Pulau Abadi

Pulau Abadi
Novel Misterius


__ADS_3

Hari semakin siang, dan sinar matahari semakin terik.


Saat itu, Franky sedang menonton acara televisi.


Tok.. tok.. tok!


Terdengar pintu di ketuk.


Franky membukakan pintu itu.


"Lho, kamu Rin."


Di depan pintu telah berdiri sosok Rindi yang sedang tersenyum.


"Kamu kan yang menyuruh aku, untuk kesini."


"Eh iya Rin, ada hal yang ingin aku bicarakan, ayo masuk dulu."


Rindi masuk ke dalam, lalu dia dan Franky saling duduk bersebelahan.


"Kamu mau minum apa Rin?"


"Sudah, nggak perlu repot-repot, aku sudah makan dan minum, sebelum ke sini, oh ya, Fran, kamu kok cepat sekali pulang dari lembah ilusi itu, memangnya novel kamu sudah jadi?"


Franky bingung, harus menjawab apa.


"Sebaiknya, aku nggak perlu kasih tahu Rindi, tentang keanehan di tempat itu, nanti Rindi jadi takut, dan nggak mau mendekati aku lagi," batin Franky.


"Frank?"


Panggilan Rindi, membuyarkan lamunan Franky.


"Eh iya, Rin."


"Kamu melamun apa sih, Fran?"


"Em, enggak kok, Rin, aku hanya heran."


"Heran? Kenapa?"


"Em, sebentar ya Rin."


Franky berjalan masuk ke dalam kamar, sedangkan Rindi merasa aneh dengan tingkah Franky.


Tak lama, Franky keluar dari kamarnya, membawa laptop di dekapannya kemudian duduk di sebelah Rindi.


"Rin, aku kok merasa aneh."


"Aneh kenapa, Fran?"


Franky menunjukkan sebuah naskah novel baru, kepada Rindi, dan Rindi pun menerima dan menyeleksinya.


"Wah, kamu hebat, Fran, cepat sekali kamu membuat novel, benar-benar suatu kemajuan, nggak ada satu minggu, kamu pergi ke lembah ilusi, sepertinya baru dua hari, kamu berhasil menyelesaikan novel baru kamu."


Franky bertambah salah tingkah, dia menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.


"Duh, gimana ya ... kalau aku bilang yang sebenarnya sama Rindi, kalau naskah itu tiba-tiba ada di dalam laptop ku, pasti Rindi nggak akan percaya, bisa-bisa dia menganggapku sudah gila lagi," batin Franky.


"Fran, kamu suka sekali melamun."

__ADS_1


"Eh.. iya, Rin, itu..." ucapan Franky terhenti.


"Ini novel kamu keren banget, Fran, ya sudah, kamu kirim filenya ke aku ya, besok aku cek lagi, dan aku terbitkan segera." sela Rindi.


Kedua bola mata Franky membulat seketika.


"Tapi Rin, itu..."


"Sudah, nggak masalah kok, ini sudah bagus sekali."


Franky akhirnya diam, dia tak mampu berkata-kata lagi.


Kemudian Franky menyalin naskah novelnya, ke flash disk, dan memberikannya kepada Rindi.


"Rin, apa kamu mau menikah denganku?" tanya Franky tiba-tiba.


Deg!


Jantung Rindi berdetak kencang.


"I.. iya Ngga, aku mau, tapi jangan terburu-buru ya, kan kita juga harus menyiapkan segala sesuatunya."


"Iya, Rin, aku mengerti kok."


"Ya sudah, Fran, aku pulang dulu ya, besok aku harus berangkat lebih awal, dan aku akan mengecek naskah kamu lagi, terus aku juga harus laporan sama pengurusnya."


"Ya sudah, Rin, hati-hati ya."


"Iya, Fran."


"Eh, tunggu Rin."


"Ada apa, Frank?"


Rindi memejamkan matanya, dan sebuah kecupan lembut mendarat di kening Rindi.


Rindi pun terksiap, kemudian dia membuka matanya.


"Ah kamu, Fran, modus sekali."


Deanky terkekeh sedangkan Rindi pun tersipu malu.


"Ya sudah, aku pulang ya."


Frankt tersenyum dalam anggukannya.


Setelah Rindi pulang, Franky mematikan televisi yang dia saksikan belum lama ini, kemudian masuk ke dalam kamarnya, saat itu dia merasakan kantuk yang sangat hebat.


