Pulau Abadi

Pulau Abadi
Bertemu Jarwo


__ADS_3

"Tolooong ...!"


Tiba-tiba, Leon mendengar suara minta tolong, dari dalam ruangan itu.


"Hah? Siapa yang meminta tolong ya?" Batinnya.


Leon pun berjalan mendekati ruangan itu. Leon hendak membuka pintu namun Leon mengurungkan niatnya, dia teringat pesan Joko.


"Ah, sebaiknya aku nggak menanggapi suara itu," batinnya.


Lalu Leon pun berjalan kembali ke lantai sebelas, ruangan tempat dia berjaga, dengan melewati lift yang yang tadi di lewatinya.


Suara itu terus terdengar di telinga Leon, namun Leon tak mempedulikannya, dia masuk ke dalam lift, dan menekan tombol angka sebelas.


Lift perlahan berjalan naik, tiba-tiba lift berhenti begitu saja, Leon mengira bahwa dia telah sampai di lantai sebelas, namun betapa terkejutnya, ketika Leon melihat tombol di dalam lift menunjukan angka delapan.


"Hah? Perasaan tadi dah berubah ke angka sepuluh, satu angka lagi, aku sudah sampai di ruangan-ku," batin Leon.


"Toloooong ...."


Sayup-sayup Leon mendengar kembali suara minta tolong, Leon pun bergidik ngeri, bulu kuduknya meremang.


"Siapa sih yang minta tolong? Perasaan nggak ada siapa-siapa, tapi kenapa aku jadi merinding ya?" batinnya.


Suara minta tolong itu terus terdengar, kini arahnya dari belakang, Leon meraba tengkuk lehernya, terasa jelas hawa dingin menerpanya dari belakang. Perlahan Leon menoleh ke belakang, namun kosong, tak ada seorang pun di sana.


"Nggak ada siapa-siapa kok, terus yang minta tolong itu siapa ya?" Leon mulai merasa tak nyaman.


Dan tiba-tiba, lift yang tadinya berhenti, kini berjalan kembali, dan berhenti di lantai sebelas. Pintu lift terbuka, Leon pun keluar dan berjalan masuk ke dalam ruangannya. Dia duduk, dan kembali menonton televisi, yang masih menyala.


****


Sementara itu di penginapan, Joko melirik jam dinding yang tergantung di atas pintu keluar kamar.


"Jam dua belas," batinnya.


Joko melirik ke arah Franky, yang telah tertidur pulas, dengan laptop di samping bantalnya.


Joko keluar kamar dan berjalan ke belakang, dia menghampiri Nawang.


"Hey, apakah kau bisa membantuku?" tanyanya dalam hati.


"Apa yang bisa aku bantu?" jawab Nawang dalam hati.


"Aku akan keluar sebentar, tolong kamu jaga Franky ya, jangan sampai dia ke gudang."

__ADS_1


"Baik, aku akan menjaga teman kau itu."


Joko pun keluar dari penginapan, dan berjalan kaki hendak menuju ke pantai. Dalam perjalanan, dia berpapasan dengan Jarwo.


"Hey, sepertinya kau bukan penduduk asli pulau ini," sapa Jarwo, dengan tatapan intens.


Joko menoleh ke arah Jarwo. "Memang kenapa, kalau aku bukan penduduk asli sini? Bukankah aku nggak mengganggu kamu?"


"Dari mana kau?" tanya Jarwo lagi.


"Aku dari desa seberang, cukup jauh dari tempat ini," sahut Joko.


"Ada perlu apa kau ke tempat ini?" tanya Jarwo penuh selidik.


"Bukan urusan kamu," ucap Joko ketus.


"Sombong sekali kau, anak muda, kau belum tahu siapa aku."


"Aku nggak ingin tahu siapa kamu, dan aku juga nggak ada masalah dengan-mu, jadi tolong jangan mencampuri urusanku," jawab Joko santai.


Jarwo mulai geram, dia selama ini dihormati oleh semua orang, dan baru kali ini dia merasa ditentang oleh pemuda di hadapannya.


"Rasakan ini, anak muda!" seru Jarwo, sambil melesatkan kilatan cahaya berwarna biru, ke arah Joko.


Dengan sigap Joko menangkis kilatan itu, dengan kekuatan yang dimilikinya.


Kilatan itu melayang ke atas, hingga terjadilah ledakan kuat, seolah kilatan cahaya itu menghantam sesuatu.


Kedua bola mata Jarwo membulat, dia tak menyangka kalau pemuda yang dia temui itu ternyata dapat melawannya.


"Siapa kau sebenarnya?" tanyanya penuh selidik.


