selamat.
"Makasih ya, Jok."
"Oh iya, kamu sekarang buka toko buku ya?"
"Iya Jok, aku sudah memutuskan untuk berhenti menulis, mau fokus jaga istri sama anak aku."
"Nah gitu dong, jangan menghalu terus, kasihan kamu Fran, hidupnya penuh halu haha!"
"Sialan kamu, Jok."
"Hehehe ...."
"Eh nama anak kamu siapa, Jok?"
"Niluh Putu Fran, kalau anak kamu siapa?"
"Belum aku kasih nama sih, lagian baru saja lahir, tapi aku sudah menyiapkan nama buat dia."
"Siapa?"
"Rangga."
"Wah, nama yang bagus Fran, artinya apa?"
"Artinya perhiasan hidup, jadi aku ingin kelak kehidupannya berharga seperti perhiasan."
"Hebat kamu Fran, semoga saja kalian hidup bahagia dan langgeng sampai tua."
"Amin."
"Eh, kalian ini asik sekali ngobrolnya," celetuk Nawang menghampiri mereka.
"Eh, iya ni Na," ujar Joko.
"Ayo makan dulu, aku sudah selesai masak."
"Duh, istriku ini memang rajin sekali."
"Dari dulu, kan?"
"Iya, iya, ayo Fran kita makan."
"Ayo, Jok."
Begitulah kisah Franky sang penulis terkenal, kini hidup bahagia bersama anak dan istrinya.
TAMAT
__ADS_1
***
akhirnya cerita ini sudah tamat.. terimakasih para readers yg sudah setia mendukung karya receh ini 🙏