Franky merebahkan tubuhnya di atas kasur, tak terasa dia pun terlelap dalam tidurnya.


****


Di dunia Gaib, perputaran waktu lebih cepat dari pada di bumi, dan kala itu, waktu di alam sana telah menunjukkan pukul enam petang.


Rinjani berjalan ke arah pantai dan sesampainya dia berdiri di pesisir pantai.


"Wahai penguasa pantai, datanglah!"


Rinjani berseru sembari menatap tajam ke arah laut yang tenang di hadapannya.

__ADS_1


Seketika, angin bertiup kencang, dan ombak pun bergulung dengan dahsyatnya.


Tak lama, air laut di hadapan Rinjani pun terbelah menjadi dua, dan membentuk sebuah jalan.


Sosok Ratu cantik bak bidadari mengenakan pakaian kerajaaan dengan mahkota di kepalanya, terlihat berjalan keluar dari dalam belahan air laut tersebut.


Dia adalah Ratu penguasa pantai itu.


"Ada apa kau memanggilku?"


"Ratu, kapan saya akan bereinkarnasi, dan hidup kembali menjadi manusia biasa?" tanya Rinjani.


"Masih sangat lama sekali, wahai pengikutku." sahut Ratu penguasa pantai itu.


"Tapi, saya sudah lelah dengan semua ini, dan arwah saya pun belum juga di terima, di alam yang seharusnya, untuk itu, lebih baik saya bereinkarnasi saja menjadi manusia, agar saya dapat kembali menjalani kehidupan saya secara mormal."


"Apakah kau mengincar manusia itu?" tanya Ratu penguasa pantai itu.


Rinjani mengangguk pelan.


"Kau tidak boleh bersatu dengan manusia itu, karna kalian berbeda alam, kalau kau tetap nekat berhubungan dengan manusia itu, kekuatanmu akan punah, setelah itu, kau akan musnah dan lenyap, sehingga kau tak pernah bisa bereinkarnasi apa lagi menjadi manusia."


"Lantas, apa yang harus saya lakukan Ratu?"


"Jalan satu-satunya, kau harus bersabar, sampai saat itu tiba."


Tapi manusia itu, akan tua dan mati, karna dia hanya manusia biasa."


"Kalian bisa bereinkarnasi kan?"


"Tapi kan masih sangat lama Ratu."


"Ya maka dari itu, bersabarlah," sahut Ratu penguasa pantai itu dengan tenang.


Rinjani merasa kesal, kemudian dia menghilang dari hadapan Ratu penguasa pantai itu.


"Saya harus memakai tubuh Rindi, supaya saya bisa selalu bersama dengan Franky, dan jalan satu-satunya, saya harus merasuki tubuh Rindi."


"Hentikan perbuatanmu itu, Rin!" seru pangeran Endro yang tiba-tiba sudah berada di hadapan Rinjani.


"Anda selalu saja mencampuri urusan saya!" geram Rinjani.


"Rin, sadarlah, terimalah takdirmu, kalau kau itu adalah milikku."


"Cih, sampai kapan pun, saya tak akan pernah sudi menerima anda!"


Pangeran Endro geram, dia ingin memberi pelajaran kepada Rinjani, namun dia tak sampai hati, dia teringat pesan Raja Jin, untuk selalu menjaga Rinjani.


Akhirnya Pangeran Endro pun berlalu dari hadapan Rinjani, sementara Rinjani berjalan-jalan di sekitar hutan itu.


"Dalam waktu dekat, Franky akan menikah dengan manusia bernama Rindi, saya tak boleh melewatkan kesempatan emas ini, saya harus merasuki tubuh Rindi, supaya saya bisa hidup dalam raganya," ujar Rinjani tersenyum smirk, dalam sekejap dia pun menghilang.


Di kerajaan gaib, tampak Pangeran Endro sedang duduk bermuram durja.


Raja Jin, yang mengetahui hal itu, pun menghampirinya.


"Ada apa Pangeran? Saya perhatikan, kau murung saja."


Pangeran Endro pun menceritakan tentang rencana busuk Rinjani.

__ADS_1


"Sudah, biarkan saja Pangeran, dia itu sangat keras kepala, biarkan dia berulah, nanti lama-lama juga bosan sendiri, dengan apa yang dia lakukan."


Pangeran Endro pun mengangguk lemas, dia memang tak kuasa untuk menekan Raja Jin untuk lebih keras lagi menghadapi Rinjani.


__ADS_2