"Aku bukan siapa-siapa, dan aku nggak suka mengganggu siapa pun, maka dari itu, aku pun nggak suka kalau ada orang, apa lagi orang yang nggak aku kenal menggangguku," ujar Joko, dengan kedua tangan bersedekap di dadanya.


Jarwo diam, dia tak dapat berkata-kata lagi, dia pun berlalu begitu saja, dari hadapan Joko.


"Awas kau anak ingusan, jangan bangga dulu, ilmu yang kau punya belum seberapa, tunggu waktu yang tepat, aku akan membunuhmu," ancam Jarwo sambil terus berjalan, hingga menghilang dalam kegelapan malam.


Joko pun melanjutkan perjalanannya, dengan tenang.


"Siapa dia? Berani sekali menyerangku, kenal juga enggak, huft." Joko bergumam dalam hati.


Tiba-tiba, langkah kaki Joko terhenti, dia seolah mengingat sesuatu.


"Tunggu deh, kok orang itu sepertinya nggak asing ya, aku seperti pernah bertemu, tapi di mana ya?" batinnya.

__ADS_1


Joko tampak sedang mengingat sesuatu, namun dia tak juga mengingatnya.


"Ah sudahlah, mungkin aku hanya bermimpi ... hah? Mimpi? Astaga! Benar, aku bertemu dia dalam mimpi, akhirnya Joko teringat dengan mimpinya tempo hari lalu.


"Bukankah dia itu ... pamannya si Nawang?" batin Joko.


"Ya, benar sekali aku masih ingat, mukanya, bajunya, nada bicara dan penampilannya, lalu cahaya berwarna biru, ya semua sama persis dengan yang ada di mimpiku."


Joko pun mengurungkan niatnya, untuk pergi ke pantai, dia pun memutar tubuhnya dan berjalan pulang ke penginapannya.


Sesampainya, Joko membuka pintu, dan masuk, dia melihat Nawang sedang meringkuk di sebuah kursi, di ruang depan dengan mata terpejam.


Joko pun duduk di sebelah Nawang, dan Nawang perlahan membuka mata, seolah mengetahui kehadiran Joko.


"Kenapa cepat sekali? Perasaan baru saja kau keluar, tapi kau sudah kembali lagi," ujar Nawang dalam hatinya.


"Eh aku mau tanya," kata Joko.


"Tanya apa?"


"Apa paman kamu itu, suka memakai baju warna hitam, dan dia orangnya tinggi kurus?" tanya Joko, kemudian dia pun menyebutkan ciri-ciri wajah Jarwo, beserta warna kulitnya.


"Apa kau sudah bertemu dengannya?" tanya Nawang santai.


"Ya, tadi aku bertemu dengannya di jalan," kata suara isi hati Joko.


"Dari mana kau bisa memutuskan kalau itu paman-ku? Bukankah aku belum pernah menyebutkan ciri-cirinya?"


Akhirnya, Joko menceritakan mimpinya, yang bertemu dengan Jarwo, mereka bertarung hingga akhirnya Jarwo mati di tangan Joko, namun Joko sengaja, tak menceritakan yang Nawang berubah wujud menjadi wanita cantik.


"Benarkah? Kalau memang begitu, mungkin yang kau temui tadi adalah paman-ku, memang ciri-cirinya sama dengan yang kau sebutkan."


"Besok aku pinjam ponsel Franky, aku akan mengambil gambarnya, dan aku kasih kamu lihat, kalau memang iya, dan kalau bertemu lagi, aku akan segera membunuh dia."


"Kau jangan gegabah anak muda, dia sangat sakti, dan sampai sekarang, belum ada yang bisa mengalahkannya."


"Hahaha!" Joko tertawa menggelegar.


"Kenapa kau tertawa? Apanya yang lucu?" Nawang merasa heran.


"Kamu itu yang lucu, kamu minta aku bunuh dia, sekarang kamu sendiri yang ingin menghalangi-ku."


"Aku nggak menghalangi-mu, aku hanya minta kau jangan terlalu gegabah, kau persiapkan dulu matang-matang segala sesuatunya, jika kau ingin membunuhnya, salah-salah, justru kau sendiri yang akan terbunuh."


"Sudahlah, kamu nggak tahu apa-apa tentang-ku, pokoknya besok aku akan mengambil gambar dia, kalau ketemu lagi, dan aku kasih lihat kamu, kalau memang benar itu paman kamu, aku akan segera membunuhnya, pada saat aku ketemu dia."

__ADS_1


"Kau memang keras kepala anak muda, terserah padamu sajalah, yang penting, aku sudah mengingatkan kepadamu."


__ADS_2